MAU MENIKAH, TAPI PERNAH BERZINA LEBIH DULU, BOLEHKAH ?

 

Hasil gambar untuk bunga

 

Pertanyaan : “Assalamu ‘alaikum warohmatullohi wa barokatuh …. Saya ingin berkonsulatasi mengenai masalah saya ustad. Saya rencana akan melangsungkan pernikahan dengan wanita yang saya cintai ustadz. Namun sebelum ke jenjang tersebut, saya pernah berzina dengannya, namun tidak sampai bertemunya kedua kelamin kami. Apakah saya sah untuk menikahinya ustad ? Mohon bantuannya, terima kasih. Wassalamu alaikum warohmatullohi wa barokatuh.”  (Ahmad Iqbal)

Jawab :

Bismillah…. Jawaban kami dan nasehat kami terhadap Anda, ringkasnya adalah sebagai berikut :

Pertama, kami nasehatkan kepada Anda yang seperti ini, yakni yang pernah melakukan hubungan zina dengan kekasihnya sebelum menjadi pasangan suami istri yang sah menurut agama dan juga menurut aturan negara, hendaknya Anda dan kekasih Anda tersebut bertobat kepada Alloh Ta’ala atas perbuatan yang keji tersebut.

Yakni dengan taubat yang di dalamnya terpenuhi syarat-syaratnya agar tobatnya tersebut benar-benar diterima oleh Alloh Ta’ala (Taubat Nasuha), yakni : (1) Menyesali perbuatan dosanya tersebut, (2) Melepaskan diri atau menjauhkan diri dari perbuatan dosanya tersebut sejauh-jauhnya, (3) Ber’azam (bertekad bulat) untuk tidak mengulangi lagi perbuatan dosanya tersebut.

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ تُوبُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ تَوۡبَةٗ نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمۡ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمۡ سَيِّ‍َٔاتِكُمۡ وَيُدۡخِلَكُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ…. ٨

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai …..” (QS At-Tahrim : 8)

Ya, bila Anda dan wanita yang Anda cintai itu akan menikah, maka keduanya harus bertobat kepada Alloh Ta’ala dulu atas perbuatan zina yang pernah dilakukannya, agar keduanya terlepas/terbebas dari sifat sebagai pezina. Karena seorang laki-laki mukmin itu tidak boleh menikah dengan wanita pezina demikian pula sebaliknya, wanita mukminah tidak boleh menikah dengan laki-laki pezina.

Alloh Subhanahu waTa’ala berfirman :

ٱلزَّانِي لَا يَنكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوۡ مُشۡرِكَةٗ وَٱلزَّانِيَةُ لَا يَنكِحُهَآ إِلَّا زَانٍ أَوۡ مُشۡرِكٞۚ وَحُرِّمَ ذَٰلِكَ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٣

“Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik. Dan perempuan yang berzina, tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang beriman.” (QS An-Nuur : 3)

Dalil dari hadits Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, diantaranya adalah hadits Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya dari Abdulloh bin Amr bin Al-Ash rodhiyallohu ‘anhuma, tentang kisahnya Martsad bin Abi Martsad Al-Ghonawy rodhiyallohu ‘anhu, yang ingin menikahi seorang wanita pelacur/pezina di Mekkah. Ketika dia bertanya kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, maka Nabi diam sampai turun Al-Qur’an surat An-Nuur ayat 3 tersebut, dan Nabi membacakan ayat tersebut kepada Martsad dan bersabda kepadanya : “Jangan kamu nikahi dia.” (HR Abu Dawud no. 251, At-Tirmidzi no. 3177, An-Nasa’i dalam As-Sunan (16/66) dan dalam Al-Kubro (3/269), Al-Hakim (2/180), Al-Baihaqi (7/153) dan Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no. 1745, hadits ini disebutkan oleh Syaikh Muqbil Al-Wadi’I rohimahulloh dalam As-Shohihul Musnad min Asbabin Nuzul, hal. 160-161)

Bila salah satu dari keduanya belum pernah bertobat dari perbuatan zinanya tersebut, tidak boleh keduanya menikah. Sebab belum terlepas sifat pezina darinya. Sebagaimana ditunjukkan dalilnya dari ayat tersebut di atas.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahulloh pernah berkata : “Menikahi perempuan pezina (wanita yang senang berzina) adalah harom, sampai dia bertobat, apakah yang akan menikahinya itu laki-laki yang menzinahinya atau yang selainnya. Inilah pendapat yang benar tanpa keraguan.” (Majmu’ Al-Fatawa, 32/109)

Jadi, bila keduanya telah benar-benar bertobat dari dosanya tersebut, hilanglah “larangan/haramnya” menikah bagi keduanya, bila keduanya benar-benar akan menikah secara sah menurut agama maupun menurut aturan negara. Wallohu a’lam. Read the full post »

Rekaman Khutbah Jum’at : “KEUTAMAAN ISTIQOMAH & PERKARA-PERKARA YANG MEMBANTU AGAR KITA BISA ISTIQOMAH”

 

Hasil gambar untuk istiqomah dijalan dakwah

 

Saudaraku kaum Muslimin rohimaniyalloh wa iyyakum ajma’in …..

Berikut ini adalah rekaman Khutbah Jum’at pekan lalu di Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya, yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Abdirrohman Yoyok WN hafidzhohulloh, dengan tema : “Keutamaan Istiqomah & Perkara-Perkara Yang Membantu Agar Kita Bisa Istiqomah.”

Beliau sampaikan tema itu dalam khutbah ini, untuk memberikan semangat kepada kita semua, agar ibadah kita tidak “luntur” setelah berlalunya bulan suci Romadhon. 

Ya, karena biasanya setelah usainya Romadhon, banyak diantara kita kaum muslimin ibadahnya mulai menurun, semangatnya mulai luntur, amal ibadah yang biasa dilakukan di bulan Romadhon, sedikit demi sedikit ditinggalkan dan mulai dilalaikan.

Karena itu sangat penting bagi kita untuk istiqomah dan istimror dalam ibadah. Dalam khutbah ini, dijelaskan tentang keutamaan orang-orang yang istiqomah, dan bagaimana upaya yang bisa kita lakukan agar kita bisa selalu istiqomah.

Untuk mengetahui selengkapnya, silahkan anda mendengarkan sendiri atau mendownloadnya dengan klik : DI SINI Read the full post »

Pelajaran Sifat Sholat Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam (1) : NIAT

 

Hasil gambar untuk sholat tahajud

 

Pengertian Niat

Yang dimaksud dengan niat di sini adalah, seperti apa yang dijelaskan oleh Al-Imam An-Nawawi rohimahulloh sebagai berikut : “Niat itu artinya adalah “al-qoshdu” (menyengaja, yakni sengaja untuk melakukan suatu perbuatan, edt.). Yaitu, dia berniat untuk melakukan sholat tertentu yang dia tegakkan, dan menentukan jenis sholat tertentu tersebut di dalam hatinya, contohnya : (dia sholat itu untuk melakukan) sholat fardhu Dhuhur atau Ashar, atau untuk melakukan sholat sunnah, dan seterusnya.” (Roudhotut Tholibin, 1/224)  

 

Apa Hukumnya Niat ?

Para Ahli Ilmu (ulama) sepakat, bahwa niat itu adalah salah satu “syarat sahnya” sholat. Yakni sholat itu tidak akan sah kecuali dengan niat. Diantara mereka adalah berpendapat demikian adalah : Ibnul Mundzir, As-Sairozy dan selainnya.

