RSS

Rekaman Muhadhoroh Syaikh Muhammad bin Mani’ hafidzhohulloh : “BERSEGERA MENUJU KEPADA KETAATAN.”

Hasil gambar untuk sholat jamaah

 

Kaum Muslimin rohimaniyalloh wa iyyakum …………

Berikut ini adalah rekaman Muhadhoroh (Kajian Umum) hari Ahad kemarin (tanggal 27 Shofar 1438 H / 27 Mopember 2016) yang disampaikan oleh As-Syaikh Al-Fadhil Abu Ibrohim Muhammad bin Mani’ Al-Ansi  hafidzhohulloh,  di Masjid Pondok Pesantren Ittiba’us Sunnah, Sampung, Plaosan Magetan Jawa Timur, dengan tema sebagaimana disebutkan pada judul di atas.

Dalam khutbah ini, Syaikh menjelaskan kepada kita tentang pentingnya bagi kita semua untuk “bersegera” dalam melakukan berbagai amal ketaatan kepada Alloh Ta’ala. Yakni, bersegera dalam melakukan ketaatan dan tidak menunda-nunda atau mengakhirklannya.

Dan tidak diragukan, bahwa kematian itu pasti akan datang, sementara umur kita itu pendek. Karena itu, agar kita tidak terlambat, hendaknya kitra bersegera dan cepat-cepat dalam melakukan amal ketaatan kepada Alloh, yang bisa mengantarkan kita kepada pengampunan-Nya dan surga-Nya. Banyak dalil-dalil yang menjelaskan permasalahan ini.

Dan dalam muhadhoroh ini, banyak sekali pelajaran-pelajaran penting yang disampaikan oleh Syaikh, khususnya tentang mengapa dan apa faedahnya kita harus bersegera dalam melakukan ketaatan kepada Alloh, dan meninggalkan hal-hal yang dilarang oleh Alloh Ta’ala .

Untuk mengetahui selengkapnya, silahkan Anda mendengarkan sendiri rekaman muhadhoroh ini sampai akhir. Silahkan anda mendengarkannya sendiri, atau mendownloadnya dengan klik pada judul kajian tersebut :

BERSEGERA MENUJU KEPADA KETAATAN (Bagian 1)

BERSEGERA MENUJU KEPADA KETAATAN (Bagian 2)

Penerjemah Kajian ini : Al-Ustadz Abu Zakariya Irham (Pengasuh Pondok Pesantren Al-Utsmani, Purworejo Jawa Tengah)

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on الخميس 03 ربيع الأول 1438 in Aqidah, Manhaj, Muhadhoroh

 

Info Muhadhoroh Ilmiyyah Magetan : “BERSEGERA MENUJU KETAATAN.” Bersama Syaikh Muhammad bin Mani’ Al-Ansi hafidzhohulloh

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Hasil gambar untuk kitab ulama salaf

Dengan mengharap ridho Alloh Subhanahu wa Ta’ala, hadirilah …….

MUHADHOROH ILMIYYAH

(Kajian Umum Ilmiyyah)

Dengan Thema :

المسارعة إلى الطاعة

(BERSEGERA MENUJU KETAATAN)

Bersama :

Asy-Syaikh Al-Fadhil Abu Ibrohim Muhammad bin Mani’ Al-Ansi hafidzhohulloh

(dari Shon’a – Yaman)

W a k t u  :

Hari Ahad, 27 Shofar 1438 H / 27 Nopember 2016 M

(Insya Alloh mulai pukul 09.00 –  Dhuhur)  

T e m p a t  :

Ma’had (Pondok Pesantren) ITTIBA’US SUNNAH, Sampung Magetan Jawa Timur

Catatan :

Kegiatan ini berlaku untuk umum, Ikhwan maupun Akhwat Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on الخميس 24 صفر 1438 in Dauroh, Info, Muhadhoroh

 

Taushiyyah (Nasehat) : “BERHATI-HATILAH DARI PERKARA YANG BISA MENGGELINCIRKAN PARA PENUNTUT ILMU.”

Hasil gambar untuk kitab ulama salaf

 

Ikhwani fillah rohimaniyallohu wa iyyakum  …………..

Beberapa waktu lalu, Al-Ustadz Abu Abdirrohman Yoyok WN hafidzhohulloh berziaroh (berkunjung) ke Ngawi dan Magetan untuk suatu keperluan, lebih khusus ke Majelis Ta’lim Masjid Al-Imam Al-Wadi’i di Kota Ngawi yang diasuh oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Fu’ad Hasan bin Mukiyi hafidzhohulloh, dan juga berkunjung di Pondok Pesantren Ittiba’us Sunnah Magetan yang diasuh oleh Al-Ustadz Abu Hazim dan Al-Ustadz Abu Arqom hafidzohumalloh.

Dalam kesempatan kunjungan tersebut, beliau diminta untuk menyampaikan beberapa nasehat untuk segenap para santri dan juga ikhwah di sana. Alhamdulillah, meskipun dalam waktu kunjungan yang ringkas dan sebentar, beliau pun menyempatkannya.

Dan mengingat bagusnya dan pentingnya nasehat tersebut, maka kami hadirkan di hadapan antum semuanya rekaman taushiyyah/nasehat tersebut, semoga semakin menambah ilmu dan juga semangat kita untuk senantiasa tholabul ilmi.

1. Rekaman Kajian / Taushiyyah di Magetan :

(“BAGAIMANA SEORANG MU’MIN MEMANDANG UJIAN BERUPA KENIKMATAN & KESULITAN HIDUP DI DUNIA INI.”)

2. Rekaman Kajian / Taushiyyah di Ngawi :

(“BERHATI-HATILAH DARI PERKARA YANG BISA MENGGELINCIRKAN PARA PENUNTUT ILMU.”)

Maka untuk mengetahui isi rekaman kajian ini selengkapnya, silahkan anda mendengarkannya sendiri, atau dengan mendownloadnya, dengan “klik” judul kajian atau taushiyyah tersebut di atas. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on الثلاثاء 22 صفر 1438 in Al Ustadz Abu Abdirrahman Yoyok, Muhadhoroh

 

Rekaman Khutbah Jum’at : “BAGAIMANA BERSYUKUR KEPADA ALLOH & JUGA BERSYUKUR (BERTERIMA KASIH) KEPADA ORANG LAIN.”

Hasil gambar untuk indahnya bersyukur

 

Kaum Muslimin rohimaniyalloh wa iyyakum …………

Berikut ini adalah rekaman Khutbah Jum’at pekan lalu yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah hafidzhohulloh di Masjid Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya, dengan tema sebagaimana disebutkan pada judul di atas.

Dalam khutbah ini, Ustadz menjelaskan tentang keutamaan dan kelebihan yang Alloh berikan kepada manusia, yang tidak diberikan kepada makhluk-makhluk Alloh yang lainnya. Yang mana dengan kelebihan itu, menjadikan manusia makhluk yang paling mulia dan utama di alam ini. Sebagaimana yang Alloh Ta’ala nyatakan dalam firman-Nya :

۞وَلَقَدۡ كَرَّمۡنَا بَنِيٓ ءَادَمَ وَحَمَلۡنَٰهُمۡ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ وَرَزَقۡنَٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَفَضَّلۡنَٰهُمۡ عَلَىٰ كَثِيرٖ مِّمَّنۡ خَلَقۡنَا تَفۡضِيلٗا ٧٠ 

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS Al-Isro’ : 70)

Banyak sekali ayat-ayat yang menjelaskan hal tersebut, tujuannya adalah agar kita bersyukur atas kenikmatan-kenikmatan tersebut, kemudian menggunakan kenikmatan tersebut untuk beribadah kepada Alloh Ta’ala.

