RSS

[ Update ] “Bulan MUHARROM adalah bulan mulia dalam Islam, bukan bulan yang mendatangkan kesialan.”

 

Tanya : “Bagaimana sebenarnya pandangan Islam mengenai bulan Muharrom atau bulan Suro itu ? Kata banyak orang, bulan ini sering dianggap bulan yang mendatangkan kesialan, benarkah yang seperti itu?

Jawab :

Ketahuilah, dalam Islam, bulan Muharrom atau bulan Suro (menurut istilah orang Jawa) ini termasuk salah satu bulan diantara empat bulan yang digelari dengan Asy-hurul Hurum (bulan-bulan suci), karena di dalam bulan ini dilarang melakukan kedzoliman, apapun bentuknya. Bahkan pada masa orang-orang arab jahiliyyah dulu, bulan-bulan tersebut sudah dianggap sebagai bulan-bulan suci yang tidak boleh ternoda oleh pertikaian, pertumpahan darah dan berbagai kedzoliman lainnya.

Lalu Islam datang dan menetapkannya sebagai syari’at, sebagaimana dinyatakan oleh Alloh ta’ala dalam firman-Nya (yang artinya) :

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ (٣٦)

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Alloh adalah dua belas bulan, (yakni) di dalam ketetapan Alloh ketika Dia menciptakan langit dan bumi. Diantaranya (ada) empat bulan (suci). Itulah ketetapan agama yang lurus, maka janganlah menganiaya diri (berbuat dholim) dakam bulan yang empat itu.” (QS. At-Taubah : 36)

Empat bulan suci yang tersebut dalam ayat di atas adalah sebagaimana dijelaskan oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya sebagai berikut : “Sesungguhnya waktu itu berputar seperti asalnya di waktu Alloh menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan, diantaranya ada empat bulan cuci, tiga secara berturut-turut adalah Dzulqo’dzah, Dzulhijjah dan Muharrom, serta Rojab-nya Bani Mudhor, yang terletak diantara Jumadil Akhir dan Sya’ban.” (HR Imam Al-Bukhori no. 3025, 4144 dan 7009, Imam Muslim no. 1679)

Imam Al-Qurthubi rohimahuloh berkata : “Alloh Azza wa Jalla mengkhususkan penyebutan empat bulan suci ini dengan larangan berbuat dholim, (adalah) sebagai penghormatan bagi bulan-bulan tersebut, meskipun kedholiman itu sendiri dilarang di setiap zaman/waktu.” (Tafsir Al-Qurthubi, 7/87) Dan yang paling utama diantara keempat bulan itu adalah Bulan Muharrom, sebagaimana dikatakan oleh Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri rohimahulloh.

Menurut Imam As-Sakhowi rohimahulloh, bulan Muharrom disebut demikian karena dia adalah bulan yang disucikan (dari peryumpahan darah dan segala bentuk kedzoliman). Sedangkan Al-Imam Ibnu Katsir rohimahulloh berpendapat, bahwa Muharrom disebut/dinamai demikian adalah sebagai penegasan akan keharaman (perbuatan dholim di bulan itu), karena orang-orang arab ( di masa jahiliyyah) suka merubah-rubahnya, setahun (kadang) mereka menghalalkannya, tetapi setahun berikutnya mereka mengharamkannya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/339)

Demikianlah, dalil-dalil dan penjelasan tersebut di atas menunjukkan keutamaan bulan Muharrom sebagai salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam. Akan tetapi sangat disayangkan, sebagian kaum muslimin, terutama dalam mitos masyarakat jawa (kejawen), Bulan Muharrom atau yang mereka namakan Bulan Suro dianggap sebagai bulan yang sial atau naas, sehingga mereka tidak mau mengadakan acara-acara hajatan, seperti pernikahan, khitanan dan sebagainya. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on الخميس 20 ذو الحجة 1437 in Aqidah, Risalah

 

Rekaman Khutbah Jum’at : “ANJURAN BEKERJA & TERCELANYA MEMINTA-MINTA.”

 

Ikhwani fillah rohimaniyallohu wa iyyakum  …………..

Berikut ini adalah rekaman Khutbah Jum’at pekan lalu yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Abdirrohman Yoyok WN hafidzhohulloh di Masjid Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya, dengan tema sebagaimana disebutkan pada judul di atas.

Dalam khutbah ini, beliau mengingatkan kepada kita bahwa salah satu perkara yang diperintahkan dan disyari’atkan dalam agama kita ini adalah “bekerja”, yakni melakukan suatu usaha untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri dan juga keluarga kita. Dan juga agar kita tidak menjadi beban bagi orang lain, atau meminta-minta kepada orang lain.

Selanjutnya beliau menyebutkan dalil-dalil, baik dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah, tentang anjuran untuk bekerja dan mempunyai usaha dari hasil karya tangan kita sendiri, atau hasil jerih payah kita sendiri. Dan juga banyaknya dalil-dalil yang menunjukkan tercelanya perbuatan meminta-minta dan menjadi beban bagi orang lain.

Kemudian, dalam khutbah ini pula, ustadz juga mengingatkan kepada kita tentang berbagai amalan sholih dan amal ibadah (selain bekerja), yang juga bisa mendatangkan rejeki dan karunia Alloh pada kita. Apa saja itu ?

Untuk mengetahui isi khutbah ini selengkapnya, silahkan anda mendengarkannya sendiri, atau dengan mendownloadnya, dengan klik : ( DI SINI ) Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on الثلاثاء 18 ذو الحجة 1437 in Al Ustadz Abu Abdirrahman Yoyok, Khutbah

 

“LUASNYA RAHMAT ALLOH & KARUNIA-NYA KEPADA HAMBA-HAMBA-NYA.”

 

 

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

مَن جَآءَ بِٱلۡحَسَنَةِ فَلَهُۥ عَشۡرُ أَمۡثَالِهَاۖ وَمَن جَآءَ بِٱلسَّيِّئَةِ فَلَا يُجۡزَىٰٓ إِلَّا مِثۡلَهَا وَهُمۡ لَا يُظۡلَمُونَ ١٦٠

“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat, maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” (QS Al-An’am : 160)

Di dalam ayat yang mulia ini terdapat penjelasan tentang luasnya rahmat (kasih sayang) Alloh dan karunia-Nya kepada hamba-hamba-Nya, dan juga menunjukkan betapa besar keadilan-Nya.

