Sebuah Nasehat Untuk Para Wanita : “PAKAIAN TAQWA, ADALAH SEBAIK-BAIK PAKAIAN DAN PERHIASAN”

 

Wahai saudariku muslimah….. , kita semua tentu memaklumi, bahwa berhias dan berpenampilan indah, adalah termasuk salah satu adab yang disyari’atkan dalam agama kita yang hanif (lurus) ini. Akan tetapi, yang penting untuk kita ketahui juga dalam perkara ini adalah bahwa perhiasan itu ada dua macam, yakni perhiasan dhohir (yang nampak dari luar), dan perhiasan batin (yang ada di dalam hati seorang muslim).

Dan perhiasan batin, adalah lebih penting untuk kita dahulukan dan kita perhatikan. Mengapa ? Ya, karena baiknya dan bagusnya batin seseorang itu akan membawa pada keberuntungan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ (٢٦)

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa, itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS Al-A’roof : 26)

Al-Imam As-Syaukani rohimahulloh dalam tafsirnya (2/204) menjelaskan : “Yang dimaksud dengan pakaian taqwa adalah pakaian Al-Waro’ dan menjaga diri agar tidak terjatuh pada kemaksiatan. Yakni Waro’ terhadap diri sendiri (dengan berhati-hati dari semua perkara yang harom dan syubuhat, edt.) dan takut kepada Alloh Ta’ala. Yang demikian itu adalah sebaik-baik pakaian dan seindah-indahnya perhiasan.”

Seorang penyair Arab berkata :

إذا المرء لم يلبس ثيابا من التقى      تقلب عريانا وإن كان كاسيا

“Apabila seseorang itu tidak berpakaian dengan ketakwaan, dia berubah dalam keadaan telanjang meskipun dia berpakaian.”

Setelah itupun dia juga berkata :

وخير لباس المرء طاعة ربه        ولاخير فيمن كان لله عاصيا

“Sebaik-baik pakaian seseorang adalah ketaatan pada Robbnya, dan tidak ada kebaikan bagi orang yang bermaksiat kepada Alloh.”

Al-Imam Muslim rohimahulloh dalam Shohih-nya (no. 2564) membawakan hadits dari Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu, dia berkata : “Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إن الله لا ينظر إلى أجسادكم ولا إلى صوركم, ولكن ينظر إلى قلوبكم (و أعمالكم)

“Sesungguhnya Alloh tidak melihat kepada jasad-jasad kalian dan bentuk tubuh kalian, tetapi Dia melihat kepada hati-hati kalian (dan amal-amal kalian).” Beliau berisyarat dengan jari telunjuk ke dadanya. Read the full post »

Rekaman Khutbah Jum’at : “RASA MALU DAN KEUTAMAANNYA”

 

Kaum Muslimin rohimakumulloh,

Berikut ini adalah khutbah jum’at pekan lalu yang disampaikan oleh Al-Ustadz Ahmad Yulianta hafidzhohulloh di Masjid Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya, dengan tema : “RASA MALU DAN KEUTAMAANNYA.”

Dalam khutbah ini, Ust Ahmad membawakan sebuah hadits dari sahabat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam yang mulia, Imron bin Hushoin rodhiyallohu ‘anhu, bahwa Rosululloh bersabda :

الحياء لا يأتي إلا بخير

“Rasa malu itu tidaklah mendatangkan (sesuatu) kecuali kebaikan.” (HR Imam Al-Bukhori no. 6117 dan Imam Muslim no. 37), dalam lafadz yang lainnya :

الحياء كله خير

“Rasa malu itu semuanya adalah baik.”

Ketika Imron bin Hushoin rodhiyallohu ‘anhu meriwayatkan hadits ini, ada salah seorang yang berkata : “Aku tidak mendapatkan kitab-kitab terdahulu yang membahas tentang adab-adab, kecuali ada pada “As-Sakinah (ketenangan).”

Artinya, orang ini berkomentar seperti itu dalam upaya untuk membenturkan hadits Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dengan ucapannya (pendapatnya) sendiri, maka Imron bin Hushoin rodhiyallohu ‘anhu marah kepadanya, karena beliau meriwayatkan hadits ini dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, tetapi dibantah dengan ucapan seseorang.

Intinya, benarlah apa yang disabdakan Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, bahwa rasa malu itu tidaklah mendatangkan sesuatu kepada seseorang yang melakukannya, kecuali kebaikan. Bila rasa malu itu sudah tidak ada pada seseorang, maka  yang akan terjadi padanya adalah munculnya berbagai kejelekan.

Ibnul Qoyyim rohimahulloh berkata dalam kitabnya Al-Jawabul Kafi : “Rasa malu pada seseorang adalah pokok semua kebaikan. Bila rasa malu hilang pada seseorang, maka hilanglah semua kebaikan dari dirinya.” Hal itu karena, tanpa rasa malu, hati seseorang akan tertutup dari Al-Haq.

Ustadz Ahmad hafidzhohulloh juga menjelaskan sebab-sebab lain, mengapa seseorang itu terjatuh pada perbuatan dosa dan maksiat serta penentangan terhadap syari’at Alloh, diantaranya yaitu : “Disamping hilangnya rasa malu, juga karena sedikitnya ilmu dan banyaknya kebodohon.” Yakni, bodoh terhadap syari’at dan agama Alloh Ta’ala.

Beliau juga menjelaskan tentang apa akibat buruk yang akan dialami bagi seseorang yang terus menerus melakukan dosa-dosa dan kemaksiatan, di dunia maupun di akhirat nanti.

Dan masih banyak hal lain dan faedah-faedah yang bermanfaat yang disampaikan oleh beliau hafidzhohulloh dalam khutbah yang pendek dan ringkas ini, tetapi padat manfaatnya. Read the full post »

(Fatwa Ulama) : SIKAP AL-WALA’ & AL-BARO’ TERHADAP YAHUDI, NASHORO DAN AHLI BID’AH

 

Saudaraku kaum muslimin

Berikut ini adalah salah satu fatwa guru kami dan juga guru kita semua, As-Syaikh Abu Abdirrohman Yahya bin Ali Al-Hajuri  hafidzhohulloh, ketika beliau ditanya tentang bagaimana penerapan sikap Al-Wala’ (berloyalitas) dan Al-Baro’ (berlepas diri), khususnya terhadap orang-orang kafir secara umum, baik itu Yahudi, Nashoro, dan orang-orang musyrik, demikian pula terhadap para Ahli Bid’ah dari kalangan kaum muslimin.

Beliau hafidzhohulloh memberikan bimbingan kita tentang hal tersebut, agar kita jangan bersikap Ghuluw atau Ifroth (berlebih-lebihan dan melampaui batas), dan jangan pula bersikap Tafrith (meremehkan atau menganggap enteng). Hal ini kami nukil dari salah satu kitab guru kami yang lainnya, yaitu As-Syaikh Kamal bin Tsabit Al-Adani rohimahulloh (beliau telah gugur dalam peperangan melawan syi’ah rofidhoh tahun lalu, semoga syahid sebagai syuhada’ di sisi Alloh), yang mana dalam kitab tersebut beliau kumpulkan beberapa fatwa As-Syaikh Yahya hafidzhohulloh, khususnya tentang berbagai permasalahan manhaj. Wallohu a’lam, semoga bermanfaat untuk kita semua.