Disamping kita pandai bersyukur kepada Alloh atas segaloa nikmat yang diberikan-Nya, hendaknya juga kita pandai bersyukur (berterima kasih) terhadap siapa saja yang telah memberikan kebaikan kepada kita. Dengan saling memberikan ucapan terima kasih, dan juga saling mengakui kelebihan yang ada pada saudara kita sesama muslim. Baik dengan kita membalas kebaikan kepadanya, ataupun mengucapkan terima kasih kepadanya, ataupun dengan mendoakan kebaikan kepadanya.

Dan masih banyak pelajaran-pelajaran yang lainnya yang disampaikan ustadz pada khutbah kali ini. Untuk mengetahui selengkapnya, silahkan Anda mendengarkan sendiri rekaman khutbah jum’at ini sampai akhir, atau dengan mendowloadnya, dengan klik : ( DI SINI ) Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on الاثنين 21 صفر 1438 in Al Ustadz Abu Ubaidah, Khutbah

 

Rekaman Khutbah Jum’at : “KEBAIKAN & KEBURUKAN, ADALAH COBAAN DARI ALLOH TA’ALA.”

Hasil gambar untuk telaga indah

 

Ikhwani fillah rohimaniyallohu wa iyyakum  …………..

Berikut ini adalah rekaman Khutbah Jum’at pekan lalu yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Abdirrohman Yoyok WN hafidzhohulloh di Masjid Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya, dengan tema sebagaimana disebutkan pada judul di atas.

Dalam khutbah ini, beliau menjelaskan, bahwa yang namanya “cobaan” dari Alloh Ta’ala itu, bukanlah hanya dalam perkara-perkara yang “dibenci/tidak disukai” oleh umumnya manusia, seperti sakit, kemiskinan, penderitaan hidup, musibah berupa bencana, kematian dan sebagainya.

Tetapi sebenarnya, cobaan Alloh Ta’ala itu juga meliputi perkara-perkara yang sangat “disenangi/disukai” oleh manusia, seperti : kekayaan, kecukupan, kesehatan, hidup bahagia, dan segala kesenangan yang Alloh berikan kepada manusia di bumi ini.

Lalu, bagaimana sikap seorang muslim memandang kenikmatan yang Alloh berikan kepada kita ? Apa yang sepantasnya kita lakukan terhadapnya ? Bagaimana kita mengantisipasi “fitnah” yang ditimbulkannya ?

Insya Alloh dalam khutbah ini, diuraikan secara ringkas penjelasan permasalahan-permasalahan yang ditanyakan tersebut, semoga memberikan manfaat bagi kita semuanya.

Maka untuk mengetahui isi khutbah ini selengkapnya, silahkan anda mendengarkannya sendiri, atau dengan mendownloadnya, dengan klik : ( DI SINI )

Semoga Alloh Ta’ala menjadikan khutbah ini sebagai ilmu yang bermanfaat bagi kita semuanya, barokallohu fiikum ………….. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on الأربعاء 16 صفر 1438 in Al Ustadz Abu Abdirrahman Yoyok, Khutbah

 

Rekaman Khutbah Jum’at : “TERMASUK PRINSIP AL-WALA’ & AL-BARO’, ADALAH MEMILIKI GHIROH (KECEMBURUAN) TERHADAP AGAMA ISLAM.”

Hasil gambar untuk masjid di tepi telaga

 

Kaum Muslimin rohimaniyalloh wa iyyakum …………

Berikut ini adalah rekaman Khutbah Jum’at pekan lalu yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah hafidzhohulloh di Masjid Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya, dengan tema sebagaimana disebutkan pada judul di atas.

Dalam khutbah ini, Ustadz menjelaskan tentang firman Alloh Ta’ala, yang disebutkan dalam firman-Nya di surat Al-Mujadilah ayat 22 :

لَّا تَجِدُ قَوۡمٗا يُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ يُوَآدُّونَ مَنۡ حَآدَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَوۡ كَانُوٓاْ ءَابَآءَهُمۡ أَوۡ أَبۡنَآءَهُمۡ أَوۡ إِخۡوَٰنَهُمۡ أَوۡ عَشِيرَتَهُمۡۚ أُوْلَٰٓئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ ٱلۡإِيمَٰنَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٖ مِّنۡهُۖ وَيُدۡخِلُهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَاۚ رَضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُۚ أُوْلَٰٓئِكَ حِزۡبُ ٱللَّهِۚ أَلَآ إِنَّ حِزۡبَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ٢٢

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah hizbulloh (golongan Allah). Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.” (QS Al-Mujadilah : 22)

Ayat tersebut di atas, menjelaskan salah satu prinsip Al-Wala’ wal Baro’ (prinsip loyalitas dan berlepas diri) dalam agama Islam. Yang mana dalam prinsip tersebut, seorang muslim mempunyai sikap yang jelas, kepada siapa dia bersikap Wala’ (loyalitas, yang di dalamnya mengandung kecintaan, saling berkasih sayang dan tolong menolong), dan kepada siapa bersikap Baro’ (berlepas diri, yang di dalamnya mengandung sikap membenci, saling bermusuhan dan sikap memerangi).

Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda : “Ikatan iman yang paling kuat adalah “mencintai karena Alloh dan membenci juga karena Alloh Ta’ala.”

Nabi juga bersaqbda : “Sesungguhnya Alloh Ta’ala itu mempunyai sifat Ghiroh (cemburu), dan ghiroh Alloh adalah apabila seorang muslim mendatangi apa yang dilarang oleh Alloh (yakni melanggar hal-hal yang diharomkan Alloh, berupa dosa-dosa dan maksiat, edt.).” (HR Imam Al-Bukhori dan Imam Muslim)

Apa yang dimaksud sifat Ghiroh itu ? Dan apa manfaatnya bila sifat tersebut juga ada pada seorang muslim ? Dan apa hubungannya dengan prinsip Al-Wala’ wal Baro’ dalam agama Islam ini ? Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on الخميس 10 صفر 1438 in Al Ustadz Abu Ubaidah, Khutbah

 

“WASIAT ROSULULLOH SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WA SALLAM YANG MENGGETARKAN HATI.”

