RSS

Hukum Seputar Qurban (5) : “BOLEHKAH MENYEMBELIH QURBAN ATAS NAMA ORANG YANG TELAH MENINGGAL DUNIA ?”

Hasil gambar untuk MENARA MASJID

 

Tanya : “Bolehkah kita menyembelih hewan qurban atas nama orang tua kita atau kerabat kita yang telah meninggal dunia ?”

Jawab :

Tentang masalah ini, dijawab dan dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin rohimahulloh sebagai berikut :

“(Berqurban itu) disunnahkan dari orang yang masih hidup. Oleh karena itulah, Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berqurban untuk Khodijah rodhiyallohu ‘anha, istri beliau yang paling dicintainya, tidak juga untuk Hamzah rodhiyallohu ‘anhu, paman yang beliau cintai, tidak pula untuk putri-putri beliau yang telah wafat semasa hidup beliau, padahal mereka semua adalah bagian dari beliau. Beliau hanya berqurban atas nama diri dan keluarga beliau (yang masih hidup). Dan barangsiapa memasukkan orang yang telah meninggal dunia pada keumuman (keluarganya), maka pendapatnya masih bisa ditoleransi. Tetapi berqurban atas nama orang yang telah meninggal dunai itu statusnya hanya mengikut, bukan berdiri sendiri. Oleh karena itu, tidak disyari’atkan berqurban atas nama orang yang telah meninggal secara tersendiri, karena tidak warid (datang) riwayat (yang shohih) dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam.”

(As-Syarhul Mumti’, 3/423-424 dan 389-390)

Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin rohimahulloh juga mengatakan : “Berqurban atas nama orang yang telah meninggal dunia itu diperbolehkan pada keadaan berikut : Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on الجمعة 23 ذو القعدة 1437 in Fiqh, Risalah

 

Hukum Seputar Qurban (4) : “ADAB-ADAB & SUNNAH-SUNNAH YANG HARUS DIPERHATIKAN KETIKA MENYEMBELIH QURBAN.”

Hasil gambar untuk masjid

 

Tanya : “Apa saja adab-adab dan sunnah-sunnah yang harus diperhatikan oleh orang yang berqurban, khususnya ketika dia menyembelih qurbannya sendiri ?”

Jawab :

Adab-adab yang harus diperhatikan oleh orang yang akan menyembelih qurban, diantaranya adalah sebagai berikut :

PERTAMA : Bila seseorang mampu, hendaknya dia(orang yang berqurban itu) menyembelih hewan sembelihannya dengan kedua tangannya sendiri (tidak diwakilkan kepada orang lain).

Sebagaimana dijelaskan dalam hadits Anas bin Malik rodhiyallohu ‘anhu, dia berkata :

“Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam berqurban dengan dua ekor kambing kibas (domba) yang warnanya putih bercampur hitam (dan bertanduk), aku melihat beliau meletakkan telapak kakinya pada sisi tubuhnya, beliau mengucapkan basmalah dan bertakbir, beliau menyembelih keduanya dengan tangan beliau sendiri.” (HR Imam Al-Bukhori no. 5565 dan Imam Muslim no. 1966)

Imam An-Nawawi rohimahulloh menjelaskan hadits tersebut di atas dengan mengatakan : “Disunnahkan bagi orang yang berqurban untuk menyembelih sendiri hewan qurbannya, dan tidak mewakilkan sembelihannya tersebut (kepada orang lain) kecuali karena udzur.”

Guru kami, Syaikh Muhammad bin Ali bin Hizam hafidzhohulloh mengatakan : “Para ahli ilmu (ulama) menyunnahkan bagi orang yang berqurban untuk menyembelih sendiri (hewan qurbannya), karena Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam menyembelih sendiri (hewan qurbannya). Mereka juga mengatakan : “Jika hal itu diwakilkan kepada salah seorang muslim, maka hal itu boleh tanpa adanya khilaf (perbedaan pendapat).” Hanya saja mereka berbeda pendapat bila diwakilkan kepada seorang kafir dzimmi…… (lalu beliau menyebutkan perbedaan pendapat para ulama dalam masalah ini).” (Fathul ‘Allam, 5/538-539)

KEDUA : Dibolehkan menambahkan lafadz Takbir setelah Basmalah

Dalilnya sebagaimana dalam hadits Anas rodhiyallohu ‘alaihi yang telah disebutkan diatas :

“Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam berqurban dengan dua ekor kambing kibas (domba) yang warnanya putih bercampur hitam (dan bertanduk), aku melihat beliau meletakkan telapak kakinya pada sisi tubuhnya, beliau mengucapkan basmalah dan bertakbir, beliau menyembelih keduanya dengan tangan beliau sendiri.” (HR Imam Al-Bukhori no. 5565 dan Imam Muslim no. 1966)

Disebutkan dalam Imam Muslim (no. 1966) tersebut, beliau mengucapkan :“Bismillaahi, wallohu akbar.”(dengan menyebut nama Alloh, dan Alloh itu Maha Besar)

Boleh juga mengucapkan : ) اللهم لك و منك تقبل مني( , “Ya Alloh, ini untuk-Mu dan dari-Mu, terimalah (qurban) dariku.” 

Hal ini berdasarkan hadits Jabir dalam Sunan Abi Dawud (no. 2795), dan hadits Abu Huroiroh serta Aisyah rodhiyallohu ‘anhuma, sebagaimana dalam Sunan Al-Baihaqi (9/281), hadits ini Hasan bi Syawahidih.  (lihatFathul ‘Allam, 5/522)

Al-Imam Ibnu Qudamah rohimahulloh mengatakan : “Tidak ada khilaf (perselisihan di kalangan para ulama) tentang disunnahkannya (mengucapkan) takbir bersama dengan tasmiyyah (bacaan basmalah), dan tidak ada khilaf pula bahwa tasmiyyah itu sudah cukup (sah) meskipun tanpa takbir.” (lihatAl-Mughni (13/390), dinukil secara makna) Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on الخميس 22 ذو القعدة 1437 in Fiqh, Risalah

 

Rekaman Khutbah Jum’at : “AMAL-AMAL SHOLIH YANG BISA MENDATANGKAN REJEKI.”

Hasil gambar untuk ibadah

 

Ikhwani fillah rohimaniyallohu wa iyyakum  …………..

Berikut ini adalah rekaman Khutbah Jum’at pekan lalu yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Abdirrohman Yoyok WN hafidzhohulloh di Masjid NURUL HUDA, Jln. Jagir Sidoresmo III no. 2-4 Surabaya, dengan tema sebagaimana disebutkan pada judul di atas.

Dalam khutbah ini, beliau menyampaikan kepada kita bahwa salah satu dari Nama-Nama Alloh Ta’ala Yang Mulia (yakni Al-Asmaul Husna) adalah AR-ROZZAAQ, yang artinya adalah “Yang Maha Pemberi Rejeki”, di tangan-Nya-lah kunci-kunci semua rejeki, dan Dia-lah yang menanggung rejeki seluruh makhluk-Nya (sebagaimana yang ditunjukkan dalam firman Alloh Ta’ala di Surat Huud ayat ke-6)

Hal itu menunjukkan, bahwa semua rejeki hamba-Nya dan seluruh makhluk-Nya adalah ditanggung dan dijamin oleh Alloh Ta’ala. Akan tetapi meskipun demikian, rejeki dari Alloh Ta’ala itu tidak serta merta langsung diturunkan dari langit begitu saja, tetapi tentu ada jalan dan usaha yang harus kita tempuh, yang ini merupakan salah satu sebab untuk mendapatkan bagian rejeki tersebut. Apakah itu dengan bekerja dan berusaha dengan segala bentuknya, ataupun yang lainnya.

