APAKAH BID’AH ITU ? ADAKAH BID’AH HASANAH DALAM ISLAM ?

 

Saudaraku kaum muslimin,

Banyak diantara kaum muslimin yang bertanya tentang apa itu bid’ah, dan berbagai hukum yang terkait dengan permasalahan bid’ah tersebut. Untuk menjelaskaannya, berikut ini kami nukilkan penjelasan dari Syaikh Al-‘Allamah Dr. Sholih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan hafidzhohulloh, tatkala beliau ditanya permasalahan seputar bid’ah tersebut, dan bantahan atas syubuhat-syubuhat (kerancuan pemikiran) yang terkait dengan permasalahan ini pula. Semoga penjelasan beliau tersebut, semakin menambah ilmu dan memantapkan istiqomah kita, barokallohu fiikum.  

 

Tanya : “Apa hukumnya, membagi bid’ah menjadi Bid’ah Hasanah (bid’ah yang baik) dan Bid’ah Sayyi’ah (bid’ah yang jelek) ? Benarkah orang yang berpendapat dengan pembagian tersebut, berdalil dengan sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam :

من سن سنة حسنة في الإسلام ……..

“Barangsiapa membuat sunnah (contoh) dengan sunnah yang baik dalam Islam ….” (Al-Hadits). Dan berdalil pula dengan perkataan Umar bin Al-Khoththob rodhiyallohu ‘anhu :

نعمت البدعة هذه

“Sebaik-baik bid’ah adalah ini…”. (HR Imam Al-Bukhori (2/252), dari hadits Abdurrahman bin Abdil Qori). Kami berharap faedah (nasehat dan pelajaran) dari perkara tersebut, jazakumulloh khoiron.”

Jawab :

Orang yang membagi bid’ah menjadi bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah, tidak mempunyai dalil. Hal ini karena semua bid’ah itu adalah sayyi’ah (jelek), berdasarkan sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam :

كل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار

“Setiap bid’ah itu adalah kesesatan, dan setiap kesesatan itu (tempatnya) adalah di neraka.” (HR Imam An-Nasa’i (3/188-189), dan diriwayatkan juga oleh Imam Muslim (2/592) tetapi tanpa lafadz : “Dan setiap kesesatan itu tempatnya di neraka”, dari hadits Jabir bin Abdillah rodhiyallohu ‘anhuma)   

Adapun sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam : “Barangsiapa membuat sunnah (contoh) dengan sunnah yang baik dalam Islam ….” (Al-Hadits).

Yang dimaksud dengan hadits ini adalah : “Barangsiapa menghidupkan sunnah (contoh)..”, karena Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam mengucapkan hal itu dalam kaitannya dengan perbuatan salah seorang sahabat yang dia datang dengan membawa barang-barang sedekah yang banyak, kemudian ditiru/dicontoh oleh orang-orang yang lainnya, sehingga mereka pun saling mengikuti dan mendahului dalam bersedekah.” (jadi, sangat tidak tepat kalau menjadikan hadits ini sebagai dalil untuk menguatkan adanya atau bolehnya “bid’ah hasanah” tersebut, edt.)

Adapun perkataan Umar rodhiyallohu ‘anhu : “Sebaik-baik bid’ah adalah ini…”.

Yang dimaksud dengan bid’ah disini adalah bid’ah secara bahasa (yakni bid’ah secara bahasa yang artinya adalah “semua perkara baru, yang belum ada contoh sebelumnya”, edt.), bukan bid’ah dalam pengertian syari’ah (yakni yang bermakna : “semua perkara baru dalam agama ini yang diada-adakan/dibuat-buat untuk menyelisihi syari’at, dan dilakukan dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Alloh Ta’ala”, edt.) Read the full post »

SIAPAKAH PARA WALI ALLOH ITU ?

 

Akhuna fillah hafidzhokumulloh…

Tahukah anda, siapakah sesungguhnya yang disebut sebagai WALI ALLOH  itu ? Banyak orang beranggapan atau berpendapat, Wali Alloh itu adalah para “wali songo” (wali sembilan), yakni sembilan orang wali yang mendakwahkan agama Islam pertama kali di tanah air Indonesia tercinta ini. Atau, wali Alloh itu adalah orang-orang yang punya sifat-sifat “aneh tertentu”, seperti : bisa ilmu kesaktian, bisa mengetahui sebagian perkara ghoib, bisa terbang, tidak mempan disakiti oleh senjata tajam, bisa berjalan di atas air, dan lain-lainnya. Tetapi, benarkah hal itu ?

Untuk mengetahui siapakah sesungguhnya yang disebut sebagai para Wali Alloh itu, berikut ini kami sampaikan rekaman kajian rutin pelajaran Kitab Riyadhus Sholihin karya Al-Imam An-Nawawi rohimahuloh, yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Abdirrohman Yoyok WN hafidzhohulloh, di Majelis Ta’lim Musholla Ibnu Abbas, di wilayah Dusun Sudimoro Desa Jeruklegi Kecamatan Balongbendo, Krian Sidoarjo, setiap Hari Jum’at malam ba’da Maghrib.   

Penjelasan tentang siapakah sesungguhnya para wali Alloh itu, dijelaskan oleh Ustadz Yoyok ketika menjelaskan pelajaran Bab ke-47 dari kitab Riyadhus Sholihin, dengan judul Bab Tanda-Tanda Kecintaan Alloh pada Seorang Hamba. Untuk mengetahui selengkapnya, silahkan anda mendengarkan kajiannya hingga tuntas. semoga bermanfaat. Read the full post »

Rekaman Khutbah Jum’at, “KETELADANAN NABI IBROHIM ‘ALAIHIS SALAM DLM KETAATAN KPD ALLOH”

 

Saudaraku kaum Muslimin hafidzhokumulloh,

Berikut ini adalah rekaman Khutbah Jum’at pekan lalu yang disampaikan oleh Ustadz Abu Abdirrohman Yoyok WN hafidzhohulloh, di masjid Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya, dengan tema : “KETELADANAN NABI IBROHIM ‘ALAIHIS SALAM DLM KETAATAN/KETUNDUKAN KEPADA ALLOH”.

Ustadz Yoyok hafidzhohulloh mengatakan, bahwa ibadah qurban yang disyari’atkan oleh Alloh Ta’ala kepada kita, sesungguhnya tidak lepas dari ketokohan dan keteladanan dua orang hamba Alloh yang mulia, yakni Nabi Ibrohim dan putra beliau, Nabi Isma’il ‘alaihimas salam. Yakni khususnya dalam hal ketaatan, ketundukan dan kesetiaan kepada Alloh, dalam menjalankan setiap apa yang diperintahkan-Nya, termasuk perintah untuk berqurban, dalam rangka mendekatkan diri kepada Alloh Ta’ala. 

Begitu tulus dan ikhlasnya Nabi Ibrohim ‘alaihis salam dalam menjalankan perintah Alloh meskipun diperintah untuk berqurban kepada Alloh dengan menyembelih satu-satunya putra yang sangat beliau cintai, ditambah lagi dengan kesabaran putra beliau, yakni Nabi Isma’il ‘alaihis salam dalam menghadapi ujian Alloh Ta’ala ini, maka peristiwa ini menjadi salah satu “patokan” atau dasar disyari’atkannya ibadah qurban bagi kita Islam, umat Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam. 

Peristiwa tersebut, diabadikan oleh Alloh Ta’ala dalam firman-Nya yag mulia di surat As-Shoffaat ayat 101-111.

Selanjutnya beliau menguraikan tentang apa saja ujian yang Alloh berikan kepada Nabi Ibrohim ‘alaihis salam, sehingga Alloh Ta’ala jadikan beliau sebagai “imam” bagi segenap umat manusia, khususnya Imam bagi segenap ahlut tauhid, yakni orang-orang yang senantiasa mengesakan Alloh Ta’ala dalam beribadah kepada-Nya. 