Hasil gambar untuk tegar diatas sunnah

 

عَنْ أَبِي نَجِيْحٍ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَاريةَ رَضي الله عنه قَالَ : وَعَظَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ الله عليه وسلم مَوْعِظَةً وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوْبُ، وَذَرِفَتْ مِنْهَا الْعُيُوْنُ، فَقُلْنَا : يَا رَسُوْلَ اللهِ، كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ، فَأَوْصِنَا، قَالَ : أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ   عَبْدٌ، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفاً كًثِيْراً. فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ   وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

[رَوَاه داود والترمذي وقال : حديث حسن صحيح]

 

Terjemah hadits / ترجمة الحديث         :

“Dari Abu Najih Al-Irbadh bin Sariyah radhiyallahu anhu dia berkata : “Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam memberikan nasehat kepada kami, dengan suatu nasehat yang membuat hati kami bergetar dan air mata kami bercucuran. Maka kami berkata : “Wahai Rasulullah, seakan-akan ini merupakan nasehat perpisahan, maka berilah kami wasiat.” Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah ta’ala, (dan aku wasiatkan juga agar) tunduk dan patuh kepada pemimpin kalian, meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak. Karena sesungguhnya baarangsiapa diantara kalian yang hidup lama (setelah ini), dia akan menyaksikan perselisihan yang banyak sekali. Oleh karena itu hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnah-ku (tuntunan/ajaranku) dan sunnah-nya Khulafaurrasyidin yang mendapatkan petunjuk, gigitlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian (yakni peganglah sunnah tersebut kuat-kuat). Dan berhati-hatilah kalian dari perkara-perkara baru yang diada-adakan (dalam agama ini), karena semua perkara bid’ah itu adalah sesat.“

(HR  Abu Daud no. 4607, At-Tirmidzi no. 2676, Ibnu Majah no. 42 dan 43, Imam Ahmad dalam Al-Musnad (4/126), Ad-Darimi no. 95, Ibnu Hibban dalam As-Shohih no. 25 dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrok no. 329), hadits ini dishohihkan oleh Syaikh Muhamad Nashiruddin Al-Albani rohimahulloh dalam Shohih Al-Jami’ no. 2549 dan Al-Misykah no. 165)

Faedah atau Pelajaran Penting yang bisa ambil dari hadits yang mulia ini adalah :

  1. Disyari’atkannya memberikan “mau’idzhoh” (nasehat-nasehat yang bermanfaat) bagi kaum muslimin.
  2. Sepantasnya bagi seorang pemberi nasehat itu hendaklah memberi nasehat dengan nasehat-nasehat yang “membekas” (yakni memberi bekas dan pengaruh yang mendalam di dalam hati orang-orang yang diberi nasehat)
  3. Bagi orang-orang yang diberi nasehat (yakni sasaran pemberian nasehat tersebut), bila nasehat itu benar-benar tepat dan mengena di hati, terkadang hal itu menyebabkan hati bergetar dan air mata bisa meleleh (bercucuran).
  4. Hati itu, bila penuh dengan rasa takut kepada Alloh, dia akan mudah menangis. Tetapi bila hati itu keras dan kaku, air mata pun tidak akan mudah menangis.
  5. Biasanya, nasehat perpisahan dari orang yang hendak bepergian jauh itu memberikan bekas yang mendalam.
  6. Hendaknya seseorang itu meminta nasehat dari orang yang “alim” (yang benar-benar mengerti ilmu agama), khususnya ketika ada sebab-sebab tertentu yang mengharuskannya untuk bertanya atau meminta nasehat kepada ahlinya.
  7. Sesungguhnya nasehat/wasiat yang paling penting untuk disampaikan pada seseorang itu adalah nasehat/wasiat agar “bertaqwa” kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala.
  8. Hal itu menunjukkan “pentingnya ketaqwaan”, karena inilah nasehat/wasiat yang paling utama, paling penting dan paling pertama kali untuk disampaikan pada seseorang.
  9. Wasiat Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam kepada seluruh umat Islam, agar senantiasa “mendengar & taat” kepada Wulatul Umur atau Waliyyul Amr (pemerintah/pemimpin kaum muslimin). Mendengar dan mentaati mereka, hukumnya adalah wajib berdasarkan Al-Qur’an dan as-Sunnah. Tetapi kewajiban tersebut, khususnya dalam hal kebaikan dan amal-amal sholih yang sesuai bimbingan Al-Qur’an dan As-Sunnah, bukan ketaatan dalam berbuat kemaksiatan dan dosa-dosa, atau perkara yang menyelisihi syari’at.
  10. Bolehnya dan sahnya kepemimpinan seorang “budak” atau hamba sahaya. Hanya saja para ulama berbeda pendapat, apakah jika budak menjadi pemimpin ummat, hal itu melazimkan/mengharuskan ketaatan kepadanya atau tidak ? Yang benar, tetap wajib mentaatinya, khususnya dalam masalah hukum dan kepemimpinannya.
  11. Wajibnya mentaati pemimpin, meskipun dia bukan seorang penguasa/raja. Misalnya kepada para pemimpin suatu wilayah, seperti gubernur, bupati dan sebagainya.
  12. Hadits ini merupakan tampaknya salah satu mu’jizat Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam, yakni khususnya tentang kabar “perpecahan/perselisihan” umat Islam ini, yang kelak akan terjadi sepeninggal Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, sedangkan di jaman Nabi, hal itu belum terjadi.
  13. Wajibnya berpegang teguh dengan “Sunnah” Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam ketika terjadi perselisihan/perbedaan pendapat. Sebenarnya, berpegang teguh dengan Sunnah shollallohu ‘alaihi wa sallam itu wajib dalam semua keadaan, tetapi ketika dalam keadaan terjadi perselisihan dan perpecahan ummat tersebut, lebih dipentingkan lagi.
  14. Wajib bagi seseorang untuk mengetahui dan mempelajari Sunnah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Hal itu karena, tidak mungkin seseorang itu bisa berpegang teguh dengan Sunnah Rosululloh, kecuali setelah dia mempelajari Sunnah tersebut. Jika dia tidak menmgenal dan mempelajari Sunnah Rosululloh, tidak akan mungkin dia akan berpegang teguh dengannya.
  15. Bahwa pada diri Khulafa’ur Rosyidin (yakni para Kholifah/Pengganti Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam hal memimpin kaum muslimin, yang telah mendapat petunjuk dari Alloh Ta’ala), terdapat sunnah (jalan hidup yang ditempuh) yang patut diikuti dan diteladani, bagi umat-umat setelah mereka. Hal itu karena pada diri mereka dan generasi para Sahabat Nabi secara umum, terdapat teladan yang baik dalam hal penerapan dan pelaksanaan agama Islam dan syari’atnya secara utuh.
  16. Bahwa apabila kelompok-kelompok atau golongan-golongan dalam tubuh umat Islam, semakin banyak bermunculan dengan berbagai “nama” yang berbeda-beda dan bermacam-macam, maka akan timbullah kerusakan dan bencana perpecahan yang sangat besar. Di saat itulah Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam memberikan bimbingan pada kita :

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on الأربعاء 09 صفر 1438 in Hadits, Manhaj, Risalah

 

Rekaman Khutbah Jum’at : “KEISTIMEWAAN TAQWA & ORANG-ORANG YANG BERTAQWA.”

Hasil gambar untuk takwa kepada Allah

 

Kaum Muslimin rohimaniyalloh wa iyyakum …………

Berikut ini adalah rekaman Khutbah Jum’at pekan lalu yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah hafidzhohulloh di Masjid Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya, dengan tema sebagaimana disebutkan pada judul di atas.

Dalam khutbah ini, Ustadz menjelaskan tentang pentingnya TAQWA. Begitu pentingnya taqwa itu, hingga taqwa adalah merupakan wasiat yang agung dari Alloh Ta’ala, juga wasiat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, agar kita semua untuk bertaqwa kepada Alloh Ta’ala.

