(( o )) FATWA ULAMA : Hukum Orang Yang Mengatakan : “Bahwa Nabi Muhammad itu bukanlah manusia, beliau adalah cahaya, beliau belum meninggal dll”

Ombak besar dari Lautan Hindi

Tanya : “Apa hukumnya orang yang mengatakan, bahwa Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam itu bukanlah manusia, beliau adalah “cahaya”, beliau belum meninggal dunia, beliau masih hidup ?”

Jawab :

Adapun orang yang mengatakan, “Sesungguhnya Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam itu bukan manusia”. Kalau dia adalah orang yang tidak tahu (alias bodoh), maka dia mendapatkan udzur (maaf) karena ketidaktahuannya, hanya saja dia tercela. Sedangkan kalau dia bukanlah orang yang tidak tahu (yakni dia termasuk orang yang dianggap mengerti sebagian ilmu agama ini, edt.), maka dia kafir (dengan sebab ucapannya tadi).

Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman dalam kitab-Nya yang mulia :

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu …..” (QS Al-Kahfi : 110)

Nabi kita Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam juga bersabda : “Sesungguhnya aku ini adalah manusia, aku bisa marah sebagaimana kalian bisa marah. Maka siapa saja yang aku laknat, semoga Alloh menjadikan untuknya sebagai rahmat.” Atau yang semakna dengan ini, yang disepakati shohihnya dari hadits Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu.

Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam juga bersabda dalam hadits yang shohih : “Sesungguhnya kalian berperkara di hadapanku, mungkin sebagian kalian lebih pandai berbicara dari yang lainnya…….. (Lalu beliau bersabda) : “Aku hanyalah manusia biasa.”

Dan beliau bisa juga terlupa, seperti yang pernah terjadi di dalam sholat. Kemudian beliau bersabda :

إنما أنا بشر إني أنسى كما تنسون, فإ ذا نسيت فذكروني

“Sesungguhnya aku ini hanyalah manusia biasa, sesungguhnya aku bisa lupa sebagaimana kalian bisa lupa. Maka apabila aku lupa, ingatkanlah aku.” (HR Imam Al-Bukhori dan Imam Muslim) Read the full post »

Info SAFARI DAKWAH DI PULAU SUMATRA, bersama Al-Ustadz Abu Hazim dan lain-lain

 

Berikut ini kami sampaikan informasi rencana kegiatanSafari Dakwah ke beberapa tempat Markiz Da’wah (Pondok-Pondok Pesantren) Salafiyyah Ahlus Sunnah di Indonesia, khususnya di daerah Sumatra, yang insya Alloh akan dilakukan oleh Al-Ustadz Abu Hazim Muhsin bin Muhammad Bashori, Al-Ustadz Abu Arqom Mushlih Zarqoni (beliau berdua adalah Pengasuh Pondok Pesantren Ittiba’us Sunnah Magetan) dan Al-Ustadz Abu Arbah Nafilurrahman (Gombong Jawa Tengah) hafidzhohumulloh.

Maka berikut ini akan kami sampaikan jadwal perjalanan beliau bertiga hafidzhohumulloh sebagaimana yang direncanakan :

1. Hari Rabu, 7 Januari 2015 M

Di Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya (ba’da Ashar – Isya’), di tempat Ust. Abu Abdirrahman Yoyok dan Ustadz Abu Ubaidah

2. Hari Kamis, 8 Januari 2015 M

Di Medan (ba’da Dhuhur – Ashar), di tempat Ustadz Fadhil Muhammad 

Di Stabat Medan (ba’da Maghrib), di tempat Ustadz Zaki.

3. Hari Jum’at, 9 Januari 2015 M

Di Kuala Simpang, Aceh (pagi hari – Dhuhur),  di tempat Ustadz Khoirul Abdi

4. Hari Sabtu-Senin, 10-12 Januari 2015 M

Di Kisaran Medan, di tempat Ustadz Faishol

5. Hari Selasa dan Rabu, 13-14 Januari 2015 M

Di Dusun Bhakti Baganbatu, Riau, di tempat Ustadz Abdul Ahad

6. Hari Kamis dan Jum’at 15-16 Januari 2015 M

Di Duri (di tempat Ustadz Imam Hanafi), kemudian ke Beringin, Mandi Angin dan Suram, sekitar Riau

7. Hari Sabtu, 17 Januari 2015

Di Kritang

8. Hari Ahad, 18 Januari 2015

Di Jambi, di tempat Ustadz Abu ‘Amr Syaukani

9. Hari Selasa – Rabu, 20 – 21 Januari 2015

Di Dabo, Batam dan Tanjung Pinang

Demikianlah beberapa agenda Safari Dakwah Al-Ustadz Abu Hazim, Al-Ustadz Abu Arqom dan Al-Ustadz Abu Arbah Nafilurrahman hafidzhohumulloh, yang insya Alloh akan dilaksanakan di beberapa kota di Pulau Sumatra pada bulan yang akan datang. Semoga Alloh Subhanahu wa Ta’ala memperlancar dan mensukseskan tujuan dakwah yang mulia ini. Read the full post »

Sebuah Nasehat Untuk Para Wanita : “RAMBUTMU ADALAH MAHKOTAMU, MAKA JAGALAH..”

Saudariku muslimah, ketahuilah.

Rambut adalah salah satu dari sekian banyak nikmat yang telah diberikan oleh Alloh Azza wa Jalla kepada para hamba-Nya. Dan rambut itu adalah tanda kecantikan dan kebagusan seseorang. Bila seseorang tidak mempunyai rambut, maka ini adalah tanda kekurangan dan aib (cacat) yang ada padanya.

Hal ini sebagaimana ditunjukkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhori dan Al-Imam Muslim dalam shohih keduanya, tentang kisah tiga orang dari Bani Isroil yang mendapat ujian dari Alloh Ta’ala. Mereka itu adalah orang yang mempunyai penyakit Abros (belang pada kulit), Aqro’ (botak kepalanya), dan A’ma (buta matanya).

Kemudian Alloh menguji mereka, dengan mengutus kepada mereka seorang Malaikat, selanjutnya dalam hadits itu dikisahkan : “…. Malaikat itupun mendatangi orang yang botak kepalanya, dan berkata kepadanya : “Apa yang paling kamu sukai ?” Dia menjawab : “Rambut yang bagus, dan hilangnya penyakit ini (yakni botak) dariku, sungguh orang-orang merendahkan/mengolok-olok aku karenanya.” Lalu malaikat tersebut mengusap kepalanya kemudian dia pun pergi, lalu diberikan kepada orang tersebut rambut yang bagus…”

Intinya, hadits tersebut di atas menunjukkan pada kita, bahwa setiap orang sangat menginginkan untuk mempunyai rambut yang indah dan bagus. Karena itu pula, Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk memuliakan rambut, membersihkannya dan menyisirnya. Beliau pernah bersabda :

من كان له شعر فليكرمه

“Barangsiapa mempunyai rambut, maka hendaknya dia memuliakannya.” (HR Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, dari Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu, dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani rohimahulloh dalam As-Shohihah no. 500)

Meskipun demikian, hendaknya kita jangan menjadikan kesibukan kita untuk mengurusi rambut itu menjadikan kita lalai dari urusan agama kita yang lebih penting. Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

لا يغتسل الرجل من فضل امرأته و لا تغتسل بفضله, و لا يبول في مغتسلة, و لا يمتشط في كل يوم

“Janganlah seorang laki-laki mandi dari (air) sisa istrinya, dan jangan pula istrinya mandi dari (air) sisa suaminya. Dan janganlah dia kencing di tempat pemandiannya (yakni di kolam yang airnya tenang/diam, yang tidak mengalir, edt.). Dan janganlah dia menyisir rambutnya setiap hari.” (HR Imam Ahmad dalam Musnad-nya, dishohihkan oleh Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rohimahulloh dalam As-Shohihul Musnad no. 2833)                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                             Read the full post »

SHOLAT BERJAMA’AH DAN HUKUM-HUKUM YANG TERKAIT DENGANNYA (Bagian Pertama)

 

Apa Hukumnya Sholat Berjama’ah itu ? 