(lihat : Al-Ausath (3/71), Al-Mughni (2/132) dan Syarh Al-Muhadzdzab (3/276) dan lainnya)

Dalil yang menunjukkan hal itu adalah hadits Umar bin Al-Khoththob rodhiyallohu ‘anhu, bahwa Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إنما الأعمال بالنية وإنما لكل امرىء ما نوى

“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung dengan niatnya, dan sesungguhnya masing-masing orang itu sesuai dengan apa yang diniatkannya…” (HR Imam Al-Bukhori no. 1 dan Imam Muslim no. 1907)

 

Apakah Niat itu harus dijahr-kan (dilafadzkan dengan suara keras, yang bisa di dengar oleh orang yang lainnya) ?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahulloh berkata : “Menjahr-kan (mengeraskan) niat itu tidak wajib dan tidak pula disunnahkan, berdasarkan kesepakatan kaum muslimin. Bahkan orang menjahrkan niat (secara rutinn/terus menerus, edt.), dia adalah mubtadi’ (ahli bid’ah), menyelisihi syari’at. Dan apabila dia melakukan hal itu dengan meyakini bahwa hal itu termasuk bagian dari syari’at, maka dia adalah orang yang bodoh lagi sesat, berhak untuk mendapatkan hukuman ta’zir atas perbuatannya tersebut.” (Majmu’ Al-Fatawa, 22/218)

Beliau juga menyatakan : “Adapun menjahrkan niat dan mengulang-ulangnya (secara rutin dan terus menerus), ini adalah bid’ah yang jelek, yang tidak disunnahkan menurut kesepakatan kaum muslimin. Karena hal itu tidak pernah dilakukan oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, dan tidak pula dilakukan oleh Khulafa’ur Rosyidin (yakni para sahabat Nabi yang mengganti beliau untuk memimpin kaum muslimin, seperti Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali rodhiyallohu ‘anhum ajma’in).” (Majmu’ Al-Fatawa, 22/235) Read the full post »

Transkrip Khutbah Idul Fitri 1436 H : “DUA KEGEMBIRAAN BAGI ORANG YANG BERPUASA”

Hasil gambar untuk masjid

إن الحمد لله, نحمده ونستعينه ونستغفره, ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سياءات أعمالنا, من يهد الله فلا مضل له, ومن يضلل فلا هادي له, أشهد أن لااله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله, اللهم صل على محمد وعلى اله وأصحابه أجمعين, أما بعد.

 

Kaum Muslimin rohimaniyalloh wa iyyakum ajma’in,

Di pagi hari yang cerah ini, hari ini tanggal 1 Syawwal 1436 H, adalah Hari Raya Idul Fithri, hari dimana kita semua berbahagia, hari kita semua berbuka puasa kembali, setelah satu bulan penuh lamanya kita menjalankan ibadah puasa Romadhon.

Pada hari ini, segenap kaum muslimin berkumpul di tanah lapang, sambil mengumandangkan takbir, tahmid dan tahlil, sebagai bentuk rasa syukur kita semua, bahwa berkat rahmat dan taufiq-Nya, kita telah menyelesaikan perintah-Nya, yakni ibadah puasa di bulan Romadhon yang baru saja berlalu.

Hal itu karena memang sesungguhnya, kita dapat menyelesaikan ibadah puasa Romadhon itu adalah semata-mata karena kemudahan dan pertolongan dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Bukan karena kekuatan dan kemampuan kita. Karena itu pula, wajib atas kita untuk selalu mensyukuri segala nikmat yang telah Alloh Ta’ala limpahkan kepada kita.

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (١٨٥)

“Dan hendaklah kamu mencukupkan(menyempurnakan) bilangannya (hitungan bulan Romadhon itu) dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS Al-Baqoroh : 185)

Kaum Muslimin rohimaniyalloh wa iyyakum ajma’in,

Sepanjang bulan Romadhon kemarin, sungguh kita telah dididik untuk disiplin dan bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Alloh.

Di siang hari Romadhon, seluruh anggota tubuh kita dididik untuk menahan diri dari makan dan minum,  menahan diri dari melakukan dosa-dosa, menahan diri dari berkata dusta dan perkataan jelek lainnya, dan menahan diri dari semua perkara yang bisa membatalkan atau mengurangi pahala puasa kita.

Di malam hari, kita digembleng dengan sholat lail, tadarrus Al-Qur’an, dan berbagai amal ketaatan lainnya.

Bahkan di sepanjang waktu di bulan Romadhon itu kita dilatih untuk bersabar dengan beratnya puasa di tengah terik matahari, banyaknya godaan, dan perkara-perkara yang mengganggu kesempurnaan ibadah puasa kita.

Kitapun  juga dibiasakan untuk selalu menjalankan ketaatan dan memperbanyak amal sholih.

Maka segala puji bagi Alloh Subhanahu wa Ta’ala, atas segala perintah dan larangan-Nya. Sungguh, syari’at-Nya adalah haq (benar adanya), dan hukum-Nya adalah adil dan bijaksana.

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلا لا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (١١٥)

“Dan telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (yakni Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil, tidak ada yang dapat merobah-robah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-An’am : 115)

Ma’asyirol Muslimin rohimanii wa rohimakumulloh,

Maka dengan telah berakhirnya ibadah puasa di bulan Romadhon yang baru lalu ini, sudah selayaknya kita berharap-harap, semoga amalan kita selama Romadhon kemarin, diterima dan diberi pahala oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala.

Dan kita pun juga berharap, semoga kita benar-benar Alloh Ta’ala jadikan insan yang bertakwa, karena hanya amalan yang dilakukan oleh orang-orang yang bertakwa sajalah yang akan diterima oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala.

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ (٢٧)

“Sesungguhnya Allah hanya menerima amalan (korban) dari orang-orang yang bertakwa….”. (QS Al-Maidah : 27)

Kaum Muslimin rohimaniyalloh wa iyyakum ajma’in,

Dalam hadits Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhori dan Imam Muslim dalam shohihnya, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :

للصائم فرحتان يفرحهما ؛ إذا أفطر فرح بفطره، وإذا لقي ربه فرح بصومه

“Orang yang berpuasa itu mempunyai dua kegembiraan : (yaitu) apabila dia berbuka puasa, dia bergembira dengan (sebab) berbukanya tersebut. Dan apabila dia berjumpa dengan Robbnya (di akhirat nanti), dia bergembira dengan sebab puasa (yang dilakukannya).” (HR Imam Al-Bukhori dan Imam Muslim) Read the full post »

Rekaman Khutbah Idul Fitri 1436 H Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya

 

Hasil gambar untuk keindahan surga

Kaum Muslimin Rohimaniyallohu wa iyyakum ajma’in

Berikut ini adalah rekaman Khutbah Idul Fitri 1436 H beberapa hari lalu yang diselenggarakan di halaman Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya. Khutbah Idul Fitri tahun ini, disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Abdirrohman Yoyok WN hafidzhohulloh, dengan tema : “DUA KEGEMBIRAAN BAGI ORANG YANG BERPUASA”.

Tema pembahasan dalam khutbah ini, diambil dari hadits Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu, yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhori dan Imam Muslim dalam shohih keduanya, bahwa Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

للصائم فرحتان يفرحهما ؛ إذا أفطر فرح بفطره، وإذا لقي ربه فرح بصومه

“Orang yang berpuasa itu mempunyai dua kegembiraan : (yaitu) apabila dia berbuka puasa, dia bergembira dengan (sebab) berbukanya tersebut. Dan apabila dia berjumpa dengan Robbnya (di akhirat nanti), dia bergembira dengan sebab puasa (yang dilakukannya).” 

Semoga kita semuanya termasuk hamba-hamba-Nya yang akan mendapatkan keutamaan tersebut di atas.