Dan orang-orang yang bertaqwa, akan mendapatkan janji dan keutamaan yang besar dari Alloh ta’ala, diantaranya : Alloh akan memberikan “FURQON” (nur dan ruh) bagi orang yang bertaqwa, yang dengannya Alloh memberikan kepada hamba-Nya yang beriman dan bertaqwa, agar bisa berjalan di atas bumi ini dengan petujuk-Nya. Ruh, menghidupkan hati orang yang beriman. Dan nur, memberikan cahaya yang terang benderang dengan cahaya petunjuk bagi orang yang beriman. Dan masih banyak, janji Alloh yang akan diberikan bagi orang-orang yang bertaqwa.

Untuk mengetahui selengkapnya isi khutbah ini, silahkan Anda mendengarkan sendiri rekaman khutbah jum’at ini sampai akhir, atau dengan mendowloadnya, dengan meng-klik : ( DI SINI ) Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on الثلاثاء 01 صفر 1438 in Al Ustadz Abu Ubaidah, Khutbah

 

HUKUM BERPUASA SUNNAH DI HARI JUM’AT

Hasil gambar untuk langkah ke masjid

 

Pertanyaan : “Apakah boleh berpuasa Qodho’ (membayar hutang puasa Romadhon) bertepatan pada hari jum’at secara sendirian (yakni tanpa berpuasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya) ?”

Jawab :

“Berpuasa pada hari Jum’at secara sendirian, (tentang hal ini) Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam telah melarang berpuasa di hari itu secara khusus, karena Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam : “Ketika beliau masuk ke rumah salah seorang istri dari istri-istri beliau, beliau mendapati istrinya tersebut sedang dalam keadaan berpuasa di hari Jum’at. Lalu beliau bertanya kepadanya : “Apakah kamu kemarin berpuasa ?” Jawab istrinya : “Tidak.” Lalu beliau bertanya lagi : “Apakah kamu besok akan berpuasa ?” Dia menjawab : “Tidak.” Maka beliaupun bersabda :

فأفطري

“Berbukalah kamu….”  (HR Imam Al-Bukhori no. 1986)

Kemudian di dalam As-Shohihain (yakni Kitab Shohih Al-Bukhori dan Shohih Muslim), hadits dari Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu, dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda :

لا يصومن أحدكم يوم الجمعة إلا أن يصوم يوما قبله أو يوما بعده

“Tidak boleh salah seorang dari kalian berpuasa di hari Jum’at, kecuali dia berpuasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.”  (HR Imam Al-Bukhori no. 1985 dan Imam Muslim no. 1144)

Akan tetapi, apabila hari jum’at bertepatan dengan hari Arofah (misalnya), dan ada seorang muslim yang tetap berpuasa pada hari itu secara sendirian (tanpa berpuasa sehari sebelum atau sesudahnya), maka yang seperti ini tidak mengapa. Karena orang tersebut berpuasa di hari itu karena hari itu adalah hari Arofah, bukan karena hari itu hari Jum’at.

Demikian pula seandainya ada orang yang punya hutang puasa Romadhon, dan tidak ada kesempatan bagi dia (untuk membayar hutang puasa Romadhonnya tersebut) kecuali di hari Jum’at. Maka tidak berdosa baginya baginya berpuasa di hari Jum’at tersebut secara sendirian (yakni tanpa berpuasa sehari sebelumnya atau sesudahnya). Yang seperti itu, karena hari Jum’at itulah adanya kesempatan atau waktu yang luang baginya (untuk membayar hutang puasanya).

Demikian pula (misalnya) apabila hari Jum’at bertepatan dengan hari Asyuro. Lalu ada seseorang yang ingin berpuasa di hari Asyuro tersebut (yang kebetulan bertepatan dengan hari Jum’at). Tidak ada dosa baginya berpuasa sendirian (yakni tanpa berpuasa sehari sebelumnya atau sesudahnya). Karena sesungguhnya dia berpuasa di hari itu adalah karena hari itu adalah hari Asyuro, bukan karena hari itu adalah hari Jum’at.

Karena itulah, Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لا تخصوا يوم الجمعة بصيام ولا ليلتها بقيام

“Janganlah kalian mengkhususkan berpuasa di hari Jum’at, dan jangan pula (mengkhususkan) malam Jum’atnya dengan sholat (yakni sholat lail).” 

Maka dalil (tentang larangan tersebut) adalah bila sifatnya untuk “mengkhususkan”, yakni apabila seseorang berbuat seperti itu (yakni berpuasa ataupun sholat lail) karena kekhususan hari jum’at itu atau karena malam jum’atnya.   

Wallohu a’lam

Sumber : Fatawa Lajnah Ad-Daimah, sebagaimana disebutkan di dalam Majalah Al-Buhuts Al-Islamiyyah (55/109-110)

Diterjemahkan oleh : Akhukum fillah, Abu Abdirrohman Yoyok WN Sby

 

Catatan :

Sebenarnya, hukum asal berpuasa secara khusus atau bersendirian (tanpa berpuasa sehari sebelum atau sesudahnya) di hari Jum’at itu adalah dilarang, sebagaimana disebutkan dalil-dalilnya pada pembahasan di atas. Tetapi para ulama tetap berselisih pendapat tentang hal ini, yakni tentang “Apa hukumnya berpuasa secara khusus (menyendiri) di Hari Jum’at ?”

Tentang hal ini, ada beberapa pendapat di kalangan para ulama kita, sebagai berikut : Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on الجمعة 27 محرم 1438 in Fatawa, Fatawa Arkanil Islam

 

Rekaman Khutbah Jum’at : “MENGHIDUPKAN AMAL-AMAL YANG DICINTAI ALLOH.”

Hasil gambar untuk bakti orang tua

 

Ikhwani fillah rohimaniyallohu wa iyyakum  …………..

Berikut ini adalah rekaman Khutbah Jum’at pekan lalu yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Abdirrohman Yoyok WN hafidzhohulloh di Masjid Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya, dengan tema sebagaimana disebutkan pada judul di atas.

Dalam khutbah ini, beliau membawakan hadits dari seorang sahabat Nabi yang mulia, Abu Abdirrohman Abdulloh bin Mas’ud roshiyallohu ‘anhu, yang menjelaskan tentang jawaban Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam ketika beliau ditanya tentang : “Apa saja amal-amal yang paling dicintai oleh Alloh Ta’ala.”

Diantara amal-amal tersebut adalah : Sholat pada waktunya, Birrul Walidain (berbakti kepada kedua orang tua), dan berjihad di jalan Alloh Ta’ala.

Kemudian beliau menyebutkan tentang keutamaan masing-masing amal tersebut, disertai dalil-dalil tentang hal tersebut, dan menyebutkan pula pelajaran dan faedah yang bisa kita ambil darinya.

Maka untuk mengetahui isi khutbah ini selengkapnya, silahkan anda mendengarkannya sendiri, atau dengan mendownloadnya, dengan klik : ( DI SINI ) Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on الأربعاء 25 محرم 1438 in Al Ustadz Abu Abdirrahman Yoyok, Khutbah

 

“KEUTAMAAN BERPEGANG TEGUH DENGAN AS-SUNNAH, DAN MEMBEDAKAN DIRI DARI AHLI BID’AH.”

Hasil gambar untuk padang pasir

 

Saudaraku kaum muslimin rohimakumulloh ….