Tentang masalah ini, para ulama terbagi menjadi empat  pendapat sebagai berikut :

Pertama : Hukumnya Wajib ‘Ain bagi setiap orang laki-laki. Ini adalah pendapatnya Al-Hasan Al-Bashri, Atho’, Imam Ahmad bin Hambal, Abu Tsaur, Ishaq, Al-Auza’i, At-Tsauri, Al-Fudhoil bin Iyadh, Al-Imam Al-Bukhori, serta mayoritas para fuqoha’ hadits, diantaranya : Ibnu Khuzaimah dan Ibnul Mundzir. Pendapat ini dirojihkan (yang dikuatkan) oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahulloh.   

Mereka berdalil dengan sekian banyak hadits, diantaranya hadits Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu, bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

والذي نفسي بيده, لقد هممت أن امر بحطب فيحتطب, ثم امر بالصلاة فيؤذن لها, ثم امر رجلا فيؤم الناس ثم أخالف إلى رجال لا يشهدون الصلاة فأحرق عليهم بيوتهم, والذي نفسي بيده, لو يعلم أحدكم أنه يجد عرقا ثمينا أو مرماتين حسنتين لشهد العشاء

“Demi Dzat yang jiwaku ada dalam (genggaman) tangan-Nya, sungguh aku sangat ingin memerintahkan (orang-orang) untuk mengumpulkan kayu bakar dan merekapun mengumpulkannya. Lalu aku akan perintahkan untuk sholat dan dikumandangkan adzan untuknya. Lalu aku perintahkan pula seseorang untuk mengimami manusia, kemudian aku akan pergi menuju ke (rumah) orang-orang yang tidak hadir menyaksikan sholat (berjama’ah), lalu akan aku bakar rumah-rumah mereka. Demi Dzat yang jiwaku ada dalam (genggaman) tangan-Nya, seandainya salah seorang dari mereka mengetahui bahwa akan mendapatkan “tulang berdaging gemuk” dan “daging yang bagus diantara dua tulang rusuk”, niscaya mereka akan menghadiri sholat Isya’ (berjama’ah).” (HR Imam Al-Bukhori no. 644 dan Imam Muslim no. 651)

Juga berdalil dengan hadits Ibnu Mas’ud rodhiyallohu ‘anhu, beliau berkata : “Barangsiapa senang berjumpa dengan Alloh Ta’ala besok (pada hari kiamat) dalam keadaan sebagai seorang muslim, maka hendaknya dia menjaga sholat-sholat yang lima waktu ketika diserukan untuk melaksanakannya. Karena sesungguhnya Alloh Ta’ala telah mensyari’atkan untuk Nabi kalian Sunanul Huda (sunnah-sunnah petunjuk), dan sesungguhnya sholat yang lima waktu itu termasuk dari sunanul huda. Seandainya kalian sholat di rumah-rumah kalian, sebagaimana orang-orang yang menyelisihi (yang tidak sholat berjama’ah) sholat di rumah mereka, sungguh kalian benar-benar meninggalkan sunnah Nabi kalian. Dan seandainya kalian meninggalkan sunnah Nabi kalian, pasti kalian akan tersesat. Sungguh kami (para sahabat Nabi) berpendapat, tidaklah (seseorang) menyelisihi dari sholat berjama’ah, kecuali dia adalah seorang munafik yang dikenal akan kemunafikannya. Dan sungguh dahulu (di masa kami para sahabat) ada seseorang yang didatangkan (untuk sholart berjama’ah di masjid, edt.) dan dituntun diantara dua orang, hingga dia bisa berdiri tegak di tengah-tengah shof (yakni, meskipun dia tidak mampu berjalan sendiri kecuali dengan dituntun, tetap bersemangat sholat berjama’ah di masjid, edt.).” (HR Imam Muslim no. 162)    Read the full post »

Sebuah Nasehat & Renungan Untuk Para Wanita : “WANITA ITU SUKA BERHIAS DAN BERSOLEK”

 

Wahai saudariku muslimah……,

Diakui ataupun tidak, kaum anda semuanya itu adalah mempunyai kebiasaan dan tabiat yang sama, yaitu suka terhadap perhiasan, sehingga anda semuanya adalah kaum yang suka berhias, berdandan dan bersolek. Banyak sekali dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menunjukkan hal itu.

Diantaranya adalah firman Alloh Ta’ala :

أَوَمَنْ يُنَشَّأُ فِي الْحِلْيَةِ وَهُوَ فِي الْخِصَامِ غَيْرُ مُبِينٍ (١٨)

“Dan apakah patut (menjadi anak Allah) orang yang dibesarkan dalam keadaan berperhiasan (yakni anak wanita, edt.), sedang dia tidak dapat memberi alasan yang terang dalam pertengkaran.” (QS Az-Zuhruf : 18)

Ayat yang mulia ini sebagai celaan bagi orang-orang musyrik yang menganggap para Malaikat itu adalah sebagai anak-anak perempuan Alloh, dan mereka menyandarkan anak-anak perempuan bagi Alloh Ta’ala. Sedangkan mereka sendiri, tidak terlalu suka dan tidak mempunyai kebanggaan terhadap anak-anak perempuan. Sebagaimana hal itu ditunjukkan pada ayat sebelumnya :

وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِمَا ضَرَبَ لِلرَّحْمَنِ مَثَلا ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ (١٧)

“Padahal apabila salah seorang di antara mereka diberi kabar gembira dengan apa yang dijadikan sebagai misal bagi Allah yang Maha Pemurah (yakni dengan kelahiran anak perempuan untuk mereka), jadilah mukanya hitam pekat, sedang dia amat menahan sedih (yakni mukanya menjadi merah padam karena malu dan sangat marah, padahal mereka sendiri yang mengatakan bahwa Alloh itu mempunyai anak perempuan, edt.).” (QS Az-Zukhruf : 17)

Intinya pada ayat tersebut di atas, menunjukkan bahwa memang pada asalnya para wanita itu adalah lekat dengan perhiasan, dan sangat menyukai berhias, wallohu a’lam.

Al-Imam Ibnu Abdil Barr rohimahulloh berkata : “Akal seorang wanita itu ada pada kecantikannya. Sedangkan kebagusan/ketampanan seorang laki-laki itu ada pada akalnya.” (Bahjatul Majalis, 3/7)

Al-Imam Ibnu Sa’ad rohimahulloh meriwayatkan dengan sanad yang shohih dalam kitab beliau At-Thobaqoot (2/364) : “Bahwasannya ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha berkata kepada Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu : “Sesungguhnya engkau telah menceritakan suatu hadits dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam yang aku tidak mendengar dari beliau.” Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu berkata : “Wahai ibunda, aku mencari hadits-hadits beliau (setiap harinya, edt.), sedangkan cermin dan celak (maksudnya adalah alat-alat untuk berhias, edt.) telah menyibukkan anda, yang mana itu semua tidaklah menyibukkanku sedikitpun.”