Untuk mengetahui selengkapnya uraian rekaman khutbah tersebut di atas, silahkan anda klik : DI SINI Read the full post »

HUKUM-HUKUM RINGKAS SEPUTAR ZAKAT FITHRI / FITRAH

 

Hasil gambar untuk zakat

 

Pengertian Zakat Fithri (Zakat Fitrah)

Zakat, secara bahasa artinya adalah An-Nama’ wa Az-Ziyadah (pertumbuhan dan pertambahan). Al-Imam Ibnu Qudamah rohimahulloh berkata : “Dinamai seperti itu (yakni zakat), karena (dengan sebab zakat itu) semakin berbuah/berkembang dan menjadi tumbuh hartanya.”

Terkadang juga zakat bermakna As-Sholaah (kebaikan), seperti dalam firman Alloh (QS Al-Kahfi : 81) atau (QS Maryam : 13)

Adapun secara syar’i, pengertian zakat adalah : “Memberikan sebagian harta yang telah mencapai nishobnya selama setahun, kepada orang-orang faqir/miskin dan yang lainnya, selain Bani Hasyim dan Bani Muthollib.”

Pengertian lainnya : “Nama untuk sesuatu yang diambil secara khusus, dari jenis harta yang khusus, yang mempunyai sifat-sifat yang khusus, dan diberikan (disalurkan) untuk golongan yang khusus (tertentu).”

(Maroji’ : Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab (5/295), Fathul Bari Syarh Shohih Al-Bukhori (3/262) dan Lisanul Arab (kamus) )   

Sedangkan Fithr, secara bahasa berasal dari As-Syaq (pecah atau terbelah) (lihat QS Al-Infithor : 1). Dikatakan : “Tafaththorot Qodamaahu” (pecah-pecah atau terbelah telapak kakinya). Maka dari makna itulah diambil al-fithr tersebut untuk orang yang berpuasa, sehingga kalau dikatakan “Fathoro As-Shooimu” (telah berbuka orang yang berpuasa), karena ia membuka mulutnya, seolah-olah orang yang berpuasa itu membelah/memecah puasanya (yakni telah selesai ibadah puasanya tersebut di bulan romadhon) dengan makan (berbuka/berhari raya).”

Sehingga dari penjelasan di atas, Zakat Fitri (Zakat Fitrah) adalah “Shodaqoh yang diwajibkan dengan sebab Fithr (berbuka/berhari raya) dari puasa Romadhon.” Wallohu a’lam bis showab.

(Maroji’ : Mu’jam Tahdzibul Lughoh, pada materi kata “Fathoro”,  Al-Mughni (3/55), Nailul Ma-aarib (2/389), Al-Maushu’ah Al-Fiqhiyyah (23/335) )

 

Mengapa dinamai Zakat Fitri ?

Sebagian ulama mengatakan : “Disandarkan zakat ini kepada Al-Fithr (yakni dinamai sebagai Zakat Fithri/Zakat Fitrah), karena zakat ini diwajibkan karena Fithr (berbuka) dari puasa Romadhon.” (yakni kewajiban zakat ini dikeluarkan di akhir Romadhon, sebagai tanda telah berakhirnya/selesainya ibadah puasa romadhon, wallohu a’lam, edt.)

Sedangkan Al-Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rohimahulloh mengatakan : “Yang dimaksud Shodaqoh Fitri (Zakat Fitri) adalah shodaqoh jiwa, yang diambil dari istilah Fitroh, yang merupakan asal penciptaan manusia, sebagaimana dalam firman Alloh ta’ala (yang artinya) : “….(sesuai) Fitrah Alloh, Dia telah menciptakan manusia menurut fitrah itu…..” (QS Ar-Ruum : 30), maknanya : “Yakni menurut penciptaannya, yang manusia diciptakan atasnya (menurut fitrah tersebut).”

Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqolani rohimahulloh menegaskan : “Pendapat yang pertama itulah yang nampak (benar).” Dalil yang menunjukkan hal itu adalah hadits Ibnu Umar rodhiyalohu ‘anhuma : “Bahwasannya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam memfardhukan/mewajibkan zakat fitri dari bulan romadhon…” (HR Al-Bukhori no. 1503 dan Muslim no. 984)

 

Apa Hikmah disyari’atkannya Zakat Fitri itu ?

Hikmahnya dijelaskan dalam hadits Abdullah bin Abbas rodhoyallohu ‘anhuma, beliau berkata : “Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam memfardhukan zakat fitri sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari laghwun (ucapan yang sia-sia) dan rofats (perkataan yang keji), dan sebagai pemberian makan bagi orang-orang miskin. Barangsiapa menunaikannya sebelum sholat (ied), maka itu adalah zakat yang diterima. Barangsiapa menunaikannya setelah sholat, maka itu hanyalah shodaqoh dari shodaqoh-shodaqoh biasa (bukan zakat fitri).” (HR Abu Dawud no. 1609 dan Ibnu Majah no. 1827, sanad-sanadnya hasan).

Guru kami, Syaikh Zayid bin Hasan Al-Wushobi hafidzhohulloh menjelaskan : “Dalam hadits ini terdapat hikmah disyari’atkannya zakat fitri/zakat fitrah, yaitu : “bahwa zakat itu bisa membersihkan orang yang berpuasa dari perkara-perkara yang terjadi ketika dia sedang berpuasa, berupa laghwun (perbuatan/perkataan yang sia-sia), perkataan yang jelek, dan apa-apa yang terjadi antara dirinya dengan istrinya, dan lain-lain.

Disamping itu, zakat fitri juga bisa menjadi sarana untuk menyayangi/menyantuni orang-orang fakir miskin dan memberi makan kepada mereka di hari iedul fitri, yang sepantasnya bagi kaum muslimin untuk tidak mendapati mereka dalam keadaan kelaparan dan kekurangan, dan sepantasnya pula untuk bekerja sama dengan sesama muslim lainnya untuk mewujudkan kesenangan mereka (orang-orang fakir miskin tersebut) dan (kebahagian) di hari raya mereka.”

(Maroji’ : Nailul Author (5/386), Fathu Dzil Jalali Wal Ikrom,Syarh Bulughil Marom (6/203) dan Taudhihul Ahkam Min Bulughil Marom (3/380) ) Read the full post »

“MENGGAPAI KEUTAMAAN LAILATUL QODAR”

 

Hasil gambar untuk langit malam yang cerah

 

Saudaraku kaum muslimin ……

Salah satu keutamaan dan keistimewaan Bulan Romadhon, adalah adanya satu malam, yang beribadah pada malam tersebut, nilai dan keutamaan pahalanya sama dengan beribadah selama seribu bulan (kurang lebih, 83 tahun lebih 4 bulan). Itulah yang dinamai dengan Lailatul Qodar.

Berikut ini akan kami uraikan penjelasan singkat tentang apa itu Lailatul Qodar, dan hal-hal yang terkait dengannya. Tentunya, sesuai dengan petunjuk dan tuntunan Nabi kita Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam, dan penjelasan para ulama yang terpercaya.

Mengapa dinamai dengan Lailatul Qodar ?