Berikut ini kami akan paparkan perkataan dan penjelasan para ulama (atsar-atsar para ulama), terkait dengan pembahasan kita sesuai dengan judul di atas. Kemudian, dari atsar-atsar para ulama tersebut, sedikit kami berikan catatan, sekedar untuk menjelaskan apa yang perlu untuk dijelaskan, agar mudah kita pahami bersama. Semoga tulisan yang sederhana ini memberikan manfaat ilmu bagi kita sekalian.

PERTAMA :

Al-Imam Ad-Darimi rohimahulloh berkata : “Telah mengabarkan kepada kami Abul Mughiroh, dia berkata : Telah menceritakan kepada kami Al-Auza’i, dari Yunus bin Yazid, dari Az-Zuhri rohimahulloh, beliau berkata : “Telah lewat dari perkataan para ulama kita, bahwa mereka pernah berkata :

الإعتصام بالسنة نجاة، والعلم يقبض قبضا سريعا، فنعش العلم ثبات الدين والدنيا، وفي ذهاب العلم ذهاب ذلك كله

“Berpegang teguh dengan As-Sunnah itu adalah keselamatan/kejayaan. Dan ilmu agama itu (kelak) akan dicabut dengan cepat. Maka tegaknya ilmu (agama) adalah (menyebabkan) kekokohan agama dan dunia. Sedangkan hilangnya ilmu (agama) itu (akan menyebabkan) hilangnya yang demikian itu semuanya (yakni hilang pula agama dan dunia semuanya).” (Muqoddimah Sunan Ad-Darimi, no. 97 hal. 75, penerbit Darul Atsar Shon’a, Yaman)

KEDUA :

Al-Imam Ibnu Sa’ad rohimahulloh, di dalam kitabnya At-Thobaqoot, beliau berkata : “Telah mengabarkan kepada kami Hisyam Abul Walid At-Thoyalisi, dia berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah, dari Qotadah, dari Abul ‘Aliyah rohimahulloh (beliau ini adalah salah satu guru dari Imam Al-Bukhori rohimahulloh), beliau berkata :

ما أدري أي نعمتين أفضل علي، أن هداني للإسلام ، أو لم يجعلني حروريا

“Aku tidak tahu, yang mana dari dua kenikmatan yang (Alloh) berikan kepadaku yang paling afdhol (paling utama). Bahwa (Dia Alloh) memberi hidayah kepadaku kepada agama Islam ini, atau Dia tidak menjadikanku seorang Harury (khowarij).” (Muqoddimah Sunan Ad-Darimi  hal. 32, penerbit Darul Atsar Shon’a, Yaman)

Catatan :

Harury, adalah sebutan untuk orang-orang khowarij, yang menyempal dari jama’ah kaum muslimin, kemudian mereka tinggal di sebuah tempat yang bernama Haruro’, yakni sebuah desa yang berjarak 2 mil dari Kufah. Selanjutnya, orang-orang yang berpemahaman khowarij, dinamai juga dengan Harury, disandarkan pada nama tempat tinggal mereka saat itu.

Baik Khowarij ataupun Harury, mereka termasuk Ahlu Bid’ah yang sesat, tetapi merasa dalam sebaik-baik keadaan.

Maka maksud ucapan Al-Imam Abul Aliyah di atas adalah, beliau merasa bersyukur kepada Alloh atas nikmat yang telah diberikan oleh Alloh pada beliau, diantaranya adalah dua perkara tersebut di atas. Hanya saja, dari dua perkara di atas, mana yang lebih utama. Karena diberi hidayah kepada Islam adalah suatu keutamaan yang agung, sedangkan selamat dari kesesatan dan penyimpangan, juga keutamaan yang besar pula. Wallohu a’lamu bis showab. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on الخميس 19 محرم 1438 in Aqidah, Manhaj, Risalah

 

Rekaman Khutbah Jum’at : “AMAL SHOLIH, SALAH SATU SEBAB SESEORANG DIMASUKKAN SURGA.”

Hasil gambar untuk amal sholih

 

Ikhwani fillah rohimaniyallohu wa iyyakum  …………..

Berikut ini adalah rekaman Khutbah Jum’at pekan lalu yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Abdirrohman Yoyok WN hafidzhohulloh di Masjid Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya, dengan tema sebagaimana disebutkan pada judul di atas.

Dalam khutbah ini, beliau mengingatkan kepada kita agar senantiasa bertaqwa kepada Alloh Ta’ala, dengan senantiasa melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya, dan menjauhi apa saja yang dilarangnya.

Beliau juga menasehatkan, agar kita mempersiapkan “bekal yang banyak”, untuk menghadapi kehidupan setelah mati nanti, khususnya di akhirat kelak. Dan tidak ada bekal yang lebih utama bagi kita dan lebih bermanfaat, selain bekal yang berupa ketakwaan kepada Alloh. Dan termasuk bagian dari taqwa kepada Alloh, adalah memperbanyak amal-amal sholih dan ketaatan kepada Alloh. Inilah sarana yang bisa mendekatkan diri kita kepada Alloh, dan mengaharapkan ridho-Nya, yang dengan itu kita harapkan bisa memasukkan kita semua kepada surga-Nya.

Kemudian beliau menyebutkan dalil-dalil tentang pentingnya beramal sholih, dan menyebutkan pula pelajaran dan faedah yang bisa kita ambil darinya.

Untuk mengetahui isi khutbah ini selengkapnya, silahkan anda mendengarkannya sendiri, atau dengan mendownloadnya, dengan klik : ( DI SINI ) Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on الأربعاء 18 محرم 1438 in Al Ustadz Abu Abdirrahman Yoyok, Khutbah

 

APA SIH HAKEKAT SYIRIK & BAHAYANYA ITU ?

Hasil gambar untuk syirik

 

HAKEKAT SYIRIK (MENYEKUTUKAN ALLOH TA’ALA DALAM BERIBADAH) 

Al-Imam Ibnu Baaz rohimahulloh, ketika menjelaskan definisi tentang Syirik, beliau berkata : “(Syirik itu adalah) memalingkan/mengarahkan suatu ibadah – baik sebagiannya atau seluruhnya – kepada selain Alloh.”

As-Syaikh Al-‘Allamah Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rohimahulloh, ketika menafsirkan firman Alloh Ta’ala dalam surat Al-An’am ayat 151 yang berbunyi :

۞قُلۡ تَعَالَوۡاْ أَتۡلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمۡ عَلَيۡكُمۡۖ أَلَّا تُشۡرِكُواْ بِهِۦ شَيۡ‍ٔٗاۖ….. ١٥١

 “Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia (Alloh)…..” (QS Al-An’am : 151)

Beliau mengatakan : “Hakekat Syirik kepada Alloh adalah beribadah/menyembah makhluk sama seperti menyembah Alloh, atau mengagungkannya sama seperti mengagungkan Alloh, atau mengarahkan salah satu jenis kekhususan Rububiyyah dan Uluhiyyah kepadanya. Apabila seorang hamba meninggalkan semua jenis syirik, maka jadilah dia seorang Muwahhid (Ahli Tauhid), Mukhlishon Lillaah (yang ikhlash/memurnikan ibadah hanya kepada Alloh) pada seluruh keadaannya. Inilah hak Alloh atas seluruh hamba-Nya, yakni beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (Taisir Al-Karimir Rohman fii Tafsir Kalamil Mannan / Tafsir As-Sa’di (hal. 242), penerbit Mu’assasah Ar-Risalah)