Inilah uraian selengkapnya : 

Pertanyaan : “Bagaimanakah bersikap wala’ dan baro’ terhadap Yahudi, Nasrani dan Mubtadi’ah (Ahli Bid’ah) ?”

Jawab :

Permasalahan ini ada dalam Kitabulloh yang Muhkam (yang sangat jelas dan gamblang hukumnya). Alloh Ta’ala berfirman :

لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الإيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (٢٢)

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Meraka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya, dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka Itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah (golongan Alloh) itu adalah golongan yang beruntung.” (QS Al-Mijadilah : 22)

Maka orang Yahudi dan Nashoro dibenci dengan kebencian yang amat sangat, dan mereka itu dilaknat secara global (umum), sebagaimana Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam telah melaknat mereka (secara umum). Beliau bersabda :

لعن الله اليهود والنصارى, اتخذوا قبور إنبياءهم مساجد

“Alloh melaknat orang-orang Yahudi dan Nashoro, (karena) mereka telah menjadikan kuburan para nabi-nabi mereka sebagai masjid (tempat ibadah).” (HR Imam Al-Bukhori no. 1330, 1390, 4441, dan Imam Muslim no. 529, dan Imam Ahmad (6/80), dari ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha)

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pun juga mendoakan kejelekan pada mereka, sebagaimana dalam doa beliau :

اللهم اقتلهم بددا, وأحصهم عددا, ولا تبقي منهم أحدا

“Ya Alloh, bunuhlah mereka dalam keadaan bercerai berai, hitunglah jumlah mereka, dan jangan Engkau sisakan dari mereka seorangpun.” (HR Imam Al-Bukhori no. 3989, dari Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu)

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam mendoakan kejelekan atas mereka secara global (umum), dan juga melaknat mereka (secara umum juga). Adapun secara khusus dari mereka (yakni secara individu / orang per orang dari mereka), maka tidak boleh dilaknat, dan ini adalah pendapat jumhur ahli ilmi. Hal ini adalah selama mereka masih hidup. Adapun apabila mereka telah mati, kitab-kitab para ulama penuh dengan laknat atas mereka yang mati dalam keadaan kafir tersebut (hal itu menunjukkan, bolehnya melaknat orang kafir, baik secara umum maupun khusus, bila mereka telah mati dalam keadaan kafir, wallohu a’lam, edt.) Read the full post »

Rekaman Khutbah Jum’at : “JANGAN TERTIPU DENGAN JUMLAH YANG BANYAK”

 

Saudaraku kaum Muslimin,

Berikut ini adalah rekaman khutbah jum’at pekan lalu, dengan tema : “JANGAN TERTIPU DENGAN JUMLAH YANG BANYAK”, yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Abdirrohman Yoyok WN, di Masjid Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya.

Dalam khutbah ini, Ustadz Yoyok menjelaskan isi kandungan Surat Al-An’am ayat 116. Diantara isi kandungannya adalah : “Bahwa kebenaran itu tidaklah dikenal/diketahui dari banyaknya orang-orang yang mengikutinya, tetapi hanyalah seseorang itu dikenal dengan kebenaran yang dia pegang teguh dengannya. Maka siapa saja yang berada di atas Al-Haq, biarpun dia sedikit atau sendirian, maka dialah yang wajib untuk dijadikan teladan dan diikuti. Sebaliknya, siapa saja yang berada di atas kebathilan, biarpun dalam jumlah yang banyak dan mayoritas, wajib atas kita untuk meninggalkannya.” Demikian, seperti yang dijelaskan oleh Syaikh Sholih Al-Fauzan hafidzhohulloh daalam Syarh Kitab Al-Masail Al-Jahiliyyah.

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rohimahulloh juga menjelaskan dalam Tafsir-nya, bahwa banyaknya jumlah pengikut itu tidak bisa dijadikan dalil bahwa seseorang itu berada di atas kebenaran, dan sedikitnya jumlah pengikut itu juga tidak bisa dijadikan dalil untuk menilai seseorang itu berada di atas kebathilan. Bahkan kenyataan justru menunjukkan sebaliknya, bahwa pelaku kebenaran itu sedikit sekali jumlahnya, tetapi besar nilai dan pahalanya di sisi Alloh Subhanahu wa Ta’ala.”  Read the full post »

(FATWA ULAMA) : KITAB-KITAB YANG PENTING UNTUK DIBACA & DIPELAJARI

 

Kaum muslimin rohimakumulloh, berikut ini adalah Fatwa As-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz rohimahulloh, ketika beliau ditanya tentang kitab-kitab yang penting untuk dibaca, dipelajari dan bisa dijadikan sandaran yang terpercaya oleh kaum muslimin, khususnya dalam permasalahan aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, dan permasalahan lainnya. Rinciannya adalah sebagai berikut : 

Pertanyaan : “Apa saja kitab-kitab yang Anda nasehatkan dengannya agar kami membacanya, khususnya yang berkaitan dengan permasalahan aqidah ?”

Jawab :

Sebaik-baik kitab, seagung-agungnya dan sebenar-benarnya kitab yang wajib untuk dibaca dalam mempelajari masalah aqidah, ahkam (hukum-hukum) dan akhlak, adalah Kitabulloh ‘Azza wa Jalla (yakni Al-Qur’an), yang tidak ada kebatilan dari depan dan dari belakangnya, yang diturunkan dari Hakimun Hamid (Dzat Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji).

Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman :

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا (٩)

“Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh, bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (QS Al-Isro’ : 9)

Alloh ‘Azza wa Jalla juga berfirman :

قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ (٤٤)

“Katakanlah: “Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar (obat) bagi orang-orang mukmin…” (QS Fushshilat : 44)

Alloh ‘Azza wa Jalla juga berfirman tentang Al-Qur’an ini :

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الألْبَابِ (٢٩)

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (QS Shood : 29)

Alloh ‘Azza wa Jalla juga berfirman tentang Al-Qur’an ini :

وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (١٥٥)

“Dan Al-Quran itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah kamu sekalian agar kamu diberi rahmat.” (QS Al-An’am : 155)

Alloh ‘Azza wa Jalla juga berfirman tentang Al-Qur’an ini :

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ (٨٩)

“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS An-Nahl : 89) Read the full post »

SUNNAH-SUNNAH KETIKA PERGI MENUJU MASJID

Saudaraku kaum muslimin, berikut ini adalah penjelasan ringkas tentang apa saja yang disunnahkan (dicontohkan/dituntunkan) oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, terutama yang  berkaitan dengan adab-adab menuju masjid dan ketika berada di dalam masjid.

Diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Hendaknya bersegera menuju masjid, apabila adzan telah dikumandangkan.

Dalil yang menunjukkan hal itu, adalah sabda Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam :

لو يعلم الناس ما في النداء والصف الأول ثم لم يجدوا إلا أن يستهموا عليه, ولو يعلمون ما في التهجير لاستبقوا إليه, ولو يعلمون ما في العتمة والصبح لآتوهما ولو حبوا 

“Seandainya manusia mengetahui keutamaan adzan dan shof yang pertama, kemudian tidaklah mereka bisa mendapatinya kecuali dengan jalan berundi (melakukan undian), niscaya mereka pun akan berundi. Dan seandainya mereka mengetahui keutamaan bersegera menuju masjid, niscaya mereka akan berlomba (untuk saling mendahului, edt.). Dan seandainya mereka mengetahui (keutamaan) pada sholat Isya’ dan Shubuh, niscaya mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak.” (HR Imam Al-Bukhori no. 615 dan Imam Muslim no. 437)

2. Berdoa ketika berjalan menuju masjid, yakni dengan mengucapkan : 

اللهم اجعل في قلبي نورا وفي لساني نورا, واجعل في سمعي نورا, واجعل في بصري نورا, واجعل من خلفي نورا, ومن امامي نورا, واجعل من فوقي نورا, ومن تحتي نورا, اللهم أعطني نورا

“Ya Alloh, jadikanlah cahaya dalam hatiku, cahaya dalam lidahku, jadikanlah cahaya pada pendengaranku dan penglihatanku, jadikanlah cahaya dari belakangku dan dari depanku, jadikanlah cahaya dari atasku dan dari bawahku. Ya Alloh, berikanlah cahaya kepadaku.” (HR Imam Al-Bukhori no. 6316 dan Imam Muslim no. 763)

3. Hendaknya berjalan menuju ke masjid dengan tenang dan berwibawa (penuh adab dan sopan santun), tidak tergesa-gesa.

Hal ini karena Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إذا سمعتم الإقامة فامشوا إلى الصلاة وعليكم بالسكينة والوقار

“Apabila kalian mendengar iqomah, maka berjalanlah kalian menuju masjid untuk sholat dengan tenang dan berwibawa (penuh adab dan sopan santun).” (HR Imam Al-Bukhori no. 636 dan 908)

As-Sakiinah, artinya adalah perlahan dalam berjalan, dan menjauhkan diri dari bersendau gurau. Al-Wiqoor, artinya adalah menundukkan pandangan, merendahkan suara dan tidak menoleh-noleh, wallohu a’lam bis showab. Read the full post »

KEUTAMAAN PUASA HARI ‘ASYURO

 

Tanya : “Ustadz, mohon dijelaskan apa sebenarnya Puasa ‘Asyuro itu ? Apa hukumnya dan bagaimana cara mengamalkannya ? Jazakalloh khoiron atas penjelasannya !” 

Jawab

Puasa ‘Asyuro adalah puasa sunnah yang dilakukan pada hari ke sepuluh dari Bulan Muharrom. Tentang keutamaannya, dijelaskan dalam hadits Abu Qotadah roshiyallohu ‘anhu, bahwa Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah menjelaskan :

وصيام يوم عاشوراء أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله

“Dan puasa hari Asyuro, aku berharap kepada Alloh agar bisa menghapus (dosa-dosa) setahun sebelumnya (yakni setahun yang lalu, edt.)”

Dalam lafadz lainnya, ketika beliau ditanya tentang Puasa ‘Asyuro, beliau menjawab :

يكفر السنة الماضية

“Mengapus (dosa-dosa/kesalahan) setahun yang lalu.” (HR Imam Muslim no. 1162 / 196 )

Tentang hukum puasa ini, dijelaskan oleh Imam An-Nawawi rohimahulloh : “Para ulama telah sepakat bahwa Puasa ‘Asyuro itu hukumnya sunnah.” (Syarh Shohih Muslim, 8/4)

Sebenarnya, para ulama berbeda pendapat tentang kapan sesungguhnya hari ‘Asyuro itu. Jumhur (mayoritas) ulama salaf dan kholaf berpendapat ‘Asyuro itu adalah hari ke sepuluh dari bulan Muharrom. Sebagian ulama berpendapat bahwa ‘Asyuro itu adalah hari ke sembilan dari bulan Muharrom, dan ini pendapatnya Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhuma.

Mereka berdalil dengan sebuah hadits yang terdapat dalam Shohih Muslim (no. 1133) : “Bahwa Al-Hakam bin Al-A’roj bertanya kepada Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhuma tentang puasa ‘Asyuro, beliau berkata : “Apabila kamu melihat hilal (bulan sabit tanggal satu) Muharrom, maka hitunglah.” Dan pada pagi hari tanggal sembilan (Muharrom), beliau berpuasa. Lalu aku bertanya : “Apakah seperti ini Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam berpuasa ?” Beliau menjawab : “Iya.”

Tetapi kalau kita perhatikan dengan seksama, dhohir hadits tersebut menunjukkan, bahwa yang dimaksud oleh Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhuma dengan puasa tanggal sembilan Muharrom, adalah puasa yang dilakukan untuk menyelisihi (membedakan diri) dengan puasanya orang-orang Yahudi, bukan menunjukkan bahwa ‘Asyuro itu adalah tanggal sembilan Muharrom.

Dalil yang menunjukkan hal itu adalah hadits dalam Shohih Muslim pula (no. 1134) : “Bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam tatkala berpuasa pada Hari ‘Asyuro dan memerintahkan (para sahabat beliau) untuk berpuasa, mereka (para sahabat) berkata : “Wahai Rosululloh, sesungguhnya ini adalah hari yang (juga) diagungkan/dimuliakan oleh orang-orang Yahudi dan Nashoro.” Lalu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Kalau begitu, tahun yang akan datang kita akan berpuasa pada hari (tanggal) ke-sembilan.” Tetapi belum sempat datang tahun berikutnya, beliau telah meninggal dunia.”

Jadi, kita juga disunnahkan untuk berpuasa pada hari kesembilan dari bulan Muharrom selain pada hari ke-sepuluhnya. Ini dilakukan, untuk membedakan dengan puasanya Ahlul Kitab, yakni orang-orang Yahudi dan Nashoro. Read the full post »

BULAN MUHARROM & HARI ‘ASYURO

 

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين الذي هدانا لهذا الدين وما كنا لنهتدي لولا أن هدانا الله وأشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا رسول الله، أما بعد

Saudaraku yang dimuliakan oleh Alloh ta’ala, sehubungan dengan masuknya kita kaum muslimin ke dalam bulan Muharrom ini, maka pada kali ini akan disebutkan di sini beberapa keutamaan dan hukum-hukum yang berkaitan dengan bulan yang mulia ini secara umum. Semoga Alloh ta’ala memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat dan dapat mengantarkan kita menuju amalan yang sholeh, sehingga dengannya akan mendatangkan keridhoan-Nya.