Secara bahasa, Lailatul Qodar tersusun atas dua kata, “Lail”, yang artinya “malam”, dan “Al-Qodar”, yang artinya adalah “kemuliaan, atau penetapan, atau pengaturan”

Para ulama menyebutkan beberapa sebab/alasan, mengapa dinamai dengan Lailatul Qodar. Ada yang berpendapat, karena pada malam itu Alloh Ta’ala menentukan/mengatur sesuai dengan kehendak-Nya, semua urusan (yang terkait dengan kehidupan makhluk-Nya/hamba-Nya) selama satu tahun yang akan datang. Dalil yang menunjukkan hal ini adalah firman Alloh Ta’ala :

إِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ فِي لَيۡلَةٖ مُّبَٰرَكَةٍۚ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ ٣  فِيهَا يُفۡرَقُ كُلُّ أَمۡرٍ حَكِيمٍ ٤  أَمۡرٗا مِّنۡ عِندِنَآۚ إِنَّا كُنَّا مُرۡسِلِينَ ٥  رَحۡمَةٗ مِّن رَّبِّكَۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ ٦

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. (Yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul. Sebagai rahmat dari Robb-mu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Ad-Dukhon : 3-6)

Ada pula yang berpendapat, dinamai dengan Lailatul Qodar, adalah karena keagungan dan kemuliaan malam itu. Karena malam itu adalah malam yang dipilih oleh Alloh untuk diturunkannya Al-Qur’an, dan turunnya segenap Malaikat dengan membawa keberkahan yang banyak. Disamping itu, Al-Qodar itu sendiri secara bahasa maknanya adalah “kemuliaan atau keagungan atau penghormatan”.

Seperti dalam firman Alloh Ta’ala :

وَمَا قَدَرُواْ ٱللَّهَ حَقَّ قَدۡرِهِۦٓ ٩١

“Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya……” (QS Al-An’am : 91)

Atau seperti ucapan seseorang : لفلان قدر , “fulan mempunyai qodr”, artinya dia mempunyai “kemuliaan dan kedudukan”.

Ada pula yang berpendapat, dinamai dengan Lailatul Qodar, karena orang-orang yang melakukan amal-amal ketaatan pada malam itu akan mendapatkan “kedudukan yang agung” (di sisi Alloh) dan “balasan atau pahala yang melimpah” (banyak).

Dan disana masih banyak pendapat lainnya, mengapa dinamai seperti itu, wallohu a’lamu bis showab.

(lihat : Tafsir Al-Qurthubi, pada penjelasan Surat Al-Qodar, dan Fathul Bari Syarh Shohih Al-Bukhori, penjelasan hadits no. 2014)     Read the full post »

“HUKUM SEPUTAR I’TIKAF”

 

Hasil gambar untuk i'tikaf

 

Apakah I’tikaf itu ?

Secara lughoh (bahasa), I’tikaf artinya adalah “Menetapi sesuatu, dan menahan diri untuk tetap berada di atasnya.” Pengertian ini diambil dari firman Alloh Ta’ala :

إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَا هَٰذِهِ ٱلتَّمَاثِيلُ ٱلَّتِيٓ أَنتُمۡ لَهَا عَٰكِفُونَ ٥٢

(Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Patung-patung apakah ini yang kamu I’tikaf (tekun beribadat) kepadanya ?.” (QS Al-Anbiya’ : 52)

Adapun I’tikaf dalam pengertian syar’i, artinya adalah “Tinggal/berdiam di masjid, yang dilakukan oleh seseorang yang tertentu, dengan sifat/tata cara tertentu, dengan niat atau tujuan untuk beribadah kepada Alloh.”

(lihat : Fathul Bari Syarh Shohih Al-Bukhori, no. hadits 2025) 

 

Apa Hukumnya I’tikaf itu ?

I’tikaf itu adalah ibadah yang disyari’atkan, yakni yang “disunnahkan” berdasarkan Al-Qur’an, As-Sunnah dan Ijma’ (kesepakatan) para ulama. Dan I’tikaf itu tidak wajib, kecuali karena “nadzar” menurut kesepakatan para ulama.

Adapun dalil dari Al-Qur’an, adalah firman Alloh Ta’ala :

ۚ وَلَا تُبَٰشِرُوهُنَّ وَأَنتُمۡ عَٰكِفُونَ فِي ٱلۡمَسَٰجِدِۗ ١٨٧

“Janganlah kamu menggauli mereka (istri-istrimu) itu, sedang kamu beri´tikaf di dalam mesjid.” (QS Al-Baqoroh : 187)

Dalil dari As-Sunnah (Al-Hadits) adalah ‘Aisyah, Ibnu Umar, dan Abu Sa’id Al-Khudri rodhiyallohu ‘anhum, yang semuanya berada di As-Shohihain : “Bahwa Nabi shollallohu ’alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Romadhon.” (HR Al-Bukhori no. 2026, 2018, dan 2025, Imam Muslim no. 1167, 1171 dan 1172) Dan hadits-hadits yang menunjukkan disyari’atkannya I’tikaf, sangatlah banyak.

Sedangkan dalil dari ijma’ (kesepakatan para ulama), telah dinukilkan hal itu oleh sejumlah ulama, diantaranya oleh Al-Imam Ibnul Mundzir, Ibnu Qudamah dan An-Nawawi rohimahumulloh.

(lihat : Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab (6/407), Al-Mughni (3/63) )

 

Apakah I’tikah itu Harus Dilakukan di Masjid ? Bolehkah dilakukan di selain Masjid ?

Tentang hal ini, para ulama memperincinya. Untuk kaum laki-laki, Al-Imam Ibnu Qudamah rohimahulloh mengatakan : “Tidak sah I’tikaf yang dilakukan di selain masjid, bila orang yang I’tikaf itu adalah laki-laki. Kami tidak mengetahui adanya perselisihan diantara ahli ilmu tentang hal ini. Dan asal/dasar pendapat ini adalah firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala :  

وَلَا تُبَٰشِرُوهُنَّ وَأَنتُمۡ عَٰكِفُونَ فِي ٱلۡمَسَٰجِدِۗ ١٨٧

“Janganlah kamu menggauli mereka (istri-istrimu) itu, sedangkan kamu beri´tikaf di dalam mesjid.” (QS Al-Baqoroh : 187)

Seandainya I’tikaf itu sah di selain masjid, maka tidaklah dikhususkan larangan/haramnya “mubasyaroh” (menggauli istri) itu di masjid, karena mubasyaroh itu diharamkan secara mutlak ketika seseorang dalam keadaan I’tikaf.” 

Al-Imam Ibnu Abdil Barr rohimahulloh menukilkan adanya ijma’ (kesepakatan para ulama) dalam masalah ini. Demikian pula Al-Imam Al-Qurthubi rohimahulloh dalam tafsirnya, dan juga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahulloh.

Tetapi anggapan ijma’ tersebut tidak tepat, karena disana ada pendapat lainnya yang menyelisihinya, meskipun pendapat tersebut “syadz” (nyleneh), sebagaimana disebutkan dalam Fathul Bari.

Dan yang memang benar dalam masalah ini adalah bahwa I’tikaf itu “tidak sah” bila dilakukan di selain masjid, wallohu a’lamu bis showab. Read the full post »

Rekaman Khutbah Jum’at : “KEUTAMAAN AMAL SHOLIH & DOSA-DOSA YANG BISA TERHAPUS DENGANNYA”

 

Hasil gambar untuk ibadah

 

Saudaraku kaum muslimin rohimakumulloh ……..

Berikut ini adalah rekaman khutbah jum’at pekan lalu di Masjid Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya, yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah hafidzhohulloh, dengan tema : “Keutamaan Amal Sholih & Dosa-Dosa Yang Bisa Terhapus Dengannya.”

Sebagaimana kita ketahui, Alloh Subhanahu wa Ta’ala mensyari’atkan agama Islam untuk kita, dan dibukakannya dada kita untuk menerimanya, maka ini adalah perkara yang patut untuk kita syukuri. Apalagi, Islam adalah satu-satunya agama yang diridhoi oleh Alloh Subahanahu wa Ta’ala.