Al-Imam Al-Hafidz Ibnul Qoyyim rohimahulloh menyimpulkan : “Maka secara umum/secara garis besar, asas (pondasi) kesyirikan dan qoi’dah-qoi’dah yang mana kesyirikan tersebut dibangun di atasnya, adalah : “(Sikap) bergantung kepada selain Alloh.”  Dan pelakunya adalah tercela dan terhina, sebagaimana firman Alloh Ta’ala :

لَّا تَجۡعَلۡ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَ فَتَقۡعُدَ مَذۡمُومٗا مَّخۡذُولٗا ٢٢

“Janganlah kamu adakan tuhan yang lain di samping Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah).” (QS Al-Isro’ : 22)

Madzmuman, artinya “yang tidak ada pujian baginya”. Makhdzulan, artinya “tidak ada penolong baginya.” (Madarijus Salikin (1/292), karya Ibnul Qoyyim rohimahulloh, penerbit Al-Kutub Al-Ilmiyyah) Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on الأربعاء 18 محرم 1438 in Aqidah, Risalah

 

Rekaman Khutbah Jum’at : “JANGAN MEMPERCAYAI TUKANG DUKUN & TUKANG RAMAL.”

Hasil gambar untuk perdukunan

 

Ikhwani fillah rohimaniyallohu wa iyyakum  …………..

Berikut ini adalah rekaman Khutbah Jum’at pekan lalu yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Abdirrohman Yoyok WN hafidzhohulloh di Masjid Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya, dengan tema sebagaimana disebutkan pada judul di atas.

Dalam khutbah ini, beliau mengingatkan kepada kita agar “jangan mempercayai para tukang dukun & tukang ramal dan yang sejenis dengan mereka.” Hal ini beliau sampaikan, karena maraknya di masyarakat kita keyakinan akan benarnya para tukang dukun atau peramal dengan berbagai namanya yang bermacam-macam. Padahal, telah banyak dalil-dalil dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah yang melarang kita dari “mendatangi” para tukang dukun dan “mempercayai atau membenarkan” omongan mereka.

Hal itu juga karena para tukang dukun, peramal atau apapun namanya, mereka adalah orang-orang yang “sok tahu” perkara-perkara “ghoib”. Padahal, yang mengetahui perkara ghoib itu hanayalah Robb kita, Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Hal itu menunjukkan, bahwa pengakuan para tukang dukun dan yang sejenisnya, yang mengaku-ngaku tahu perkara ghoib, adalah suatu “KEDUSTAAN.” Ya, mereka adalah para pendusta. Karena itu, tidak layak kita mempercayai mereka.

Kemudian beliau menyebutkan dalil-dalil tentang hal tersebut dan menyebutkan pula pelajaran dan faedah yang bisa kita ambil darinya. Maka untuk mengetahui isi khutbah ini selengkapnya, silahkan anda mendengarkannya sendiri, atau dengan mendownloadnya, dengan klik : ( DI SINI ) Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on الخميس 12 محرم 1438 in Al Ustadz Abu Abdirrahman Yoyok, Khutbah

 

KEUTAMAAN PUASA HARI ‘ASYURO

 

Tanya : “Ustadz, mohon dijelaskan apa sebenarnya Puasa ‘Asyuro itu ? Apa hukumnya dan bagaimana cara mengamalkannya ? Jazakalloh khoiron atas penjelasannya !” 

Jawab

Puasa ‘Asyuro adalah puasa sunnah yang dilakukan pada hari ke sepuluh dari Bulan Muharrom. Tentang keutamaannya, dijelaskan dalam hadits Abu Qotadah roshiyallohu ‘anhu, bahwa Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah menjelaskan :

وصيام يوم عاشوراء أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله

“Dan puasa hari Asyuro, aku berharap kepada Alloh agar bisa menghapus (dosa-dosa) setahun sebelumnya (yakni setahun yang lalu, edt.)”

Dalam lafadz lainnya, ketika beliau ditanya tentang Puasa ‘Asyuro, beliau menjawab :

يكفر السنة الماضية

“Mengapus (dosa-dosa/kesalahan) setahun yang lalu.” (HR Imam Muslim no. 1162 / 196 )

Tentang hukum puasa ini, dijelaskan oleh Imam An-Nawawi rohimahulloh : “Para ulama telah sepakat bahwa Puasa ‘Asyuro itu hukumnya sunnah.” (Syarh Shohih Muslim, 8/4)

Sebenarnya, para ulama berbeda pendapat tentang kapan sesungguhnya hari ‘Asyuro itu. Jumhur (mayoritas) ulama salaf dan kholaf berpendapat ‘Asyuro itu adalah hari ke sepuluh dari bulan Muharrom. Sebagian ulama berpendapat bahwa ‘Asyuro itu adalah hari ke sembilan dari bulan Muharrom, dan ini pendapatnya Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhuma.

Mereka berdalil dengan sebuah hadits yang terdapat dalam Shohih Muslim (no. 1133) : “Bahwa Al-Hakam bin Al-A’roj bertanya kepada Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhuma tentang puasa ‘Asyuro, beliau berkata : “Apabila kamu melihat hilal (bulan sabit tanggal satu) Muharrom, maka hitunglah.” Dan pada pagi hari tanggal sembilan (Muharrom), beliau berpuasa. Lalu aku bertanya : “Apakah seperti ini Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam berpuasa ?” Beliau menjawab : “Iya.”

Tetapi kalau kita perhatikan dengan seksama, dhohir hadits tersebut menunjukkan, bahwa yang dimaksud oleh Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhuma dengan puasa tanggal sembilan Muharrom, adalah puasa yang dilakukan untuk menyelisihi (membedakan diri) dengan puasanya orang-orang Yahudi, bukan menunjukkan bahwa ‘Asyuro itu adalah tanggal sembilan Muharrom.

Dalil yang menunjukkan hal itu adalah hadits dalam Shohih Muslim pula (no. 1134) : “Bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam tatkala berpuasa pada Hari ‘Asyuro dan memerintahkan (para sahabat beliau) untuk berpuasa, mereka (para sahabat) berkata : “Wahai Rosululloh, sesungguhnya ini adalah hari yang (juga) diagungkan/dimuliakan oleh orang-orang Yahudi dan Nashoro.” Lalu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Kalau begitu, tahun yang akan datang kita akan berpuasa pada hari (tanggal) ke-sembilan.” Tetapi belum sempat datang tahun berikutnya, beliau telah meninggal dunia.”

Jadi, kita juga disunnahkan untuk berpuasa pada hari kesembilan dari bulan Muharrom selain pada hari ke-sepuluhnya. Ini dilakukan, untuk membedakan dengan puasanya Ahlul Kitab, yakni orang-orang Yahudi dan Nashoro. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on الخميس 05 محرم 1438 in Fiqh, Risalah

 

Rekaman Khutbah Jum’at : “PENTINGNYA MENGAMBIL PELAJARAN DARI KISAH-KISAH DALAM AL-QUR’AN & HADITS ROSULULLOH.”