Muharrom adalah bulan suci (bulan harom)

Bulan Muharrom merupakan salah satu bulan suci umat Islam berdasarkan Al Kitab dan As Sunnah. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam menerangkan nama-nama bulan-bulan harom (suci) tersebut dalam sabda beliau:

إن الزمان قد استدار كهيئته يوم خلق الله السموات والأرض، السنة اثنا عشر شهرا، منها أربعة حرم، ثلاثة متواليات: ذو القعدة، وذو الحجة، والمحرم، ورجب شهر مضر الذي بين جمادى وشعبان

“Sesungguhnya zaman (tahun) ini telah berputar sesuai dengan aslinya ketika Alloh menciptakan langit dan bumi. Setahun dua belas bulan, diantaranya empat bulan harom, tiga bulan berturut-turut: Dzulqo’dah, Dzulhijjah,Muharrom dan keempat adalah Rojab yang diagungkan kabilah Mudhor yang berada diantara bulan Jumada (Al-Akhiroh) dan Sya’ban.” (HR. Bukhori dan Muslim dari Abu Bakroh rodhiyallohu ‘anhu)

Alloh tabaroka wa ta’ala berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia:

إن عدة الشهور عند الله اثنا عشر شهرا في كتاب الله يوم خلق السماوات والأرض منها أربعة حرم ذلك الدين القيم فلا تظلموا فيهن أنفسكم وقاتلوا المشركين كافة كما يقاتلونكم كافة واعلموا أن الله مع المتقين

“Sesungguhnya jumlah bulan dalam hukum Alloh dan yang telah termaktub dalam lauhul mahfudz itu adalah sebanyak dua belas bulan, pada hari diciptakannya langit dan bumi. Diantaranya adalah empat bulan harom (bulan suci). Alloh telah mengharomkan di dalamnya peperangan (yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharrom dan Rojab). Itulah agama yang lurus, maka janganlah kalian berbuat dholim terhadap diri-diri kalian di bulan-bulan itu, lantaran keharoman perbuatan dholim di dalamnya lebih besar dan dosanya lebih besar daripada di bulan-bulan lainnya.” (lihat Tafsir Muyassar QS. At-Taubah: 36)

Alloh ta’ala menyebutkan secara khusus bulan-bulan harom tersebut dan melarang perbuatan kedholiman serta melipat-gandakan dosa kedholiman tersebut di dalamnya sebagai bentuk pemuliaan terhadap bulan-bulan tersebut, meskipun perbuatan kedholiman tersebut terlarang pula di setiap waktu dan zaman. (Jami’ li Ahkamil Quran, Al Qurthubi)

Keutamaan dan amalan di bulan Muharrom

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أفضل الصيام بعد رمضان شهر الله المحرم، وأفضل الصلاة بعد الفريضة صلاة الليل

“Seutama-utama puasa setelah Romadhon adalah puasa pada bulan Alloh Muharrom dan seutama-utama sholat setelah ibadah sholat wajib adalah sholat malam.” (HR. Muslim dari Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu)

Dalam hadits ini, Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam telah menamai Muharrom sebagai bulan Alloh yang hal ini menunjukkan akan keutamaan dan fadhilahnya. Sesungguhnya Alloh ta’ala tidaklah menyandarkan sesuatu kepada-Nya, melainkan sesuatu tersebut merupakan makhluk-Nya yang dikhususkan, sebagaimana Ka’bah disebut sebagai rumah Alloh secara khusus, sebagaimana dalam firman Alloh ta’ala:

وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

“Kami telah mewahyukan kepada Ibrohim dan anaknya Ismail: “Sucikanlahrumah-Ku itu (Ka’bah) dari segala najis dan kotoran untuk orang-orang yang melakukan ibadah thowaf di dalamnya dengan mengelilingi Ka’bah atau i’tikaf dan sholat di masjidil harom.” (Tafsir Muyassar QS. Al Baqoroh: 125) Read the full post »

Rekaman Khutbah Jum’at : “BAGAIMANA MEMADUKAN ANTARA AL-KHOUF & AR-ROJA’ DLM BERIBADAH KEPADA ALLOH

 

Saudaraku kaum Muslimin rohimakumulloh….

Berikut ini adalah rekaman khutbah jum’at pekan lalu di Masjid Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya dengan tema : ” BAGAIMANA MEMADUKAN ANTARA AL-KHOUF (TAKUT) DAN AR-ROJA’ (BERHARAP) DALAM BERIBADAH KEPADA ALLOH”, yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Hamzah Ahmad Yulianta hafidzhohulloh.

Dalam khutbah ini, beliau menyampaikan secara ringkas, bagaimana cara kita memadukan antara perasaan Al-Khouf (rasa takut kepada Alloh) dan Ar-Roja’ (berharap kepada-Nya) dalam melakukan ibadah kepada-Nya. Mengingat pentingnya hal ini, sangat disayangkan kalau dilewatkan begitu saja, 

Dan untuk mengetahui selengkapnya apa kandungan atau isi khutbah ini selengkapnya, silahkan Anda mendengarkan sendiri rekamannya, semoga banyak memberikan faedah/manfaat bagi yang menyampaikan khususnya dan juga bagi yang mendengarkannya, barokallohu fiikum.

Anda bisa mendengarkan atau mendownload-nya :  DI SINI Read the full post »

[ Update ] “Bulan MUHARROM adalah bulan mulia dalam Islam, bukan bulan yang mendatangkan kesialan.”

 

Tanya : “Bagaimana sebenarnya pandangan Islam mengenai bulan Muharrom atau bulan Suro itu ? Kata banyak orang, bulan ini sering dianggap bulan yang mendatangkan kesialan, benarkah yang seperti itu?

Jawab :

Ketahuilah, dalam Islam, bulan Muharrom atau bulan Suro (menurut istilah orang Jawa) ini termasuk salah satu bulan diantara empat bulan yang digelari dengan Asy-hurul Hurum (bulan-bulan suci), karena di dalam bulan ini dilarang melakukan kedzoliman, apapun bentuknya. Bahkan pada masa orang-orang arab jahiliyyah dulu, bulan-bulan tersebut sudah dianggap sebagai bulan-bulan suci yang tidak boleh ternoda oleh pertikaian, pertumpahan darah dan berbagai kedzoliman lainnya.