Ya, Dia memberi balasan pahala atas amal-amal kebaikan, dengan melipatgandakannya sampai sepuluh kali lipatnya, atau sampai tujuh ratus kali lipatnya, bahkan berlipat-lipat sampai tak terhingga. Sedangkan balasan untuk amal-amal kejelekan, diberi balasan sesuai atau seimbang dengan besarnya kejahatan tersebut, atau justru Dia memaafkannya.

Sebagaimana dalam firman Alloh Ta’ala yang lainnya :

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَظۡلِمُ مِثۡقَالَ ذَرَّةٖۖ وَإِن تَكُ حَسَنَةٗ يُضَٰعِفۡهَا وَيُؤۡتِ مِن لَّدُنۡهُ أَجۡرًا عَظِيمٗا ٤٠

“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.” (QS An-Nisa’ : 40)

Ayat yang mulia tersebut di atas, memberikan penjelasan pada ayat yang lainnya yang masih mujmal (global), yaitu firman Alloh Ta’ala :

مَن جَآءَ بِٱلۡحَسَنَةِ فَلَهُۥ خَيۡرٞ مِّنۡهَاۖ وَمَن جَآءَ بِٱلسَّيِّئَةِ فَلَا يُجۡزَى ٱلَّذِينَ عَمِلُواْ ٱلسَّيِّ‍َٔاتِ إِلَّا مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٨٤

“Barangsiapa yang datang dengan (membawa) kebaikan, maka baginya (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan barangsiapa yang datang dengan (membawa) kejahatan, maka tidaklah diberi pembalasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan (seimbang) dengan apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS Al-Qoshshosh : 84)

Alloh Ta’ala juga berfirman :

مَن جَآءَ بِٱلۡحَسَنَةِ فَلَهُۥ خَيۡرٞ مِّنۡهَا وَهُم مِّن فَزَعٖ يَوۡمَئِذٍ ءَامِنُونَ ٨٩  وَمَن جَآءَ بِٱلسَّيِّئَةِ فَكُبَّتۡ وُجُوهُهُمۡ فِي ٱلنَّارِ هَلۡ تُجۡزَوۡنَ إِلَّا مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ٩٠

“Barangsiapa yang membawa kebaikan, maka ia memperoleh (balasan) yang lebih baik dari padanya, sedang mereka itu adalah orang-orang yang aman tenteram dari pada kejutan yang dahsyat pada hari itu (yakni hari kiamat). Dan barang siapa yang membawa kejahatan, maka disungkurkanlah muka mereka ke dalam neraka. Tiadalah kamu dibalasi, melainkan (setimpal) dengan apa yang dahulu kamu kerjakan.” (QS An-Naml : 89-90)

Kemudian dalam sebuah hadits Qudsi, bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam menyatakan : “Bahwa Alloh Ta’ala berfirman : Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on الثلاثاء 18 ذو الحجة 1437 in Aqidah, Manhaj, Risalah

 

Rekaman Khutbah Idul Adha 1437 H : “MENELADANI KETAATAN & PENGORBANAN NABI IBROHIM ‘ALAIHIS SALAM.”

 

Ikhwani fillah rohimaniyallohu wa iyyakum  …………..

Berikut ini adalah rekaman Khutbah Idul Adha yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Abdirrohman Yoyok WN  hafidzhohulloh di halaman Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya, dengan tema khutbah sebagaimana disebutkan pada judul di atas.

Dalam khutbah ini, beliau menyampaikan kepada kita bahwa pelaksanaan Ibadah Qurban yang kita lakukan ini, sesungguhnya tidak lepas dari ketokohan dan keteladanan dua orang hamba Alloh yang mulia, yakni Nabi Ibrohim dan Nabi Isma’il alaihimas sholatu was salam. Ketokohan dan keteladanannya tersebut, khususnya dalam hal ketundukan, kepatuhan dan ketaatan beliau berdua dalam melaksanakan apa saja yang diperitah oleh Alloh Ta’ala, baik perintah tersebut mengena terhadap dirinya, keluarganya maupun mengena kepada harta bendanya.

Sampai pun Alloh Ta’ala menyuruh Nabi Ibrohim ‘alaihis salam untuk menyembelih putranya sendiri, sebagai ujian ketaatan Nabi Ibrohim kepada Alloh Ta’ala, maka beliaupun tetap melaksanakannya dengan tanpa ragu sedikitpun.  

Demikianlah, Alloh Ta’ala terus menerus memberikan ujian demi ujian kepada Nabi Ibrohim ‘alaihis salam, dan semuanya dilaluinya dengan penuh keberhasilan melaksanakan ujian tersebut, sehingga Alloh Ta’ala pun menjadikan beliau sebagai “Imam” (pemimpin) bagi umat manusia, karena kesabarannya dan keyakinannya yang demikian besar terhadap Alloh Ta’ala.

Karena itu, sudah sepantasnya kita jadikan beliau sebagai teladan dan tokoh panutan, khususnya dalam hal ketaatan dan kepatuhannya terhadap segala perintah Alloh Ta’ala, dan khususnya lagi adalah besarnya pengorbanan beliau untuk meraih kecintaan dan keridhoan Aloh Ta’ala kepada beliau.

Untuk mengetahui selengkapnya kandungan khutbah Idul Adha ini, kami persilahkan Anda mendengarkan rekaman khutbah ini sendiri hingga akhir, atau dengan mendownloadnya, dengan klik : ( DI SINI ) Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on الخميس 13 ذو الحجة 1437 in Al Ustadz Abu Abdirrahman Yoyok, Khutbah

 

Rekaman Khutbah Jum’at : “BERQURBAN & BERSEDEKAHLAH, ALLOH TIDAK AKAN MENYIA-NYIAKANNYA.”

Hasil gambar untuk harta

 

Ikhwani fillah rohimaniyallohu wa iyyakum  …………..