Hadits yang mulia ini menunjukkan, begitulah umumnya para wanita, berhias dan bersolek (mempercantik diri) adalah tabiat asli mereka, dan ini bukanlah sebagai aib bagi mereka, asalkan diletakkan pada tempat yang semestinya. Read the full post »

Rekaman Khutbah Jum’at : “HAKEKAT KEHIDUPAN DI DUNIA”

Kaum Muslimin rohimakumulloh,

Berikut ini kami tampilkan rekaman khutbah jum’at pekan lalu, dengan tema : “HAKEKAT KEHIDUPAN DI DUNIA”, yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah Rully hafidzhohulloh, di Masjid Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya.

Dalam khutbah ini, beliau menyampaikan beberapa dalil dari al-Qur’an dan Sunnah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam tentang hakekat kehidupan dunia itu. Diantaranya beliau menyebutkan Firman Alloh Ta’ala :

إِنَّمَا مَثَلُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الأرْضِ مِمَّا يَأْكُلُ النَّاسُ وَالأنْعَامُ حَتَّى إِذَا أَخَذَتِ الأرْضُ زُخْرُفَهَا وَازَّيَّنَتْ وَظَنَّ أَهْلُهَا أَنَّهُمْ قَادِرُونَ عَلَيْهَا أَتَاهَا أَمْرُنَا لَيْلا أَوْ نَهَارًا فَجَعَلْنَاهَا حَصِيدًا كَأَنْ لَمْ تَغْنَ بِالأمْسِ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (٢٤)

“Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dan langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasasinya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang berfikir.” (QS  Yunus : 24)

Alloh menjelaskan dalam ayat ini bagaimana gambaran kehidupan di dunia ini, yang mana kesenangannya hanyalah sesaat, yang cepat hilang lalu berganti dengan kesusahan. Karena itu, disebutkan dalam ayat lain, bahwa Alloh Ta’ala menyebut kehidupan dunia ini dengan Al-Ulaa, sebagaimana dalam firman-Nya :

وَلَلآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الأولَى (٤)

“Dan sesungguhnya Akhirat (hari kemudian) itu lebih baik bagimu daripada Al-Ulaa (yang permulaan, yakni kehidupan di dunia yang sekarang ini, edt.).” (QS Ad-Dhuha : 4)

Kehidupan dunia itu disebut Al-Ulaa, karena kehiduan inilah yang dirasakan saat ini sebelum di akhirat nanti. Dan nama lain kehidupan dunia ini adalah Al-‘Ajilah, sebagaimana dalam firman-Nya :

كَلا بَلْ تُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ (٢٠)وَتَذَرُونَ الآخِرَةَ (٢١)

“Sekali-kali janganlah demikian, sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai Al-‘Ajilah (kehidupan dunia), dan meninggalkan (kehidupan) akhirat.” (QS Al-Qiyamah : 20-21)

Dinamai kehidupan dunia ini dengan Al-‘Ajilah, karena kesenangan yang ada di dalamnya bersifat segera dirasakan oleh orang yang menikmatinya, tetapi akan cepat hilang dan berlalu. Karena itu bila seseorang tertipu dengan kesenangan dunia dan lalai dari kehidupan akhiratnya, maka kelak kesenangan itu akan berganti dengan kesusahan dan kesedihan di akhirat nanti. Sebagaimana dalam firman-Nya yang lain Alloh Ta’ala menyatakan :

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا (١٨)

“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki, dan Kami tentukan baginya neraka Jahannam, ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.” (QS Al-Isro : 18)

Demikianlah gambaran singkat hakekat kehidupan dunia itu, dan masih banyak ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskannya yang disebutkan dalam khutbah ini. Semuanya menunjukkan, bahwa kehidupan di dunia ini hanyalah sementara, kesenangannya hanyalah sesaat saja, tidak akan kita nikmati selama-lamanya. Sedangkan kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan di akhirat nanti, kalau saja kita mau menyadarinya. Read the full post »

Sebuah Nasehat Untuk Para Wanita : “PAKAIAN TAQWA, ADALAH SEBAIK-BAIK PAKAIAN DAN PERHIASAN”

 

Wahai saudariku muslimah….. , kita semua tentu memaklumi, bahwa berhias dan berpenampilan indah, adalah termasuk salah satu adab yang disyari’atkan dalam agama kita yang hanif (lurus) ini. Akan tetapi, yang penting untuk kita ketahui juga dalam perkara ini adalah bahwa perhiasan itu ada dua macam, yakni perhiasan dhohir (yang nampak dari luar), dan perhiasan batin (yang ada di dalam hati seorang muslim).

Dan perhiasan batin, adalah lebih penting untuk kita dahulukan dan kita perhatikan. Mengapa ? Ya, karena baiknya dan bagusnya batin seseorang itu akan membawa pada keberuntungan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ (٢٦)

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa, itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS Al-A’roof : 26)

Al-Imam As-Syaukani rohimahulloh dalam tafsirnya (2/204) menjelaskan : “Yang dimaksud dengan pakaian taqwa adalah pakaian Al-Waro’ dan menjaga diri agar tidak terjatuh pada kemaksiatan. Yakni Waro’ terhadap diri sendiri (dengan berhati-hati dari semua perkara yang harom dan syubuhat, edt.) dan takut kepada Alloh Ta’ala. Yang demikian itu adalah sebaik-baik pakaian dan seindah-indahnya perhiasan.”

Seorang penyair Arab berkata :

إذا المرء لم يلبس ثيابا من التقى      تقلب عريانا وإن كان كاسيا

“Apabila seseorang itu tidak berpakaian dengan ketakwaan, dia berubah dalam keadaan telanjang meskipun dia berpakaian.”

Setelah itupun dia juga berkata :

وخير لباس المرء طاعة ربه        ولاخير فيمن كان لله عاصيا

“Sebaik-baik pakaian seseorang adalah ketaatan pada Robbnya, dan tidak ada kebaikan bagi orang yang bermaksiat kepada Alloh.”

Al-Imam Muslim rohimahulloh dalam Shohih-nya (no. 2564) membawakan hadits dari Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu, dia berkata : “Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إن الله لا ينظر إلى أجسادكم ولا إلى صوركم, ولكن ينظر إلى قلوبكم (و أعمالكم)

“Sesungguhnya Alloh tidak melihat kepada jasad-jasad kalian dan bentuk tubuh kalian, tetapi Dia melihat kepada hati-hati kalian (dan amal-amal kalian).” Beliau berisyarat dengan jari telunjuk ke dadanya. Read the full post »

Rekaman Khutbah Jum’at : “RASA MALU DAN KEUTAMAANNYA”

 

Kaum Muslimin rohimakumulloh,

Berikut ini adalah khutbah jum’at pekan lalu yang disampaikan oleh Al-Ustadz Ahmad Yulianta hafidzhohulloh di Masjid Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya, dengan tema : “RASA MALU DAN KEUTAMAANNYA.”

Dalam khutbah ini, Ust Ahmad membawakan sebuah hadits dari sahabat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam yang mulia, Imron bin Hushoin rodhiyallohu ‘anhu, bahwa Rosululloh bersabda :

الحياء لا يأتي إلا بخير

“Rasa malu itu tidaklah mendatangkan (sesuatu) kecuali kebaikan.” (HR Imam Al-Bukhori no. 6117 dan Imam Muslim no. 37), dalam lafadz yang lainnya :

الحياء كله خير

“Rasa malu itu semuanya adalah baik.”