Lalu Islam datang dan menetapkannya sebagai syari’at, sebagaimana dinyatakan oleh Alloh ta’ala dalam firman-Nya (yang artinya) :

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ (٣٦)

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Alloh adalah dua belas bulan, (yakni) di dalam ketetapan Alloh ketika Dia menciptakan langit dan bumi. Diantaranya (ada) empat bulan (suci). Itulah ketetapan agama yang lurus, maka janganlah menganiaya diri (berbuat dholim) dakam bulan yang empat itu.” (QS. At-Taubah : 36)

Empat bulan suci yang tersebut dalam ayat di atas adalah sebagaimana dijelaskan oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya sebagai berikut : “Sesungguhnya waktu itu berputar seperti asalnya di waktu Alloh menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan, diantaranya ada empat bulan cuci, tiga secara berturut-turut adalah Dzulqo’dzah, Dzulhijjah dan Muharrom, serta Rojab-nya Bani Mudhor, yang terletak diantara Jumadil Akhir dan Sya’ban.” (HR Imam Al-Bukhori no. 3025, 4144 dan 7009, Imam Muslim no. 1679)

Imam Al-Qurthubi rohimahuloh berkata : “Alloh Azza wa Jalla mengkhususkan penyebutan empat bulan suci ini dengan larangan berbuat dholim, (adalah) sebagai penghormatan bagi bulan-bulan tersebut, meskipun kedholiman itu sendiri dilarang di setiap zaman/waktu.” (Tafsir Al-Qurthubi, 7/87) Dan yang paling utama diantara keempat bulan itu adalah Bulan Muharrom, sebagaimana dikatakan oleh Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri rohimahulloh.

Menurut Imam As-Sakhowi rohimahulloh, bulan Muharrom disebut demikian karena dia adalah bulan yang disucikan (dari peryumpahan darah dan segala bentuk kedzoliman). Sedangkan Al-Imam Ibnu Katsir rohimahulloh berpendapat, bahwa Muharrom disebut/dinamai demikian adalah sebagai penegasan akan keharaman (perbuatan dholim di bulan itu), karena orang-orang arab ( di masa jahiliyyah) suka merubah-rubahnya, setahun (kadang) mereka menghalalkannya, tetapi setahun berikutnya mereka mengharamkannya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/339)

Demikianlah, dalil-dalil dan penjelasan tersebut di atas menunjukkan keutamaan bulan Muharrom sebagai salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam. Akan tetapi sangat disayangkan, sebagian kaum muslimin, terutama dalam mitos masyarakat jawa (kejawen), Bulan Muharrom atau yang mereka namakan Bulan Suro dianggap sebagai bulan yang sial atau naas, sehingga mereka tidak mau mengadakan acara-acara hajatan, seperti pernikahan, khitanan dan sebagainya. Read the full post »

MEWASPADAI BID’AH-BID’AH AKHIR & AWAL TAHUN HIJRIYYAH

 


بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلله فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، أما بعد

Pada kesempatan kali ini, perlu disampaikan bahwa wajib atas kita seluruh kaum muslimin untuk melakukan introspeksi diri (muhasabah) di setiap waktu dan kesempatan. Alloh ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Wahai orang-orang yang membenarkan Alloh dan Rosul-Nya dan beramal dengan syariat-Nya, takutlah kalian kepada Alloh, berhati-hatilah terhadap hukuman-Nya dengan mengerjakan apa yang telah diperintahkan kepada kalian dan meninggalkan apa yang telah dilarang. Hendaknya setiap orang merenungkan apa yang telah ia kedepankan dari amalan-amalan untuk hari kiamat nanti. Takutlah kalian kepada Alloh pada setiap apa yang kalian datangi dan apa yang kalian tinggalkan. Sesungguhnya Alloh subhanahu itu Khobiir, maha mengetahui apa yang kalian kerjakan. Tidak ada yang tersamar bagi-Nya sesuatu pun dari amalan kalian dan Dia akan membalasi atas apa yang kalian kerjakan.” (Tafsir Muyassar QS. Al Hasyr: 18)

Pada setiap amalan kebaikan yang telah ia kerjakan, maka hendaklah ia memuji Alloh ta’ala atasnya dan berusaha untuk terus menambahnya dengan lebih baik dan tidak terputus darinya. Jika tidak demikian halnya, maka hendaklah ia bertaubat kepada Alloh ta’ala dari perbuatannya itu dan menggantinya dengan amalan sholeh. Sesungguhnya pintu taubat itu senantiasa terbuka sampai terbitnya matahari dari sebelah barat.

Maka wajib atas setiap muslim untuk mawas diri pada setiap waktu, hari, bulan dan tahunnya. Tidak dikhususkan pada waktu-waktu tertentu, karena sebagian manusia terutama di zaman ini menggantungkan muhasabah dirinya tersebut pada akhir atau awal tahun yang itu semua tidak ada asalnya dalam syariat. Pengkhususan hal itu pada waktu-waktu tertentu tidak ada asalnya dalam syariat dan tidak ada dalilnya.

  • Demikian juga perlu disampaikan di sini beberapa perkarabid’ahdalam syariat yang banyak ditemui pada masyarakat muslim pada penghujung tahun hijriyah ini agar kita terhindar dari melakukannya dan berupaya menjauhinya.

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Siapa yang mengada-adakan suatu perkara dalam perkara kami (agama) yang bukan darinya, maka ia tertolak.” (muttafaqun ‘alaih dari Aisyah rodhiyallohu ‘anha) Read the full post »

Pelajaran (2) : APA YANG HARUS DILAKUKAN OLEH ORANG YANG HADIR, KETIKA MELIHAT ORANG YANG SAKIT ITU MENGALAMI “SAKROTUL MAUT”

 

 Seri Pelajaran tentang Ahkamul Janaiz (Hukum-Hukum Seputar Jenasah)

Pelajaran (2) : APA YANG HARUS DILAKUKAN OLEH ORANG YANG HADIR, KETIKA MELIHAT ORANG YANG SAKIT ITU MENGALAMI “SAKROTUL MAUT”

Bagi orang yang menyaksikan/melihat bahwa orang yang sedang sakit itu menampakkan tanda-tanda dia akan meninggal (yakni mengalami sakrotul maut), sepantasnya dia melakukan hal-hal sebagai berikut :

1. Mentalqinnya agar mengucapkan kalimat syahadat “ laa ilaaha illalloh “.

Yang dimaksud dengan mentalqin disini adalah memerintahkan dan membimbingnya untuk mengucapkan kalimat “laa ilaaha illalloh”. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam :

 لقنوا موتاكم لا إله إلا الله

“Talqinilah orang-orang yang hampir mati diantara kalian dengan “laa ilaaha illalloh”.” (HR Imam Muslim no. 917, dari hadits Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu, juga dalam hadits Abu Said Al-Khudri rodhiyallohu ‘anhu no. 916)

Yang dimaksud dengan “mautaakum” dalam hadits ini adalah : “orang yang hampir mati/meninggal dunia” (bukan orang yang telah mati). Dan juga yang dimaksud disini adalah orang-orang yang hampir mati dari kalangan kaum muslimin. Hal ini sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Anas bin Malik rodhiyallohu ‘anhu : “Bahwa Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam mendatangi salah seorang laki-laki dari Anshor  (yang sedang mengalami sakrotul maut,edt.), lalu beliau bersabda kepadanya : “Wahai khool (paman), ucapkan laa ilaaha illalloh.” Orang itu berkata : “Khool atau ‘Amm (keduanya bermakna paman, edt.) ?” Kata Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam : “Bahkan anda adalah khool (paman).” Orang itu berkata lagi : “Apakah ada kebaikan bagiku apabila aku mengucapkan laa ilaaha illalloh ?” Nabi bersabda : “Ya.” (lihat Al-Jami’us Shohih (2/233), karya Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rohimahulloh)  

Bisa juga “mautaakum” bermakna orang yang hampir mati dari selain kaum muslimin, dan merekapun hendaknya kita suruh untuk mengucapkan syahadat, dan dipaparkan/dijelaskan kepada mereka tentang Islam. Hal ini sebagaimana dalam As-Shohihain, bahwa Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam berkata kepada paman beliau Abu Tholib (yang dia hampir mati dalam keadaan masih musyrik dan belum memeluk agama Islam, edt.) tatkala dia menghadapi sakrotul maut : “Wahai ‘Amm (paman), katakanlah : laa ilaaha illalloh.”