Berikut ini adalah rekaman Khutbah Jum’at pekan lalu yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Abdirrohman Yoyok WN hafidzhohulloh di Masjid Al-Furqon, Jln. Raya Manukan Wetan Tandes Surabaya, dengan tema sebagaimana disebutkan pada judul di atas.

Dalam khutbah ini, beliau mengingatkan kepada kita pentingnya meningkatkan ibadah di bulan Dzulhijjah, khususnya ibadah yang paling agung, yakin Ibadah Qurban, yakni melakukan sembelihan hewan-hewan qurban, dalam rangka beribadah dan mendekatkan diri kepada Alloh.

Beliau mengingatkan, bahwa beribadah Qurban, bukan maknanya kita mempersembahkan sembelihan qurban sebagai “sesajian” bagi Alloh Ta’ala. Atau mempersembahkan makanan bagi Alloh Ta’ala, seperti yang dilakukan oleh orang-orang musyrik. Sekali-kali tidak demikian. Hal itu karena Alloh Ta’ala itu adalah Maha Kaya, tidak butuh rejeki dan makanan dari para hamba-Nya, tetapi hamba-Nya-lah yang butuh kepada pertolongan-Nya.

Alloh Ta’ala berfirman :

لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقۡوَىٰ مِنكُمۡۚ ٣٧ 

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya….” (QS Al-Hajj : 37)

Alloh Ta’ala juga berfirman :

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ٥٦  مَآ أُرِيدُ مِنۡهُم مِّن رِّزۡقٖ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطۡعِمُونِ ٥٧  إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ذُو ٱلۡقُوَّةِ ٱلۡمَتِينُ ٥٨ 

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS Adz-Dzariyaat : 56-58)

Kemudian, dalam khutbah ini pula, ustadz mengingatkan kepada kita tentang “kewajiban menunaikan ibadah Qurban” ini bagi mereka yang diberi banyak rejeki oleh Alloh Ta’ala, serta ancaman bagi mereka yang meninggalkannya. Beliau juga mengingatkan tentang tata cara berqurban sebagaimana qurban di jaman Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, juga mengingatkan tentang keutamaan Berpuasa di Hari Arofah, agar tidak diremehkan, mengingat besarnya keutamaan yang ada di dalamnya. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on الثلاثاء 11 ذو الحجة 1437 in Al Ustadz Abu Abdirrahman Yoyok, Khutbah

 

Rekaman Khutbah Jum’at : “MAKANLAH DARI SEMBELIHAN HEWAN TERNAK SEBAGAIMANA YANG DIPERINTAHKAN, DAN JANGAN BERBICARA TENTANG AGAMA ALLOH TANPA ILMU.”

Hasil gambar untuk matahari tenggelam di pantai

 

Kaum Muslimin rohimaniyallohu wa iyyakum ……

Berikut ini adalah rekaman Khutbah Jum’at pekan lalu yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah hafidzhohulloh di Masjid Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya, dengan tema sebagaimana disebutkan pada judul di atas.

Dalam khutbah ini, Ustadz menganjurkan, agar meningkatkan ibadah dan amal sholih, khususnya pada hari-hari yang ada pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah. Karena beramal sholih pada di hari-hari tersebut, lebih dicintai oleh Alloh Ta’ala bila dibandingkan dengan amalan di hari-hari yang lainnya, sebagaimana hal itu telah disampaikan oleh Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam hadits-haditsnya yang shohih.   

Dalam khutbah ini, beliau menyampaikan dan memberikan penjelasan secukupnya, apa yang telah difirmankan oleh Alloh Ta’ala dalam surat Al-Hajj, ayat 27 sampai 30. Selanjutnya, beliau memberikan beberapa faedah penting dari ayat-ayat tersebut.

Untuk mengetahui selengkapnya, silahkan Anda mendengarkan sendiri rekaman khutbah jum’at ini sampai akhir, atau dengan mendowloadnya, dengan klik : ( DI SINI ) Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on الثلاثاء 11 ذو الحجة 1437 in Al Ustadz Abu Ubaidah, Khutbah

 

Rekaman Khutbah Jum’at : “IDUL QURBAN, SALAH SATU TELADAN YANG ADA PADA KISAH PARA NABI.”

Hasil gambar untuk menara masjid

 

Ikhwani fillah rohimaniyallohu wa iyyakum  …………..

Berikut ini adalah rekaman Khutbah Jum’at pekan lalu yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Abdirrohman Yoyok WN hafidzhohulloh di Masjid Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya, dengan tema sebagaimana disebutkan pada judul di atas.

Dalam khutbah ini, beliau mengingatkan kepada kita tentang salah satu kisah yang disebutkan di dalam Al-Qur’an, yaitu tentang kisah para Nabi dan Rosul (utusan) Alloh, khususnya tentang sebagian kisah Nabi Ibrohim dan Nabi Isma’il alaihimas sholatu was salam. Yang mana, dari kisah kedua Nabi dan Rosul Alloh tersebut itulah, disyari’atkannya kepada kita semua untuk menunaikan Ibadah Qurban, yakni melakukan penyembelihan hewan-hewan Qurban, dalam rangka untuk menunaikan perintah Alloh Ta’ala dan untuk taqorrub (mendekatkan diri) kita kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala.

Beliau menyampaikan, bahwa semua kisah-kisah di dalam Al-Qur’an, tidaklah sama dengan kisah-kisah lainnya. Kisah yang disebutkan di dalamnya bukanlah kedustaan, bukan pula khayalan, bukan pula seperti dongeng sebelum tidur. Tetapi kisah yang di dalamnya adalah kisah yang mengandung pelajaran, nasehat, keteladanan, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, khususnya bagi mereka yang mau bersungguh-sungguh dalam meneladaninya.

Demikian pula tentang kisah Nabi Ibrohim dan Nabi Ismail alaihimas salam, di dalamnya terdapat banyak keteladanan dalam berbagai hal. Apa saja itu ? Untuk mengetahui selengkapnya, silahkan anda mendengarkannya sendiri atau dengan mendownloadnya, dengan klik : ( DI SINI ) Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on الخميس 06 ذو الحجة 1437 in Al Ustadz Abu Abdirrahman Yoyok, Khutbah

 

Rekaman Khutbah Jum’at : “JANGAN MENJADI IMMA’AH (ORANG YANG TIDAK PUNYA PENDIRIAN).”