Sebab lainnya masih banyak. Diantaranya adalah dengan kita melakukan berbagai amal sholih dan ketaatan kepada Alloh Ta’ala. Ya, pada kesempatan khutbah ini, Ustadz memberikan penjelasan kepada kita, amal sholih apa saja yang bisa kita lakukan, yang dengannya insya Alloh bisa mendatangkan rejeki dari Alloh Ta’ala. Apa sajakah itu ?

Untuk mengetahui selengkapnya, kami persilahkan Anda mendengarkan rekaman khutbah ini sendiri atau dengan mendownloadnya, dengan klik : ( DI SINI ) Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on الاثنين 19 ذو القعدة 1437 in Al Ustadz Abu Abdirrahman Yoyok, Khutbah

 

Hukum Seputar Qurban (3) : “HAL-HAL YANG DIWAJIBKAN BAGI ORANG YANG BERQURBAN.”

Hasil gambar untuk menara masjid

 

Tanya : “Adakah perkara-perkara yang “diwajibkan” bagi orang yang berqurban, khususnya ketika dia berniat akan berqurban ?”

Jawab :

Ketahuilah, diantara kewajiban-kewajiban yang harus diperhatikan dan dilakukan oleh orang yang hendak berqurban adalah sebagai berikut :

PERTAMA : Orang yang hendak berqurban, apabila telah memasuki sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah, tidak boleh baginya untuk menghilangkan sedikitpun dari rambut yang tumbuh pada tubuhnya, atau memotong kukunya.

Hal ini berdasarkan sebuah hadits dari Ummu Salamah rodhiyallohu ‘anha, bahwa Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إذا دخلت العشر وأراد أحدكم أن يضحي فلا يمس من شعره وبشره شيئا (وفي لفظ لمسلم : من كان له ذبح يذبحه، فإذا أهل هلال ذي الحجة فلا يأخذن من شعره ولا من أظفاره شيئا حتى يضحي)

“Apabila telah masuk sepuluh hari (pertama di bulan Dzulhijjah), dan salah seorang dari kalian berkeinginan untuk berqurban, maka janganlah dia menyentuh (yakni mengambilnya dengan mencukurnya, mencabutnya atau memotongnya, edt.) sedikitpun dari rambutnya dan kulitnya.”

Dalam lafadz yang lainnya juga dalam riwayat Imam Muslim :“Barangsiapa mempunyai (hewan) sembelihan yang akan dia sembelih (untuk qurban), maka apabila telah muncul hilal (bulan sabit tanggal satu) dari hilal Dzulhijjah, maka janganlah dia mengambil sedikitpun dari rambutnya dan juga kukunya, hingga dia menyembelih qurbannya.” (HR Imam Muslim no. 1977)

Para ulama berbeda pendapat tentang apa hukum larangan dalam hadits tersebut di atas.

Sebagian ulama berpendapat haramnya hal tersebut, ini adalah pendapatnya Sa’id bin Al-Musayyib, Robi’ah, Ahmad, Ishaq, Dawud dan sebagian sahabat-sahabat As-Syafi’i.

Sebagian lainnya berpendapat hukumnya makruh tanzih (hanya makruh saja, tidak sampai pada derajat haram), ini adalah pendapatnya Imam As-Syafi’i dan mayoritas sahabat-sahabatnya (yakni para ulama yang semadzhab dengan beliau).

Sebagian lainnya berpendapat hukumnya tidak makruh, ini adalah pendapatnya Imam Malik (beliau punya beberapa pendapat dalam masalah ini) dan Abu Hanifah. Imam Malik juga berpendapat dimakruhkannya hal tersebut. Beliau juga pendapat lainnya, yaitu berpendapat hukumnya diharamkan pada sembelihan qurban yang hukumnya tathowwu (sunnah saja), tetapi tidak harom bila sembelihannya itu wajib, ini adalah pendapatbeliau sebagaimana yang diceritakan oleh Imam Ad-Darimi rohimahulloh.

(lihatAl-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab (8/392) karya Imam An-Nawawi rohimahulloh, dan Syarhus Sunnah (4/348) karya Imam Al-Baghowi rohimahulloh)

Lalu mana yang rojih (kuat dan terpilih) dari pendapat-pendapat tersebut di atas ? Al-Imam As-Syaukani rohimahulloh berkata : “Yang nampak benar adalah orang yang berpendapat haramnya (mengambil/menghilangkan sedikitpun dari rambut atau kukunya) bagi orang yang akan berqurban…..” (Nailul Author, 3/475)

Guru kami, Syaikh Abu Abdirrohman Yahya bin Ali Al-Hajuri hafidzhohulloh menegaskan : “Dengan ini kita ketahui, bahwa pendapat yang menyatakan haromnya hal tersebut adalah pendapat yang shohih (benar),dikarenakan dhohirnya dalil-dalil yang dijadikan pegangan para a’immah (para ulama) rohimahumulloh yang berpendapat dengan pendapat ini.”(At-Tajliyyah li Ahkamil Hadyi wal Udh-hiyyah, hal. 42) Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on الاثنين 19 ذو القعدة 1437 in Fiqh, Risalah

 

Rekaman Khutbah Jum’at : “URGENSI DOA & ADAB-ADAB DALAM BERDOA KEPADA ALLOH.”

Hasil gambar untuk berdoa

 

Ikhwani fillah rohimaniyallohu wa iyyakum  …………..

Berikut ini adalah rekaman Khutbah Jum’at pekan lalu yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Abdirrohman Yoyok WN hafidzhohulloh di Masjid Al-Amin, Perumnas Kamal – Bangkalan Madura, dengan tema sebagaimana disebutkan pada judul di atas.

Dalam khutbah ini, beliau mengingatkan kepada kita tentang urgensi (pentingnya) sebuah “doa” dalam kehidupan seorang muslim. Ya, hal itu karena doa mempunyai kedudukan yang sangat mulia dalam agama Islam ini. Dan doa juga merupakan perkara ibadah yang diperintahkan oleh Alloh Ta’ala agar kita menunaikannya. Demikian pula, doa adalah bukti dan tanda yang menunjukkan “ketergantungan” seorang hamba kepada Robb-nya (yakni, dia sangat membutuhkan pertolongan untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagi dirinya, ataupun berlindung dari apa yang dia takutkan akan menimpa kepada dirinya). 

Orang yang berdoa kepada Alloh, dia tidak akan merugi dan tidak akan pernah kecewa. Karena Alloh pasti akan mengabulkan permohonannya, apapun bentuknya. Doa juga adalah perkara yang selalu kita butuhkan, kapan saja, baik di saat menghadapi berbagai permasalahan ataupun belum menghadapinya. 

Kemudian dalam khutbah ini juga, dijelaskan tentang bagaimana adab-adab berdoa kepada Alloh Ta’ala, agar doa kita benar-benar dikabulkan oleh Alloh Ta’ala. Apa saja itu ? Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on الأربعاء 14 ذو القعدة 1437 in Al Ustadz Abu Abdirrahman Yoyok, Khutbah

 

Hukum Seputar Qurban (2) : “SYARAT-SYARAT YANG HARUS DIPENUHI BAGI ORANG YANG BERQURBAN.”