Ketika Imron bin Hushoin rodhiyallohu ‘anhu meriwayatkan hadits ini, ada salah seorang yang berkata : “Aku tidak mendapatkan kitab-kitab terdahulu yang membahas tentang adab-adab, kecuali ada pada “As-Sakinah (ketenangan).”

Artinya, orang ini berkomentar seperti itu dalam upaya untuk membenturkan hadits Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dengan ucapannya (pendapatnya) sendiri, maka Imron bin Hushoin rodhiyallohu ‘anhu marah kepadanya, karena beliau meriwayatkan hadits ini dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, tetapi dibantah dengan ucapan seseorang.

Intinya, benarlah apa yang disabdakan Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, bahwa rasa malu itu tidaklah mendatangkan sesuatu kepada seseorang yang melakukannya, kecuali kebaikan. Bila rasa malu itu sudah tidak ada pada seseorang, maka  yang akan terjadi padanya adalah munculnya berbagai kejelekan.

Ibnul Qoyyim rohimahulloh berkata dalam kitabnya Al-Jawabul Kafi : “Rasa malu pada seseorang adalah pokok semua kebaikan. Bila rasa malu hilang pada seseorang, maka hilanglah semua kebaikan dari dirinya.” Hal itu karena, tanpa rasa malu, hati seseorang akan tertutup dari Al-Haq.

Ustadz Ahmad hafidzhohulloh juga menjelaskan sebab-sebab lain, mengapa seseorang itu terjatuh pada perbuatan dosa dan maksiat serta penentangan terhadap syari’at Alloh, diantaranya yaitu : “Disamping hilangnya rasa malu, juga karena sedikitnya ilmu dan banyaknya kebodohon.” Yakni, bodoh terhadap syari’at dan agama Alloh Ta’ala.

Beliau juga menjelaskan tentang apa akibat buruk yang akan dialami bagi seseorang yang terus menerus melakukan dosa-dosa dan kemaksiatan, di dunia maupun di akhirat nanti.

Dan masih banyak hal lain dan faedah-faedah yang bermanfaat yang disampaikan oleh beliau hafidzhohulloh dalam khutbah yang pendek dan ringkas ini, tetapi padat manfaatnya. Read the full post »

(Fatwa Ulama) : SIKAP AL-WALA’ & AL-BARO’ TERHADAP YAHUDI, NASHORO DAN AHLI BID’AH

 

Saudaraku kaum muslimin

Berikut ini adalah salah satu fatwa guru kami dan juga guru kita semua, As-Syaikh Abu Abdirrohman Yahya bin Ali Al-Hajuri  hafidzhohulloh, ketika beliau ditanya tentang bagaimana penerapan sikap Al-Wala’ (berloyalitas) dan Al-Baro’ (berlepas diri), khususnya terhadap orang-orang kafir secara umum, baik itu Yahudi, Nashoro, dan orang-orang musyrik, demikian pula terhadap para Ahli Bid’ah dari kalangan kaum muslimin.

Beliau hafidzhohulloh memberikan bimbingan kita tentang hal tersebut, agar kita jangan bersikap Ghuluw atau Ifroth (berlebih-lebihan dan melampaui batas), dan jangan pula bersikap Tafrith (meremehkan atau menganggap enteng). Hal ini kami nukil dari salah satu kitab guru kami yang lainnya, yaitu As-Syaikh Kamal bin Tsabit Al-Adani rohimahulloh (beliau telah gugur dalam peperangan melawan syi’ah rofidhoh tahun lalu, semoga syahid sebagai syuhada’ di sisi Alloh), yang mana dalam kitab tersebut beliau kumpulkan beberapa fatwa As-Syaikh Yahya hafidzhohulloh, khususnya tentang berbagai permasalahan manhaj. Wallohu a’lam, semoga bermanfaat untuk kita semua.

Inilah uraian selengkapnya : 

Pertanyaan : “Bagaimanakah bersikap wala’ dan baro’ terhadap Yahudi, Nasrani dan Mubtadi’ah (Ahli Bid’ah) ?”

Jawab :

Permasalahan ini ada dalam Kitabulloh yang Muhkam (yang sangat jelas dan gamblang hukumnya). Alloh Ta’ala berfirman :

لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الإيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (٢٢)

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Meraka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya, dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka Itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah (golongan Alloh) itu adalah golongan yang beruntung.” (QS Al-Mijadilah : 22)

Maka orang Yahudi dan Nashoro dibenci dengan kebencian yang amat sangat, dan mereka itu dilaknat secara global (umum), sebagaimana Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam telah melaknat mereka (secara umum). Beliau bersabda :

لعن الله اليهود والنصارى, اتخذوا قبور إنبياءهم مساجد

“Alloh melaknat orang-orang Yahudi dan Nashoro, (karena) mereka telah menjadikan kuburan para nabi-nabi mereka sebagai masjid (tempat ibadah).” (HR Imam Al-Bukhori no. 1330, 1390, 4441, dan Imam Muslim no. 529, dan Imam Ahmad (6/80), dari ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha)

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pun juga mendoakan kejelekan pada mereka, sebagaimana dalam doa beliau :

اللهم اقتلهم بددا, وأحصهم عددا, ولا تبقي منهم أحدا

“Ya Alloh, bunuhlah mereka dalam keadaan bercerai berai, hitunglah jumlah mereka, dan jangan Engkau sisakan dari mereka seorangpun.” (HR Imam Al-Bukhori no. 3989, dari Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu)

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam mendoakan kejelekan atas mereka secara global (umum), dan juga melaknat mereka (secara umum juga). Adapun secara khusus dari mereka (yakni secara individu / orang per orang dari mereka), maka tidak boleh dilaknat, dan ini adalah pendapat jumhur ahli ilmi. Hal ini adalah selama mereka masih hidup. Adapun apabila mereka telah mati, kitab-kitab para ulama penuh dengan laknat atas mereka yang mati dalam keadaan kafir tersebut (hal itu menunjukkan, bolehnya melaknat orang kafir, baik secara umum maupun khusus, bila mereka telah mati dalam keadaan kafir, wallohu a’lam, edt.) Read the full post »

Rekaman Khutbah Jum’at : “JANGAN TERTIPU DENGAN JUMLAH YANG BANYAK”

 

Saudaraku kaum Muslimin,

Berikut ini adalah rekaman khutbah jum’at pekan lalu, dengan tema : “JANGAN TERTIPU DENGAN JUMLAH YANG BANYAK”, yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Abdirrohman Yoyok WN, di Masjid Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya.

Dalam khutbah ini, Ustadz Yoyok menjelaskan isi kandungan Surat Al-An’am ayat 116. Diantara isi kandungannya adalah : “Bahwa kebenaran itu tidaklah dikenal/diketahui dari banyaknya orang-orang yang mengikutinya, tetapi hanyalah seseorang itu dikenal dengan kebenaran yang dia pegang teguh dengannya. Maka siapa saja yang berada di atas Al-Haq, biarpun dia sedikit atau sendirian, maka dialah yang wajib untuk dijadikan teladan dan diikuti. Sebaliknya, siapa saja yang berada di atas kebathilan, biarpun dalam jumlah yang banyak dan mayoritas, wajib atas kita untuk meninggalkannya.” Demikian, seperti yang dijelaskan oleh Syaikh Sholih Al-Fauzan hafidzhohulloh daalam Syarh Kitab Al-Masail Al-Jahiliyyah.