Dalil lainnya yang menunjukkan perintah untuk mentalqin orang yang akan mati, adalah hadits ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha, beliau berkata : Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

لقنوا هلكاكم قول لا إله إلا الله

“Talqinilah orang-orang yang hampir binasa (yakni hampir mati) diantara kalian dengan ucapan laa ilaaha illalloh.” (HR Imam An-Nasa’i no. 1827, dishohihkan oleh Syaikh Muqbil rohimahulloh dalam As-Shohihul Musnad, 2/496) Read the full post »

Pelajaran (1) : NASEHAT UNTUK ORANG YANG SEDANG SAKIT

 

Seri Pelajaran tentang Ahkamul Janaiz (Hukum-Hukum Seputar Jenasah)

Pelajaran (1) : NASEHAT UNTUK ORANG YANG SEDANG SAKIT

Al-Imam An-Nawawi rohimahulloh berkata : “Sepantasnya bagi orang yang sakit untuk bersemangat dalam membaguskan akhlaknya, menjauhi perdebatan dan berbantah-bantahan dalam urusan dunia, dan hendaknya menghadirkan dalam benaknya (hati dan pikirannya) bahwa saat ini (ketika dia sedang sakit sekarang ini) adalah akhir waktunya (dia tinggal) di negeri tempat beramal (yakni dunia ini). Oleh karena itu hendaknya dia menutup/mengakhiri kehidupannya itu dengan kebaikan. Dan hendaknya pula dia berusaha meminta maaf kepada istrinya, anak-anaknya dan seluruh anggota keluarganya, pembantu-pembantunya/pelayannya, para tetangganya, teman-temannya dan semua orang yang dia bermuamalah dan berhubungan dengan mereka, agar mereka meridhoinya.

Dan juga hendaknya dia senantiasa menjaga dirinya dengan selalu membaca Al-Qur’an, berdzikir, membaca kisah-kisah orang-orang sholih dan keadaan mereka ketika mereka mati (hal ini dimaksudkan untuk menguatkan jiwanya agar siap menghadapi apapun takdir Alloh yang akan berlaku atas dirinya, wallohu a’lam, edt.). Kemudian juga hendaknya dia menjaga sholatnya, menjauhi najis, dan (menjaga) berbagai perkara yang merupakan kewajiban-kewajiban agama baginya.

Janganlah dia membalas/melayani ucapan orang yang tidak mau menolongnya dalam kebaikan tersebut, karena hal itu termasuk ujian baginya, dan orang yang membiarkannya/tidak mau menolongnya (dalam kebaikan) adalah teman yang jahil (bodoh) dan musuh yang tersembunyi (baginya).

Kemudian juga hendaknya dia memberikan wasiat kepada keluarganya untuk bersabar atas dirinya (yakni agar mereka bersabar bila terjadi kematian atas dirinya, edt.), agar mereka meninggalkan perbuatan “niyahah” (meratapi jenasah) dan banyak menangis. Hendaknya pula menasehati mereka agar meninggalkan adat/kebiasaan yang berlaku di masyarakat berupa bid’ah-bid’ah seputar jenasah, dan agar mereka semua selalu mendoakannya (bila orang yang sakit tersebut akhirnya meninggal dunia, edt.). Wa billaahit taufiq.”

(Al-Majmu’ Syarh A-Muhadzdzab, 5/103-104) Read the full post »

Rekaman Khutbah Jum’at : “MENISBAHKAN SEMUA NIKMAT KEPADA ALLOH, ADALAH BUKTI KESEMPURNAAN IMAN SESEORANG”

 

Saudaraku kaum muslimin hafidzhokumulloh…

Berikut ini adalah rekaman Khutbah Jum’at pekan yang lalu, dengan tema : “MENISBAHKAN (MENYANDARKAN) SEMUA NIKMAT KEPADA ALLOH, ADALAH BUKTI KESEMPURNAAN IMAN SESEORANG“, yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah Rully hafidzhohulloh di Masjid Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya.

Ringkasnya, beliau menjelaskan :

Pertama : Tentang keutamaan Tauhid (mengesakan Alloh Ta’ala dalam beribadah), karena untuk tujuan tauhid inilah Alloh Ta’ala menciptakan jin dan manusia, Alloh Ta’ala mengutus para nabi dan Rosul-Nya, menurunkan kitab-kitab-Nya, dan sebagainya.

Kedua : Beliau juga mengingatkan tentang banyaknya nikmat yang telah Alloh Ta’ala berikan kepada hamba-hamba-Nya beserta dalil-dalilnya. Kemudian, kewajiban kita sebagai hamba-Nya adalah mensyukuri nikmat tersebut. Dan beliau juga mengingatkan. menisbahkan/menyandarkan semua nikmat kepada Alloh Ta’ala, termasuk bukti kesempurnaan iman seseorang. Sebaliknya, orang yang kafir, enggan menisbahkan nikmat tersebut kepada Alloh, tetapi kepada berhala dan segala sesuatu yang mereka sembah selain Alloh, atau menisbahkannya kepada kemampuan dan kepandaian diri sendiri. 

Untuk mengetahui rekaman selengkapnya, bisa Anda download dan dengar :  DI SINI Read the full post »

APAKAH BID’AH ITU ? ADAKAH BID’AH HASANAH DALAM ISLAM ?

 

Saudaraku kaum muslimin,

Banyak diantara kaum muslimin yang bertanya tentang apa itu bid’ah, dan berbagai hukum yang terkait dengan permasalahan bid’ah tersebut. Untuk menjelaskaannya, berikut ini kami nukilkan penjelasan dari Syaikh Al-‘Allamah Dr. Sholih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan hafidzhohulloh, tatkala beliau ditanya permasalahan seputar bid’ah tersebut, dan bantahan atas syubuhat-syubuhat (kerancuan pemikiran) yang terkait dengan permasalahan ini pula. Semoga penjelasan beliau tersebut, semakin menambah ilmu dan memantapkan istiqomah kita, barokallohu fiikum.  