Hasil gambar untuk menara masjid

 

Tanya : “Adakah Syarat-Syarat yang harus dipenuhi bagi orang yang berqurban, sehingga qurbannya menjadi sah ?”

Jawab :

Ya, agar ibadah qurban kita menjadi ibadah yang diridhoi oleh Alloh dan diterima-Nya, sepantasnya bagi orang yang berqurban untuk memperhatikan syarat-syarat berqurban, diantaranya adalah sebagai berikut :

Pertama : Ikhlas karena mengharap Wajah-Nya

Hal itu karena berqurban adalah suatu ibadah, dan termasuk syarat sahnya suatu ibadah adalh ikhlas, yakni semata-mata mengharap keridhoan-Nya dan pahala dari-Nya. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ (٥)

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus.”(QS Al-Bayyinah : 5)

Alloh Ta’ala juga berfirman :

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ (٣٧) 

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu.Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al-Hajj : 37)

Kedua : Hewan yang dijadikan qurban adalah hewan-hewan yang telah ditentukan oleh Alloh Ta’ala, yang berupa tiga jenis hewan-hewan ternak.

Yang dimaksud adalah Onta, Sapi dan Kambing, baik yang jenisnya jantan maupun betina.Dan tidak sah qurban dengan hewan-hewan yang selainnya. Berdasarkan firman Alloh Ta’ala :

أُحِلَّتْ لَكُمْ بَهِيمَةُ الأنْعَامِ

“Dihalalkan bagimu binatang ternak,…….” (QS Al-Maidah : 1)

Juga firman Alloh Ta’ala :

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الأنْعَامِ فَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ (٣٤)

“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, Maka Tuhanmu ialah Tuhan yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).” (QS Al-Hajj : 34)

Al-Imam An-Nawawi rohimahulloh berkata : “Ini adalah perkara ijma’ (yang telah disepakati oleh para ulama, yakni bahwa qurban itu dengan binatang ternak tertentu, yang berupa onta, sapi atau kambing, edt.).” (Roudhotut Tholibin, 3/193)

Para ulama lain yang juga menukilkan adanya ijma’ dalam permasalahan ini adalah : Ibnu Abdil Barr rohimahulloh dalam At-Tamhid (23/188), Ibnu Hazmrohimahulloh dalam Marotibul Ijma’ (hal. 42), Ibnu Rusy rohimahulloh dalam Bidayatul Mujtahid (5/475) dan (6/174), dan yang lainnya.

Imam An-Nawawi rohimahulloh berkata : “Para ulama sepakat bahwa berqurban itu tidaklah sah dengan selain onta, sapi dan kambing. Kecuali apa yang diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir dari Al-Hasan bin Sholih, bahwa dia berkata : “Boleh berqurban dengan sapi liar untuk tujuh orang dan seekor kijang untuk satu orang. Dawud Ad-Dhohiri juga berpendapat seperti itu, khususnya tentang sapi liar.” Imam An-Nawawi menolak pendapat ini dengan berkata : “(Yang benar), tidak sah berqurban dengan sapi liar.” (Syarh Shohih Muslim, pada hadits 1963).

Guru kami yang mulia, Syaikh Al-Muhaddits Yahya bin Ali al-Hajuri hafidzohulloh ta’ala juga berkata : “Yang shohih (benar), tidak sah berqurban dengan sapi liar. Sasaran pembicaraan (dalam Al-Qur’an) tentang hewan-hewan ternak, adalah hewan-hewan yang Alloh jadikan sebagai kepemilikan seseorang (yakni yang dimiliki seseorang, jadi bukan yang liar).Imam An-Nawawi berpendapat seperti itu pula….” (At-Tajliyyah li Ahkamil Hadyi wal Udh-hiyyah, hal. 16) Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on الثلاثاء 13 ذو القعدة 1437 in Fiqh, Risalah

 

Hukum Seputar Qurban (1) : “APA HUKUMNYA BERQURBAN ITU ?”

Hasil gambar untuk menara masjid

 

Tanya : “Apa Hukum-nya berqurban itu ?”

Jawab :

Dalam masalah ini para ulama berbeda pendapat. Ada yang berpendapat bahwa hukumnya adalah wajib. Ini adalah pendapatnya Al-Laits, Abu Hanifah, Al-Auza’I, Ats-Tsauri dan Imam Malik dalam salah satu pendapatnya.

Dalilnya adalah hadits Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu, bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

من كان له سعة ولم يضح فلا يقربن مصلانا

“Barangsiapa mempunyai kelapangan (rejeki) tetapi dia tidak berqurban, maka janganlah dia mendekati tempat sholat kami.” (HR Imam Ahmad (2/321), Ibnu Majah no. 3123, dan Al-Hakim (2/389) dan (4/231-232) ).

Jalan hadits ini berputar pada Abdulloh bin ‘Ayyasy Al-Qotbany, dari Al-A’roj, dari Abu Huroiroh. Para ulama berbeda pendapat tentang apakah hadits ini marfu’ (terangkat sampai Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam) ataukah  mauquf (hanya dari perkataan sahabat yang meriwayatkan hadits ini saja). Zaid bin Al-Habbab dan Abdulloh bin Yazid Al-Muqri’ meriwayatkan hadits ini dari Abdulloh bin ‘Ayyasy secara marfu’. Sedangkan Ibnu Wahab meriwayatkan dari Abdulloh bin ‘Ayyasy secara mauquf. Barangkali kesalahan hadits ini berasal dari Abdulloh bin ‘Ayyasy, karena dia adalah perowi yang dho’if.

Ibnu Abdil Hadi dalam kitabnya At-Tanqih merojihkan mauqufnya hadits tersebut, sebagaimana dalam Nashbur Royah (4/207), beliau berkata setelah menyebutkan perselisihan seputar hadits tersebut : “Demikian pula seperti yang diriwayatkan oleh Ja’far bin Robi’ah dan Ubaidillah bin Abi Ja’far, dari Al-A’roj, dari Abu Huroiroh secara mauquf. Inilah yang menyerupai kebenaran.”

Al-Hafidz dalam Fathul Bari (Bab pertama dari Kitab Al-Adhohy) juga berkata : “Akan tetapi para ulama berselisih pendapat tentang marfu’ dan mauqufnya (hadits tersebut). Sedangkan mauquf, ini lebih menyerupai/mendekati kebenaran.Demikianlah seperti yang dikatakan oleh Ath-Thohawy dan yang selainnya.”

Dari pembahasan hadits seperti tersebut di atas, guru kami Syaikh Muhammad bin Ali bin Hizam hafidzhohulloh menyimpulkan :“Hadits ini dho’if secara marfu’, tetapi shohih secara mauquf.”

(Bulughul Marom no. 1347 , dengan tahqiq dan takhrij dari beliau, penerbit Darul Ashimah dan Maktabah Ibnu Taimiyyah, Dammaj, Yaman) Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on الخميس 08 ذو القعدة 1437 in Fiqh, Risalah

 

Rekaman Khutbah Jum’at : “URGENSI (PENTINGNYA) IBADAH DALAM KEHIDUPAN SEORANG MUSLIM.”

Hasil gambar untuk ruang masjid nabawi

 

Ikhwani fillah rohimaniyallohu wa iyyakum  …………..

Berikut ini adalah rekaman Khutbah Jum’at pekan lalu yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Abdirrohman Yoyok WN hafidzhohulloh di Masjid Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya, dengan tema sebagaimana disebutkan pada judul di atas.