Hasil gambar untuk menara masjid

 

Kaum Muslimin rohimakumulloh ……

Berikut ini adalah rekaman Khutbah Jum’at pekan lalu yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah hafidzhohulloh di Masjid Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya, dengan tema sebagaimana disebutkan pada judul di atas.

Dalam khutbah ini, Ustadz Abu Ubaidah menyampaikan firman Alloh Ta’ala, yang tersebut dalam Surat An-Nahl ayat 76, sebagai berikut :

وَضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلٗا رَّجُلَيۡنِ أَحَدُهُمَآ أَبۡكَمُ لَا يَقۡدِرُ عَلَىٰ شَيۡءٖ وَهُوَ كَلٌّ عَلَىٰ مَوۡلَىٰهُ أَيۡنَمَا يُوَجِّههُّ لَا يَأۡتِ بِخَيۡرٍ هَلۡ يَسۡتَوِي هُوَ وَمَن يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَهُوَ عَلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ ٧٦

“Dan Allah membuat (pula) perumpamaan: dua orang lelaki yang seorang bisu, tidak dapat berbuat sesuatupun dan dia menjadi beban atas penanggungnya, ke mana saja dia disuruh oleh penanggungnya itu, dia tidak dapat mendatangkan suatu kebajikanpun. Samakah orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan, dan dia berada pula di atas jalan yang lurus.” (QS An-Nahl : 36)

Ayat tersebut di atas, menyebutkan perumpamaan tentang Al-Imma’ah (orang yang “tidak punya pemikiran dan pendirian”). Yakni yang selalu mengikuti ucapan manusia dan pendapat manusia, tanpa dia mengetahui benar ataupun tidaknya.

Dalam hadits yang shohih, Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam juga mengingatkan model manusia seperti tersebut di atas, yaitu Al-Imma’ah. Beliau mencela akhlak seperti itu. Yakni, orang-orang yang tidak punya pendirian, selalu mengikuti dan mengekor pada setiap seruan ataupun ajakan, baik ataupun buruk. Padahal, Alloh Ta’ala memberikan bekal kepada manusia dengan akal, dengan ilmu dan juga bimbingan syari’at-Nya, dan sebagainya, agar selalu memikirkan apa saja yang akan dilakukannya. Agar dia tidak tersesat, dan tidak menyesal di kemudian hari.

Selanjutnya, ustadz juga menjelaskan lebih luas tentang apa akibat jelek dari orang-orang yang punya sifat seperti tersebut di atas. Untuk mengetahui selengkapnya, silahkan Anda mendengarkan sendiri rekaman khutbah jum’at ini sampai akhir, atau dengan mendowloadnya, dengan klik : ( DI SINI ) Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on السبت 01 ذو الحجة 1437 in Al Ustadz Abu Ubaidah, Khutbah

 

Rekaman Khutbah Jum’at : “BERSUNGGUH-SUNGGUHLAH BERAMAL SHOLIH DI BULAN DZULHIJJAH.”

Hasil gambar untuk menara masjid

 

Ikhwani fillah rohimaniyallohu wa iyyakum  …………..

Berikut ini adalah rekaman Khutbah Jum’at pekan lalu yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Abdirrohman Yoyok WN hafidzhohulloh di Masjid AL-HIKMAH, Jln. Tanjungsari II Surabaya, dengan tema sebagaimana disebutkan pada judul di atas.

Beberapa hari lagi, kita akan memasuki bulan Dzulhijjah. Maka dalam khutbah ini, Ustadz Yoyok hafidzhohulloh menyampaikan kepada kita tentang beberapa hukum dan amalan yang harus kita perhatikan, terkait dengan bulan Dzulhijjah, khususnya amalan di sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah nanti.

Ya, hal itu karena disebutkan dalam hadits Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhuma, bahwa Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah menyatakan, bahwa amalan di sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah itu lebih utama, lebih besar pahalanya dan lebih dicintai di sisi Alloh daripada amalan yang dilakukan pada hari-hari yang lainnya. Karena itu, tidak sepantasnya kita menyia-nyiakannya. 

Beliau juga menyebutkan dan memperingatkan kepada segenap kaum muslimin, tentang larangan yang ditujukan bagi orang-orang yang akan berqurban, khususnya di sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah tersebut. Karena itu jangan dilanggar.

Beliau pun juga menyebutkan tentang keutamaan amalan sunnah yang mesti kita hidupkan, yaitu berpuasa sunnah pada tanggal 9 Dzulhijjah, yang kita kenal dengan Puasa Arofah. Fadhilahnya sangat besar, karena itu jangan disia-siakan atau diremehkan. Dan masih banyak hal lain yang penting untuk diketahui dari apa yang disampaikan dalam khutbah jum’at yang ringkas ini. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on الأربعاء 28 ذو القعدة 1437 in Al Ustadz Abu Abdirrahman Yoyok, Khutbah

 

Hukum Seputar Qurban (5) : “BOLEHKAH MENYEMBELIH QURBAN ATAS NAMA ORANG YANG TELAH MENINGGAL DUNIA ?”

Hasil gambar untuk MENARA MASJID

 

Tanya : “Bolehkah kita menyembelih hewan qurban atas nama orang tua kita atau kerabat kita yang telah meninggal dunia ?”

Jawab :

Tentang masalah ini, dijawab dan dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin rohimahulloh sebagai berikut :

“(Berqurban itu) disunnahkan dari orang yang masih hidup. Oleh karena itulah, Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berqurban untuk Khodijah rodhiyallohu ‘anha, istri beliau yang paling dicintainya, tidak juga untuk Hamzah rodhiyallohu ‘anhu, paman yang beliau cintai, tidak pula untuk putri-putri beliau yang telah wafat semasa hidup beliau, padahal mereka semua adalah bagian dari beliau. Beliau hanya berqurban atas nama diri dan keluarga beliau (yang masih hidup). Dan barangsiapa memasukkan orang yang telah meninggal dunia pada keumuman (keluarganya), maka pendapatnya masih bisa ditoleransi. Tetapi berqurban atas nama orang yang telah meninggal dunai itu statusnya hanya mengikut, bukan berdiri sendiri. Oleh karena itu, tidak disyari’atkan berqurban atas nama orang yang telah meninggal secara tersendiri, karena tidak warid (datang) riwayat (yang shohih) dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam.”