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rohimahulloh juga menjelaskan dalam Tafsir-nya, bahwa banyaknya jumlah pengikut itu tidak bisa dijadikan dalil bahwa seseorang itu berada di atas kebenaran, dan sedikitnya jumlah pengikut itu juga tidak bisa dijadikan dalil untuk menilai seseorang itu berada di atas kebathilan. Bahkan kenyataan justru menunjukkan sebaliknya, bahwa pelaku kebenaran itu sedikit sekali jumlahnya, tetapi besar nilai dan pahalanya di sisi Alloh Subhanahu wa Ta’ala.”  Read the full post »

(FATWA ULAMA) : KITAB-KITAB YANG PENTING UNTUK DIBACA & DIPELAJARI

 

Kaum muslimin rohimakumulloh, berikut ini adalah Fatwa As-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz rohimahulloh, ketika beliau ditanya tentang kitab-kitab yang penting untuk dibaca, dipelajari dan bisa dijadikan sandaran yang terpercaya oleh kaum muslimin, khususnya dalam permasalahan aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, dan permasalahan lainnya. Rinciannya adalah sebagai berikut : 

Pertanyaan : “Apa saja kitab-kitab yang Anda nasehatkan dengannya agar kami membacanya, khususnya yang berkaitan dengan permasalahan aqidah ?”

Jawab :

Sebaik-baik kitab, seagung-agungnya dan sebenar-benarnya kitab yang wajib untuk dibaca dalam mempelajari masalah aqidah, ahkam (hukum-hukum) dan akhlak, adalah Kitabulloh ‘Azza wa Jalla (yakni Al-Qur’an), yang tidak ada kebatilan dari depan dan dari belakangnya, yang diturunkan dari Hakimun Hamid (Dzat Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji).

Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman :

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا (٩)

“Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh, bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (QS Al-Isro’ : 9)

Alloh ‘Azza wa Jalla juga berfirman :

قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ (٤٤)

“Katakanlah: “Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar (obat) bagi orang-orang mukmin…” (QS Fushshilat : 44)

Alloh ‘Azza wa Jalla juga berfirman tentang Al-Qur’an ini :

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الألْبَابِ (٢٩)

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (QS Shood : 29)

Alloh ‘Azza wa Jalla juga berfirman tentang Al-Qur’an ini :

وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (١٥٥)

“Dan Al-Quran itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah kamu sekalian agar kamu diberi rahmat.” (QS Al-An’am : 155)

Alloh ‘Azza wa Jalla juga berfirman tentang Al-Qur’an ini :

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ (٨٩)

“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS An-Nahl : 89) Read the full post »

SUNNAH-SUNNAH KETIKA PERGI MENUJU MASJID

Saudaraku kaum muslimin, berikut ini adalah penjelasan ringkas tentang apa saja yang disunnahkan (dicontohkan/dituntunkan) oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, terutama yang  berkaitan dengan adab-adab menuju masjid dan ketika berada di dalam masjid.

Diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Hendaknya bersegera menuju masjid, apabila adzan telah dikumandangkan.

Dalil yang menunjukkan hal itu, adalah sabda Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam :

لو يعلم الناس ما في النداء والصف الأول ثم لم يجدوا إلا أن يستهموا عليه, ولو يعلمون ما في التهجير لاستبقوا إليه, ولو يعلمون ما في العتمة والصبح لآتوهما ولو حبوا 

“Seandainya manusia mengetahui keutamaan adzan dan shof yang pertama, kemudian tidaklah mereka bisa mendapatinya kecuali dengan jalan berundi (melakukan undian), niscaya mereka pun akan berundi. Dan seandainya mereka mengetahui keutamaan bersegera menuju masjid, niscaya mereka akan berlomba (untuk saling mendahului, edt.). Dan seandainya mereka mengetahui (keutamaan) pada sholat Isya’ dan Shubuh, niscaya mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak.” (HR Imam Al-Bukhori no. 615 dan Imam Muslim no. 437)

2. Berdoa ketika berjalan menuju masjid, yakni dengan mengucapkan : 

اللهم اجعل في قلبي نورا وفي لساني نورا, واجعل في سمعي نورا, واجعل في بصري نورا, واجعل من خلفي نورا, ومن امامي نورا, واجعل من فوقي نورا, ومن تحتي نورا, اللهم أعطني نورا

“Ya Alloh, jadikanlah cahaya dalam hatiku, cahaya dalam lidahku, jadikanlah cahaya pada pendengaranku dan penglihatanku, jadikanlah cahaya dari belakangku dan dari depanku, jadikanlah cahaya dari atasku dan dari bawahku. Ya Alloh, berikanlah cahaya kepadaku.” (HR Imam Al-Bukhori no. 6316 dan Imam Muslim no. 763)

3. Hendaknya berjalan menuju ke masjid dengan tenang dan berwibawa (penuh adab dan sopan santun), tidak tergesa-gesa.

Hal ini karena Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إذا سمعتم الإقامة فامشوا إلى الصلاة وعليكم بالسكينة والوقار

“Apabila kalian mendengar iqomah, maka berjalanlah kalian menuju masjid untuk sholat dengan tenang dan berwibawa (penuh adab dan sopan santun).” (HR Imam Al-Bukhori no. 636 dan 908)

As-Sakiinah, artinya adalah perlahan dalam berjalan, dan menjauhkan diri dari bersendau gurau. Al-Wiqoor, artinya adalah menundukkan pandangan, merendahkan suara dan tidak menoleh-noleh, wallohu a’lam bis showab. Read the full post »

KEUTAMAAN PUASA HARI ‘ASYURO

 

Tanya : “Ustadz, mohon dijelaskan apa sebenarnya Puasa ‘Asyuro itu ? Apa hukumnya dan bagaimana cara mengamalkannya ? Jazakalloh khoiron atas penjelasannya !” 

Jawab

Puasa ‘Asyuro adalah puasa sunnah yang dilakukan pada hari ke sepuluh dari Bulan Muharrom. Tentang keutamaannya, dijelaskan dalam hadits Abu Qotadah roshiyallohu ‘anhu, bahwa Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah menjelaskan :

وصيام يوم عاشوراء أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله

“Dan puasa hari Asyuro, aku berharap kepada Alloh agar bisa menghapus (dosa-dosa) setahun sebelumnya (yakni setahun yang lalu, edt.)”

Dalam lafadz lainnya, ketika beliau ditanya tentang Puasa ‘Asyuro, beliau menjawab :

يكفر السنة الماضية

“Mengapus (dosa-dosa/kesalahan) setahun yang lalu.” (HR Imam Muslim no. 1162 / 196 )

Tentang hukum puasa ini, dijelaskan oleh Imam An-Nawawi rohimahulloh : “Para ulama telah sepakat bahwa Puasa ‘Asyuro itu hukumnya sunnah.” (Syarh Shohih Muslim, 8/4)

Sebenarnya, para ulama berbeda pendapat tentang kapan sesungguhnya hari ‘Asyuro itu. Jumhur (mayoritas) ulama salaf dan kholaf berpendapat ‘Asyuro itu adalah hari ke sepuluh dari bulan Muharrom. Sebagian ulama berpendapat bahwa ‘Asyuro itu adalah hari ke sembilan dari bulan Muharrom, dan ini pendapatnya Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhuma.