Dalam khutbah ini, beliau mengingatkan kepada kita tentang urgensi (pentingnya) ibadah dalam kehidupan seorang muslim. Ya, hal itu karena sesungguhnya Alloh Ta’ala menciptakan kita di dunia ini, tentu untuk suatu tujuan yang agung dan besar. Apa itu ?

Ada dua hal yang disebutkan oleh Alloh Ta’ala dalam Al-Qur’an, yaitu sebagai “kholifah” (pemimpin) di muka bumi ini (sebagaimana dalam QS Al-Baqoroh : 30), dan juga sebagai seorang “hamba yang berkewajiban untuk beribadah hanya kepada-Nya” (sebagaimana hal itu dinyatakan dalam QS Adz-Dzariyaat : 56)

Tetapi kenyataannya, banyak diantara umat manusia, bahkan kaum muslimin itu sendiri tidak mengetahui tujuan tersebut, atau ada yang telah mengetahuinya, tetapi bermalas-malasan dalam menunaikan tugas sebagai hamba yang wajib beribadah kepada Alloh Ta’ala.

Maka dalam khutbah ini, dijelaskan tentang apa “urgensi” (pentingnya) ibadah bagi kehidupan setiap muslim. Apa saja itu ? Untuk mengetahui selengkapnya, silahkan mendengarkannya sendiri atau dengan mendownloadnya dengan klik : ( DI SINI ) Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on الأربعاء 07 ذو القعدة 1437 in Al Ustadz Abu Abdirrahman Yoyok, Khutbah

 

Taushiyyah Dari Beberapa Asatidz : “JANGAN BERPALING DARI MENUNTUT ILMU AGAMA, JANGAN SILAU DENGAN ILMU-ILMU DUNIA.”

 

Hasil gambar untuk kitab

 

Saudaraku kaum muslimin rohimakumulloh ……

Judul tersebut di atas, adalah sebagian dari isi taushiyyah (nasehat) yang disampaikan salah seorang asatidz (ustadz-ustadz) yang beberapa hari yang lalu, berkunjung di Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya.

Ya, hari Ahad, tanggal 26 Syawwal 1437 H atau bertepatan dengan tanggal 31 Juli 2016 kemarin, telah berkunjung ke Pondok Pesantren ini beberapa Asatidz dan rombongan, diantaranya : Al-Ustadz Abu Zakariya Harits Jabali (Yogyakarta), Al-Ustadz Abu Amr Bilal (Yogyakarta) dan Al-Ustadz Muhammad (Kediri).

Dan seperti biasanya, kehadiran ketiga ustadz tersebut tidak disia-siakan begitu saja. Maka kami meminta kepada ketiga ustadz tersebut untuk menyampaikan beberapa faedah berupa nasehat-nasehat ataupun pelajaran yang bermanfaat untuk seluruh santri dan pengurus pondok khususnya, dan juga masyarakat sekitar pondok pada umumnya, yang biasa ikut hadir dalam kajian umum ba’da sholat Maghrib.

Agar faedah dan manfaatnya lebih luas, maka berikut ini kami sampaikan di hadapan kaum muslimin semuanya, rekaman dari beberapa nasehat yang disampaikan oleh para asatidz tersebut. Diantaranya sebagai berikut :

Pertama : Taushiyyah dan Pelajaran dari Al-Ustadz Harits Jabali, dengan judul : “PENJELASAN DAN FAEDAH HADITS TENTANG NIAT.”

Kedua : Taushiyyah dan Pelajaran dari Al-Ustadz Abu Amr Bilal, dengan judul : “PENJELASAN DAN FAEDAH DARI SURAT AN-NISA’ AYAT 59.”

Ketiga : Taushiyyah dari Al-Ustadz Muhammad Kediri, dengan judul : “JANGAN BERPALING DARI MENUNTUT ILMU AGAMA, JANGAN SILAU DENGAN ILMU-ILMU DUNIA.”

Bagi anda yang ingin mendengarkan rekaman tersebut, atau ingin mendownloadnya, silahkan saja klik masing-masing judul taushiyyah tersebut. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on الثلاثاء 28 شوال 1437 in Aqidah, Manhaj, Muhadhoroh

 

Rekaman Khutbah Jum’at : “BERBUAT IHSAN-LAH, ALLOH TIDAK AKAN MENYIA-NYIAKANNYA.”

Hasil gambar untuk berbuat baik kepada orang lain

 

Kaum Muslimin rohimakumulloh …….

Berikut ini adalah rekaman khutbah jum’at pekan lalu di Masjid Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya, yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Abdirrohman Yoyok WN hafidzhohulloh, dengan tema khutbah seperti yang disebutkan pada judul tersebut di atas.

Dalam khutbah ini, Ustadz Yoyok menyampaikan, bahwa dalam banyak ayat-ayat Al-Qur’an, Alloh Ta’ala menyuruh kita untuk selalu berbuat IHSAN (berbuat baik), dan Alloh juga mengabarkan bahwa Dia pun mencintai hamba-hamab-Nya yang berbuat Ihsan tersebut, dan juga tidak akan menyia-nyiakan orang-orang yang berbuat ihsan.

Dan Ihsan itu bentuknya bermacam, baik itu berbentuk ihsan dalam beribadah kepada Alloh, juga Ihsan kepada sesama manusia, juga ihsan kepada binatang-binatang, atau kepada seluruh makhluk Alloh Ta’ala. Bahkan termasuk ihsan juga adalah ihsan terhadap diri sendiri.

Maka berbuat ihsanlah, niscaya Alloh Ta’ala akan membalas amal kita tersebut, dan Alloh pasti tidak akan menyia-nyiakannya.

Untuk mengetahui selengkapnya uraian khutbah yang ringkas tetapi sangat padat ini, maka silahkan anda mendengartkannya sendiri isi atau rekaman khutbah jum’at ini, atau dengan mendownloadnya, dengan klik : ( DI SINI ) Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on الأحد 27 شوال 1437 in Al Ustadz Abu Abdirrahman Yoyok, Khutbah

 

Rekaman Khutbah Jum’at : “YANG SEPANTASNYA DILAKUKAN SETELAH ROMADHON.”

Islamic Walpapers Gosha E Naat

 

Ikhwani fillah rohimakumulloh ……

Berikut ini adalah rekaman Khutbah Jum’at pekan lalu yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Abdirrohman Yoyok WN hafidzhohulloh, di Masjid Al-Hidayah Pertamina Surabaya, di Depo LPG Tanjung Perak, Jln Nilam Tanjung Perak Surabaya, dengan tema sebagaimana disebutkan pada judul di atas.

Dalam kesempatan khutbah ini, beliau mengingatkan kepada kita tentang apa yang sepantasnya tetap kita lakukan setelah bulan Romadhon berlalu.

Beliau mengingatkan, bahwa dengan berakhirnya bulan Romadhon, bukan berarti kita selesai dari ibadah kepada Alloh, atau selesai dari melakukan amal-amal ketaatan, lalu kembali mengumbar hawa nafsu dan syahwat kita. Tidak demikian ! Mengapa ? Ya, karena yang namanya ibadah kepada Alloh itu sifatnya adalah “berkesinambungan/berkelanjutan”, terus menerus berlangsung, tidak ada habisnya. Sampai kapan ? Ya, sampai kematian datang menjemput kita.

Prestasi ibadah yang telah kita raih sepanjang bulan Romadhon yang lalu itu, tidak sepantasnya untuk kita tinggalkan begitu saja, tetapi hendaknya justru kita pertahankan.