Kemudian juga diuraikan dan dijelaskan dalam khutbah ini berbagai “pelajaran/ibroh” yang bisa diambil dari peristiwa perintah Alloh Ta’ala kepada Nabi Ibrohim ‘alaihis salam untuk menyembelih putra beliau sendiri. Apa sajakah itu ? Untuk mengetahuinya, silahkan anda mendengarkan sendiri keseluruhan rekaman khutbah jum’at ini, barokallohu fiikum. Read the full post »

(UPDATE) HUKUM SEPUTAR SHOLAT KUSUF (GERHANA MATAHARI/BULAN)

 

 Menurut informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pemerintah RI melalui situs resminya www.bmkg.go.id, insya Alloh pada tanggal 8 Oktober 2014 ini akan terjadi Gerhana Bulan Total, dan akan bisa dilihat di seluruh wilayah Indonesia dan sekitarnya. Sehubungan dengan itulah, berikut ini kami sampaikan kembali hal-hal yang berkaitan dengan hukum-hukum seputar gerhaana tersebut, semoga bermanfaat bagi penyusunnya dan para pembacanya semuanya.

Apa Hukumnya Sholat Gerhana itu ?

Tentang hukumnya, ada khilaf (perbedaan pendapat) diantara para ulama sebagai berikut :

Pertama : Jumhur ulama berpendapat hukumnya sunnah mu’akkadah (sunnah yang sangat ditekankan), karena Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan yang demikian, beliau juga telah melakukannya (sholat Kusuf tersebut) dan beliau tidak mewajibkannya. Demikian pula dikarenakan adanya sabda beliau : “Lima sholat dalam sehari semalam….”

Kedua : Sebagian ulama berpendapat hukumnya adalah wajib. Ini adalah pendapatnya Abu ‘Awanah dalam Shohih-nya, dan juga pendapatnya Abu Hanifah dan sebagian ulama Hanabilah.Syaikh Utsaimin juga menyatakan sebagai sholat yang hukumnya wajib/fardhu, tetapi fardhunya adalah fardhu kifayah.

Pendapat yang rojih dalam masalah ini adalah pendapat kedua, yakni hukumnya adalah wajib, karena adanya perintah Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam masalah ini, sebagaimana dalam hadits Al-Mughiroh bin Syu’bah rodhiyallohu ‘anhu, yang menceritakan : “Telah terjadi gerhana matahari di jaman Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, pada hari meninggalnya Ibrohim – putra Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam -, (orang-orang pun mengatakan : “Gerhana matahari ini terjadi karena meninggalnya Ibrohim”), maka Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :“Sesungguhnya matahari dan bulan keduanya adalah tanda dari tanda-tanda kekuasaan Alloh. Tidaklah terjadi gerhana matahari dan bulan itu karena kematian atau karena hidupnya seseorang.Apabila kamu melihat keduanya (yakni gerhana matahari dan bulan), maka berdoalah kamu kepada Alloh dan sholatlah kamu sampai hilangnya (gerhana itu).” (HR. Imam Al-Bukhori no. 1043 dan Imam Muslim no. 915)

Dalam hadits Abu Bakroh rodhiyallohu ‘anhu dengan lafadz :“…..maka sholatlah dan berdoalah kamu sampai hilangnya apa yang kalian alami tersebut (yakni gerhana).” (HR Imam Al-Bukhori no. 1040)

Adapun pendapat pertama yang berdalil dengan hadits “Sholat lima waktu dalam sehari semalam..”, sebagai dalil yang menunjukkan bahwa sholat wajib itu hanyalah lima waktu itu saja, adapun yang selain itu berarti adalah mustahab/sunnah, maka hal ini dibantah oleh guru kami Syaikh Muhammad bin Ali bin Hizam hafidzhohulloh sebagai berikut : “ (Hadits tersebut) bukan sebagai dalil bahwa Sholat Kusuf itu mustahab (sunnah) yakni bukan perkara yang wajib, karena maksud dari hadits tersebut adalah menjelaskan bahwa perkara yang wajib untuk ditunaikan oleh seseorang dalam sehari semalam itu ada lima, hal ini tidak menafikan (meniadakan) dari yang selain lima sholat tersebut, yakni yang berupa sholat-sholat yang wajib ditunaikan karena adanya sebab-sebab tertentu, wallohu a’lam.” (Fathul ‘Allam fii Dirosah Ahaaditsi Bulughil Marom, 2/219)

Untuk lebih luasnya pembahasan dalam masalah ini, silahkan melihat Al-Inshof (2/416), Fathul Bari (no. 1040), Al-Mughni (3/330), Shohih Abi ‘Awanah (2/92) dan As-Syarhul Mumti’ (5/237). Read the full post »

Rekaman Khutbah Idhul Adha 1435 Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya, “PELAJARAN DARI WASIAT ROSULULLOH DALAM KHUTBAH KETIKA HAJI WADA’, bersama Al-Ustadz Ahmad Yulianta hafidzhohulloh

Kaum Muslimin rohimakumulloh,

Berikut ini adalah rekaman Khutbah Sholat Idul Adha 1435 H di Lapangan (halaman) Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya, yang disampaikan oleh Al-Ustadz Ahmad Yulianta hafidzhohulloh, dengan tema khutbah : PELAJARAN DARI WASIAT ROSULULLOH SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WA SALLAM DALAM KHUTBAH BELIAU KETIKA HAJI WADA’.

Untuk mengetahui isi kandungan khutbah ini selengkapnya, dan juga bagi yang ingin mendownload-nya, silahkan anda dengar :  DI SINI Read the full post »

Rekaman Kajian Islam Ilmiah Palopo, “HUKUM-HUKUM SEPUTAR SEMBELIHAN QURBAN”, bersama Al-Ustadz Abu Muqbil Ali Abbas hafidzhohulloh

 

 

Saudaraku kuam Muslimin hafidzhokumulloh, 

Berikut ini kami tampilkan rekaman Kajian Islam Ilmiah yang diselenggarakan di Masjid Al-Muhajirin Kota Palopo Sulawesi Selatan beberapa waktu lalu yang membahas tentang “HUKUM-HUKUM SEPUTAR SEMBELIHAN HEWAN QURBAN” yang diambil dari kitab Shohih Al-Bukhori, yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Muqbil Ali Abbas hafidzhohulloh ta’ala.

Banyak penjelasan hukum-hukum yang bermanfaat terkait dengan sembelihan qurban. Sangat disayangkan kalau kajian ini dilewatkan. Karena itulah, kami tampilkan disini semoga manfaatnya bisa lebih meluas untuk segenap kaum muslimin. 

Selengkapnya, anda bisa mendengarkannya sendiri atau mendownloadnya :  DI SINI Read the full post »

TAKBIRAN DI HARI RAYA QURBAN (IDUL ADHA)

 

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله وحده وصدق وعده ونصر جنده وأهزم الأحزاب وحده، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، أما بعد

Pada hari raya ‘Idul Adhha dan hari-hari tasyriq, disunnahkan pula untuk bertakbir sebagaimana pada ‘Idul Fithri berdasarkanijma’ para ulama. Ibnu Qudamah rohimahulloh mengatakan: “Tidak ada khilaf diantara para ulama rohimahumulloh, bahwa takbir itu disyariatkan pada ‘ied an nahr (‘Iedul Adhha).” (Al Mughni: 2/245)

Alloh ta’ala berfirman:

ﻭَﺍﺫْﻛُﺮُﻭﺍْ ﺍﻟﻠّﻪَ ﻓِﻲ ﺃَﻳَّﺎﻡٍ ﻣَّﻌْﺪُﻭﺩَﺍﺕ

“Berdzikirlah kepada Alloh dengan bertasbih dan bertakbir pada beberapa hari, yaitu hari-hari tasyriq (11-13 Dzulhijjah).”(Tafsir Muyassar QS. Al Baqoroh: 203)