Mereka berdalil dengan sebuah hadits yang terdapat dalam Shohih Muslim (no. 1133) : “Bahwa Al-Hakam bin Al-A’roj bertanya kepada Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhuma tentang puasa ‘Asyuro, beliau berkata : “Apabila kamu melihat hilal (bulan sabit tanggal satu) Muharrom, maka hitunglah.” Dan pada pagi hari tanggal sembilan (Muharrom), beliau berpuasa. Lalu aku bertanya : “Apakah seperti ini Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam berpuasa ?” Beliau menjawab : “Iya.”

Tetapi kalau kita perhatikan dengan seksama, dhohir hadits tersebut menunjukkan, bahwa yang dimaksud oleh Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhuma dengan puasa tanggal sembilan Muharrom, adalah puasa yang dilakukan untuk menyelisihi (membedakan diri) dengan puasanya orang-orang Yahudi, bukan menunjukkan bahwa ‘Asyuro itu adalah tanggal sembilan Muharrom.

Dalil yang menunjukkan hal itu adalah hadits dalam Shohih Muslim pula (no. 1134) : “Bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam tatkala berpuasa pada Hari ‘Asyuro dan memerintahkan (para sahabat beliau) untuk berpuasa, mereka (para sahabat) berkata : “Wahai Rosululloh, sesungguhnya ini adalah hari yang (juga) diagungkan/dimuliakan oleh orang-orang Yahudi dan Nashoro.” Lalu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Kalau begitu, tahun yang akan datang kita akan berpuasa pada hari (tanggal) ke-sembilan.” Tetapi belum sempat datang tahun berikutnya, beliau telah meninggal dunia.”

Jadi, kita juga disunnahkan untuk berpuasa pada hari kesembilan dari bulan Muharrom selain pada hari ke-sepuluhnya. Ini dilakukan, untuk membedakan dengan puasanya Ahlul Kitab, yakni orang-orang Yahudi dan Nashoro. Read the full post »

BULAN MUHARROM & HARI ‘ASYURO

 

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين الذي هدانا لهذا الدين وما كنا لنهتدي لولا أن هدانا الله وأشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا رسول الله، أما بعد

Saudaraku yang dimuliakan oleh Alloh ta’ala, sehubungan dengan masuknya kita kaum muslimin ke dalam bulan Muharrom ini, maka pada kali ini akan disebutkan di sini beberapa keutamaan dan hukum-hukum yang berkaitan dengan bulan yang mulia ini secara umum. Semoga Alloh ta’ala memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat dan dapat mengantarkan kita menuju amalan yang sholeh, sehingga dengannya akan mendatangkan keridhoan-Nya.

Muharrom adalah bulan suci (bulan harom)

Bulan Muharrom merupakan salah satu bulan suci umat Islam berdasarkan Al Kitab dan As Sunnah. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam menerangkan nama-nama bulan-bulan harom (suci) tersebut dalam sabda beliau:

إن الزمان قد استدار كهيئته يوم خلق الله السموات والأرض، السنة اثنا عشر شهرا، منها أربعة حرم، ثلاثة متواليات: ذو القعدة، وذو الحجة، والمحرم، ورجب شهر مضر الذي بين جمادى وشعبان

“Sesungguhnya zaman (tahun) ini telah berputar sesuai dengan aslinya ketika Alloh menciptakan langit dan bumi. Setahun dua belas bulan, diantaranya empat bulan harom, tiga bulan berturut-turut: Dzulqo’dah, Dzulhijjah,Muharrom dan keempat adalah Rojab yang diagungkan kabilah Mudhor yang berada diantara bulan Jumada (Al-Akhiroh) dan Sya’ban.” (HR. Bukhori dan Muslim dari Abu Bakroh rodhiyallohu ‘anhu)

Alloh tabaroka wa ta’ala berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia:

إن عدة الشهور عند الله اثنا عشر شهرا في كتاب الله يوم خلق السماوات والأرض منها أربعة حرم ذلك الدين القيم فلا تظلموا فيهن أنفسكم وقاتلوا المشركين كافة كما يقاتلونكم كافة واعلموا أن الله مع المتقين

“Sesungguhnya jumlah bulan dalam hukum Alloh dan yang telah termaktub dalam lauhul mahfudz itu adalah sebanyak dua belas bulan, pada hari diciptakannya langit dan bumi. Diantaranya adalah empat bulan harom (bulan suci). Alloh telah mengharomkan di dalamnya peperangan (yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharrom dan Rojab). Itulah agama yang lurus, maka janganlah kalian berbuat dholim terhadap diri-diri kalian di bulan-bulan itu, lantaran keharoman perbuatan dholim di dalamnya lebih besar dan dosanya lebih besar daripada di bulan-bulan lainnya.” (lihat Tafsir Muyassar QS. At-Taubah: 36)

Alloh ta’ala menyebutkan secara khusus bulan-bulan harom tersebut dan melarang perbuatan kedholiman serta melipat-gandakan dosa kedholiman tersebut di dalamnya sebagai bentuk pemuliaan terhadap bulan-bulan tersebut, meskipun perbuatan kedholiman tersebut terlarang pula di setiap waktu dan zaman. (Jami’ li Ahkamil Quran, Al Qurthubi)

Keutamaan dan amalan di bulan Muharrom

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أفضل الصيام بعد رمضان شهر الله المحرم، وأفضل الصلاة بعد الفريضة صلاة الليل

“Seutama-utama puasa setelah Romadhon adalah puasa pada bulan Alloh Muharrom dan seutama-utama sholat setelah ibadah sholat wajib adalah sholat malam.” (HR. Muslim dari Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu)

Dalam hadits ini, Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam telah menamai Muharrom sebagai bulan Alloh yang hal ini menunjukkan akan keutamaan dan fadhilahnya. Sesungguhnya Alloh ta’ala tidaklah menyandarkan sesuatu kepada-Nya, melainkan sesuatu tersebut merupakan makhluk-Nya yang dikhususkan, sebagaimana Ka’bah disebut sebagai rumah Alloh secara khusus, sebagaimana dalam firman Alloh ta’ala:

وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

“Kami telah mewahyukan kepada Ibrohim dan anaknya Ismail: “Sucikanlahrumah-Ku itu (Ka’bah) dari segala najis dan kotoran untuk orang-orang yang melakukan ibadah thowaf di dalamnya dengan mengelilingi Ka’bah atau i’tikaf dan sholat di masjidil harom.” (Tafsir Muyassar QS. Al Baqoroh: 125) Read the full post »

Rekaman Khutbah Jum’at : “BAGAIMANA MEMADUKAN ANTARA AL-KHOUF & AR-ROJA’ DLM BERIBADAH KEPADA ALLOH

 

Saudaraku kaum Muslimin rohimakumulloh….

Berikut ini adalah rekaman khutbah jum’at pekan lalu di Masjid Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya dengan tema : ” BAGAIMANA MEMADUKAN ANTARA AL-KHOUF (TAKUT) DAN AR-ROJA’ (BERHARAP) DALAM BERIBADAH KEPADA ALLOH”, yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Hamzah Ahmad Yulianta hafidzhohulloh.

Dalam khutbah ini, beliau menyampaikan secara ringkas, bagaimana cara kita memadukan antara perasaan Al-Khouf (rasa takut kepada Alloh) dan Ar-Roja’ (berharap kepada-Nya) dalam melakukan ibadah kepada-Nya. Mengingat pentingnya hal ini, sangat disayangkan kalau dilewatkan begitu saja, 

Dan untuk mengetahui selengkapnya apa kandungan atau isi khutbah ini selengkapnya, silahkan Anda mendengarkan sendiri rekamannya, semoga banyak memberikan faedah/manfaat bagi yang menyampaikan khususnya dan juga bagi yang mendengarkannya, barokallohu fiikum.