Beliau menyebutkan dalil-dalil tentang pentingnya istiqomah dan “istimror” (terus menerus/kontinyu) dalam melakukan amal-amal sholih dan ketaatan, baik di bulan Romadhon ataupun di luar bulan Romadhon.

Untuk mengetahui selengkapnya, silahkan mendengarkannya sendiri rekaman khutbah jum’at ini hingga tuntas, atau bila ingin mendownloadnya, silahkan klik : ( DI SINI ) Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on السبت 12 شوال 1437 in Al Ustadz Abu Abdirrahman Yoyok, Khutbah

 

Rekaman Khutbah Jum’at : “MERAIH RIDHO ALLOH SUBHANAHU WA TA’ALA.”

Gambaran Surga dan Keindahan Taman Surga | HargaiKataKu

 

Kaum Muslimin rohimakumulloh ……

Berikut ini adalah rekaman Khutbah Jum’at pekan lalu yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah hafidzhohulloh di Masjid Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya, dengan tema sebagaimana disebutkan pada judul di atas.

Dalam khutbah jum’at kali ini, beliau mengingatkan kepada kita tentang keutamaan “meraih Ridho Alloh Subhanahu wa Ta’ala”.

Beliau membawakan dalil-dalil dari Al-Qur’an maupun Sunnah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam tentang permasalahan tersebut, yang menunjukkan bahwa meraih keridhoan Alloh Ta’ala, adalah suatu keutamaan yang sangat besar, bahkan lebih besar daripada segala macam kenikmatan yang ada di dalam “jannah” (surga). 

Karena itu, dalam segala amal sholih dan ibadah yang kita lakukan, hendaknya kita selalu berusaha untuk mengharapkan ridho Alloh Ta’ala semata.

Lalu amal apa saja dan bagaimana cara agar amal yang kita lakukan bisa meraih ridho Alloh Subhanahu wa Ta’ala ? Untuk mengetahui selengkapnya, silahkan mendengarkannya sendiri atau dengan mendownload rekaman khutbah ini dengan klik : ( DI SINI ) Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on السبت 12 شوال 1437 in Al Ustadz Abu Ubaidah, Khutbah

 

(( UPDATE )) KEUTAMAAN PUASA ENAM HARI DI BULAN SYAWWAL

 

Salah satu ibadah yang disunnahkan oleh Alloh Ta’ala dan Rosul-Nya sholallohu ‘alaihi wa sallam di bulan Syawal ini adalah puasa sunnah selama enam hari. Dalilnya adalah hadits Abu Ayyub Al-Anshori dan Tsauban rodhiyallohu ‘anhuma.

Imam Muslim rohimahulloh dalam Shohih-nya (no. 1164) menyebutkan hadits Abu Ayyub Al-Anshori rodhiyallohu ‘anhu, bahwasannya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر

“Barangsiapa berpuasa Romadhon kemudian mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, maka dia seperti berpuasa satu tahun penuh.”

Kemudian dalam hadits Tsauban rodhiyallohu ‘anhu, maula Rosululloh (bekas budak yang telah dimerdekakan oleh tuannya, yakni Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam), bahwa beliau bersabda :

من صام ستة أيام بعد الفطر كان تمام السنة ، من جاء بالحسنة فله عشر أمثالها

“Barangsiapa berpuasa enam hari setelah Hari Raya Idul Fithri, maka seperti berpuasa setahun penuh. Barangsiapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh kali lipatnya.” (HR Ibnu Majah no. 1715, Ad-Darimi no. 1762, An-Nasa’i dalam As-Sunanul Kubro no. 2810 dan 2861, Ibnu Khuzaimah no. 2115, Ibnu Hibban no. 938, Imam Ahmad dalam Al-Musnad (5/280), Ath-Thobroni dalam Mu’jamul Kabir no. 1451, dan AthThohawi dalam Musykilul Atsar no. 1425, dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwa’ul Gholil, 4/107) Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on الاثنين 07 شوال 1437 in Fiqh, Risalah

 

Rekaman Khutbah Jum’at : “AL-IHTISAB (MENGHARAP PAHALA KEPADA ALLOH).”

Inilah Doa Malaikat Untuk Orang Yang Mencari Nafkah dan Rajin ...

 

Kaum Muslimin rohimakumulloh ……

Berikut ini adalah rekaman Khutbah Jum’at pekan lalu yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah hafidzhohulloh di Masjid Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya, dengan tema sebagaimana disebutkan pada judul di atas.

Ya, beliau mengingatkan kepada kita tentang keutamaan dan pentingnya IHTISAB (Mengharapkan pahala kepada Alloh Ta’ala). Beliau menjelaskan tentang pengertian apa itu Ihtisab, baik secara bahasa maupun secara istilah syar’i-nya. Demikian pula menjelaskan pentingnya Ihtisab, baik ketika melakukan amal-amal sholih atau ibadah, ketika ditimpa musibah, ketika menjauhi dosa-dosa dan perkara yang dilarang oleh Alloh Ta’ala, dan sebagainya.

Untuk mengetahui kandungan khutbah ini selengkapnya, silahkan mendengarkannya sendiri atau dengan mendownloadnya dengan klik : ( DI SINI ) Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on الاثنين 07 شوال 1437 in Al Ustadz Abu Ubaidah, Khutbah

 

Rekaman Khutbah Idul Fithri 1437 H : “ANJURAN UNTUK TETAP TERUS MENJAGA AMAL SHOLIH SETELAH ROMADHON.”

Perahu sandar di tepi Pantai Tanjung Aan, kawasan Kuata Mandalika ...

 

Ikhwani fillah rohimakumulloh ……

Berikut ini adalah rekaman Khutbah Idul Fithri, 1 Syawal 1437 H beberapa hari yang lalu, yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah hafidzhohulloh di lapangan/halaman  Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya, dengan tema sebagaimana disebutkan pada judul di atas.

Ya, beliau mengingatkan kepada kita tentang pentingnya “menjaga amal-amal sholih setelah Romadhon”. Ya, hal itu karena hidup kita di dunia ini adalah hari-hari untuk beramal, khususnya amal-amal sholih dan ketaatan kepada Alloh Ta’ala. Dan juga karena dengan selesainya ibadah puasa Romadhon kemarin, bukan berarti selesai pula kita dari beribadah dan beramal sholih. Karena itu, wajib atas kita untuk istiqomah untuk tetap terus beribadah dan beramal sholih, sampai akhir hayat kita. Dan setelah itu, di akhirat nanti kita akan melihat hasil atau buah amal sholih kita. Karena amal yang baik ataupun yang buruk yang kita lakukan, sedikit ataupun banyak, kecil ataupun besar, tentu kita akan melihat balasannya

Untuk mengetahui selengkapnya isi kandungan khutbah ini, silahkan mendengarkannya sendiri atau dengan mendownloadnya, dengan meng-klik : ( DI SINI ) Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on الأحد 06 شوال 1437 in Al Ustadz Abu Ubaidah, Khutbah

 

Rekaman Khutbah Jum’at : “KEUTAMAAN MEMAKMURKAN MASJID”

Masjid Nabawi HD Wallpapers 2013 - Islamic Blog - Articles On Islam ...

Kaum Muslimin rohimakumulloh ……

Berikut ini adalah rekaman Khutbah Jum’at pekan lalu yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah hafidzhohulloh di Masjid Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya, dengan tema sebagaimana disebutkan pada judul di atas.