Imam Bukhori rohimahulloh memberikan sebuah bab dalam Shohihnya: “Bab Takbir Pada Hari-Hari Mina dan Jika Beranjak Menuju ‘Arofah. Dahulu Umar rodhiyallohu ‘anhu bertakbir di kubahnya di Mina. Maka didengarlah oleh orang-orang yang di masjid, lalu mereka juga ikut bertakbir. Demikian juga orang-orang yang di pasar, sehingga bergemuruhlah Mina dengan suara-suara takbir. Dahulu Ibnu Umar rodhiyallohu ‘anhumabertakbir di Mina pada hari-hari tersebut dan setelah sholat-sholat lima waktu serta di atas tempat tidur, kemah, majelis dan ketika beliau berjalan pada hari-hari itu semuanya. Dahulu Maimunah rodhiyallohu ‘anha bertakbir pada hari raya kurban. Dahulu para wanita juga bertakbir di belakang Aban bin Utsman dan Umar bin Abdul ‘Aziz rohimahumulloh pada malam-malam hari tasyriq bersama para laki-laki di masjid.” (lihat Fathul Bari:2/535)

Dengan demikian, maka bertakbir pada ‘Iedul Addhaini hukumnya sunnah mu’akkadah menurut jumhur ulama, karena Alloh ta’ala telah memerintahkannya dalam ayat di atas yang hal itu merupakan syiar Islam yang patut untuk disemarakkan.

Waktu takbir

Pendapat yang terkuat mengenai waktu takbir adalah apa yang dipilih oleh jumhur ulama, yaitu dimulai dari shubuh hari ‘Arofah sampai ashar pada akhir hari-hari tasyriq (tanggal 13 Dzulhijjah). Ini adalah pendapat Umar bin Khotthob, Ali bin Abi Tholib, Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Jabir bin Abdillah, Ammar bin Yasir rodhiyallohu ‘anhum, Az Zuhri, Makhul, Sufyan Ats Tsauri, Ahmad bin Hambal, Abu Tsaur rohimahumulloh.
Ibnu Qudamah rohimahulloh menyatakan bahwa ini adalah ijma’ shohabat.
Al Hafidz Ibnu Hajar rohimahulloh menyatakan bahwa tidak ada riwayat shohih dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam tentang hal itu, akan tetapi telah shohih dari para shohabat, seperti ‘Ali dan Ibnu Mas’ud. (Fathul Bari: 2/462)

Pendapat ini juga dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyahrohimahulloh dengan mengatakan bahwa ini adalah pendapat jumhur salaf dan fuqoha’ dari kalangan shohabat dan para imam madzhab. (Majmu’ Fatawa: 24/220)

Mengeraskan takbir

Disyariatkan pula mengeraskan takbir ketika berangkat menujumusholla (lapangan) tempat diselenggarakannya sholat ‘ied, sebagaimana ditunjukkan oleh atsar shohih dari Ibnu Umarrodhiyallohu ‘anhuma. (Irwa’ul Gholil: 3/153)

Kemudian takbir tersebut berlangsung di lapangan sholat ‘ied sampai didirikannya sholat ‘Ied dengan mengeraskan suaranya bagi laki-laki, baik di masjid, rumah-rumah, pasar-pasar dan di jalan-jalan serta di seluruh tempat yang diperbolehkan padanya dzikir kepada Alloh ta’ala.

Adapun para wanita, maka tidak mengeraskan suaranya untuk menghindari timbulnya fitnah yang disebabkan oleh kelembutan suara mereka.

Ummu ‘Athiyah rodhiyallohu ‘anha berkata:

كُنَّا نُؤْمَرُ بِالْخُرُوجِ فِي الْعِيدَيْنِ، وَالْمُخَبَّأَةُ، وَالْبِكْرُ. قَالَتْ: الْحُيَّضُ يَخْرُجْنَ فَيَكُنَّ خَلْفَ النَّاسِ، يُكَبِّرْنَ مَعَ النَّاسِ

“Kami (para wanita) dahulu diperintahkan untuk keluar (ke lapangan sholat ‘ied) pada dua hari raya (‘Iedul Fithri dan Adhha). Demikian juga para perawan dan wanita pingitan. Para wanita yang sedang haid pun keluar dan berada di belakang manusia, semuanya ikut bertakbir bersama dengan manusia.”(HR. Bukhori: 971, Muslim: 890)

Hikmah disyariatkannya takbir

Syaikhul Islam rohimahulloh mengatakan bahwa bertakbir secara syar’i untuk menolak para musuh, baik syaithon dari kalangan manusia maupun jin serta disyariatkan ketika menghadapi perkara-perkara besar yang menimpanya. Dengan bertakbir, maka hal itu menunjukkan kebesaran Alloh ta’ala di atas perkara-perkara yang besar lainnya, sehingga agama ini semuanya hanyalah milik Alloh dan seluruh hamba membesarkan-Nya. Dengan demikian terwujudlah dua maksud, yang pertama adalah ibadah dengan takbir tersebut dan yang kedua adalah dalam rangka memohon pertolongan-Nya  dalam menghadapi seluruh perkara besar. Kesimpulannya bahwa takbir tersebut disyariatkan pada setiap perkara yang besar, baik berkaitan dengan tempat, zaman dan keadaan. (Majmu’ Fatawa: 24/229-230)

Macam-macam takbir

Takbiran pada ‘Idul Adhha dan hari-hari tasyriq dibagi menjadi dua macam:
Pertama: takbir mutlak atau takbir mursal, yaitu tidak ditentukan waktu dan tempatnya secara khusus, tetapi didengungkan di setiap tempat, baik di masjid-masjid, rumah-rumah maupun jalan-jalan dan sebagainya serta di setiap waktu, baik siang maupun malam.
Kedua: takbir muqoyyad, yaitu pada setiap selesai sholat lima waktu, setelah membaca dzikir-dzikir yang disunnahkan untuk dibaca setiap selesai sholat. (Syarhul Mumti': 5/216)

Pembagian takbir ini ditunjukkan oleh ijma’ ulama dan perbuatan para shohabat. (Fatwa Lajnah Da’imah: 8/412, no. 10777)

Kalimat takbir

Mengenai kalimat takbir, maka pendapat yang benar adalah tidak adanya riwayat yang shohih tentang hal itu dari Rosulullohshollallohu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi diperbolehkan dengan seluruh kalimat yang mengandung takbir sebagaimana yang diriwayatkan dari para shahabat, seperti kalimat-kalimat berikut:

الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله، الله أكبر ولله الحمد

“Allohu akbar, Allohu akbar, laa ilaaha illallohu, Allohu akbar, wa lillaahil-hamd.” (riwayat shohih dari ‘Ali dan Ibnu Mas’ud rodhiyallohu ‘anhuma)

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر كبيرا

“Allohu akbar, Allohu akbar, Allohu akbar kabiiro.”(riwayat shohih dari Salman Al-Farisiy rodhiyallohu ‘anhu)

الله أكبر، الله أكبر كبيرا، الله أكبر كبيرا، الله أكبر وأجل، الله أكبر ولله الحمد

“Allohu akbar, Allohu akbar kabiiro, Allohu akbar kabiiro, Allohu akbar wa ajal, Allohu akbar wa lillahil-hamd.”(riwayat shohih dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallohu ‘anhuma)

Setiap orang dipersilahkan untuk memilih salah satu dari kalimat-kalimat takbir dari para salaf tersebut atau mengucapkan semuanya, terkadang kalimat ini dan terkadang itu.