Anda bisa mendengarkan atau mendownload-nya :  DI SINI Read the full post »

[ Update ] “Bulan MUHARROM adalah bulan mulia dalam Islam, bukan bulan yang mendatangkan kesialan.”

 

Tanya : “Bagaimana sebenarnya pandangan Islam mengenai bulan Muharrom atau bulan Suro itu ? Kata banyak orang, bulan ini sering dianggap bulan yang mendatangkan kesialan, benarkah yang seperti itu?

Jawab :

Ketahuilah, dalam Islam, bulan Muharrom atau bulan Suro (menurut istilah orang Jawa) ini termasuk salah satu bulan diantara empat bulan yang digelari dengan Asy-hurul Hurum (bulan-bulan suci), karena di dalam bulan ini dilarang melakukan kedzoliman, apapun bentuknya. Bahkan pada masa orang-orang arab jahiliyyah dulu, bulan-bulan tersebut sudah dianggap sebagai bulan-bulan suci yang tidak boleh ternoda oleh pertikaian, pertumpahan darah dan berbagai kedzoliman lainnya.

Lalu Islam datang dan menetapkannya sebagai syari’at, sebagaimana dinyatakan oleh Alloh ta’ala dalam firman-Nya (yang artinya) :

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ (٣٦)

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Alloh adalah dua belas bulan, (yakni) di dalam ketetapan Alloh ketika Dia menciptakan langit dan bumi. Diantaranya (ada) empat bulan (suci). Itulah ketetapan agama yang lurus, maka janganlah menganiaya diri (berbuat dholim) dakam bulan yang empat itu.” (QS. At-Taubah : 36)

Empat bulan suci yang tersebut dalam ayat di atas adalah sebagaimana dijelaskan oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya sebagai berikut : “Sesungguhnya waktu itu berputar seperti asalnya di waktu Alloh menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan, diantaranya ada empat bulan cuci, tiga secara berturut-turut adalah Dzulqo’dzah, Dzulhijjah dan Muharrom, serta Rojab-nya Bani Mudhor, yang terletak diantara Jumadil Akhir dan Sya’ban.” (HR Imam Al-Bukhori no. 3025, 4144 dan 7009, Imam Muslim no. 1679)

Imam Al-Qurthubi rohimahuloh berkata : “Alloh Azza wa Jalla mengkhususkan penyebutan empat bulan suci ini dengan larangan berbuat dholim, (adalah) sebagai penghormatan bagi bulan-bulan tersebut, meskipun kedholiman itu sendiri dilarang di setiap zaman/waktu.” (Tafsir Al-Qurthubi, 7/87) Dan yang paling utama diantara keempat bulan itu adalah Bulan Muharrom, sebagaimana dikatakan oleh Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri rohimahulloh.

Menurut Imam As-Sakhowi rohimahulloh, bulan Muharrom disebut demikian karena dia adalah bulan yang disucikan (dari peryumpahan darah dan segala bentuk kedzoliman). Sedangkan Al-Imam Ibnu Katsir rohimahulloh berpendapat, bahwa Muharrom disebut/dinamai demikian adalah sebagai penegasan akan keharaman (perbuatan dholim di bulan itu), karena orang-orang arab ( di masa jahiliyyah) suka merubah-rubahnya, setahun (kadang) mereka menghalalkannya, tetapi setahun berikutnya mereka mengharamkannya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/339)

Demikianlah, dalil-dalil dan penjelasan tersebut di atas menunjukkan keutamaan bulan Muharrom sebagai salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam. Akan tetapi sangat disayangkan, sebagian kaum muslimin, terutama dalam mitos masyarakat jawa (kejawen), Bulan Muharrom atau yang mereka namakan Bulan Suro dianggap sebagai bulan yang sial atau naas, sehingga mereka tidak mau mengadakan acara-acara hajatan, seperti pernikahan, khitanan dan sebagainya. Read the full post »

MEWASPADAI BID’AH-BID’AH AKHIR & AWAL TAHUN HIJRIYYAH

 


بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلله فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، أما بعد

Pada kesempatan kali ini, perlu disampaikan bahwa wajib atas kita seluruh kaum muslimin untuk melakukan introspeksi diri (muhasabah) di setiap waktu dan kesempatan. Alloh ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Wahai orang-orang yang membenarkan Alloh dan Rosul-Nya dan beramal dengan syariat-Nya, takutlah kalian kepada Alloh, berhati-hatilah terhadap hukuman-Nya dengan mengerjakan apa yang telah diperintahkan kepada kalian dan meninggalkan apa yang telah dilarang. Hendaknya setiap orang merenungkan apa yang telah ia kedepankan dari amalan-amalan untuk hari kiamat nanti. Takutlah kalian kepada Alloh pada setiap apa yang kalian datangi dan apa yang kalian tinggalkan. Sesungguhnya Alloh subhanahu itu Khobiir, maha mengetahui apa yang kalian kerjakan. Tidak ada yang tersamar bagi-Nya sesuatu pun dari amalan kalian dan Dia akan membalasi atas apa yang kalian kerjakan.” (Tafsir Muyassar QS. Al Hasyr: 18)

Pada setiap amalan kebaikan yang telah ia kerjakan, maka hendaklah ia memuji Alloh ta’ala atasnya dan berusaha untuk terus menambahnya dengan lebih baik dan tidak terputus darinya. Jika tidak demikian halnya, maka hendaklah ia bertaubat kepada Alloh ta’ala dari perbuatannya itu dan menggantinya dengan amalan sholeh. Sesungguhnya pintu taubat itu senantiasa terbuka sampai terbitnya matahari dari sebelah barat.

Maka wajib atas setiap muslim untuk mawas diri pada setiap waktu, hari, bulan dan tahunnya. Tidak dikhususkan pada waktu-waktu tertentu, karena sebagian manusia terutama di zaman ini menggantungkan muhasabah dirinya tersebut pada akhir atau awal tahun yang itu semua tidak ada asalnya dalam syariat. Pengkhususan hal itu pada waktu-waktu tertentu tidak ada asalnya dalam syariat dan tidak ada dalilnya.

  • Demikian juga perlu disampaikan di sini beberapa perkarabid’ahdalam syariat yang banyak ditemui pada masyarakat muslim pada penghujung tahun hijriyah ini agar kita terhindar dari melakukannya dan berupaya menjauhinya.