(As-Syarhul Mumti’, 3/423-424 dan 389-390)

Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin rohimahulloh juga mengatakan : “Berqurban atas nama orang yang telah meninggal dunia itu diperbolehkan pada keadaan berikut : Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on الجمعة 23 ذو القعدة 1437 in Fiqh, Risalah

 

Hukum Seputar Qurban (4) : “ADAB-ADAB & SUNNAH-SUNNAH YANG HARUS DIPERHATIKAN KETIKA MENYEMBELIH QURBAN.”

Hasil gambar untuk masjid

 

Tanya : “Apa saja adab-adab dan sunnah-sunnah yang harus diperhatikan oleh orang yang berqurban, khususnya ketika dia menyembelih qurbannya sendiri ?”

Jawab :

Adab-adab yang harus diperhatikan oleh orang yang akan menyembelih qurban, diantaranya adalah sebagai berikut :

PERTAMA : Bila seseorang mampu, hendaknya dia(orang yang berqurban itu) menyembelih hewan sembelihannya dengan kedua tangannya sendiri (tidak diwakilkan kepada orang lain).

Sebagaimana dijelaskan dalam hadits Anas bin Malik rodhiyallohu ‘anhu, dia berkata :

“Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam berqurban dengan dua ekor kambing kibas (domba) yang warnanya putih bercampur hitam (dan bertanduk), aku melihat beliau meletakkan telapak kakinya pada sisi tubuhnya, beliau mengucapkan basmalah dan bertakbir, beliau menyembelih keduanya dengan tangan beliau sendiri.” (HR Imam Al-Bukhori no. 5565 dan Imam Muslim no. 1966)

Imam An-Nawawi rohimahulloh menjelaskan hadits tersebut di atas dengan mengatakan : “Disunnahkan bagi orang yang berqurban untuk menyembelih sendiri hewan qurbannya, dan tidak mewakilkan sembelihannya tersebut (kepada orang lain) kecuali karena udzur.”

Guru kami, Syaikh Muhammad bin Ali bin Hizam hafidzhohulloh mengatakan : “Para ahli ilmu (ulama) menyunnahkan bagi orang yang berqurban untuk menyembelih sendiri (hewan qurbannya), karena Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam menyembelih sendiri (hewan qurbannya). Mereka juga mengatakan : “Jika hal itu diwakilkan kepada salah seorang muslim, maka hal itu boleh tanpa adanya khilaf (perbedaan pendapat).” Hanya saja mereka berbeda pendapat bila diwakilkan kepada seorang kafir dzimmi…… (lalu beliau menyebutkan perbedaan pendapat para ulama dalam masalah ini).” (Fathul ‘Allam, 5/538-539)

KEDUA : Dibolehkan menambahkan lafadz Takbir setelah Basmalah

Dalilnya sebagaimana dalam hadits Anas rodhiyallohu ‘alaihi yang telah disebutkan diatas :

“Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam berqurban dengan dua ekor kambing kibas (domba) yang warnanya putih bercampur hitam (dan bertanduk), aku melihat beliau meletakkan telapak kakinya pada sisi tubuhnya, beliau mengucapkan basmalah dan bertakbir, beliau menyembelih keduanya dengan tangan beliau sendiri.” (HR Imam Al-Bukhori no. 5565 dan Imam Muslim no. 1966)

Disebutkan dalam Imam Muslim (no. 1966) tersebut, beliau mengucapkan :“Bismillaahi, wallohu akbar.”(dengan menyebut nama Alloh, dan Alloh itu Maha Besar)

Boleh juga mengucapkan : ) اللهم لك و منك تقبل مني( , “Ya Alloh, ini untuk-Mu dan dari-Mu, terimalah (qurban) dariku.” 

Hal ini berdasarkan hadits Jabir dalam Sunan Abi Dawud (no. 2795), dan hadits Abu Huroiroh serta Aisyah rodhiyallohu ‘anhuma, sebagaimana dalam Sunan Al-Baihaqi (9/281), hadits ini Hasan bi Syawahidih.  (lihatFathul ‘Allam, 5/522)

Al-Imam Ibnu Qudamah rohimahulloh mengatakan : “Tidak ada khilaf (perselisihan di kalangan para ulama) tentang disunnahkannya (mengucapkan) takbir bersama dengan tasmiyyah (bacaan basmalah), dan tidak ada khilaf pula bahwa tasmiyyah itu sudah cukup (sah) meskipun tanpa takbir.” (lihatAl-Mughni (13/390), dinukil secara makna) Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on الخميس 22 ذو القعدة 1437 in Fiqh, Risalah

 

Rekaman Khutbah Jum’at : “AMAL-AMAL SHOLIH YANG BISA MENDATANGKAN REJEKI.”

Hasil gambar untuk ibadah

 

Ikhwani fillah rohimaniyallohu wa iyyakum  …………..

Berikut ini adalah rekaman Khutbah Jum’at pekan lalu yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Abdirrohman Yoyok WN hafidzhohulloh di Masjid NURUL HUDA, Jln. Jagir Sidoresmo III no. 2-4 Surabaya, dengan tema sebagaimana disebutkan pada judul di atas.