Ya, beliau mengingatkan kepada kita tentang keutamaan dan pentingnya “memakmurkan” masjid. Beliau membawakan dalil-dalil dari Al-Qur’an maupun Sunnah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam tentang permasalahan tersebut.

Apa saja itu ? Untuk mengetahui selengkapnya, silahkan mendengarkannya sendiri atau dengan mendownloadnya dengan klik : ( DI SINI ) Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on الأحد 06 شوال 1437 in Al Ustadz Abu Ubaidah, Khutbah

 

BEBERAPA PERMASALAHAN SEPUTAR TAKBIR (TAKBIRAN) DALAM IDUL FITHRI DAN IDUL ADHA

Centre: Masjid Al Haram | Masjid Al Haram Wallpapers | Masjid Al Haram ...

 

Tanya : “Mohon dijelaskan, apa hukumnya “takbir” (yakni “takbiran”dalam istilah yang dikenal di negeri kita, edt.) dalam Idul Fithri dan Idul Adha itu ?”

Jawab :

Para ulama telah sepakat, bahwa takbir di Hari Raya Idul Fithri dan Idul Adha itu disyari’atkan. Hanya saja, salah satu riwayat dari Abu Hanifah dan An-Nakho’i berpendapat : “Tidak disyari’atkan takbir pada Idul Fithri.” Adapun Dawud Ad-Dhohiri berlebih-lebihan dalam masalah ini, sampai mengatakan : “Wajibnya takbir dalam Idul Fithri.”

Dan yang benar adalah bahwa takbir itu disyari’atkan untuk dua hari raya tersebut. Dalil yang menunjukkan hal itu, adalah hadits Ummu Athiyyah rodhiyallohu ‘anha, yang berkata :

أمرنا أن نخرج العوائق والحيض في العيدين : يشهدن الخير ودعوة المسلمين، ويعتزل الحيض المصلى [ وفي رواية لها زيادة : يكبرن مع الناس ]

“Kami diperintah (oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam) untuk mengeluarkan (yakni menyuruh keluar) para wanita pingitan, dan para wanita yang haid di dua hari raya, agar mereka bisa menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum muslimin. Dan untuk wanita yang haid, agar menjauhi tempat sholat (yakni dia berada di tempat yang paling belakang, edt.).” Dalam riwayat lainnya, juga masih dalam As-Shohihain ada tambahan : “agar para wanita itu juga ikut bertakbir bersama manusia/orang-orang yang lainnya.” (HR Imam Al-Bukhori no. 324 dan Imam Muslim no. 890)

Dan tentang takbir di hari raya ini pula, ditegaskan oleh Alloh Ta’ala dalam firman-Nya :

وَلِتُكۡمِلُواْ ٱلۡعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمۡ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ ١٨٥ 

“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya (yakni menyempurnakan bulan Romadhon tersebut, edt.) dan hendaklah kamu mengagungkan Allah (yakni bertakbir) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS Al-Baqoroh : 185)

Alloh Ta’ala juga berfirman :

۞وَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ فِيٓ أَيَّامٖ مَّعۡدُودَٰتٖۚ ٢٠٣

“Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang ditentukan…..” (QS Al-Baqoroh : 203).

Ayat ini adalah perintah Alloh untuk berdzikir (diantaranya dengan bertakbir), yakni mulai pagi hari tanggal 9 Dzulhijjah (hari Arofah) dan berakhir hingga akhir hari Tasyriq (tanggal 13 Dzulhijjah)  

Demikianlah. Kesimpulannya, bertakbir (takbiran) adalah perkara yang disyari’atkan untuk dikumandangkan/dibaca pada dua hari raya, yakni Idul Fithri dan Idul Adha.

 

Tanya : “Kapankah waktu dimulainya mengumandangkan takbir tersebut, baik untuk Hari raya Idul Fithri maupun Idul Adha ? Dan kapan pula waktu terakhirnya ?” 

Jawab :

TAKBIR UNTUK IDUL FITHRI

Para ulama berbeda pendapat tentang kapan waktu memulai bertakbir untuk hari raya Idul Fithri. Diantaranya sebagai berikut :

Pertama : Imam As-Syafi’i dan para sahabatnya (yakni para ulama madzhab Syafi’iyyah), demikian pula para ulama Hanabilah, mereka berpendapat : “Dimulai takbir itu adalah ketika telah nampak “hilal” Syawal (yakni terbitnya/munculnya bulan sabit tanggal 1 Syawal), dan tenggelamnya matahari di akhir Romadhon.”

Ini juga adalah pendapat dari Sa’id bin Al-Musayyab, Urwah bin Az-Zubair, Abu Salamah, Zaid bin Aslam, dan pendapat yang dipilih juga oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahulloh.

Kedua : Sebagian ulama berpendapat : “Takbir itu dimulai ketika seseorang keluar dari rumahnya di pagi hari menuju ke tanah lapang untuk menunaikan sholat ied.”

Ini adalah pendapatnya Imam Malik dan Al-Auza’i rohimahulloh. Pendapat ini dianggap sebagai pendapatnya Jumhur ulama, tetapi ini tidak benar.    

Dari dua pendapat tersebut di atas, mana yang shohih ?

Guru kami, Syaikh Muhammad bin Ali bin Hizam hafidzhohulloh menegaskan : “Yang insya Alloh shohih (benar) adalah pendapat yang pertama. Hal itu karena Alloh Ta’ala menyebutkan tentang “takbir” setelah selesainya (sempurnanya) puasa Romadhon (sebagaimana di akhir surat Al-Baqoroh ayat 185 yang telah disebutkan di atas). Yang demikian itu (yakni disyari’atkannya untuk memulai takbir) itu adalah dengan tenggelamnya matahari di akhir Romadhon. Wallohu a’lamu bis showab. (lihat : Fathul ‘Allam, 2/192)

Hal ini juga sebagaimana yang dirojihkan oleh guru kami, Syaikh Abu Abdirrohman Yahya bin Ali Al-Hajury hafidzhohulloh, sebagaimana beliau sampaikan dalam pelajaran yang pernah kami dengar langsung dari beliau, wallohu a’lam bis showab.      

Selanjutnya, tentang waktu akhir bertakbir untuk Idul Fithri, kebanyakan ulama berpendapat : “Berakhirnya adalah dengan ditunaikannya sholat Ied.” Dan dalam masalah ini, tidak ada khilaf (perbedaan pendapat) di antara para ulama, walhamdulillah.

(lihat pembahasan seputar masalah ini dalam : Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab (5/41), Al-Ausath (4/250), Al-Mughni (3/255) dan Majmu’ Al-Fatawa (24/221) karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, dll)

 

TAKBIR UNTUK IDUL ADHA

Adapun tentang waktu dimulainya takbir untuk Idul Adha, para ulama juga berbeda pendapat :

Pertama : Bahwa awal waktu takbir adalah sejak dari waktu Shubuh pada hari Arofah (tanggal 9 Dzulhijjah). Ini adalah pendapat dari beberapa sahabat Nabi, diantaranya : Ali bin Abi Tholib, Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhum ajma’in.

Dan ini juga pendapat Imam Ahmad, As-Syafi’i dalam salah satu pendapat, Ashabur Ro’yi dan sebagainya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahulloh menyatakan hal ini adalah sebagai pendapat jumhur (mayoritas) fuqoha’.

Kedua : Bahwa awal waktu takbir adalah mulai dari waktu sholat Dhuhur di hari Nahr (hari raya Qurban, tanggal 10 Dzulhijjah). Hal itu karena para jama’ah haji ketika itu sibuk dengan memperbanyak talbiyyah sebelum waktu dhuhur itu.

