(I) Kumpulan Jawaban dari Pertanyaan yang telah masuk ke situs – Al Ustadz Abu Abdillah Asnur حفظه الله تعالى

Bismillah, dari beberapa pertanyaan dari pengunjung situs ini (ikhwan dan akhwat) telah dijawab oleh Al Ustadz Abu Abdillah Asnur حفظه الله تعالى, kemudian kami sajikan dalam posting artikel berikut ini. Sengaja kami jadikan satu agar memudahkan dalam membacanya, kami atas nama pribadi dan pengelola situs ini mohon maaf apabila masih ada pertanyaan yang belum kami muat atau memang belum terjawab. Barokallahu fiikum

Pertanyaan dalam postingan berikut ini terkait dengan :

1.  Jeda waktu antara adzan dengan iqomah
2.  Pernikahan karena zina dan yang terkait dengannya
3.  Aqiqah setelah dewasa

Berikut jawabannya :

1.  Pertanyaan dari : abu bakr
Bismillah
Assalamu’alaykum.

ustadz ana mau tanya, didekat rumah ana ada masjid yang cukup besar bersebelahan dengan gereja. Di masjid itu, iqomah dilakukan setelah kurang dari 5 menit (sekitar 2-3 menit) setelah adzan dikumandangkan, padahal jama’ah yang mau sholat masih belum datang, kalau pun sudah datang tidak sempat mengerjakan sholat sunnah. Dan masjid-masjid yang lain pun masih mengumandangkan adzan.

Pertanyaannya, apakah boleh seperti itu? atau memang harus menunggu sampai beberapa menit setelah adzan untuk dikumandangkan iqomah?

jazakumullah khoiron


Jawaban :

Ahlu ilmi menyatakan bahwa yang sunnah bagi muadzdzin untuk memberikan waktu jeda antara adzan dan iqamahnya dengan arti janganlah dia mengumandangkan iqamat sampai dia melihat imam sholat telah kelihatan dengan menuju kemesjid sebagaimana hal ini ditunjukkan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullahu ta’ala dari sahabat Jabir bin Samurah radhiyallahu anhu mengatakan : Bilal mengumandangkan adzan (untuk sholat dhuhur) bila matahari telah tergelincir (kebarat), kemudian beliau tidak mengumandangkan iqamat sampai melihat Rasul Shallallahu alaihi wa sallam, sehingga  jika dia melihat Rasul shallallahu alaihi wa sallam maka dia berdiri mengumandangkan iqamat ketika melihatnya.

عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ ، قَالَ : كَانَ بِلاَلٌ يُؤَذِّنُ إِذَا دَحَضَتْ ، ثُمَّ لاَ يُقِيمُ حَتَّى يَرَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَإِذَا رَآهُ أَقَامَ حِينَ يَرَاهُ.

والحمد لله رب العالمين.

 

2.  Pertanyaan dari : Hamba Allah

Bismillah. afwan ustadz ,sepupu saya laki-laki berzina dengan adik saya perempuan dan hamil akhirnya mereka dinikahkan dalam keadaan adik saya sedang hamil,setelah menikah lahir anak perempuan sebut saja A dari hasil perzinaan mereka dan dalam kurun 5 tahun usia pernikahan mereka sering terjadi percekcokan sampai dinikah ulang sebanyak 2 kali,selang 5 tahun adik saya melahirkan lagi anak kedua mereka perempuan sebut saja B,beberapa bulan kemudian mereka bercerai dengan suatu sebab percekcokan yang tidak bisa didamaikan lagi,yang saya tanyakan adalah : 1. Bgmn hukum pernikahan mereka? 2.Hukum anak perempuan A dan B apakah mahram bagi sepupu laki-laki saya setelah mereka bercerai? 3.Bagaimana hak warisnya dan membiaya kedua anak perempuan ini apakah wajib atas sepupu laki-laki saya?

Jawaban :

Tidak boleh bagi sepupu anti/antum untuk menikahi adik anti/antum dan hal ini adalah suatu keharaman sebab laki-laki tersebut berzina dan wanita itulah berzina sehingga tidak boleh baginya untuk menjadikannya istri dan tidak pula bagi wanita tersebut menerimanya sebagai suami sebagaiamana Allah azza wa jalla berfirman dalam kitab-NYA :

الزَّانِي لا يَنْكِحُ إلا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لا يَنْكِحُهَا إِلا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ (٣)

3. laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin[1028].

 

[1028] Maksud ayat ini Ialah: tidak pantas orang yang beriman kawin dengan yang berzina, demikian pula sebaliknya.

Dan firman Allah azza wa jalla وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ  merupakan pendalilan tentang haramnya pernikahan tersebut, sehingga dengan itu jika dia menikahinya maka nikahnya adalah batal karena kalau dia pingin menikahi wanita yang dia zinai dalam keadaan hamil harus dengan SYARAT :1}HARUS KEDUANYA BERTAUBAT DENGAN TAUBAT NASUHA. 2}HARUS DILUAR MASA IDDAHNYA DAN MASA IDDAHNYA ADALAH SAMPAI DIA MELAHIRKAN SEBAGAIMANA AYAT :

وَأُولاتُ الأحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا (٤)

4. dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.