Sama-sama takbir, bukan takbir bersama-sama

Adapun mengenai hukum takbir secara berjama’ah dengan satu suara (jama’i), maka itu tidaklah disyariatkan dan termasuk kebid’ahan. Hal ini karena tidak ada tuntunan yang shohih dariRosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau, sehingga amalan itu tertolak. Terlebih lagi, jika hal itu diiringi dengan suara tabuh-tabuhan dan arak-arakan, maka keadaannya bertambah semakin memburuk, yang itu termasuk sikap berlebih-lebihan (ghuluw) dalam agama ini, wallohul musta’an. Akan tetapi, hendaknya setiap orang mengeraskan suara takbirnya masing-masing tanpa menyengaja untuk menyatukannya dengan yang lainnya. (Fatwa Ibnu Bazz dalam kitab Thoharoh wa Sholah: 2/219 dan Al-Lajnah Ad-Da’imah: 8/311)

Sederhana dalam sunnah itu lebih baik daripada berlebihan dalam kebid’ahan dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk parasalafussholeh ridhwanulloh ‘alaihim ajma’in.

وَبِاللَّهِ التَّوفِيقُ وَالسَّدَادُ وَالْحَمدُ لِلَّهِ الذِّي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ

*******

Ditulis: Mushlih Abu Sholeh Al Madiuniy -waffaqohulloh-
(11 Dzulhijjah 1435 H)

Maroji':
Fathul ‘Allam fii Dirosati Ahadits Bulughil Marom, oleh Syaikh Ibnu Hizam: 2/192-193,196-197; cet. Darul ‘Ashimah.
Al-Jami’ li-Ahkamil ‘Idain, oleh Syaikh Zayid Al Wushobi,  hal. 284; cet. Maktabah ‘Ibadurrohman.
Sholatul ‘Idain, hal. 16; terbitan Wizaroh Al-Auqof Saudi Arabia; naskah Maktabah Asy-Syamilah
edisi 3,47.
At Takbir fii Iedil Adhha wa Ayyamit Tasyriq, oleh Ro’fat Al Hamid Al ‘Adani; http://www.muslm.org/

Sumber : http://mushlihabusholeh.wordpress.com

 

BERGEMBIRA DI HARI RAYA

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله وحده والصلاة والسلام على رسول الله نبي الأمة وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، أما بعد

Menampakkan kebahagiaan dan suka cita merupakan perkara yang diperbolehkan ketika hari raya. Hal ini termasuk dalam kemudahan dan syi’ar agama kita selama tidak ada unsur-unsur kemaksiatan di dalamnya. Untuk menampakkan kebahagiaan tersebut, di samping dengan mengenakan baju bagus, mengucapkan selamat hari raya dan makan daging sembelihan, juga bisa dengan mengadakan permainan, perlombaan dan hiburan di hari itu.

Permainan dan perlombaan

Adapun yang berkaitan dengan permainan atau perlombaan, maka dalam hadits Aisyah-rodhiyallohu ‘anha-, beliau berkata:

وَكَانَ يَوْمَ عِيدٍ، يَلْعَبُ السُّودَانُ بِالدَّرَقِ وَالحِرَابِ، فَإِمَّا سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَإِمَّا قَالَ: تَشْتَهِينَ تَنْظُرِينَ؟ فَقُلْتُ: نَعَمْ، فَأَقَامَنِي وَرَاءَهُ، خَدِّي عَلَى خَدِّهِ، وَهُوَ يَقُولُ: دُونَكُمْ يَا بَنِي أَرْفِدَةَ حَتَّى إِذَا مَلِلْتُ، قَالَ: حَسْبُكِ؟ قُلْتُ: نَعَمْ، قَالَ: فَاذْهَبِي

“Ketika hari raya, dua orang Sudan bermain dengan tombak kecil dan tameng. Maka Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- menanyaiku atau berkata kepadaku: “Kamu ingin melihatnya?” Kujawab: “Ya.” Maka beliau meletakkanku di belakangnya sambil berkata: “Bermainlah, wahai Bani Arfadah.” Ketika aku sudah merasa bosan, maka beliau berkata: “Sudah cukup?” Kujawab: “Ya.” Beliau berkata: “Pergilah.” (HR. Bukhori: 950)

Dalam riwayat Muslim dalam Shohihnya (892):

جَاءَ حَبَشٌ يَزْفِنُونَ فِي يَوْمِ عِيدٍ فِي الْمَسْجِدِ، فَدَعَانِي النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَوَضَعْتُ رَأْسِي عَلَى مَنْكِبِهِ، فَجَعَلْتُ أَنْظُرُ إِلَى لَعِبِهِمْ، حَتَّى كُنْتُ أَنَا الَّتِي أَنْصَرِفُ عَنِ النَّظَرِ إِلَيْهِم

“Orang-orang Habasyah bermain-main (dengan tombak dan tameng) di masjid pada hari raya. Maka Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam- memanggilku dan meletakkan kepalaku pada pundaknya. Maka aku mulai menonton permainan mereka sampai aku meninggalkan mereka.”

Dianjurkan untuk mengadakan permainan, pertandingan atau perlombaan yang sifatnya melatih ketrampilan dalam bela diri, menunjang kekuatan dan kegesitan tubuh, seperti: gulat, anggar, panahan, lomba lari, berenang dan sebagainya, karena hal-hal tersebut dapat menunjang jihad fii sabilillah. (lihat Syarh Shohih Muslim oleh Imam An-Nawawiy, no. 892; Fathul Bari karya Ibnu Hajar: 2/445 dan Ibnu Rojab: 8/422) (Al-Jami’ li Ahkamil ‘Idain, hal. 302-303)

Hiburan di hari raya

Adapun berkaitan dengan hiburan-hiburan di hari raya, maka diperbolehkan bagi para wanita untuk menabuh rebana Arab sambil melantunkan bait-bait syair. Dalam hadits ‘Aisyah -rodhiyallohu ‘anha-:

دَخَلَ عَلَيَّ أَبُو بَكْرٍ وَعِنْدِي جَارِيَتَانِ مِنْ جَوَارِي الْأَنْصَارِ، تُغَنِّيَانِ بِمَا تَقَاوَلَتْ بِهِ الْأَنْصَارُ، يَوْمَ بُعَاثَ، قَالَتْ: وَلَيْسَتَا بِمُغَنِّيَتَيْنِ، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: أَبِمَزْمُورِ الشَّيْطَانِ فِي بَيْتِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ وَذَلِكَ فِي يَوْمِ عِيدٍ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا أَبَا بَكْرٍ إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا، وَهَذَا عِيدُنَا

“Abu Bakar masuk ke tempatku dan di sisiku ada dua orang gadis dari Anshor sedang bernyanyi (melantunkan bait-bait syair) tentang apa yang terjadi pada perang Bu’ats. Mereka berdua bukanlah para penyanyi (biduwanita). Lalu Abu Bakar mengatakan: “Apakah seruling-seruling setan berada di rumah Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam-?! Ketika itu di hari raya. Maka Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- berkata: “Wahai Abu Bakar, sesungguhnya setiap kaum itu mempunyai hari raya dan ini adalah hari raya kita.” Dalam sebuah riwayat:“Biarkanlah mereka, wahai Abu Bakar. Ini adalah hari raya.” (HR. Bukhori: 949, 952 dan Muslim: 892)

Dalam hadits ini, diperbolehkan bagi para wanita untuk menabuh rebana Arab (tak bergenta atau bergemerincing) sambil melantunkan bait-bait syair (anasyid), meskipun terdengar oleh laki-laki pada hari raya.

Perlu diperhatikan mengenai bait-bait yang dilantunkan, yaitu berisi tentang kisah kepahlawanan dan keberanian para pejuang dan yang semisalnya, juga berisi tentang keimanan, amal sholeh dan makna-makna syar’i lainnya. Adapun bait-bait yang bersifat cengeng, memicu syahwat dan pornografi serta kemaksiatan, sebagaimana nyanyian-nyanyian masa kini yang marak di pasaran, maka hal ini tidaklah diperbolehkan.