Hal ini adalah pendapat yang datang dari Ibnu Umar rodhiyallohu ‘anhuma (tetapi di dalam sanadnya terdapat perowi bernama Abdulloh bin Umar Al-Umary, dia ini adalah dho’if). Juga pendapat dari Umar bin Abdul Aziz, Malik, dan Asy-Syafi’i dalam salah satu pendapat yang masyhur dari beliau.

Dari dua pendapat tersebut, yang shohih (benar) adalah pendapat pertama. Hal ini berdasarkan hadits Anas rodhiyallohu ‘anhu dalam As-Shohihain (HR Imam Al-Bukhori no. 1659 dan Imam Muslim no. 1285), juga dalam hadits Ibnu Umar dalam Shohih Muslim :

“Bahwasannya mereka (para sahabat) berada pada hari Arofah (tanggal 9 Dzulhijjah), mereka berpagi-pagi menuju ke Arofah, diantara mereka ada yang bertalbiyyah, dan diantara mereka pula ada yang bertakbir. Salah seorang dari mereka tidak mengingkari sahabatnya yang lainnya.” (HR Imam Muslim no. 1284)  

Pendapat yang pertama itu pula yang dirojihkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahulloh, sebagaimana dalam Majmu’ Al-Fatawa (24/220). Wallohu a’lam bis showab.

Kapan waktu akhir untuk takbirnya ?

Dalam masalah inipun ada beberapa pendapat para ulama sebagai berikut :

Pertama : Imam Ahmad bin Hambal dan Imam As-Syafi’i dalam salah satu pendapatnya menyatakan : Bahwa takbir itu berakhir pada waktu sholat Ashar di akhir hari Tasyriq (yakni tanggal 13 Dzulhijjah).

Ini adalah pendapatnya Ibnu Abbas, Ali bin Abi Tholib, dan juga Ibnu Umar rodhiyallohu ‘anhum ajma’in (tetapi yang dari Ibnu Umar, sanadnya dho’if, di dalamnya ada Hajjah bin Arthoh, dia dho’if). Ini juga pendapatnya Sufyan Ats-Tsaury dan Ishaq. Ibnu Rojab dan Syaikhul Islam menyatakan ini adalah pendapat kebanyakan para ulama. Pendapat ini yang dirojihkan oleh Syaikhul Islam dan Syaikh Bin Baaz rohimahulloh.

Kedua : Imam Malik dan Imam As-Syafi’i dalam pendapat yang masyhur dari beliau menyatakannya : Bahwa takbir itu terus berlangsung sampai sholat Shubuh di akhir hari Tasyriq (adapun setelah itu tidak ada lagi/berhenti, edt.). Ini juga pendapatnya Umar bin Abdul Aziz rohimahulloh.

Ketiga : Ashabur Ro’yi (Abu Hanifah dan pengikutnya, edt.) dan Ibnu Mas’ud rodhiyallohu ‘anhu serta para murid-muridnya berpendapat : Bahwa takbir itu berlangsung (hanya) sampai Sholat Ashar di Hari Nahr (tanggal 10 Dzulhijah).   

Mana yang rojih dari ketiga pendapat tersebut di atas ? Guru kami, Syaikh Muhammad bin Ali bin Hizam rohimahulloh menyatakan : “Pendapat yang pertama itulah yang showab (benar). Hanya saja, tidak ditentukan bahwa berakhirnya takbir itu adalah di waktu Ashar, tetapi sampai tenggelamnya matahari (di akhir hari Tasyriq tersebut).

Adapun penentuan batas akhir takbir hanya sampai waktu sholat Ashar, hal itu bila ditinjau dari takbir yang “muqoyyad” (yakni yang terikat waktunya, yakni setelah selesai sholat fardhu). Dalil yang menunjukan halk itu adalah firman Alloh Ta’ala :

۞وَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ فِيٓ أَيَّامٖ مَّعۡدُودَٰتٖۚ ٢٠٣

“Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang ditentukan…..” (QS Al-Baqoroh : 203).  Beberapa hari yang ditentukan, maksudnya adalah hari-hari tasyriq.

Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

أيام التشريق أيام أكل وشرب وذكر الله

“Hari-hari Tasyriq adalah hari-hari makan, minum dan dzikrulloh.” (HR Imam Muslim no. 1141, dari Nabisyah Al-Hudzaly rodhiyallohu ‘anhu)

Dalil-dalil tersebut di atas menunjukan, bahwa takbir yang merupakan salah satu Dzikrulloh, boleh dibaca sepanjang hari-hari tasyriq (yakni secara keseluruhannya hari-hari tersebut). Barangsiapa memutus takbir sebelum selesainya hari-hari tasyriq tersebut, maka wajib baginya mendatangkan burhan/dalil.” (Fathul ‘Allam, 2/195) Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on الثلاثاء 01 شوال 1437 in Fiqh, Risalah

 

“ADAKAH DOA KHUSUS UNTUK ORANG-ORANG YANG MEMBAYAR ZAKAT ?”

 

 

Tanya : “Ustadz, adakah doa khusus yang disampaikan oleh orang yang menerima penyerahan zakat (misalnya panitia zakat) terhadap orang-orang yang berzakat ?”

Jawab :

Alhamdulillah, dalam masalah ini, ada sebuah hadits shohih yang bersumber dari Sahabat Nabi yang mulia, Abdulloh bin Abi Aufa rodhiyallohu anhu, bahwa dia berkata :

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أتاه قوم بصدقتهم قال : اللهم صل عليهم

“Adalah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam itu apabila datang suatu kaum kepada beliau dengan membawa sedekah (zakat) mereka, maka beliau berkata (mendoakan mereka) : “Allohumma sholli ‘alaihim.” (Ya Alloh, berikanlah sholawat atas mereka, yakni tambahkanlah kebaikan atas mereka. edt.).” (HR Imam Al-Bukhori no. 1497 dan Imam Muslim no. 1078)

Maka dhohir hadits ini menunjukkan “disyari’atkan” atas kita untuk mendoakan orang-orang yang menyerahkan zakat dengan doa seperti tersebut di atas. Dan Alloh Subhanahu wa Ta’ala pun telah memerintahkan Nabi-Nya shollallohu ‘alaihi wa sallam untuk melakukan hal itu, sebagaimana dalam firman-Nya :

خُذۡ مِنۡ أَمۡوَٰلِهِمۡ صَدَقَةٗ تُطَهِّرُهُمۡ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيۡهِمۡۖ إِنَّ صَلَوٰتَكَ سَكَنٞ لَّهُمۡۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ١٠٣

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan doakanlah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (At-Taubah : 103)

Lalu apa hukumnya mendoakan orang yang menyerahkan zakat tersebut ?

Tentang masalah ini, dijelaskan oleh As-Syaikh Al-Atsyuuby rohimahulloh dalam Syarh An-Nasa’i (22/132) sebagai berikut :

“Para ulama berbeda pendapat tentang hukum mendoakan orang-orang yang bershodaqoh (yakni yang membayar zakat). Jumhur ulama berpendapat, mendoakan orang yang menyerahkan zakat hukumnya adalah sunnah (mustahab), bukan hal yang wajib.