Adapua keberadaan anaknya : yang A merupakan hasil dari perzinaan sehingga tidak dinasabkan kepadanya laki-laki tersebut tapi dinasabkan kepada ibunya dan anak B merupakan hasil dari akad mereka yang sah insyaAllah maka dinasabkan kepada bapaknya. Namun ada hal yang ingin kami sampaikan sebagaimana yang dijelaskan oleh ahlu ilmi yaitu : meskipun anak dari hasil zina tidak dinasabkan kepada laki yang menzinahi ibunya tersebut namun tidak mengharuskan dan melazimkan demikian itu BOLEHNYA BAGI ANAK TERSEBUT dinikahi oleh lak-laki tersebut jika dia wanita karena anak tersebut walaupun terputus nasab dari dirinya(secara syar’i) namun dia berasal dari airnya secara kauniyah.

DAN adapun jawaban dari pertanyaan yang kedua & ketiga  : anak tersebut tidak termasuk ahli waris dalam warisan dan tidak menjadi mahram baginya serta hukum-hukum lain dari hukum nasab. Sehingga dengan itu tidak wajib bagi laki-laki tersebut untuk menafkahinya secara syar’I kecuali dengan ingin dia memberikan sedekah sebagai hubungan manusiawi saja yang ada hubungan dengannya secara kauniyah.

والله أعلم بالصواب.

 

3.  Pertanyaan dari : Najiyah

Bismillahrrohmanirrohim. Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokaatuhu.

Afwan, ada permasalahan yang ingin ana tanyakan, mohon penjelasannya.

Jika ada orang tua yang tidak mampu untuk meng-aqiqohi anaknya disaat anak tersebut baru lahir dikarenakan sempitnya kondisi ekonomi keluarga pada saat itu, kemudian setelah anak itu dewasa orang tua baru diberikan keluasan rizki, maka bolehkah orang tua meng-aqiqohi anaknya pada saat ia telah dewasa? Atau bolehkah si anak tersebut meng-aqiqohi dirinya sendiri disaat ia telah dewasa? Benarkah anggapan bahwa anak yang belum diaqiqohi masih tergadaikan dan tidak bisa memberi safaat kepada orang tuanya?

Atas penjelasannya ana haturkan jazaakumullohu khoiroo wa baarokallohu fiikum.

Jawaban :

Para ulama tidak berselisih pendapat tentang tidak mengapa bagi seseorang yang tidak mampu untuk melakukan aqiqah (setelah mereka berbeda pendapat tentang hukumnya wajib ataukah sunnah) karena keadaan para orang tersebut walaupun hal itu merupakan perbuatan taqarrub kepada Allah azza wa jalla, sebagaimana firman Allah azza wa jalla

لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا (٢٨٦)

286. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ (٧٨)

78 Dia (Allah azza wa jalla) sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan/kesusahan.

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ (١٦)

16. Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu

لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا مَا آتَاهَا سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا (٧)

7. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.

Dan juga hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari Abi Hurairah radhiyallahu anhu

إذا أمرتكم بأمر فأتوا منه ما استطعتم، وإذا نهيتكم عن شيء فاجتنبوه

Jika aku memerintahkan kalian kepada sesuatu maka lakukanlah semampu kalian dan jika aku melarang kalian dari sesuatu maka jauhilah.

Sehingga dengan itu kapan saja orang tuanya diberi kelapangan maka hendaklah dia menyegerakan untuk mengaiqiqohi anaknya tersebut.

Adapun masalah yang berkaitan dengan seorang anak mengaqiqohinya dirinya sendiri, telah datang riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengaqiqohi dirinya setelah kenabian.merupakan hadits yang shohih dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu dan dishohihkan oleh syeikh Albani rahimahullahu ta’ala di”silsilah ahaadiits shohihah” sehingga boleh bagi siapa yang yang tidak diaqiqohi ketika kecil atau belum dia melakukannya sendiri untuk dirinya jika diberikan kelapangan oleh Allah tabaraka wa ta’ala bahkan hal ini telah dikatakan pula oelh para salaf.

Adapun masalah anggapan bahwa anak yang belum diaqiqohi masih tergadaikan dan tidak bisa memberi safaat kepada orang tuanya merupakan anggapan yang keliru sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ibnu Qoyyim rahimahullahu ta’ala dan beliau mengatakan darimana dalilnya bahwa seorang anak akan memberikan syafaat kepada orangtuanya jika mereka mengaqiqohinya dan jika tidak maka tidak akan mendapatkan padahal syafaat itu tidak akan ada yang mampu melakukannya pada hari kiamat kecuali setelah mendapatkan izin dari Allah kepada siapa yang Allah ridhoi dan kehendaki dan izin Allah berkaitan dengan amalan yang akan disyafaati berupa tauhid dan keikhlasan,dan juga tidak dikatakan kepada siapa yang memberikan syafaat kepada selainnya bahwasanya dia tergadaikan(مرتهن/MURTAHINUN) DAN TIDAK ADA dalam hadits tersebut yang menunjukkan maknanya demikian, sedangkan Allah sendiri mengabarkan bahwasanya setiap hamba tergadaikan dengan amalan dia sendiri sebagaimana firman Allah azza wa jalla

كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ (٣٨)

38. tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya,

 

Dan kemudian beliau rahimahullahu ta’ala menyebutkan makna dan himkah dari aqiqoh tersebut :

  1. Bahwasanya dengan hal ini menghidupkan sunnah Nabi Ibrohim alihi salaam ketika beliau ingin menebus Ismail sebagai sembelihan.
  2. Bahwasanya dengan aqiqoh itu akan merupakan bentuk pengusiran syeithon dari anak yang terlahirkan tersebut.
  3. Dan adapun makna hadits كل غلام مرتهن بعقيقته  yakni bahwasanya aqiqoh tersebut merupakn tebusan dari gangguan syeithon ketika dilahirkan.

والله أعلم بالصواب والحمد لله رب العالمين

 

 

 

 

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

     

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>