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Siapa yang mengada-adakan suatu perkara dalam perkara kami (agama) yang bukan darinya, maka ia tertolak.” (muttafaqun ‘alaih dari Aisyah rodhiyallohu ‘anha) Read the full post »

Pelajaran (2) : APA YANG HARUS DILAKUKAN OLEH ORANG YANG HADIR, KETIKA MELIHAT ORANG YANG SAKIT ITU MENGALAMI “SAKROTUL MAUT”

 

 Seri Pelajaran tentang Ahkamul Janaiz (Hukum-Hukum Seputar Jenasah)

Pelajaran (2) : APA YANG HARUS DILAKUKAN OLEH ORANG YANG HADIR, KETIKA MELIHAT ORANG YANG SAKIT ITU MENGALAMI “SAKROTUL MAUT”

Bagi orang yang menyaksikan/melihat bahwa orang yang sedang sakit itu menampakkan tanda-tanda dia akan meninggal (yakni mengalami sakrotul maut), sepantasnya dia melakukan hal-hal sebagai berikut :

1. Mentalqinnya agar mengucapkan kalimat syahadat “ laa ilaaha illalloh “.

Yang dimaksud dengan mentalqin disini adalah memerintahkan dan membimbingnya untuk mengucapkan kalimat “laa ilaaha illalloh”. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam :

 لقنوا موتاكم لا إله إلا الله

“Talqinilah orang-orang yang hampir mati diantara kalian dengan “laa ilaaha illalloh”.” (HR Imam Muslim no. 917, dari hadits Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu, juga dalam hadits Abu Said Al-Khudri rodhiyallohu ‘anhu no. 916)

Yang dimaksud dengan “mautaakum” dalam hadits ini adalah : “orang yang hampir mati/meninggal dunia” (bukan orang yang telah mati). Dan juga yang dimaksud disini adalah orang-orang yang hampir mati dari kalangan kaum muslimin. Hal ini sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Anas bin Malik rodhiyallohu ‘anhu : “Bahwa Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam mendatangi salah seorang laki-laki dari Anshor  (yang sedang mengalami sakrotul maut,edt.), lalu beliau bersabda kepadanya : “Wahai khool (paman), ucapkan laa ilaaha illalloh.” Orang itu berkata : “Khool atau ‘Amm (keduanya bermakna paman, edt.) ?” Kata Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam : “Bahkan anda adalah khool (paman).” Orang itu berkata lagi : “Apakah ada kebaikan bagiku apabila aku mengucapkan laa ilaaha illalloh ?” Nabi bersabda : “Ya.” (lihat Al-Jami’us Shohih (2/233), karya Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rohimahulloh)  

Bisa juga “mautaakum” bermakna orang yang hampir mati dari selain kaum muslimin, dan merekapun hendaknya kita suruh untuk mengucapkan syahadat, dan dipaparkan/dijelaskan kepada mereka tentang Islam. Hal ini sebagaimana dalam As-Shohihain, bahwa Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam berkata kepada paman beliau Abu Tholib (yang dia hampir mati dalam keadaan masih musyrik dan belum memeluk agama Islam, edt.) tatkala dia menghadapi sakrotul maut : “Wahai ‘Amm (paman), katakanlah : laa ilaaha illalloh.”

Dalil lainnya yang menunjukkan perintah untuk mentalqin orang yang akan mati, adalah hadits ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha, beliau berkata : Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

لقنوا هلكاكم قول لا إله إلا الله

“Talqinilah orang-orang yang hampir binasa (yakni hampir mati) diantara kalian dengan ucapan laa ilaaha illalloh.” (HR Imam An-Nasa’i no. 1827, dishohihkan oleh Syaikh Muqbil rohimahulloh dalam As-Shohihul Musnad, 2/496) Read the full post »

Pelajaran (1) : NASEHAT UNTUK ORANG YANG SEDANG SAKIT

 

Seri Pelajaran tentang Ahkamul Janaiz (Hukum-Hukum Seputar Jenasah)

Pelajaran (1) : NASEHAT UNTUK ORANG YANG SEDANG SAKIT

Al-Imam An-Nawawi rohimahulloh berkata : “Sepantasnya bagi orang yang sakit untuk bersemangat dalam membaguskan akhlaknya, menjauhi perdebatan dan berbantah-bantahan dalam urusan dunia, dan hendaknya menghadirkan dalam benaknya (hati dan pikirannya) bahwa saat ini (ketika dia sedang sakit sekarang ini) adalah akhir waktunya (dia tinggal) di negeri tempat beramal (yakni dunia ini). Oleh karena itu hendaknya dia menutup/mengakhiri kehidupannya itu dengan kebaikan. Dan hendaknya pula dia berusaha meminta maaf kepada istrinya, anak-anaknya dan seluruh anggota keluarganya, pembantu-pembantunya/pelayannya, para tetangganya, teman-temannya dan semua orang yang dia bermuamalah dan berhubungan dengan mereka, agar mereka meridhoinya.

Dan juga hendaknya dia senantiasa menjaga dirinya dengan selalu membaca Al-Qur’an, berdzikir, membaca kisah-kisah orang-orang sholih dan keadaan mereka ketika mereka mati (hal ini dimaksudkan untuk menguatkan jiwanya agar siap menghadapi apapun takdir Alloh yang akan berlaku atas dirinya, wallohu a’lam, edt.). Kemudian juga hendaknya dia menjaga sholatnya, menjauhi najis, dan (menjaga) berbagai perkara yang merupakan kewajiban-kewajiban agama baginya.

Janganlah dia membalas/melayani ucapan orang yang tidak mau menolongnya dalam kebaikan tersebut, karena hal itu termasuk ujian baginya, dan orang yang membiarkannya/tidak mau menolongnya (dalam kebaikan) adalah teman yang jahil (bodoh) dan musuh yang tersembunyi (baginya).

Kemudian juga hendaknya dia memberikan wasiat kepada keluarganya untuk bersabar atas dirinya (yakni agar mereka bersabar bila terjadi kematian atas dirinya, edt.), agar mereka meninggalkan perbuatan “niyahah” (meratapi jenasah) dan banyak menangis. Hendaknya pula menasehati mereka agar meninggalkan adat/kebiasaan yang berlaku di masyarakat berupa bid’ah-bid’ah seputar jenasah, dan agar mereka semua selalu mendoakannya (bila orang yang sakit tersebut akhirnya meninggal dunia, edt.). Wa billaahit taufiq.”

(Al-Majmu’ Syarh A-Muhadzdzab, 5/103-104) Read the full post »

Rekaman Khutbah Jum’at : “MENISBAHKAN SEMUA NIKMAT KEPADA ALLOH, ADALAH BUKTI KESEMPURNAAN IMAN SESEORANG”

 

Saudaraku kaum muslimin hafidzhokumulloh…

Berikut ini adalah rekaman Khutbah Jum’at pekan yang lalu, dengan tema : “MENISBAHKAN (MENYANDARKAN) SEMUA NIKMAT KEPADA ALLOH, ADALAH BUKTI KESEMPURNAAN IMAN SESEORANG“, yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah Rully hafidzhohulloh di Masjid Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya.

Ringkasnya, beliau menjelaskan :

Pertama : Tentang keutamaan Tauhid (mengesakan Alloh Ta’ala dalam beribadah), karena untuk tujuan tauhid inilah Alloh Ta’ala menciptakan jin dan manusia, Alloh Ta’ala mengutus para nabi dan Rosul-Nya, menurunkan kitab-kitab-Nya, dan sebagainya.

Kedua : Beliau juga mengingatkan tentang banyaknya nikmat yang telah Alloh Ta’ala berikan kepada hamba-hamba-Nya beserta dalil-dalilnya. Kemudian, kewajiban kita sebagai hamba-Nya adalah mensyukuri nikmat tersebut. Dan beliau juga mengingatkan. menisbahkan/menyandarkan semua nikmat kepada Alloh Ta’ala, termasuk bukti kesempurnaan iman seseorang. Sebaliknya, orang yang kafir, enggan menisbahkan nikmat tersebut kepada Alloh, tetapi kepada berhala dan segala sesuatu yang mereka sembah selain Alloh, atau menisbahkannya kepada kemampuan dan kepandaian diri sendiri. 

Untuk mengetahui rekaman selengkapnya, bisa Anda download dan dengar :  DI SINI Read the full post »