 

Tanya : “Apa hukumnya, membagi bid’ah menjadi Bid’ah Hasanah (bid’ah yang baik) dan Bid’ah Sayyi’ah (bid’ah yang jelek) ? Benarkah orang yang berpendapat dengan pembagian tersebut, berdalil dengan sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam :

من سن سنة حسنة في الإسلام ……..

“Barangsiapa membuat sunnah (contoh) dengan sunnah yang baik dalam Islam ….” (Al-Hadits). Dan berdalil pula dengan perkataan Umar bin Al-Khoththob rodhiyallohu ‘anhu :

نعمت البدعة هذه

“Sebaik-baik bid’ah adalah ini…”. (HR Imam Al-Bukhori (2/252), dari hadits Abdurrahman bin Abdil Qori). Kami berharap faedah (nasehat dan pelajaran) dari perkara tersebut, jazakumulloh khoiron.”

Jawab :

Orang yang membagi bid’ah menjadi bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah, tidak mempunyai dalil. Hal ini karena semua bid’ah itu adalah sayyi’ah (jelek), berdasarkan sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam :

كل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار

“Setiap bid’ah itu adalah kesesatan, dan setiap kesesatan itu (tempatnya) adalah di neraka.” (HR Imam An-Nasa’i (3/188-189), dan diriwayatkan juga oleh Imam Muslim (2/592) tetapi tanpa lafadz : “Dan setiap kesesatan itu tempatnya di neraka”, dari hadits Jabir bin Abdillah rodhiyallohu ‘anhuma)   

Adapun sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam : “Barangsiapa membuat sunnah (contoh) dengan sunnah yang baik dalam Islam ….” (Al-Hadits).

Yang dimaksud dengan hadits ini adalah : “Barangsiapa menghidupkan sunnah (contoh)..”, karena Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam mengucapkan hal itu dalam kaitannya dengan perbuatan salah seorang sahabat yang dia datang dengan membawa barang-barang sedekah yang banyak, kemudian ditiru/dicontoh oleh orang-orang yang lainnya, sehingga mereka pun saling mengikuti dan mendahului dalam bersedekah.” (jadi, sangat tidak tepat kalau menjadikan hadits ini sebagai dalil untuk menguatkan adanya atau bolehnya “bid’ah hasanah” tersebut, edt.)

Adapun perkataan Umar rodhiyallohu ‘anhu : “Sebaik-baik bid’ah adalah ini…”.

Yang dimaksud dengan bid’ah disini adalah bid’ah secara bahasa (yakni bid’ah secara bahasa yang artinya adalah “semua perkara baru, yang belum ada contoh sebelumnya”, edt.), bukan bid’ah dalam pengertian syari’ah (yakni yang bermakna : “semua perkara baru dalam agama ini yang diada-adakan/dibuat-buat untuk menyelisihi syari’at, dan dilakukan dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Alloh Ta’ala”, edt.) Read the full post »

SIAPAKAH PARA WALI ALLOH ITU ?

 

Akhuna fillah hafidzhokumulloh…

Tahukah anda, siapakah sesungguhnya yang disebut sebagai WALI ALLOH  itu ? Banyak orang beranggapan atau berpendapat, Wali Alloh itu adalah para “wali songo” (wali sembilan), yakni sembilan orang wali yang mendakwahkan agama Islam pertama kali di tanah air Indonesia tercinta ini. Atau, wali Alloh itu adalah orang-orang yang punya sifat-sifat “aneh tertentu”, seperti : bisa ilmu kesaktian, bisa mengetahui sebagian perkara ghoib, bisa terbang, tidak mempan disakiti oleh senjata tajam, bisa berjalan di atas air, dan lain-lainnya. Tetapi, benarkah hal itu ?

Untuk mengetahui siapakah sesungguhnya yang disebut sebagai para Wali Alloh itu, berikut ini kami sampaikan rekaman kajian rutin pelajaran Kitab Riyadhus Sholihin karya Al-Imam An-Nawawi rohimahuloh, yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Abdirrohman Yoyok WN hafidzhohulloh, di Majelis Ta’lim Musholla Ibnu Abbas, di wilayah Dusun Sudimoro Desa Jeruklegi Kecamatan Balongbendo, Krian Sidoarjo, setiap Hari Jum’at malam ba’da Maghrib.   

Penjelasan tentang siapakah sesungguhnya para wali Alloh itu, dijelaskan oleh Ustadz Yoyok ketika menjelaskan pelajaran Bab ke-47 dari kitab Riyadhus Sholihin, dengan judul Bab Tanda-Tanda Kecintaan Alloh pada Seorang Hamba. Untuk mengetahui selengkapnya, silahkan anda mendengarkan kajiannya hingga tuntas. semoga bermanfaat. Read the full post »

Rekaman Khutbah Jum’at, “KETELADANAN NABI IBROHIM ‘ALAIHIS SALAM DLM KETAATAN KPD ALLOH”

 

Saudaraku kaum Muslimin hafidzhokumulloh,

Berikut ini adalah rekaman Khutbah Jum’at pekan lalu yang disampaikan oleh Ustadz Abu Abdirrohman Yoyok WN hafidzhohulloh, di masjid Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya, dengan tema : “KETELADANAN NABI IBROHIM ‘ALAIHIS SALAM DLM KETAATAN/KETUNDUKAN KEPADA ALLOH”.

Ustadz Yoyok hafidzhohulloh mengatakan, bahwa ibadah qurban yang disyari’atkan oleh Alloh Ta’ala kepada kita, sesungguhnya tidak lepas dari ketokohan dan keteladanan dua orang hamba Alloh yang mulia, yakni Nabi Ibrohim dan putra beliau, Nabi Isma’il ‘alaihimas salam. Yakni khususnya dalam hal ketaatan, ketundukan dan kesetiaan kepada Alloh, dalam menjalankan setiap apa yang diperintahkan-Nya, termasuk perintah untuk berqurban, dalam rangka mendekatkan diri kepada Alloh Ta’ala. 

Begitu tulus dan ikhlasnya Nabi Ibrohim ‘alaihis salam dalam menjalankan perintah Alloh meskipun diperintah untuk berqurban kepada Alloh dengan menyembelih satu-satunya putra yang sangat beliau cintai, ditambah lagi dengan kesabaran putra beliau, yakni Nabi Isma’il ‘alaihis salam dalam menghadapi ujian Alloh Ta’ala ini, maka peristiwa ini menjadi salah satu “patokan” atau dasar disyari’atkannya ibadah qurban bagi kita Islam, umat Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam. 

Peristiwa tersebut, diabadikan oleh Alloh Ta’ala dalam firman-Nya yag mulia di surat As-Shoffaat ayat 101-111.