Agama Islam, di dalamnya mengandung berbagai syari’at dan hukum-hukum. Maka barangsiapa yang mengamalkannya dengan baik dan benar, maka dia akan meraih derajat yang tinggi dan mulia di sisi Alloh Ta’ala. 

Namun, manusia itu lemah, sehingga seringnya banyak berbuat dosa dan kesalahan. Maka, ketahuilah, bahwa di dalam syari’at agama Islam, disana ada amalan-amalan, yang bila dilakukan, maka seorang hamba akan mendapatkan ampunan dan kemaafan dari Alloh Ta’ala. Sehingga, kesalahan dan dosa-dosa yang dilakukan tersebut, akan terhapus darinya.

Dalam khutbah ini, Ustadz Abu Ubaidah menyebutkan beberapa contoh hal tersebut, sebagaimana banyak disebutkan dalam Al-Qur’an maupun Sunnah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Untuk mengetahui selengkapnya, silahkan anda mendengarkannya atau mendownloadnya dengan klik : DI SINI Read the full post »

BERSEMANGATLAH IBADAH DI AKHIR ROMADHON, JANGAN BERTAMBAH LOYO (KURANG SEMANGAT)

 

Hasil gambar untuk baca alquran

 

Saudaraku kaum muslimin, diantara tuntunan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam kaitannya dengan ibadah di bulan Romadhon ini, khususnya di akhir-akhir Romadhon seperti ini, adalah hendaknya kita semakin bersungguh-sungguh dan bersemangat dalam beribadah, bukan malah loyo atau berkurang semangatnya.

Ya, mestinya setelah beberapa hari di bulan Romadhon ini kita terbiasa dengan puasa, sholat tarowih, membaca Al-Qur’an, bershodaqoh dan lain-lain, tentunya kita sudah terlatih dan terbiasa.

Nah, justru di akhir-akhir Romadhon inilah saat-saat yang menentukan. Keistiqomahan kita diuji, kesabaran kita perlu dibuktikan. Bila kita benar-benar mengaku pengikut setia Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, perhatikanlah bagaimana ibadah beliau bila berada di sepuluh hari terakhir di bulan Romadhon. Lalu berusahalah ittiba’ (mengikuti) jalan ibadah yang ditempuh beliau. Siapkah kita ?

Ummul Mu’minin Aisyah rodhiyallohu ‘anha, pernah menceritakan bagaimana ibadah beliau di akhir-akhir Romadhon seperti ini :

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا دخل العشر الأواخر من رمضان أحيا الليل وأيقظ أهله وجد وشد المئزر

“Adalah Nabi shollallohu ’alaihi wa sallam apabila masuk pada sepuluh hari terakhir dari bulan Romadhon, beliau biasa menghidupkan malamnya (dengan ibadah), dan membangunkan keluarganya (juga agar mereka mau beribadah), dan beliau bersungguh-sungguh (dalam beribadah tersebut), dan beliau mengencangkan kain sarungnya (yakni tidak menggauli istri-istrinya, edt.).” (HR Imam Al-Bukhori dalam Fathul Bari (4/269) dan Muslim no. 1174) 

Ummul Mu’minin Aisyah Rodhiyallohu anha juga berkata :

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يجتهد في رمضان مالا يجتهد في غيره، وفي العشر الأواخر منه مالا يجتهد في غيره

“Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersungguh-sungguh (dalam beribadah) di bulan Romadhon tidak sebagaimana pada bulan-bulan yang lainnya. (Demikian pula beliau bersungguh-sungguh dalam beribadah) pada sepuluh hari terakhir dari bulan Romadhon tersebut tidak sebagaimana pada hari-hari lainnya (juga di bulan Romadhon tersebut, edt.).” (HR Imam Muslim no. 1175) 

As-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin rohimahulloh berkata : “Bahwa Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam itu apabila memasuki sepuluh hari terakhir dari bulan Romadhon, maka beliau menghidupkan malam harinya, yaitu menghidupkannya dengan dzikir, membaca Al-Qur’an, sholat dan ibada. Beliau juga membangunkan keluarganya, dan mengencangkan kain sarungnya. Beliau membangunkan mereka agar mereka sholat. Dan beliau mengencangkan kain sarungnya, yakni melakukan persiapan dengan persiapan yang sempurna untuk beramal. Karena mengencangkan kain sarung, maknanya adalah bahwa seseorang itu mempersiapkan dirinya untuk beramal dan menguatkannya. Adapula yang berkata, maknanya adalah dia menjauhi istrinya (tidak menggaulinya/menjima’inya). Demikianlah keadaan Nabi ‘alaihis sholatu wa sallam. Beliau mengkonsentrasikan untuk beribadah. Dan kedua makna tersebut di atas adalah shohih (benar). Read the full post »

“Apa Hukumnya Mencium & Mencumbui Istri Bagi Orang Yang Berpuasa ?”

Hasil gambar untuk bunga

Dalam permasalahan ini ada beberapa pendapat para ulama sebagai berikut :

Pertama : Pendapat yang mengatakan : “Dibenci (Makruh) secara mutlak.” Ini adalah pendapat yang masyhur menurut para ulama Malikiyyah (pengikut madzhab Imam Malik).

Kedua : Pendapat yang mengatakan : “Diharamkan.” (Sebagaimana dinukilkan hal ini oleh Ibnul Mundzir rohimahulloh). Sebagian lainnya berpendapat : “Batal puasanya.” Ini adalah pendapat Abdulloh bin Syubromah, dan diriwayatkan juga dari Sa’id bin Al-Musayyab.

Ketiga : Pendapat yang mengatakan : “Bolehnya hal tersebut.” Ini adalah bpendapat yang dinukil secara shohih dari Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu (sebagaimana dikeluarkan haditsnya oleh Ibnu Abi Syaibah (3/60) dengan sanad yang shohih.”

Berpendapat seperti itu pula Sa’ad bin Abi Waqqosh rodhiyallohu ‘anhu, sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Imam Abdurrozzaq dalam Al-Mushonnaf (4/185), dari jalan Zaid bin Aslam secara munqothi’ (terputus sanadnya), karena Zaid tidak pernah mendengar dari Sa’ad bin Abi Waqqosh, seperti disebutkan dalam Jami’ut Tahshil. Tetapi Ibnu Hazm rohimahulloh mengatakan dalam Al-Muhalla : “Dan dikeluarkan riwayat ini dari jalan yang shohih, dari Sa’ad bin Abi Waqqosh….” Kemudian beliau berlebih-lebihan dalam masalah ini, sampai-sampai beliau berpendapat bahwa hal itu (yakni mencium atau mencumbui istri bagi orang yang berpuasa) adalah “disunnahkan.”

Keempat : Pendapat yang mengatakan : “Dimakruhkan (dibenci) bagi pemuda, dan dibolehkan bagi orang yang yang sudah tua.”

Mereka berdalil dengan hadits dari Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu : “Bahwa ada seorang laki-laki mendatangi Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, lalu bertanya kepada beliau tentang “bercumbu” bagi orang yang sedang berpuasa. Maka beliau memberi rukhshoh (keringanan/kebolehan) kepadanya. Kemudian datang lagi laki-laki yang lainnya, lalu dia bertanya hal yang sama, tetapi beliau melarangnya (tidak memberi ijin kepadanya). Maka yang diberi rukhshoh tadi adalah orang tua, sedangkan yang dilarang adalah orang yang masih muda.” (HR Abu Dawud no. 2387, sanadnya shohih) Read the full post »

Apakah Menelan Ludah, Dahak, Sisa-Sisa Makanan yang terselip di gigi, dan lain-lain, termasuk yang Membatalkan Puasa ?