Para ulama Ahlud Dhohir (Dhohiriyyah) berpendapat wajibnya hal itu. Imam An-Nawawi rohimahulloh berkata : “Dengan ini pula sebagian sahabat-sahabat kami (yakni para ulama Syafi’iyyah, edt.) berpendapat. Demikianlah seperti yang diriwayatkan dari Abu Abdillah Al-Hanathi. Mereka bersandar (berhujjah) dengan perintah yang disebutkan dalam ayat tersebut di atas.

Jumhur ulama berkata (sebagai jawaban atas dalil yang dipegang oleh para ulama dhohiriyyah tersebut di atas, edt.) : “Perintah (seperti yang disebutkan pada ayat tersebut di atas, edt.) menurut kami, adalah untuk menunjukkan sunnahnya (bukan wajib). Karena Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz bin Jabal rodhiyallohu ‘anhu atau sahabat yang lainnya untuk mengambil zakat (dari kaum muslimin), tetapi beliau tidak memerintahkan mereka untuk berdoa (yakni mendoakan mereka yang menyerahkan zakatnya, edt.).” (sampai disini penukilan). Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on الأحد 29 رمضان 1437 in Fiqh, Risalah

 

“HUKUM ZIAROH KUBUR & ADAB-ADABNYA”

 

kuburan 

Bila kita perhatikan fenomena yang ada di masyarakat kita, maka kita akan dapati ada satu adat (kebiasaan) yang rutin mereka lakukan, khususnya menjelang bulan Romadhon tiba, atau menjelang hari raya Idul Fithri. Apa itu ? Ya, ziaroh kubur. Khususnya ke makam atau kuburan kerabat yang telah meninggal dunia.

Ada yang sekedar mendoakan dan tabur bunga, adapula yang membaca Al-Qur’an di kuburan-kuburan tersebut dan kirim pahala bacaannya, ada yang menangisi kerabat yang telah meninggal dunia, dan masih banyak yang lainnya.

Maka berikut ini adalah pembahasan ringkas tentang Ziaroh Kubur, adab-adabnya dan tata caranya yang benar sesuai tuntunan syari’at Islam yang mulia ini. Tentunya, berdasarkan dalil-dalil yang shohih dari Al-Qur’an maupun dari Sunnah Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam. Ringkasnya adalah sebagai berikut :

PERTAMA : Ziaroh Kubur itu disyari’atkan, dengan tujuan untuk : Mengambil pelajaran dan mengingat-ingat kematian dan kehidupan akhirat, dan juga untuk mendoakan dan memohonkan ampunan untuk mayit.

Hal ini berdasarkan hadits Buroidah rodhiyallohu ‘anhu, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim no. 977, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

كنت نهيتكم عن زيارة القبور، فزوروها

“Dahulu aku melarang kalian dari ziaroh kubur. (Tetapi sekarang) maka ziaroh kuburlah kalian ….”

Dalam riwayat Imam At-Tirmidzi ada tambahan :

فإنها تذكر الأخرة

“Karena sesungguhnya ziaroh kubur itu akan mengingatkan pada kehidupan akhirat.” (HR Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya dengan sanad yang shohih)

KEDUA : Disunnahkannya ziaroh kubur itu, hukumnya sama antara kaum laki-laki dan wanita, berdasarkan keumuman perintah untuk berziaroh kubur dan tujuannya, seperti yang telah disebutkan di atas. (juga berdasarkan hadits Anas dalam Shohih Al-Bukhori no. 1283 dan Imam Muslim no. 926, lihat pula Al-Umdah (3/76) dan Ahkamul Janaiz hal. 178)

KETIGA : Ziaroh kubur itu boleh dilakukan kapan saja. Tidak ada waktu-waktu khusus yang diistemewakan untuk berziaroh kubur, kecuali bila ditunjukkan oleh dalil-dalil yang shohih. Jadi, apa yang biasa dilakukan masyarakat kita dan diikuti oleh keyakinan bahwa berziaroh kubur itu sangat dianjurkan dilakukan di awal romadhon atau menjelang hari raya Idul fithri, hal ini sesungguhnya tidak ada dasar dalil yang menunjukkannya.

KEEMPAT : Yang disunnahkan untuk dilakukan ketika berziaroh kubur adalah mendoakan mayit, diantaranya dengan mengucapkan salam untuknya.

Ini berdasarkan hadits Buroidah rodhiyallohu ‘anhu, dia berkata :

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يعلمهم إذا خرجوا إلى المقابر : السلام عليكم أهل الديار من المؤمنين والمسلمين ، وإنا إن شاء الله للاحقون، أسأل الله لنا ولكم العافية

“Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam mengajari mereka (yakni kaum muslimin) apabila mereka keluar menuju pemakaman (agar mengucapkan) : “Assalaamu ‘alaikum ahlad diyaar, minal mu’miniina wal muslimiin, wa innaa insya Allohu lalaahiquun, as-alullooha lana wa lakumul ‘aafiyah.” (Semoga keselamatan/kesejahteraan dilimpahkan kepada kalian wahai para penghuni kubur, dari kalangan orang-orang mu’min dan muslim, dan sesungguhnya kami insya Alloh akan menyusul kalian, aku memohon kepada Alloh agar memberikan ‘afiyah (kesejahteraan) untuk kami dan kalian.” (HR Imam Muslim dalam Shohih-nya no. 975)

Dan juga dalam hadits Aisyah rodiyallohu ‘anha, dia berkata : “Aku bertanya kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam : “Apa yang harus aku ucapkan apabila aku mendatangi (menziarahi) komplek kuburan Baqi’ (nama sebuah komplek kuburan yang ada di Madinah,edt.) ?” Nabi shollalloh ‘alaihi wa sallam menjawab :

قولي ؛ السلام عليكم أهل الديار من المؤمنين والمسلمين، يرحم الله المستقدمين منا والمستأخرين، وإنا إن شاء الله بكم للاحقون

“Ucapkanlah olehmu : “Assalaamu ‘alaikum ahlad diyaar minal mu’miniina wal muslimiin. Yarhamulloohul mustaqdimiina minnaa wal musta’khiriin, wa innaa insyaa Allohu bikum lalaahiquun.” (Semoga keselamatan dilimpahkan atas kalian wahai para penghuni kubur, dari kalangan orang-orang mu’min dan muslim. Semoga Alloh memberikan rahmat-Nya kepada orang-orang yang telah mendahului dari kita, dan juga orang-orang yang belakangan (yang akan menyusul). Dan sesunggunya kami insya Alloh akan menyusul kalian.”   (HR Imam Muslim dalam Shohih-nya  no. 974). Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on الاثنين 22 رمضان 1437 in Fiqh, Manhaj, Risalah

 

Rekaman Khutbah Jum’at : “KEUTAMAAN DZIKRULLOH.”

Berdzikir dengan Pengeras Suara

 

Saudaraku kaum Muslimin rohimakumulloh ……

Berikut ini adalah rekaman khutbah jum’at kemarin, yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah hafidzhohulloh di Masjid Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya, dengan tema sebagaimana judul tersebut di atas.

Dalam kesempatan khutbah ini, Ustadz memberikan nasehat tentang keutamaan Dzikrulloh (Berdzikir atau mengingat Alloh Ta’ala). Beliau menyebutkan beberapa dalil tentang keutaamaan dzikir kepada Alloh tersebut dan contoh-contohnya dan juga adab-adabnya.

Untuk mengetahui selengkapnya, silahkan anda mendengarkannya sendiri rekaman khutbah jum’at ini, atau dengan mendownloadnya dengan klik : ( DI SINI ) Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on السبت 20 رمضان 1437 in Al Ustadz Abu Ubaidah, Khutbah