Alat-alat musik

Demikian pula alat-alat musik yang ada seperti: rebana yang bergemerincing, kendang, seruling, gitar, piano dan sebagainya, baik yang dipukul, diketuk, ditiup maupun digesek, maka ini termasuk yang dilarang dalam syariat menurut kesepakatan para ulama, kecuali pendapat yang ganjil. Nyanyian dan alat-alat musik tersebut dapat menggerakkan syahwat, merubah tabiat serta mengundang kemaksiatan dan fitnah lainnya, diharamkan bagi laki-laki dan perempuan. Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

ليكونن من أمتي أقوام يستحلون الحر والحرير والخمر والمعازف

“Akan ada dari umatku suatu kaum yang menghalalkan zina, sutra, minuman keras dan alat-alat musik.” (HR. Bukhori: 5590 dari Abu ‘Amir Al-Asy’ariy -rodhiyallohu ‘anhu-)

Ketika nyanyian dan alat-alat musik tersebut pertama muncul setelah dikalahkannya Romawi dan Persia di zaman sahabat Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam-, mereka (para sahabat) mengingkari dan melarangnya. Sampai-sampai Ibnu Mas’ud -rodhiyallohu ‘anhu- mengatakan: “Nyanyian itu menumbuhkan kemunafikan dalam hati, sebagaimana air menumbuhkan sayuran.” (lihat Fathul Bari karya Ibnu Rojab: 8/426-435; Tahrim Alat Lahwi wat-Thorb, karya Syaikh Al-Albaniy -rohimahulloh-)

Menabuh rebana bagi laki-laki tidak diperbolehkan dalam syariat sebagaimana alat-alat musik lainnya, karena hal ini termasuk perbuatan menyerupai wanita. Tidaklah yang menabuh rebana pada zaman Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam-melainkan para wanita atau para banci dan syariat telah datang mengenai pembolehan hal tersebut untuk para wanita saja, karena kelemahan akal-akal mereka.
Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

لعن رسول الله صلى الله عليه وسلم المتشبهين من الرجال بالنساء والمتشبهات من النساء بالرجال

“Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- melaknat para laki-laki yang menyerupai wanita dan para wanita yang menyerupai laki-laki.” (HR. Bukhoriy: 5885 dari Ibnu ‘Abbas -rodhiyallohu ‘anhuma-)

Dalam hadits ‘Aisyah -rodhiyallohu ‘anha- di atas, bahwa Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- menyetujui penamaan Abu Bakar terhadap rebana sebagai seruling setan. Ini menunjukkan bahwa hal itu diharomkan secara umum, kecuali siapa yang dikhususkan oleh beliau, yaitu bagi wanita pada hari-hari bahagia. Demikian juga hal itu ditunjukkan oleh hadits Abu ‘Amir Al-Asy’ariy -rodhiyallohu ‘anhu- tersebut di atas, bahwa rebana termasuk alat musik yang diharamkan, selain yang dikecualikan. (Al-Jami’ li Ahkamil ‘Idain, hal. 305-308; Fathul ‘Allam: 2/212-214)

Wabillahit taufiq walhamdulillahi Robbil ‘alamin.

Ditulis: Mushlih Abu Sholeh Al Madiuniy -‘afallohu ‘anhu-
Pada hari raya Idul Adhha 1435H
(Taqobbalallohu minna wa minkum sholihal a’mal)

Maroji':
-  Al-Jami’ li-Ahkamil ‘Idain Minal Kitab was-Sunnah wa Aqwalil Aimmah, oleh Syaikh Zayid bin Hasan Al-Wushobiy -hafidzohulloh-, cet. Maktabah ‘Ibadurrohman-Mesir, tahun 1428H.
–  Fathul ‘Allam fii Dirosah Ahadits Bulughil Marom -haditsiyan wa fiqhiyyan ma’a Ba’dhil Masa’il Al-Mulhaqoh-, oleh Syaikh Muhammad bin ‘Ali bin Hizam Al-Fadhiy -hafidzohulloh-, cet. Maktabah Ibnu Taimiyyah-Yaman, tahun 1432H.

 

Sumber : http://mushlihabusholeh.wordpress.com

“ADAKAH QUNUT SHUBUH ITU ?” (Kajian Rutin Kitab AL-ADZKAR karya Al-Imam An-Nawawi rohimahulloh)

 

Saudaraku kaum Muslimin rohimahulloh,

Tahukah Anda, adakah Doa Qunut ketika Sholat Shubuh itu ? Adakah dalil yang menunjukan disyari’atkannya amalan ini ? Untuk mengetahui jawabannya, berikut ini kami tampilkan rekaman kajian rutin kitab Al-Adzkar karya Al-Imam An-Nawawi rohimahulloh di masjid Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya, bersama dengan Al-Ustadz Abu Abdirrohman Yoyok WN hafidzhohulloh.

Di dalam kitab Al-Adzkar, Al-Imam An-Nawawi rohimahulloh menyebutkan satu bab khusus yang diberi judul “BAB QUNUT SHUBUH”. Beliau menyatakan, bahwa qunut shubuh itu adalah amalan yang disunnahkan. Kemudian beliau menyebutkan dalil-dalilnya, dan beliau menyebutkan pula dalil doa yang dibaca dalam qunut tersebut. Selanjutnya beliau juga menyebutkan adab-adab yang terkait dengan qunut tersebut. Maka berdasarkan pendapat beliau inilah, banyak saudara kita diantara kaum muslimin yang mengamalkan qunut shubuh ini.

Tetapi masalahnya, shohihkah hadits dan dalil-dalil tentang qunut yang dilakukan khusus pada saat sholat shubuh ini ? Untuk mengetahuinya, silahkan Anda mendengar sendiri rekaman kajian kitab ini dan pembahasan serta penjelasannya oleh Al-Ustadz Yoyok hafidzhohulloh.

Tafadhdhol (silahkan) anda mendengarkannya :  DI SINI Read the full post »

PUASA AROFAH DAN KEUTAMAANNYA

 

A. PENGERTIAN HARI AROFAH

Yang dimaksud dengan hari Arofah, adalah hari ke 9 dari bulan Dzulhijjah, atau tanggal 9 Dzulhijjah (yakni ketika para jama’ah haji melakukan puncak ibadah haji, yaitu wuquf di padang ‘Arofah, edt.) (Ithaaful Anaam bi Ahkaami wa Masailis Shiyaam, hal. 187)

B. HARI AROFAH ADALAH TERMASUK ‘IEDUL MUSLIMIN (HARI RAYA KAUM MUSLIMIN)

Dalil yang menunjukkan hal itu adalah hadits Uqbah bin ‘Amir rodhiyallohu ‘anhu, bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يوم عرفة ويوم النحر وأيام التشريق عيدنا أهل الإسلام, وهن أيام الأكل وشرب

“Hari Arofah, Hari Nahr dan Hari-Hari Tasyriq adalah hari raya kita kaum muslimin, itu semua adalah hari-hari makan dan minum.” (HR Imam Abu Dawud no. 2402, At-Tirmidzi no. 773, Ibnu Abi Syaibah (3/376), Ibnu Khuzaimah (2100), Al-Baghowi dalam Syarhus Sunnah no. 1790 dan lain-lain, dishohihkan oleh Syaikh Muqbil Al-Wadi’i rohimahulloh dalam As-Shohihul Musnad (2/28) dan juga guru kami Syaikh Zayid bin Hasan bin Sholih Al-Wushobi hafidzhohulloh dalam Al-Jami’ li Ahkamil ‘Iedain, hal. 28-29)

Keterangan :

a. Hari Arofah termasuk iedul muslimin (hari raya bagi kaum muslimin), yakni khususnya untuk para jama’ah haji yang sedang wuquf di padang Arofah. (lihat : Musykilul Atsar, karya Al-Imam Ath-Thohawy rohimahulloh, juga Al-Jami’ li Ahkamil ‘Iedain, hal. 28-29)

b. Karena itulah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam tidak berpuasa pada hari itu, karena memang hari itu hari raya bagi jama’ah haji, tetapi boleh berpuasa bagi orang yang tidak sedang berpuasa pada hari itu di tempat lainnya di seluruh penjuru bumi. (lihat hadits Ummul Fadhl bintu Harits rodhiyallohu ‘anha sebagaimana dalam Shohih Al-Bukhori 1988 dan hadits Maimunah rodhiyallohu ‘anha juga dalam Shohih Al-Bukhori no. 1989)

 

Masalah : “Apa saja keutamaan yang terdapat pada Hari ‘Arofah itu ?”