Hasil gambar untuk kurma

Saudaraku kaum muslimin, berikut ini kami sampaikan beberapa pertanyaan dan jawaban, khususnya tentang perkara-perkara yang sering ditanyakan oleh kaum muslimin, yakni tentang perkara-perkara yang bisa membatalkan puasa ataukah tidak. Semoga penjelasan dalam jawabannya cukup untuk menambah wawasan kita, khususnya yang terkait dengan hukum-hukum seputar ibadah puasa. Insya Alloh beberapa permasalahan yang sering ditanyakan, akan kami bahas secara berkala, semoga Alloh Ta’ala memudahkannya.   

 

Apa Hukum Menelan Ludah Bagi Orang Yang Berpuasa ?

Bila menelan ludah itu adalah perkara yang biasa terjadi (kebiasaan), maka hal ini tidaklah membatalkan puasa menurut ijma’ (kesepakatan) para ulama. Sebagaimana hal ini dinukilkan oleh Al-Imam An-Nawawi rohimahulloh. Hal ini karena sulit untuk menahan/mencegah masuknya ludah tersebut (ke dalam tenggorokan). Disamping itu, seandainya hal itu membatalkan puasa, maka tentu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskannya kepada kita.

Akan tetapi, bila ludah itu banyak jumlahnya dan terkumpul di mulut seseorang, kemudian dia menelannya, maka tentang masalah ini ada dua pendapat menurut para ulama Syafi’iyyah. Dan yang paling shohih dari dua pendapat tersebut adalah bahwa hal itu tidak membatalkan puasa, karena tidak ada dalil yang menunjukkan atas batalnya hal tersebut. Dan ini adalah pendapat yang dirojihkan oleh Al-Imam Ibnu Qudamah rohimahulloh.

Dan juga, sebagaimana tidak batalnya menelan ludah yang tidak terkumpul banyak (yang biasa dan sedikit), maka (tidak batal pula bagi seseorang) meskipun dia sengaja menelan ludah yang  terkumpul banyak. Ini juga adalah pendapatnya As-Syaikh Al-‘Allamah Ibnu Baaz dan As-Syaikh Al-‘Allamah Ibnu Utsaimin rohmatulloh ‘alaihima. Wallohu a’lamu bis showab.

(lihat : As-Syarhul Mumti’ (6/427) karya Syaikh Al-Utsaimin, Al-Mughni (3/16-17) karya Al-Imam Ibnu Qudamah, Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab (6/317-318) karya Al-Imam An-Nawawi rohimahumulloh)    

 

Bagaimana hukumnya menelan ludahnya orang lain ?

Al-Imam An-Nawawi rohimahulloh berkata : “Para ulama telah sepakat, bila seseorang menelan ludahnya orang lain, maka hal ini membatalkan puasanya.” (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, 6/318)

 

Menelan sisa-sisa makanan yang terselip diantara gigi-gigi, apakah hal ini membatalkan puasa ?

Tentang masalah ini, jumhur (mayoritas) ulama berpendapat : Bila menelan sesuatu (dari sisa makanan tersebut), maka hal itu dianggap membatalkan puasa. Ini adalah pendapat Malik, Ahmad dan As-Syafi’i. Dan ini adalah pendapat yang shohih (benar), karena hal itu berarti dia memakan sesuatu makanan, padahal dia memungkinkan untuk menjaga diri darinya, dan tidak ada kebutuhan terhadap perkara tersebut (untuk menelannya).

Akan tetapi Abu Hanifah berpendapat lain, bahwa hal itu tidak membatalkan puasa. Tetapi pendapat ini tidak ada dalilnya. Wallohu a’lam bis showab.

(lihat : Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, 6/317)    Read the full post »

Rekaman Khutbah Jum’at : “DOANYA ORANG YANG BERPUASA, TIDAK AKAN DITOLAK OLEH ALLOH”

Hasil gambar untuk doa

Kaum Muslimin Rohimaniyallohu wa iyyakum …….

Berikut ini adalah rekaman khutbah jum’at pekan lalu di Masjid Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya, yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Abdirrohman Yoyok WN Sby, dengan tema : “Doanya Orang Yang Berpuasa, Tidak Akan Ditolak OLeh Alloh.”

Judul tema tersebut di atas, diambil dari sebuah hadits Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam : “Ada tiga doa, yang doa mereka itu tidak akan ditolak (oleh Alloh) : (yaitu doany) Seorang Imam (Pemimpin) yang adil, (doanya) orang yang berpuasa ketika dia berbuka, dan doanya orang yang terdholimi (teraniaya).” (HR Imam At-Tirmidzi, dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani rohimahulloh dalam Shohih At-Tirmidzi (2/311), dan dishohihkan pula oleh Syaikh Muqbil Al-Wadi’i rohimahulloh dalam Al-Jami’us Shohih (2/1597) ) 

Dalam lafadz lainnya : “Ada tiga doa yang tidak akan ditolak (oleh Alloh) : “Doanya orang tua (untuk anaknya), doanya orang yang berpuasa, dan doanya musafir/orang yang sedang bepergian jauh.” (HR Al-Baihaqy dalam As-Sunan, dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani rohimahulloh dalam As-Shohihah no. 1797)

Berdasarkan hadits tersebut di atas inilah, maka sepantasnya kita memperbanyak berdoa, dan tidak menyia-nyiakannya. Dan hal itu juga menunjukkan, jaminan dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala, bahwa doanya orang-orang yang sedang berpuasa itu adalah “maqbul” (akan diterima oleh Alloh Ta’ala).

Kemudian, dalam khutbah ini juga diuraikan, doa-doa apa sajakah menurut sunnah (tuntunan/petunjuk) Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam yang selayaknya kita minta dan kita mohonkan kepada Alloh Ta’ala. Untuk mengetahui selengkapnya, silahkan anda mendownload atau mendengarkannya dengan klik : DI SINI  Read the full post »

Rekaman Khutbah Jum’at : “PERHATIKANLAH ADAB-ADAB BERPUASA, AGAR PUASA KITA TIDAK SIA-SIA”

Image result for adab puasa

 

Kaum Muslimin rohimakumulloh …..

Berikut ini adalah rekaman Khutbah Jum’at pekan lalu, dengan tema “Perhatikanlah Adab-Adab Berpuasa, Agar Puasa Kita Tidak Sia-Sia”, yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Abdirrohman Yoyok WN, di Masjid Al-Islam Komplek Perumnas Manukan Kulon Tandes Surabaya.

Hal ini beliau sampaikan sebagai bekal menyambut dan menghadapi bulan Romadhon 1436 H, agar ibadah puasa kita benar-benar sesuai dengan yang disyari’atkan oleh Alloh Ta’ala, dan juga sesuai dengan apa yang dituntunkan oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam sunnah beliau.

Untuk mengetahui apa saja nasehat beliau tersebut, silahkan anda mendengarkannya atau mendownloadnya dengan klik : DI SINI

Semoga khutbah dan nasehat ini memberikan semangat kepada kita semuanya untuk mengisi hari-hari di  bulan Romadhon tahun ini dengan semangat ibadah yang benar dan tepat, wallohu a’lam.  Read the full post »

MEWASPADAI BID’AH-BID’AH SEPUTAR PUASA ROMADHON

Image result for puasa ramadhan

 

Saudaraku kaum muslimin …..