Dalam khutbah ini, beliau menyampaikan kepada kita bahwa salah satu dari Nama-Nama Alloh Ta’ala Yang Mulia (yakni Al-Asmaul Husna) adalah AR-ROZZAAQ, yang artinya adalah “Yang Maha Pemberi Rejeki”, di tangan-Nya-lah kunci-kunci semua rejeki, dan Dia-lah yang menanggung rejeki seluruh makhluk-Nya (sebagaimana yang ditunjukkan dalam firman Alloh Ta’ala di Surat Huud ayat ke-6)

Hal itu menunjukkan, bahwa semua rejeki hamba-Nya dan seluruh makhluk-Nya adalah ditanggung dan dijamin oleh Alloh Ta’ala. Akan tetapi meskipun demikian, rejeki dari Alloh Ta’ala itu tidak serta merta langsung diturunkan dari langit begitu saja, tetapi tentu ada jalan dan usaha yang harus kita tempuh, yang ini merupakan salah satu sebab untuk mendapatkan bagian rejeki tersebut. Apakah itu dengan bekerja dan berusaha dengan segala bentuknya, ataupun yang lainnya.

Sebab lainnya masih banyak. Diantaranya adalah dengan kita melakukan berbagai amal sholih dan ketaatan kepada Alloh Ta’ala. Ya, pada kesempatan khutbah ini, Ustadz memberikan penjelasan kepada kita, amal sholih apa saja yang bisa kita lakukan, yang dengannya insya Alloh bisa mendatangkan rejeki dari Alloh Ta’ala. Apa sajakah itu ?

Untuk mengetahui selengkapnya, kami persilahkan Anda mendengarkan rekaman khutbah ini sendiri atau dengan mendownloadnya, dengan klik : ( DI SINI ) Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on الاثنين 19 ذو القعدة 1437 in Al Ustadz Abu Abdirrahman Yoyok, Khutbah

 

Hukum Seputar Qurban (3) : “HAL-HAL YANG DIWAJIBKAN BAGI ORANG YANG BERQURBAN.”

Hasil gambar untuk menara masjid

 

Tanya : “Adakah perkara-perkara yang “diwajibkan” bagi orang yang berqurban, khususnya ketika dia berniat akan berqurban ?”

Jawab :

Ketahuilah, diantara kewajiban-kewajiban yang harus diperhatikan dan dilakukan oleh orang yang hendak berqurban adalah sebagai berikut :

PERTAMA : Orang yang hendak berqurban, apabila telah memasuki sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah, tidak boleh baginya untuk menghilangkan sedikitpun dari rambut yang tumbuh pada tubuhnya, atau memotong kukunya.

Hal ini berdasarkan sebuah hadits dari Ummu Salamah rodhiyallohu ‘anha, bahwa Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إذا دخلت العشر وأراد أحدكم أن يضحي فلا يمس من شعره وبشره شيئا (وفي لفظ لمسلم : من كان له ذبح يذبحه، فإذا أهل هلال ذي الحجة فلا يأخذن من شعره ولا من أظفاره شيئا حتى يضحي)

“Apabila telah masuk sepuluh hari (pertama di bulan Dzulhijjah), dan salah seorang dari kalian berkeinginan untuk berqurban, maka janganlah dia menyentuh (yakni mengambilnya dengan mencukurnya, mencabutnya atau memotongnya, edt.) sedikitpun dari rambutnya dan kulitnya.”

Dalam lafadz yang lainnya juga dalam riwayat Imam Muslim :“Barangsiapa mempunyai (hewan) sembelihan yang akan dia sembelih (untuk qurban), maka apabila telah muncul hilal (bulan sabit tanggal satu) dari hilal Dzulhijjah, maka janganlah dia mengambil sedikitpun dari rambutnya dan juga kukunya, hingga dia menyembelih qurbannya.” (HR Imam Muslim no. 1977)

Para ulama berbeda pendapat tentang apa hukum larangan dalam hadits tersebut di atas.

Sebagian ulama berpendapat haramnya hal tersebut, ini adalah pendapatnya Sa’id bin Al-Musayyib, Robi’ah, Ahmad, Ishaq, Dawud dan sebagian sahabat-sahabat As-Syafi’i.

Sebagian lainnya berpendapat hukumnya makruh tanzih (hanya makruh saja, tidak sampai pada derajat haram), ini adalah pendapatnya Imam As-Syafi’i dan mayoritas sahabat-sahabatnya (yakni para ulama yang semadzhab dengan beliau).

Sebagian lainnya berpendapat hukumnya tidak makruh, ini adalah pendapatnya Imam Malik (beliau punya beberapa pendapat dalam masalah ini) dan Abu Hanifah. Imam Malik juga berpendapat dimakruhkannya hal tersebut. Beliau juga pendapat lainnya, yaitu berpendapat hukumnya diharamkan pada sembelihan qurban yang hukumnya tathowwu (sunnah saja), tetapi tidak harom bila sembelihannya itu wajib, ini adalah pendapatbeliau sebagaimana yang diceritakan oleh Imam Ad-Darimi rohimahulloh.

(lihatAl-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab (8/392) karya Imam An-Nawawi rohimahulloh, dan Syarhus Sunnah (4/348) karya Imam Al-Baghowi rohimahulloh)

Lalu mana yang rojih (kuat dan terpilih) dari pendapat-pendapat tersebut di atas ? Al-Imam As-Syaukani rohimahulloh berkata : “Yang nampak benar adalah orang yang berpendapat haramnya (mengambil/menghilangkan sedikitpun dari rambut atau kukunya) bagi orang yang akan berqurban…..” (Nailul Author, 3/475)

Guru kami, Syaikh Abu Abdirrohman Yahya bin Ali Al-Hajuri hafidzhohulloh menegaskan : “Dengan ini kita ketahui, bahwa pendapat yang menyatakan haromnya hal tersebut adalah pendapat yang shohih (benar),dikarenakan dhohirnya dalil-dalil yang dijadikan pegangan para a’immah (para ulama) rohimahumulloh yang berpendapat dengan pendapat ini.”(At-Tajliyyah li Ahkamil Hadyi wal Udh-hiyyah, hal. 42) Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on الاثنين 19 ذو القعدة 1437 in Fiqh, Risalah

 

Rekaman Khutbah Jum’at : “URGENSI DOA & ADAB-ADAB DALAM BERDOA KEPADA ALLOH.”

Hasil gambar untuk berdoa

 

Ikhwani fillah rohimaniyallohu wa iyyakum  …………..