Disebutkan dalam hadits Aisyah rodhiyallohu ‘anha, bahwasannya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : ”Tidak ada suatu hari yang Alloh lebih banyak membebaskan seorang hamba dari api neraka, selain dari Hari Arofah. Sesungguhnya Alloh Ta’ala mendekat dan berbangga di hadapan para Malaikat-Nya seraya berfirman : “Apa yang mereka (para hamba-hamba-Ku) inginkan ?” (HR Imam Muslim no. 1348)    Read the full post »

Rekaman Khutbah Jum’at : “KEUTAMAAN MENANGIS KARENA TAKUT KEPADA ALLOH TA’ALA”, bersama Al-Ustadz Abu Abdirrohman Yoyok WN hafidzhohulloh

 

 

Kaum Muslimin hafidzhokumulloh,

Berikut ini adalah rekaman khutbah jum’at di Masjid Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya pekan lalu, yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Abdirrohman Yoyok Wahyu Nugroho hafidzhohulloh ta’ala, dengan tema :  “KEUTAMAAN MENANGIS KARENA TAKUT KEPADA ALLOH”.

Dalam khutbah ini, beliau menyampaikan satu firman Alloh Ta’ala :

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ (٢٣)

“Alloh telah menurunkan AHSANUL HADITS (perkataan yang paling baik, yaitu Al Quran), yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Alloh. Itulah petunjuk Alloh, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun.” (QS Az-Zumar : 23)

Diantara faedah ayat yang mulia ini :

  1. Bahwa Alloh Subhanahu wa Ta’ala-lah yang menurunkan Al-Qur’an, melalui malaikat Jibril ‘alaihis salam kepada Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam. Ini menunjukkan, Al-Qur’an itu bukan dari Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam sendiri, bukan pula buatan Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam.
  2. Bahwa Al-Qur’an itu adalah “AHSANUL HADITS” (sebaik-baik perkataan). Sebagaimana disebutkan pula dalam hadits yang shohih, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya “ASHDAQUL HADITS” (sebenar-benarnya perkataan) adalah Kitabulloh”. Dalam lafadz lainnya : “Sesungguhnya KHOIRUL HADITS (sebaaik-baik perkataan)…” Dalam lafadz lainnya : “Sesungguhnya “AHSANUL HADITS” (sebagus-bagus perkataan)…”
  3. Sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah “MUTASYABIH” (yang serupa ayat-ayat dan hukum-hukumnya), yakni tidak ada pertentangan atau perselisihan antara ayat yang satu dengan yang lainnya, karena dia berasal dari sisi Alloh Ta’ala, bukan buatan manusia.
  4. Dan Al-Qur’an itu juga MATSAANI (yang berulang-ulang/diulang-ulang), yakni yang berulang-ulang hukum-hukum, pelajaran dan kisah-kisah yang ada di dalamnya, tujuannya adalah supaya lebih kuat pengaruhnya dan lebih meresap di hati orang yang membacanya.
  5. Dengan Al-Qur’an ini, akan menjadi “bergetar” dan “takut” kulit serta hati orang-orang yang takut kepada Robb mereka. Sehingga jadilah mereka orang-orang yang tenang dan lembut, kemudian hati mereka pun mudah tersentuh dan mudah menangis karena takut kepada Alloh Ta’ala dan kerasnya adzab-Nya.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat lainnya : Read the full post »

Info Kajian Islam Ilmiah Kota Palopo, “HUKUM-HUKUM SEPUTAR SEMBELIHAN QURBAN”, bersama Al-Ustadz Abu Muqbil Ali Abbas hafidzhohulloh

بسم الله الرحمن الرحيم

Dengan mengharap Ridho Alloh Subhanahu wa Ta’ala, hadirilah………

KAJIAN ISLAM ILMIAH

Pembicara :

Al-Ustadz Abu Muqbil Ali Abbas

Hafidzhohulloh 

Tema :

HUKUM-HUKUM SEPUTAR SEMBELIHAN QURBAN

(Diambil dari KITABUL UDH-HIYYAH, dari Shohih Al-Bukhori) 

W a k t u  :

Hari Sabtu & Ahad, 2-3 Dzulhijjah 1435 H (27-28 September 2014)

(mulai pukul 09.00 Wita – selesai)

T e m p a t  :

Masjid Nurul Muhajirin Sampowae

(Jl. KH Abdurrozzaq, dekat Pom Bensin, Kota Palopo,

Sulawesi Selatan) Read the full post »

AHKAMUL UDH-HIYYAH (Hukum-Hukum Seputar Sembelihan Qurban) (Bagian 2)

 

Adakah kewajiban-kewajiban dan sunnah-sunnah yang harus diperhatikan oleh orang yang hendak berqurban ?

Ya ada, diantara kewajiban-kewajiban yang harus diperhatikan dan dilakukan oleh orang yang hendak berqurban adalah sebagai berikut :

A. Orang yang hendak berqurban, apabila telah memasuki sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah, tidak boleh baginya untuk menghilangkan sedikitpun dari rambut yang tumbuh pada tubuhnya, atau memotong kukunya.

Hal ini berdasarkan sebuah hadits dari Ummu Salamah rodhiyallohu ‘anha, bahwa Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إذا دخلت العشر وأراد أحدكم أن يضحي فلا يمس من شعره وبشره شيئا (وفي لفظ لمسلم : من كان له ذبح يذبحه، فإذا أهل هلال ذي الحجة فلا يأخذن من شعره ولا من أظفاره شيئا حتى يضحي)

“Apabila telah masuk sepuluh hari (pertama di bulan Dzulhijjah), dan salah seorang dari kalian berkeinginan untuk berqurban, maka janganlah dia menyentuh (yakni mengambilnya dengan mencukurnya, mencabutnya atau memotongnya, edt.) sedikitpun dari rambutnya dan kulitnya.”

Dalam lafadz yang lainnya juga dalam riwayat Imam Muslim : “Barangsiapa mempunyai (hewan) sembelihan yang akan dia sembelih (untuk qurban), maka apabila telah muncul hilal (bulan sabit tanggal satu) dari hilal Dzulhijjah, maka janganlah dia mengambil sedikitpun dari rambutnya dan juga kukunya, hingga dia menyembelih qurbannya.” (HR Imam Muslim no. 1977)

Para ulama berbeda pendapat tentang apa hukum larangan dalam hadits tersebut di atas. Sebagian ulama berpendapat haramnya hal tersebut, ini adalah pendapatnya Sa’id bin Al-Musayyib, Robi’ah, Ahmad, Ishaq, Dawud dan sebagian sahabat-sahabat As-Syafi’i. Sebagian lainnya berpendapat hukumnya makruh tanzih (hanya makruh saja, tidak sampai pada derajat haram), ini adalah pendapatnya Imam As-Syafi’i dan mayoritas sahabat-sahabatnya (yakni para ulama yang semadzhab dengan beliau). Sebagian lainnya berpendapat hukumnya tidak makruh, ini adalah pendapatnya Imam Malik (beliau punya beberapa pendapat dalam masalah ini) dan Abu Hanifah. Imam Malik juga berpendapat dimakruhkannya hal tersebut. Beliau juga pendapat lainnya, yaitu berpendapat hukumnya diharamkan pada sembelihan qurban yang hukumnya tathowwu (sunnah saja), tetapi tidak harom bila sembelihannya itu wajib, ini adalah pendapat beliau sebagaimana yang diceritakan oleh Imam Ad-Darimi rohimahulloh. (lihat Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab (8/392) karya Imam An-Nawawi rohimahulloh, dan Syarhus Sunnah (4/348) karya Imam Al-Baghowi rohimahulloh)