Perahu Dan Matahari Keemasan

 

Kaum Muslimin rohimaniyalloh wa iyyakum …………

Berikut ini adalah rekaman Khutbah Jum’at pekan lalu yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah hafidzhohulloh di Masjid Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya, dengan tema sebagaimana disebutkan pada judul di atas.

Dalam khutbah ini, Ustadz menjelaskan tentang pentingnya mengambil IBROH atau I’TIBAR (pelajaran) dari kisah-kisah yang Alloh ta’ala sebutkan di dalam Al-Qur’an, ataupun yang disebutkan dalam hadits-hadits Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam yang shohih.

Sebagaimana yang dinyatakan dalam firman Alloh Ta’ala :

لَقَدۡ كَانَ فِي قَصَصِهِمۡ عِبۡرَةٞ لِّأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِۗ مَا كَانَ حَدِيثٗا يُفۡتَرَىٰ وَلَٰكِن تَصۡدِيقَ ٱلَّذِي بَيۡنَ يَدَيۡهِ وَتَفۡصِيلَ كُلِّ شَيۡءٖ وَهُدٗى وَرَحۡمَةٗ لِّقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ ١١١ 

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS Yusuf : 111)

Banyak sekali di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah disebutkan kisah-kisah orang-orang sebelum kita, yang tujuannya adalah agar kita mengambil Ibroh (pengajaran). Artinya, hendaknya kita memperhatikan keadaan orang-orang sebelum kita, dan akibat yang menerima terima, berupa adzab tatkala mereka mengingkari Rosul yang diutus kepada mereka. Sehingga dengan itu, bisa menjadi pelajaran bagi kita, agar kita tidak tertimpa oleh sesuatu yang telah menimpa mereka berupa adzab Alloh Ta’ala dan yang lainnya.

Kemudian dalam khutbah ini, beliau memberikan contoh satu kisah, yang disebutkan oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang shohih, kemudian mengambil beberapa pelajaran dari kisah tersebut. Kisah apakah itu, dan apa pelajaran yang bisa kita ambil darinya ?

Untuk mengetahui selengkapnya, silahkan Anda mendengarkan sendiri rekaman khutbah jum’at ini sampai akhir, atau dengan mendowloadnya, dengan klik : ( DI SINI ) Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on الخميس 05 محرم 1438 in Al Ustadz Abu Ubaidah, Khutbah

 

Rekaman Khutbah Jum’at : “KEMULIAAN ITU MILIK ALLOH, MAKA CARILAH KEMULIAAN ITU DARI SISI-NYA.”

 

Kaum Muslimin rohimaniyalloh wa iyyakum …………

Berikut ini adalah rekaman Khutbah Jum’at pekan lalu yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah hafidzhohulloh di Masjid Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya, dengan tema sebagaimana disebutkan pada judul di atas.

Dalam khutbah ini, Ustadz menjelaskan tentang “kemuliaan”. Bahwa kemuliaan itu adalah milik Alloh Ta’ala. Maka siapa saja yang menginginkan kemuliaan, hendaknya dia memintanya kepada Alloh Ta’ala, sebagaimana dinyatakan oleh Alloh Ta’ala di dalam firman-Nya :

مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلۡعِزَّةَ فَلِلَّهِ ٱلۡعِزَّةُ جَمِيعًاۚ إِلَيۡهِ يَصۡعَدُ ٱلۡكَلِمُ ٱلطَّيِّبُ وَٱلۡعَمَلُ ٱلصَّٰلِحُ يَرۡفَعُهُۥۚ وَٱلَّذِينَ يَمۡكُرُونَ ٱلسَّيِّ‍َٔاتِ لَهُمۡ عَذَابٞ شَدِيدٞۖ وَمَكۡرُ أُوْلَٰٓئِكَ هُوَ يَبُورُ ١٠ 

“Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan, bagi mereka azab yang keras. Dan rencana jahat mereka akan hancur.” (QS Fathir : 10)

Dalam ayat ini ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil, diantaranya adalah :

Pertama, bahwa kemuliaan itu hanya ada di sisi Alloh. Siapa yang menginginkannya, hendaknya dia memintanya kepada Alloh. Tentang hal ini, banyak ayat-ayat yang menjelaskannya. Siapa yang menginginkan kemuliaan, yakni yang berupa kehidupan yang baik di dunia dan di akhirat, adalah hendaknya meminta kemuliaan hanya kepada Alloh Ta’ala.

Kedua, bahwa Alloh itu hanya menerima dari hamba-Nya adalah segala sesuatu yang baik. Apakah itu yang berupa keyakinannya, ibadahnya, amalannya dan perkataannya (kalimat thoyyibah). Termasuk hal ini adalah sedekahnya, tidak akan diterima oleh Alloh Ta’ala kecuali dari hasil usaha yang baik, meskipun sesuatu yang sepele atau sedikit. Adapun sesuatu yang buruk, meskipun dia sebesar gunung, tidak akan diterima oleh Alloh Ta’ala. Selanjutnya beliau menyebutkan juga beberapa fadhilah (keutamaan) sedekah.

Dan masih banyak pelajaran-pelajaran yang lainnya. Untuk mengetahui selengkapnya, silahkan Anda mendengarkan sendiri rekaman khutbah jum’at ini sampai akhir, atau dengan mendowloadnya, dengan klik : ( DI SINI ) Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on الثلاثاء 25 ذو الحجة 1437 in Al Ustadz Abu Ubaidah, Khutbah

 

[ Update ] “Bulan MUHARROM adalah bulan mulia dalam Islam, bukan bulan yang mendatangkan kesialan.”

 

Tanya : “Bagaimana sebenarnya pandangan Islam mengenai bulan Muharrom atau bulan Suro itu ? Kata banyak orang, bulan ini sering dianggap bulan yang mendatangkan kesialan, benarkah yang seperti itu?

Jawab :

Ketahuilah, dalam Islam, bulan Muharrom atau bulan Suro (menurut istilah orang Jawa) ini termasuk salah satu bulan diantara empat bulan yang digelari dengan Asy-hurul Hurum (bulan-bulan suci), karena di dalam bulan ini dilarang melakukan kedzoliman, apapun bentuknya. Bahkan pada masa orang-orang arab jahiliyyah dulu, bulan-bulan tersebut sudah dianggap sebagai bulan-bulan suci yang tidak boleh ternoda oleh pertikaian, pertumpahan darah dan berbagai kedzoliman lainnya.

Lalu Islam datang dan menetapkannya sebagai syari’at, sebagaimana dinyatakan oleh Alloh ta’ala dalam firman-Nya (yang artinya) :

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ (٣٦)

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Alloh adalah dua belas bulan, (yakni) di dalam ketetapan Alloh ketika Dia menciptakan langit dan bumi. Diantaranya (ada) empat bulan (suci). Itulah ketetapan agama yang lurus, maka janganlah menganiaya diri (berbuat dholim) dakam bulan yang empat itu.” (QS. At-Taubah : 36)

Empat bulan suci yang tersebut dalam ayat di atas adalah sebagaimana dijelaskan oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya sebagai berikut : “Sesungguhnya waktu itu berputar seperti asalnya di waktu Alloh menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan, diantaranya ada empat bulan cuci, tiga secara berturut-turut adalah Dzulqo’dzah, Dzulhijjah dan Muharrom, serta Rojab-nya Bani Mudhor, yang terletak diantara Jumadil Akhir dan Sya’ban.” (HR Imam Al-Bukhori no. 3025, 4144 dan 7009, Imam Muslim no. 1679)

Imam Al-Qurthubi rohimahuloh berkata : “Alloh Azza wa Jalla mengkhususkan penyebutan empat bulan suci ini dengan larangan berbuat dholim, (adalah) sebagai penghormatan bagi bulan-bulan tersebut, meskipun kedholiman itu sendiri dilarang di setiap zaman/waktu.” (Tafsir Al-Qurthubi, 7/87) Dan yang paling utama diantara keempat bulan itu adalah Bulan Muharrom, sebagaimana dikatakan oleh Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri rohimahulloh.