Berikut ini adalah rekaman Khutbah Jum’at pekan lalu yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Abdirrohman Yoyok WN hafidzhohulloh di Masjid Al-Amin, Perumnas Kamal – Bangkalan Madura, dengan tema sebagaimana disebutkan pada judul di atas.

Dalam khutbah ini, beliau mengingatkan kepada kita tentang urgensi (pentingnya) sebuah “doa” dalam kehidupan seorang muslim. Ya, hal itu karena doa mempunyai kedudukan yang sangat mulia dalam agama Islam ini. Dan doa juga merupakan perkara ibadah yang diperintahkan oleh Alloh Ta’ala agar kita menunaikannya. Demikian pula, doa adalah bukti dan tanda yang menunjukkan “ketergantungan” seorang hamba kepada Robb-nya (yakni, dia sangat membutuhkan pertolongan untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagi dirinya, ataupun berlindung dari apa yang dia takutkan akan menimpa kepada dirinya). 

Orang yang berdoa kepada Alloh, dia tidak akan merugi dan tidak akan pernah kecewa. Karena Alloh pasti akan mengabulkan permohonannya, apapun bentuknya. Doa juga adalah perkara yang selalu kita butuhkan, kapan saja, baik di saat menghadapi berbagai permasalahan ataupun belum menghadapinya. 

Kemudian dalam khutbah ini juga, dijelaskan tentang bagaimana adab-adab berdoa kepada Alloh Ta’ala, agar doa kita benar-benar dikabulkan oleh Alloh Ta’ala. Apa saja itu ? Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on الأربعاء 14 ذو القعدة 1437 in Al Ustadz Abu Abdirrahman Yoyok, Khutbah

 

Hukum Seputar Qurban (2) : “SYARAT-SYARAT YANG HARUS DIPENUHI BAGI ORANG YANG BERQURBAN.”

Hasil gambar untuk menara masjid

 

Tanya : “Adakah Syarat-Syarat yang harus dipenuhi bagi orang yang berqurban, sehingga qurbannya menjadi sah ?”

Jawab :

Ya, agar ibadah qurban kita menjadi ibadah yang diridhoi oleh Alloh dan diterima-Nya, sepantasnya bagi orang yang berqurban untuk memperhatikan syarat-syarat berqurban, diantaranya adalah sebagai berikut :

Pertama : Ikhlas karena mengharap Wajah-Nya

Hal itu karena berqurban adalah suatu ibadah, dan termasuk syarat sahnya suatu ibadah adalh ikhlas, yakni semata-mata mengharap keridhoan-Nya dan pahala dari-Nya. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ (٥)

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus.”(QS Al-Bayyinah : 5)

Alloh Ta’ala juga berfirman :

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ (٣٧) 

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu.Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al-Hajj : 37)

Kedua : Hewan yang dijadikan qurban adalah hewan-hewan yang telah ditentukan oleh Alloh Ta’ala, yang berupa tiga jenis hewan-hewan ternak.

Yang dimaksud adalah Onta, Sapi dan Kambing, baik yang jenisnya jantan maupun betina.Dan tidak sah qurban dengan hewan-hewan yang selainnya. Berdasarkan firman Alloh Ta’ala :

أُحِلَّتْ لَكُمْ بَهِيمَةُ الأنْعَامِ

“Dihalalkan bagimu binatang ternak,…….” (QS Al-Maidah : 1)

Juga firman Alloh Ta’ala :

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الأنْعَامِ فَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ (٣٤)

“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, Maka Tuhanmu ialah Tuhan yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).” (QS Al-Hajj : 34)

Al-Imam An-Nawawi rohimahulloh berkata : “Ini adalah perkara ijma’ (yang telah disepakati oleh para ulama, yakni bahwa qurban itu dengan binatang ternak tertentu, yang berupa onta, sapi atau kambing, edt.).” (Roudhotut Tholibin, 3/193)

Para ulama lain yang juga menukilkan adanya ijma’ dalam permasalahan ini adalah : Ibnu Abdil Barr rohimahulloh dalam At-Tamhid (23/188), Ibnu Hazmrohimahulloh dalam Marotibul Ijma’ (hal. 42), Ibnu Rusy rohimahulloh dalam Bidayatul Mujtahid (5/475) dan (6/174), dan yang lainnya.

Imam An-Nawawi rohimahulloh berkata : “Para ulama sepakat bahwa berqurban itu tidaklah sah dengan selain onta, sapi dan kambing. Kecuali apa yang diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir dari Al-Hasan bin Sholih, bahwa dia berkata : “Boleh berqurban dengan sapi liar untuk tujuh orang dan seekor kijang untuk satu orang. Dawud Ad-Dhohiri juga berpendapat seperti itu, khususnya tentang sapi liar.” Imam An-Nawawi menolak pendapat ini dengan berkata : “(Yang benar), tidak sah berqurban dengan sapi liar.” (Syarh Shohih Muslim, pada hadits 1963).

Guru kami yang mulia, Syaikh Al-Muhaddits Yahya bin Ali al-Hajuri hafidzohulloh ta’ala juga berkata : “Yang shohih (benar), tidak sah berqurban dengan sapi liar. Sasaran pembicaraan (dalam Al-Qur’an) tentang hewan-hewan ternak, adalah hewan-hewan yang Alloh jadikan sebagai kepemilikan seseorang (yakni yang dimiliki seseorang, jadi bukan yang liar).Imam An-Nawawi berpendapat seperti itu pula….” (At-Tajliyyah li Ahkamil Hadyi wal Udh-hiyyah, hal. 16) Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on الثلاثاء 13 ذو القعدة 1437 in Fiqh, Risalah

 

Hukum Seputar Qurban (1) : “APA HUKUMNYA BERQURBAN ITU ?”

Hasil gambar untuk menara masjid

 

Tanya : “Apa Hukum-nya berqurban itu ?”

Jawab :

Dalam masalah ini para ulama berbeda pendapat. Ada yang berpendapat bahwa hukumnya adalah wajib. Ini adalah pendapatnya Al-Laits, Abu Hanifah, Al-Auza’I, Ats-Tsauri dan Imam Malik dalam salah satu pendapatnya.