Lalu mana yang rojih (kuat dan terpilih) dari pendapat-pendapat tersebut di atas ? Al-Imam As-Syaukani rohimahulloh berkata : “Yang nampak benar adalah orang yang berpendapat haramnya (mengambil/menghilangkan sedikitpun dari rambut atau kukunya) bagi orang yang akan berqurban…..” (Nailul Author, 3/475) Read the full post »

Info Kajian Islam Ilmiah Bantul : “EMPAT KAIDAH DALAM MEMBONGKAR KESYIRIKAN”, bersama Al-Ustadz Choirul Abdi dari Aceh

بسم الله الرحمن الرحيم

Dengan mengaharap Ridho Alloh Subhanahu wa Ta’ala, hadirilah………

KAJIAN ISLAM ILMIYYAH 

Pembicara :

Al-Ustadz Choirul Abdi

(Dari Aceh)

T e m a  :

“EMPAT KAIDAH DALAM MEMBONGKAR KESYIRIKAN”

(Diambil dari Kitab AL-QOWAIDUL ARBA’, karya Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab An-Najdy rohimahulloh)

W a k t u  :

Hari Ahad, 26 Dzulqo’dzah 1435 H / 21 September 2014 M

(Mulai pukul 10.00 wib – selesai)

T e m p a t  :

Masjid Utsman bin Affan

(Petir, Srimartani, Piyungan, Bantul, Yogyakarta) Read the full post »

AHKAMUL UDH-HIYYAH (Hukum-Hukum Seputar Sembelihan Qurban) (Bagian 1)

 

Apa Hukum-nya berqurban itu ?

Dalam masalah ini para ulama berbeda pendapat. Ada yang berpendapat bahwa hukumnya adalah wajib. Ini adalah pendapatnya Al-Laits, Abu Hanifah, Al-Auza’i, Ats-Tsauri dan Imam Malik dalam salah satu pendapatnya.

Dalilnya adalah hadits Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu, bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

من كان له سعة ولم يضح فلا يقربن مصلانا

“Barangsiapa mempunyai kelapangan (rejeki) tetapi dia tidak berqurban, maka janganlah dia mendekati tempat sholat kami.” (HR Imam Ahmad (2/321), Ibnu Majah no. 3123, dan Al-Hakim (2/389) dan (4/231-232) ).

Jalan hadits ini berputar pada Abdulloh bin ‘Ayyasy Al-Qotbany, dari Al-A’roj, dari Abu Huroiroh. Para ulama berbeda pendapat tentang apakah hadits ini marfu’ (terangkat sampai Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam) ataukah  mauquf (hanya dari perkataan sahabat yang meriwayatkan hadits ini saja). Zaid bin Al-Habbab dan Abdulloh bin Yazid Al-Muqri’ meriwayatkan hadits ini dari Abdulloh bin ‘Ayyasy secara marfu’. Sedangkan Ibnu Wahab meriwayatkan dari Abdulloh bin ‘Ayyasy secara mauquf. Barangkali kesalahan hadits ini berasal dari Abdulloh bin ‘Ayyasy, karena dia adalah perowi yang dho’if. Ibnu Abdil Hadi dalam kitabnya At-Tanqih merojihkan mauqufnya hadits tersebut, sebagaimana dalam Nashbur Royah (4/207), beliau berkata setelah menyebutkan perselisihan seputar hadits tersebut : “Demikian pula seperti yang diriwayatkan oleh Ja’far bin Robi’ah dan Ubaidillah bin Abi Ja’far, dari Al-A’roj, dari Abu Huroiroh secara mauquf. Inilah yang menyerupai kebenaran.” Al-Hafidz dalam Fathul Bari (Bab pertama dari Kitab Al-Adhohy) juga berkata : “Akan tetapi para ulama berselisih pendapat tentang marfu’ dan mauqufnya (hadits tersebut). Sedangkan mauquf, ini lebih menyerupai/mendekati kebenaran. Demikianlah seperti yang dikatakan oleh Ath-Thohawy dan yang selainnya.”

Dari pembahasan hadits seperti tersebut di atas, guru kami Syaikh Muhammad bin Ali bin Hizam hafidzhohulloh menyimpulkan : “Hadits ini dho’if secara marfu’, tetapi shohih secara mauquf.” (Bulughul Marom no. 1347 , dengan tahqiq dan takhrij dari beliau, penerbit Darul Ashimah dan Maktabah Ibnu Taimiyyah, Dammaj, Yaman) Read the full post »

Rekaman Khutbah Jum’at, dengan tema : “FAEDAH DARI SURAT AR-ROHMAN AYAT 1-9.”

Kaum Muslimin rohimakumulloh,

Berikut ini adalah rekaman khutbah jum’at pekan lalu, dengan tema : “FAEDAH DARI SURAT AR-ROHMAN AYAT 1-9″, yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah di Masjid Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya.

Dalam khutbah ini, beliau menguraikan dan menjelaskan apa yang terkandung dari beberapa ayat dari surat  Ar-Rohman. Diantaranya adalah Alloh Ta’ala menetapkan adanya timbangan keadilan, dan Alloh mengutus Rosul-Nya untuk menegakkan keadilan di tengah manusia, untuk kemashlahatan mereka, di dunia maupun di akhirat.

Untuk mengetahui selengkapnya, silahkan anda mendengarkan dan mengambil faedah dari khutbah jum’at ini. Semoga bermanfaat bagi yang menyampaikan maupun yang mendengarkannya, barokallohu fiikum.

Selengkapnya, silahkan antum dengarkan ataupun mendownload-nya  : DI SINI Read the full post »

WASIAT ROSULULLOH AGAR BERPEGANG TEGUH DENGAN AL-QUR’AN

 

Saudaraku kaum muslimin hafidzhokumulloh,

Berikut ini adalah rekaman Khutbah Jum’at dua pekan lalu di masjid Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya, dengan tema : “WASIAT ROSULULLOH SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WA SALLAM AGAR BERPEGANG TEGUH DENGAN AL-QUR’AN”, yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Abdirrohman Yoyok WN.

Dalam khutbah ini, Ust Yoyok hafidzhohuloh menyampaikan satu hadits dari Al-Imam Al-Bukhori dan Imam Muslim dalam shohih keduanya, dari Abdulloh bin Abi Aufa rodhiyallohu anhu, yang menjelaskan tentang wasiat Rosululloh. Ya, ternyata beliau mewasiatkan kepada kita semua kaum muslimin sebelum wafatnya, agar  selalu berpegang teguh dengan Al-Qur’an, dan tentunya juga sunnah beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam. 

Dan disebutkan dalam riwayat yang lainnya, bahwa siapapun yang berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, dia tidak akan sesat selama-lamanya. Dan siapapun yang menginginkan rahmat-Nya dan petunjuk dari-Nya, serta mengharapkan ketenangan batin dan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat, hendaknya dia berpegang teguh dengan Al-Qur’an, yakni dengan selalu membacanya, mempelajari maknanya, mengambil hukum dengannya, berhias dan berakhlak  dengannya.

Keberkahan hidup di dunia maupun di akhirat, juga bisa diraih apabila kita selalu berpegang teguh dengan Al-Qur’an. Dan masih keutamaan lainnya, bila kita selalu berpegang teguh dengannya. Untuk mengetahui selengkapnya, silahkan anda mendengarkan rekaman khutbah jum’at ini selengkapnya.