Menurut Imam As-Sakhowi rohimahulloh, bulan Muharrom disebut demikian karena dia adalah bulan yang disucikan (dari peryumpahan darah dan segala bentuk kedzoliman). Sedangkan Al-Imam Ibnu Katsir rohimahulloh berpendapat, bahwa Muharrom disebut/dinamai demikian adalah sebagai penegasan akan keharaman (perbuatan dholim di bulan itu), karena orang-orang arab ( di masa jahiliyyah) suka merubah-rubahnya, setahun (kadang) mereka menghalalkannya, tetapi setahun berikutnya mereka mengharamkannya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/339)

Demikianlah, dalil-dalil dan penjelasan tersebut di atas menunjukkan keutamaan bulan Muharrom sebagai salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam. Akan tetapi sangat disayangkan, sebagian kaum muslimin, terutama dalam mitos masyarakat jawa (kejawen), Bulan Muharrom atau yang mereka namakan Bulan Suro dianggap sebagai bulan yang sial atau naas, sehingga mereka tidak mau mengadakan acara-acara hajatan, seperti pernikahan, khitanan dan sebagainya. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on الخميس 20 ذو الحجة 1437 in Aqidah, Risalah

 

Rekaman Khutbah Jum’at : “ANJURAN BEKERJA & TERCELANYA MEMINTA-MINTA.”

 

Ikhwani fillah rohimaniyallohu wa iyyakum  …………..

Berikut ini adalah rekaman Khutbah Jum’at pekan lalu yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Abdirrohman Yoyok WN hafidzhohulloh di Masjid Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya, dengan tema sebagaimana disebutkan pada judul di atas.

Dalam khutbah ini, beliau mengingatkan kepada kita bahwa salah satu perkara yang diperintahkan dan disyari’atkan dalam agama kita ini adalah “bekerja”, yakni melakukan suatu usaha untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri dan juga keluarga kita. Dan juga agar kita tidak menjadi beban bagi orang lain, atau meminta-minta kepada orang lain.

Selanjutnya beliau menyebutkan dalil-dalil, baik dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah, tentang anjuran untuk bekerja dan mempunyai usaha dari hasil karya tangan kita sendiri, atau hasil jerih payah kita sendiri. Dan juga banyaknya dalil-dalil yang menunjukkan tercelanya perbuatan meminta-minta dan menjadi beban bagi orang lain.

Kemudian, dalam khutbah ini pula, ustadz juga mengingatkan kepada kita tentang berbagai amalan sholih dan amal ibadah (selain bekerja), yang juga bisa mendatangkan rejeki dan karunia Alloh pada kita. Apa saja itu ?

Untuk mengetahui isi khutbah ini selengkapnya, silahkan anda mendengarkannya sendiri, atau dengan mendownloadnya, dengan klik : ( DI SINI ) Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on الثلاثاء 18 ذو الحجة 1437 in Al Ustadz Abu Abdirrahman Yoyok, Khutbah

 

“LUASNYA RAHMAT ALLOH & KARUNIA-NYA KEPADA HAMBA-HAMBA-NYA.”

 

 

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

مَن جَآءَ بِٱلۡحَسَنَةِ فَلَهُۥ عَشۡرُ أَمۡثَالِهَاۖ وَمَن جَآءَ بِٱلسَّيِّئَةِ فَلَا يُجۡزَىٰٓ إِلَّا مِثۡلَهَا وَهُمۡ لَا يُظۡلَمُونَ ١٦٠

“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat, maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” (QS Al-An’am : 160)

Di dalam ayat yang mulia ini terdapat penjelasan tentang luasnya rahmat (kasih sayang) Alloh dan karunia-Nya kepada hamba-hamba-Nya, dan juga menunjukkan betapa besar keadilan-Nya.

Ya, Dia memberi balasan pahala atas amal-amal kebaikan, dengan melipatgandakannya sampai sepuluh kali lipatnya, atau sampai tujuh ratus kali lipatnya, bahkan berlipat-lipat sampai tak terhingga. Sedangkan balasan untuk amal-amal kejelekan, diberi balasan sesuai atau seimbang dengan besarnya kejahatan tersebut, atau justru Dia memaafkannya.

Sebagaimana dalam firman Alloh Ta’ala yang lainnya :

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَظۡلِمُ مِثۡقَالَ ذَرَّةٖۖ وَإِن تَكُ حَسَنَةٗ يُضَٰعِفۡهَا وَيُؤۡتِ مِن لَّدُنۡهُ أَجۡرًا عَظِيمٗا ٤٠

“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.” (QS An-Nisa’ : 40)

Ayat yang mulia tersebut di atas, memberikan penjelasan pada ayat yang lainnya yang masih mujmal (global), yaitu firman Alloh Ta’ala :

مَن جَآءَ بِٱلۡحَسَنَةِ فَلَهُۥ خَيۡرٞ مِّنۡهَاۖ وَمَن جَآءَ بِٱلسَّيِّئَةِ فَلَا يُجۡزَى ٱلَّذِينَ عَمِلُواْ ٱلسَّيِّ‍َٔاتِ إِلَّا مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٨٤

“Barangsiapa yang datang dengan (membawa) kebaikan, maka baginya (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan barangsiapa yang datang dengan (membawa) kejahatan, maka tidaklah diberi pembalasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan (seimbang) dengan apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS Al-Qoshshosh : 84)

Alloh Ta’ala juga berfirman :

مَن جَآءَ بِٱلۡحَسَنَةِ فَلَهُۥ خَيۡرٞ مِّنۡهَا وَهُم مِّن فَزَعٖ يَوۡمَئِذٍ ءَامِنُونَ ٨٩  وَمَن جَآءَ بِٱلسَّيِّئَةِ فَكُبَّتۡ وُجُوهُهُمۡ فِي ٱلنَّارِ هَلۡ تُجۡزَوۡنَ إِلَّا مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ٩٠

“Barangsiapa yang membawa kebaikan, maka ia memperoleh (balasan) yang lebih baik dari padanya, sedang mereka itu adalah orang-orang yang aman tenteram dari pada kejutan yang dahsyat pada hari itu (yakni hari kiamat). Dan barang siapa yang membawa kejahatan, maka disungkurkanlah muka mereka ke dalam neraka. Tiadalah kamu dibalasi, melainkan (setimpal) dengan apa yang dahulu kamu kerjakan.” (QS An-Naml : 89-90)

Kemudian dalam sebuah hadits Qudsi, bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam menyatakan : “Bahwa Alloh Ta’ala berfirman : Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on الثلاثاء 18 ذو الحجة 1437 in Aqidah, Manhaj, Risalah