Selanjutnya beliau menguraikan tentang apa saja ujian yang Alloh berikan kepada Nabi Ibrohim ‘alaihis salam, sehingga Alloh Ta’ala jadikan beliau sebagai “imam” bagi segenap umat manusia, khususnya Imam bagi segenap ahlut tauhid, yakni orang-orang yang senantiasa mengesakan Alloh Ta’ala dalam beribadah kepada-Nya. 

Kemudian juga diuraikan dan dijelaskan dalam khutbah ini berbagai “pelajaran/ibroh” yang bisa diambil dari peristiwa perintah Alloh Ta’ala kepada Nabi Ibrohim ‘alaihis salam untuk menyembelih putra beliau sendiri. Apa sajakah itu ? Untuk mengetahuinya, silahkan anda mendengarkan sendiri keseluruhan rekaman khutbah jum’at ini, barokallohu fiikum. Read the full post »

(UPDATE) HUKUM SEPUTAR SHOLAT KUSUF (GERHANA MATAHARI/BULAN)

 

 Menurut informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pemerintah RI melalui situs resminya www.bmkg.go.id, insya Alloh pada tanggal 8 Oktober 2014 ini akan terjadi Gerhana Bulan Total, dan akan bisa dilihat di seluruh wilayah Indonesia dan sekitarnya. Sehubungan dengan itulah, berikut ini kami sampaikan kembali hal-hal yang berkaitan dengan hukum-hukum seputar gerhaana tersebut, semoga bermanfaat bagi penyusunnya dan para pembacanya semuanya.

Apa Hukumnya Sholat Gerhana itu ?

Tentang hukumnya, ada khilaf (perbedaan pendapat) diantara para ulama sebagai berikut :

Pertama : Jumhur ulama berpendapat hukumnya sunnah mu’akkadah (sunnah yang sangat ditekankan), karena Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan yang demikian, beliau juga telah melakukannya (sholat Kusuf tersebut) dan beliau tidak mewajibkannya. Demikian pula dikarenakan adanya sabda beliau : “Lima sholat dalam sehari semalam….”

Kedua : Sebagian ulama berpendapat hukumnya adalah wajib. Ini adalah pendapatnya Abu ‘Awanah dalam Shohih-nya, dan juga pendapatnya Abu Hanifah dan sebagian ulama Hanabilah.Syaikh Utsaimin juga menyatakan sebagai sholat yang hukumnya wajib/fardhu, tetapi fardhunya adalah fardhu kifayah.

Pendapat yang rojih dalam masalah ini adalah pendapat kedua, yakni hukumnya adalah wajib, karena adanya perintah Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam masalah ini, sebagaimana dalam hadits Al-Mughiroh bin Syu’bah rodhiyallohu ‘anhu, yang menceritakan : “Telah terjadi gerhana matahari di jaman Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, pada hari meninggalnya Ibrohim – putra Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam -, (orang-orang pun mengatakan : “Gerhana matahari ini terjadi karena meninggalnya Ibrohim”), maka Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :“Sesungguhnya matahari dan bulan keduanya adalah tanda dari tanda-tanda kekuasaan Alloh. Tidaklah terjadi gerhana matahari dan bulan itu karena kematian atau karena hidupnya seseorang.Apabila kamu melihat keduanya (yakni gerhana matahari dan bulan), maka berdoalah kamu kepada Alloh dan sholatlah kamu sampai hilangnya (gerhana itu).” (HR. Imam Al-Bukhori no. 1043 dan Imam Muslim no. 915)

Dalam hadits Abu Bakroh rodhiyallohu ‘anhu dengan lafadz :“…..maka sholatlah dan berdoalah kamu sampai hilangnya apa yang kalian alami tersebut (yakni gerhana).” (HR Imam Al-Bukhori no. 1040)

Adapun pendapat pertama yang berdalil dengan hadits “Sholat lima waktu dalam sehari semalam..”, sebagai dalil yang menunjukkan bahwa sholat wajib itu hanyalah lima waktu itu saja, adapun yang selain itu berarti adalah mustahab/sunnah, maka hal ini dibantah oleh guru kami Syaikh Muhammad bin Ali bin Hizam hafidzhohulloh sebagai berikut : “ (Hadits tersebut) bukan sebagai dalil bahwa Sholat Kusuf itu mustahab (sunnah) yakni bukan perkara yang wajib, karena maksud dari hadits tersebut adalah menjelaskan bahwa perkara yang wajib untuk ditunaikan oleh seseorang dalam sehari semalam itu ada lima, hal ini tidak menafikan (meniadakan) dari yang selain lima sholat tersebut, yakni yang berupa sholat-sholat yang wajib ditunaikan karena adanya sebab-sebab tertentu, wallohu a’lam.” (Fathul ‘Allam fii Dirosah Ahaaditsi Bulughil Marom, 2/219)

Untuk lebih luasnya pembahasan dalam masalah ini, silahkan melihat Al-Inshof (2/416), Fathul Bari (no. 1040), Al-Mughni (3/330), Shohih Abi ‘Awanah (2/92) dan As-Syarhul Mumti’ (5/237). Read the full post »

Rekaman Khutbah Idhul Adha 1435 Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya, “PELAJARAN DARI WASIAT ROSULULLOH DALAM KHUTBAH KETIKA HAJI WADA’, bersama Al-Ustadz Ahmad Yulianta hafidzhohulloh

Kaum Muslimin rohimakumulloh,

Berikut ini adalah rekaman Khutbah Sholat Idul Adha 1435 H di Lapangan (halaman) Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya, yang disampaikan oleh Al-Ustadz Ahmad Yulianta hafidzhohulloh, dengan tema khutbah : PELAJARAN DARI WASIAT ROSULULLOH SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WA SALLAM DALAM KHUTBAH BELIAU KETIKA HAJI WADA’.

Untuk mengetahui isi kandungan khutbah ini selengkapnya, dan juga bagi yang ingin mendownload-nya, silahkan anda dengar :  DI SINI Read the full post »

Rekaman Kajian Islam Ilmiah Palopo, “HUKUM-HUKUM SEPUTAR SEMBELIHAN QURBAN”, bersama Al-Ustadz Abu Muqbil Ali Abbas hafidzhohulloh

 

 

Saudaraku kuam Muslimin hafidzhokumulloh, 

Berikut ini kami tampilkan rekaman Kajian Islam Ilmiah yang diselenggarakan di Masjid Al-Muhajirin Kota Palopo Sulawesi Selatan beberapa waktu lalu yang membahas tentang “HUKUM-HUKUM SEPUTAR SEMBELIHAN HEWAN QURBAN” yang diambil dari kitab Shohih Al-Bukhori, yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Muqbil Ali Abbas hafidzhohulloh ta’ala.

Banyak penjelasan hukum-hukum yang bermanfaat terkait dengan sembelihan qurban. Sangat disayangkan kalau kajian ini dilewatkan. Karena itulah, kami tampilkan disini semoga manfaatnya bisa lebih meluas untuk segenap kaum muslimin. 

Selengkapnya, anda bisa mendengarkannya sendiri atau mendownloadnya :  DI SINI Read the full post »