Ya, anda bisa mendengarkan dan mendownload-nya :  DI SINI Read the full post »

Nasehat Untuk Yang Akan/Sedang Menunaikan Ibadah Haji/Umroh : “TENTANG ADAB & AKHLAK YANG HARUS DIPERHATIKAN SELAMA MENUNAIKAN IBADAH HAJI/UMROH”

 

 Kepada Anda yang akan/sedang menunaikan ibadah haji maupun umroh, berikut ini akan kami sampaikan beberapa nasehat penting untuk selalu diperhatikan, agar ibadah haji atau umroh tersebut benar-benar diterima oleh Alloh Ta’ala sebagai haji yang mabrur atau umroh yang diterima oleh Alloh Ta’ala.

Diantaranya adalah sebagai berikut :

Pertama : Kewajiban yang paling penting untuk dilaksanakan oleh orang yang berhaji/berumroh adalah mengikhlaskan amalannya karena Alloh Ta’ala, dan hendaknya dia membersihkan amalannya tersebut dari riya’ (beramal karena ingin dilihat dan dipuji oleh orang lain) dan sum’ah (beramal karena ingin didengar dan dipuji oleh orang lain). Hal ini dilakukan agar dia mendapatkan pahala/balasan atas amalan haji atau umrohnya tersebut.

Disebutkan dalam Shohih Muslim, dari hadits Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu, dia berkata : “Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Alloh Tabaroka wa Ta’ala berfirman (dalam hadits Qudsi) :

أنا أغنى الشركاء عن الشرك, من عمل عملا أشرك فيه معي غيري تركته وشركه

“Aku tidak butuh kepada sekutu-sekutu (tuhan-tuhan tandingan) dari kesyirikan. Barangsiapa melakukan suatu amalan yang dia menyekutukan Aku dengan selain-Ku dalam amalannya tersebut, Aku tinggalkan dia dan sekutunya tersebut.” (HR Imam Muslim no. 7475)   

Kemudian disebutkan pula dalam Sunan Ibnu Majah dengan sanad yang dho’if, sebuah hadits dari Anas bin Malik rodhiyallohu ‘anhu, bahwa Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda (berdoa) di dalam hajinya :

اللهم حجة لا رياء فيها ولا سمعة

“Ya Alloh, (aku melaksanakan) ibadah haji ini bukan karena riya’ di dalamnya dan bukan pula karena sum’ah.” (HR Ibnu Majah no. 2890, dan Syaikh Al-Albani rohimahulloh telah menerangkan hadits ini dalam kitab beliau Silsilah Ahaadits As-Shohihah (no. 2617), dan menjadikan hadits ini derajatnya Hasan li ghoirihi, wallohu a’lam)

Kedua : Hendaknya orang yang akan/sedang berhaji itu bersungguh-sungguh dalam mengenal/memahami hukum-hukum haji dan umroh, agar dia bisa menunaikan manasik ibadah haji atau umrohnya tersebut di atas ilmu. Dan hendaknya pula dia bertanya kepada Ahli Ilmu (para ulama) tentang sesuatu sebelum dia beramal, sehingga amalannya tersebut tidak terjatuh pada kesalahan/kekeliruan.

Diantara kitab yang paling bagus dan paling bermanfaat tentang hal ini, contohnya adalah kitabnya Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baaz rohimahulloh tentang bimbingan bagi para jama’ah haji/umroh. Read the full post »

KEUTAMAAN HAJI DAN UMROH

 

Diantara amalan yang disyari’atkan dalam agama kita ini adalah Ibadah Haji dan Umroh. Disyari’atkannya amalan tersebut, tentu mengandung fadhilah (keutamaan) yang sangat besar, dan juga balasan yang mulia bagi yang mengamalkannya. 

Berikut ini, akan kami paparkan beberapa dalil yang menjelaskan tentang keutamaan ibadah tersebut. Diantaranya adalah sebagai berikut :

Pertama : Bahwa Haji dan Umroh itu termasuk sebagus-bagusnya amalan. Dalam hadits Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu, dia berkata :

أن رسول الله صلى الله عليه و سلم سئل : أي العمل أ فضل ؟ قال : إيمان بالله ورسول. قيل : ثم ماذا ؟ قال : الجهاد في سبيل الله. قيل : ثم ماذا ؟ قال : حج مبرور

“Bahwasannya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam ditanya : “Amal apakah yang paling utama itu ?” Beliau menjawab : “Beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya.” Beliau ditanya lagi : “Kemudian apa lagi ?” Beliau menjawab : “Berjihad di jalan Alloh.” Beliau ditanya lagi : “Kemudian apa lagi ?” Beliau menjawab : Haji yang mabrur.” (HR Imam Al-Bukhori no. 26 dan Imam Muslim no. 248)

Kedua : Orang yang menunaikan ibadah haji dan umroh itu akan diberi pahala/balasan berupa surga. Disebutkan pula dalam hadits Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

العمرة إلى العمرة كفارة لما بينهما, والحج المبرور ليس له جزاء إلا الجنة

“(Dari) umroh yang satu kepada umroh yang  berikutnya, (adalah) sebagai penghapus (semua dosa) yang terjadi diantara keduanya. Dan haji mabrur, tidak ada balasan baginya kecuali surga.” (HR Imam Al-Bukhori no. 1773 dan Imam Muslim no. 3289)

Ketiga : Orang yang ber-Haji dan Umroh, akan kembali pulang ke rumahnya dalam keadaan dosa-dosanya dibersihkan, seperti bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya. Dalam hadits Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu juga disebutkan, bahwa Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda bersabda :

من حج لله فلم يرفث ولم يفسق رجع كيوم ولدته أمه

“Barangsiapa berhaji karena Alloh (yakni ikhlas karena-Nya), kemudian tidak melakukan rofats dan tidak pula berbuat kefasikan, dia akan kembali (pulang) seperti hari dia baru dilahirkan oleh ibunya.” (HR Imam Al-Bukhori no. 1521 dan Imam Muslim no. 3291) Read the full post »

NIKMATNYA HIDAYAH ISLAM, sebuah Nasehat dari Al-Ustadz Abu Abdirrohman Muhammad Irham Demak hafidzhohulloh

 

Saudaraku kaum muslimin hafidzhokumulloh,

Berikut ini akan kami tampilkan rekaman muhadhoroh Al-Ustadz Abu Abdirrohman Muhammad Irham hafidzhohulloh dari Demak, Jawa Tengah beberapa waktu lalu, ketika beliau berkunjung di Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya selama beberapa hari. 

Selama ini beliau masih tinggal di kota Shon’a, Ibu Kota Yaman, bersama keluarga beliau, untuk keperluan tholabul ilmi. Dan kurang lebih dua bulan terakhir ini beliau ada di Indonesia untuk sementara waktu, karena ada urusan keluarga (berziaroh kepada bapak-ibu beliau dan saudara-saudaranya), dan untuk keperluan lainnya. Dan insya Alloh beliau akan segera pulang kembali ke Yaman untuk berkumpul kembali bersama keluarganya sendiri (istri dan putra-putrinya, yang saat ini bersama orang tuanya di Yaman). 

Alhamdulillah, di sela-sela kesibukan beliau tersebut, beliau sempatkan pula ziaroh (berkunjung) ke kota Medan (Sumatra Utara), Magetan, Ngawi, Surabaya, Probolinggo, Cianjur, Jakarta dan tempat-tempat lainnya.

Ketika ziaroh di Surabaya, beliau tinggal di Pondok Pesantren Darul Ilmi hampir satu pekan, dan menyampaikan beberapa dars (pelajaran) yang bermanfaat untuk segenap santri, pengurus pondok dan segenap masyarakat sekitar pondok yang aktif mengikuti kajian dan dars ‘aam (pelajaran-pelajaran umum) di Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya.

Diantara yang beliau nasehatkan dalam dars beliau adalah tentang “NIKMATNYA HIDAYAH ISLAM”, kemudian juga tentang “MENSYUKURI NIKMAT THOLABUL ILMI DAN YANG LAINNYA”, dan masih banyak yang lainnya. Read the full post »