Romadhon kali ini telah ada di depan kita. Tentunya, dengan penuh semangat untuk beribadah dan beramal sholih, kita ingin mengisi hari-hari sepanjang bulan Romadhon nanti dengan berbagai macam ibadah yang bisa kita lakukan. Dengan harapan, semoga dosa-dosa kita dihapuskan oleh Alloh Ta’ala, dan diterima semua amal-amal sholih kita, sehingga kita bisa menyelesaikan ibadah puasa Romadhon nanti, sebagai orang-orang yang meraih predikat Taqwalloh (bertaqwa kepada Alloh Ta’ala)

Tetapi yang juga perlu diketahui dan diingat adalah : Bermodal semangat saja untuk beribadah kepada Alloh Ta’ala itu tidak cukup. Ya, beribadah itu juga membutuhkan ilmu (pengetahuan), khususnya tentang hukum-hukum puasa Romadhon tersebut. Mengapa ?

Ya, agar kita tak terjatuh pada perkara-perkara yang bukan termasuk ibadah, tetapi telah terlanjur dianggap ibadah. Itulah yang sering disebut sebagai “bid’ah” dalam agama ini.

Kepada kaum muslimin sekalian…, berikut ini kami sampaikan dihadapan anda sekalian rekaman dars (pelajaran) yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Abdirrohman Yoyok WN, di Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya beberapa hari yang lalu, khususnya terkait “Bid’ah-Bid’ah Seputar Puasa Romadhon”.

Apa saja yang termasuk bid’ah-bid’ah seputar puasa Romadhon tersebut ? Sebenarnya banyak, tetapi dalam kajian ini hanya disebutkan sebagiannya saja yang sangat banyak dan terkenal di masyarakat kita. Apa saja itu ? Untuk mnengetahui selengkapnya, silahkan anda mendengarkan sendiri kajiannya atau untuk mendownloadnya, silahkan klik : DI SINI Read the full post »

Kumpulan Risalah Ilmiah Tentang Hukum-Hukum Seputar Puasa Romadhon

 

Image result for perpustakaan kitab salaf

 

Saudaraku kaum muslimin rohimakumulloh …..

Menjelang bulan Romadhon 1436 H ini, berikut ini akan kami tampilkan kembali beberapa tulisan dan pembahasan hukum-hukum seputar puasa Romadhon, yang pernah kami tampilkan pada beberapa waktu yang lalu.

Hal ini penting, mengingat bahwa kebutuhan akan ilmu syar’i, terutama yang berkaitan dengan ibadah yang akan kita lakukan saat ini, adalah suatu ilmu yang tidak akan pernah ada usangnya. Ilmu akan selalu menjadi kebutuhan utama saat dibutuhkan, khususnya menjelang kita akan melakukan ibadah-ibadah yang disyari’atkan.

Oleh karena itu, bagi para pembaca yang mengingkan beberapa pembahasan ilmu yang terkait dengan permasalahan yang dihadapi, khususnya terkait ibadah puasa Romadhon, semoga sajian ini sangat membantu untuk menghilangkan “dahaga” kita, dan menjadi pencerahan yang bermanfaat untuk kita semua. Hanya kepada Alloh Ta’ala sajalah kita mengharapkan ridho-Nya, semoga amal-amal ibadah kita diterima-Nya dan mendapat balasan yang selayaknya.

Rincian pembahasan Hukum-Hukum Seputar Puasa Romadhon adalah sebagai berikut (bagi anda yang ingin membaca selengkapnya, silahkan “klik” langsung pada judul-judul berikut ini) :

  1. Beberapa Permasalahan Yang Terkait dengan Hukum Mengqodho’ Puasa Romadhon

 

  1. Berpuasa & Berhari Raya Berdasarkan Ru’yatul Hilal  

 

  1. Adab-Adab Berpuasa (1) : N I A T

 

  1. Adab-Adab Berpuasa (2) : MAKAN SAHUR

 

  1. Adab-Adab Berpuasa (3) : MENYEGERAKAN BERBUKA PUASA (TA’JILUL FITHR)

 

  1. Adab-Adab Berpuasa (4) : MEMPERBANYAK AMAL SHOLIH & BERSUNGGUH-SUNGGUH DALAM MELAKUKAN BERBAGAI JENIS IBADAH

 

  1. Adab-Adab Berpuasa (5) : MENJAUHI SEMUA PERKARA YANG BISA MERUSAKKAN ATAU MENGURANGI PAHALA PUASA

 

  1. Sholat Tarowih & Keutamaannya

 

  1. Hukum Orang Yang Berpuasa, Tetapi Tidak Sholat

 

  1. Hukum Puasanya Orang Yang Sakit

 

  1. Hukum Puasanya Orang-Orang Yang Lemah, Yang Tidak Ada Kemampuan Sama Sekali Untuk Berpuasa

 

  1. Hukum Puasanya Wanita Yang Hamil & Yang Sedang Menyusui Bayi

Read the full post »

Rekaman Khutbah Jum’at : “ATS-TSIQOTU BILLAH” (PERCAYA PENUH KEPADA ALLOH)

 

Image result for masjid

Saudaraku Kaum Muslimin rohimakumulloh ………..

Berikut ini adalah rekaman khutbah jum’at pekan lalu yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Abaidah hafidzhohulloh di Masjid Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya. Tema khutbah yang beliau sampaikan adalah “Ats-Tsiqotu billaah” (Percaya Penuh Kepada Alloh).

Dalam khutbah ini, Ustadz Abu Ubaidah menyampaikan, bahwa setiap orang muslim wajib untuk mempunyai kepercayaan penuh kepada Alloh (Ats-Tsiqotu billaah), khususnya keyakinan bahwa Alloh Subhanahu wa Ta’ala pasti akan selalu membela dan menolong hamba-hamba-Nya yang beriman, yakni Alloh akan menampakkan keagungan dan keperkasaan-Nya atas hamba-hamba-Nya dalam bentuk kemampuan dan kekuasaan-Nya untuk menolong dan membela mereka.

Wajib bagi setiap muslim untuk senantiasa ats-tsiqotu billah, khususnya ketika sedang menghadapi berbagai ujian dan kesulitan hidup. Yakni, wajib untuk menghadapinya dengan kesabaran, yakin dengan pertolongan Alloh, berlindung kepada-Nya, kemudian juga menjadikan Rosululloh dan para sahabat beliau sebagai teladan dalam menghadapi berbagai cobaan dan tantangan. Read the full post »

ADAB-ADAB BERPUASA ROMADHON

 

Image result for menyambut ramadhan

Saudaraku kaum muslimin rohimaniyallohu wa iyyakum ajma’in ….

Tanpa terasa, sebentar lagi Bulan nan Suci Romadhon tiba kembali. Sebagai seorang muslim dan mu’min, tentu kita sangat berbahagia sekali seandainya saja Alloh Subhanahu wa Ta’ala benar-benar memberikan kesempatan kepada kita lagi untuk memasuki bulan Romadhon tersebut, dan Alloh juga memberikan taufiq kepada kita sekalian, untuk dimudahkan dalam menunaikan rangkaian ibadah puasa di bulan Romadhon tahun ini, dan mengisinya dengan berbagai amal sholih dan ketaatan.

Ya, hal ini mengingat, bahwa banyak saudara-saudara kita kaum muslimin, yang Romadhon tahun lalu masih bersama kita, tapi pada bulan Romadhon tahun ini telah tiada dan mendahului kita berpulang ke Rohmatulloh Ta’ala. Maka kita pun berharap, mudah-mudahan Alloh Ta’ala masih memberikan kesempatan kepada kita untuk menunaikan ibadah puasa di tahun ini, yang waktunya tinggal sebentar lagi.

Dan untuk menyambut datangnya bulan suci Romadhon kali ini, kami ingin berbagi ilmu kepada segenap saudara kami kaum muslimin, khususnya tentang Adab-Adab Berpuasa Romadhon. Ya, tentunya harapan kami dan kita semuanya, semoga ibadah puasa kita benar-benar menjadi amalan sholih yang diterima oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala, dan menjadi amalan yang diridhoi-Nya dan dibalas-Nya dengan jannah-Nya yang tinggi dan mulia.

Diantara adab-adab tersebut adalah :

Pertama : Hendaknya kita ikhlas karena Alloh Ta’ala dalam menjalankan kewajiban puasa di Bulan Romadhon ini.

Dan yang dimaksud dengan ikhlas disini adalah : “Suatu perbuatan atau amalan, yang dimaksudkan dengannya untuk mencari keridhoan Alloh Ta’ala, bukan karena yang lainnya.” (Bahjatun Nadhirin, Syarh Riyadhis Sholihin, 1/29)

Ya, karena ikhlas itu adalah syarat diterimanya suatu amalan. Tanpa keikhlasan, amalan kita sia-sia, dan tidak ada nilainya di sisi Alloh Ta’ala. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُواْ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ ٥

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus (yakni dengan ikhlas, edt.), dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS Al-Bayyinah : 5)

Alloh Ta’ala juga berfirman :

مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيۡهِمۡ أَعۡمَٰلَهُمۡ فِيهَا وَهُمۡ فِيهَا لَا يُبۡخَسُونَ ١٥  أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَيۡسَ لَهُمۡ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ إِلَّا ٱلنَّارُۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُواْ فِيهَا وَبَٰطِلٞ مَّا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ١٦ 

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS Hud : 15-16)

Amalan, bila tidak ikhlas karena Alloh, dan hanya karena riya’ kepada manusia (yakni ingin dilihat dan mendapat pujian dari manusia, atau ingin mendapatkan kesenangan dunia), tentulah sia-sia belaka amalannya itu.

Alloh Ta’ala juga berfirman :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُبۡطِلُواْ صَدَقَٰتِكُم بِٱلۡمَنِّ وَٱلۡأَذَىٰ كَٱلَّذِي يُنفِقُ مَالَهُۥ رِئَآءَ ٱلنَّاسِ وَلَا يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۖ فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ صَفۡوَانٍ عَلَيۡهِ تُرَابٞ فَأَصَابَهُۥ وَابِلٞ فَتَرَكَهُۥ صَلۡدٗاۖ لَّا يَقۡدِرُونَ عَلَىٰ شَيۡءٖ مِّمَّا كَسَبُواْۗ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡكَٰفِرِينَ ٢٦٤ 

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS Al-Baqoroh : 264)

Dalam hadits Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu, Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam berabda :

من صام رمضان ايمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

“Barangsiapa berpuasa Romadhon karena iman dan ihtisab (mengharap pahala kepada Alloh Ta’ala), maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Imam Al-Bukhori no. 1901 dan Imam Muslim no. 760 dan yang lainnya) Read the full post »

Rekaman Khutbah Jum’at : “ANGAN-ANGAN ORANG YANG TELAH MATI UNTUK KEMBALI KE DUNIA LAGI, AGAR BISA BERAMAL SHOLIH”

 

Hasil gambar untuk langkah kaki ke masjid

 

Saudaraku kaum muslimin rohimakumulloh ……………….

Berikut ini adalah rekaman khutbah jum’at beberapa waktu lalu, yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Abdirrohman Yoyok WN hafidzhohulloh di Masjid Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya, dengan tema sebagaimana disebutkan pada judul di atas.

Ya, orang-orang yang telah mati itu – baik orang yang mati itu orang yang sholih atau pun orang yang kafir atau fasiq -, juga punya keinginan, harapan, cita-cita dan angan-angan, agar diberi kesempatan lagi untuk bisa hidup di dunia. Hal itu tentunya setelah mereka melihat kenyataan di negeri akhirat (baik di alam kuburnya maupun setelah dibangkitkannya nanti di akhirat), sesuatu yang berupa kesenangan/kenikmatan, atau berupa penderitaan dan kerasnya adzab (siksaan).

Mereka ingin dikembalikan lagi untuk hidup di dunia, agar bisa menambah amal sholih, meskipun hanya sehari atau sesaat saja, karena mereka sekarang telah mengetahui dan menyadari, betapa pentingnya sesaat hidup di dunia untuk ibadah dan amal sholih, sementara kematian telah menghentikan itu semua, dan kebanyakannya mereka lalai ketika hidup di dunia dulu, dengan melakukan berbagai kesia-siaan.

Ya, nasi telah menjadi bubur, kematian telah tiba, kesempatan tak lagi ada, cita-cita dan keinginan untuk bisa hidup lagi di dunia hanyalah sekedar angan-angan yang tak pernah ada wujudnya.

Karena itu, kita yang saat ini masih diberi kesempatan hidup di dunia, jangan menyia-nyiakan waktu dan kesempatan ini untuk segera memperbanyak ibadah, ketaatan dan amal sholih, agar kelak di akhirat kita akan meraih kehidupan yang berbahagia di dalam jannah (surga)

Itulah beberapa cupilkan isi kandungan dari khutbah yang disampaikan oleh Ustadz Yoyok hafidzhohulloh. Untuk mengetahu selengkapnya atau ntuk mendownloadnya, silahkan klik : DI SINI

Kemudian, kami tampilkan pula rekaman khutbah jum’at sebelumnya, yang juga beliau sampaikan  di tempat yang sama, dengan tema : “WASIAT UNTUK BERTAKWA KEPADA ALLOH & KEUTAMAANNYA” Read the full post »

Nasehat Al-Ustadz Abu Hazim hafidzhohulloh : “NASEHAT SYAIKH MUQBIL ROHIMAHULLOH UNTUK PARA DA’I ILALLOH”

 

 

Hasil gambar untuk pena dan kitab

Ikhwani fillaah hafidzhokumulloh ……………

Yang ada di hadapan anda sekalian ini adalah rekaman muhadhoroh yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Hazim Muhsin bin Muhammad Bashori hafidzhohulloh (Pengasuh Pondok Pesantren Ittiba’us Sunnah Magetan Jawa Timur), pada saat beliau berkunjung ke Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya beberapa saat lalu, ketika beliau mendampingi Syaikh Muhammad bin Mani’ Al-Ansy hafizdhohulloh, saat Syaikh berkeliling untuk berziaroh dan berdakwah di beberapa pondok pesantren Salafiyyun Ahlus Sunnah wal Jama’ah di wilayah Indonesia bagian tengah dan timur, dimulai dari Surabaya, kemudian ke Makassar dan selanjutnya ke Ambon. 

Dalam kesempatan ziaroh ini, selain Syaikh Muhammad bin Mani’ hafizdhohulloh yang menyampaikan muhadhoroh di Surabaya, Al-Ustadz Abu Hazim juga diminta untuk menyampaikan muhadhoroh, terutama ketika mengganti Syaikh yang sedang dalam kondisi tidak sehat ketika itu.

Al-Ustadz Abu Hazim menyampaikan pada kita sekalian beberapa nasehat emas As-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rohimahulloh, khususnya nasehat bagi para Da’i Ilalloh (juru dakwah yang mengajak kepada jalan Alloh Ta’ala), yang beliau nukil secara ringkas dari beberapa kitab maupun rekaman-rekaman pelajaran Syaikh Muqbil rohimahulloh.   

Apa saja nasehat Syaikh Muqbil rohimahulloh Ta’ala khususnya kepada segenap para da’i ilalloh ?

Untuk mengetahui selengkapnya, silahkan download atau dengarkan dengan tuntas : DI SINI Read the full post »