Dalilnya adalah hadits Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu, bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

من كان له سعة ولم يضح فلا يقربن مصلانا

“Barangsiapa mempunyai kelapangan (rejeki) tetapi dia tidak berqurban, maka janganlah dia mendekati tempat sholat kami.” (HR Imam Ahmad (2/321), Ibnu Majah no. 3123, dan Al-Hakim (2/389) dan (4/231-232) ).

Jalan hadits ini berputar pada Abdulloh bin ‘Ayyasy Al-Qotbany, dari Al-A’roj, dari Abu Huroiroh. Para ulama berbeda pendapat tentang apakah hadits ini marfu’ (terangkat sampai Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam) ataukah  mauquf (hanya dari perkataan sahabat yang meriwayatkan hadits ini saja). Zaid bin Al-Habbab dan Abdulloh bin Yazid Al-Muqri’ meriwayatkan hadits ini dari Abdulloh bin ‘Ayyasy secara marfu’. Sedangkan Ibnu Wahab meriwayatkan dari Abdulloh bin ‘Ayyasy secara mauquf. Barangkali kesalahan hadits ini berasal dari Abdulloh bin ‘Ayyasy, karena dia adalah perowi yang dho’if.

Ibnu Abdil Hadi dalam kitabnya At-Tanqih merojihkan mauqufnya hadits tersebut, sebagaimana dalam Nashbur Royah (4/207), beliau berkata setelah menyebutkan perselisihan seputar hadits tersebut : “Demikian pula seperti yang diriwayatkan oleh Ja’far bin Robi’ah dan Ubaidillah bin Abi Ja’far, dari Al-A’roj, dari Abu Huroiroh secara mauquf. Inilah yang menyerupai kebenaran.”

Al-Hafidz dalam Fathul Bari (Bab pertama dari Kitab Al-Adhohy) juga berkata : “Akan tetapi para ulama berselisih pendapat tentang marfu’ dan mauqufnya (hadits tersebut). Sedangkan mauquf, ini lebih menyerupai/mendekati kebenaran.Demikianlah seperti yang dikatakan oleh Ath-Thohawy dan yang selainnya.”

Dari pembahasan hadits seperti tersebut di atas, guru kami Syaikh Muhammad bin Ali bin Hizam hafidzhohulloh menyimpulkan :“Hadits ini dho’if secara marfu’, tetapi shohih secara mauquf.”

(Bulughul Marom no. 1347 , dengan tahqiq dan takhrij dari beliau, penerbit Darul Ashimah dan Maktabah Ibnu Taimiyyah, Dammaj, Yaman) Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on الخميس 08 ذو القعدة 1437 in Fiqh, Risalah

 

Rekaman Khutbah Jum’at : “URGENSI (PENTINGNYA) IBADAH DALAM KEHIDUPAN SEORANG MUSLIM.”

Hasil gambar untuk ruang masjid nabawi

 

Ikhwani fillah rohimaniyallohu wa iyyakum  …………..

Berikut ini adalah rekaman Khutbah Jum’at pekan lalu yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Abdirrohman Yoyok WN hafidzhohulloh di Masjid Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya, dengan tema sebagaimana disebutkan pada judul di atas.

Dalam khutbah ini, beliau mengingatkan kepada kita tentang urgensi (pentingnya) ibadah dalam kehidupan seorang muslim. Ya, hal itu karena sesungguhnya Alloh Ta’ala menciptakan kita di dunia ini, tentu untuk suatu tujuan yang agung dan besar. Apa itu ?

Ada dua hal yang disebutkan oleh Alloh Ta’ala dalam Al-Qur’an, yaitu sebagai “kholifah” (pemimpin) di muka bumi ini (sebagaimana dalam QS Al-Baqoroh : 30), dan juga sebagai seorang “hamba yang berkewajiban untuk beribadah hanya kepada-Nya” (sebagaimana hal itu dinyatakan dalam QS Adz-Dzariyaat : 56)

Tetapi kenyataannya, banyak diantara umat manusia, bahkan kaum muslimin itu sendiri tidak mengetahui tujuan tersebut, atau ada yang telah mengetahuinya, tetapi bermalas-malasan dalam menunaikan tugas sebagai hamba yang wajib beribadah kepada Alloh Ta’ala.

Maka dalam khutbah ini, dijelaskan tentang apa “urgensi” (pentingnya) ibadah bagi kehidupan setiap muslim. Apa saja itu ? Untuk mengetahui selengkapnya, silahkan mendengarkannya sendiri atau dengan mendownloadnya dengan klik : ( DI SINI ) Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on الأربعاء 07 ذو القعدة 1437 in Al Ustadz Abu Abdirrahman Yoyok, Khutbah

 

Taushiyyah Dari Beberapa Asatidz : “JANGAN BERPALING DARI MENUNTUT ILMU AGAMA, JANGAN SILAU DENGAN ILMU-ILMU DUNIA.”

 

Hasil gambar untuk kitab

 

Saudaraku kaum muslimin rohimakumulloh ……

Judul tersebut di atas, adalah sebagian dari isi taushiyyah (nasehat) yang disampaikan salah seorang asatidz (ustadz-ustadz) yang beberapa hari yang lalu, berkunjung di Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya.

Ya, hari Ahad, tanggal 26 Syawwal 1437 H atau bertepatan dengan tanggal 31 Juli 2016 kemarin, telah berkunjung ke Pondok Pesantren ini beberapa Asatidz dan rombongan, diantaranya : Al-Ustadz Abu Zakariya Harits Jabali (Yogyakarta), Al-Ustadz Abu Amr Bilal (Yogyakarta) dan Al-Ustadz Muhammad (Kediri).

Dan seperti biasanya, kehadiran ketiga ustadz tersebut tidak disia-siakan begitu saja. Maka kami meminta kepada ketiga ustadz tersebut untuk menyampaikan beberapa faedah berupa nasehat-nasehat ataupun pelajaran yang bermanfaat untuk seluruh santri dan pengurus pondok khususnya, dan juga masyarakat sekitar pondok pada umumnya, yang biasa ikut hadir dalam kajian umum ba’da sholat Maghrib.

Agar faedah dan manfaatnya lebih luas, maka berikut ini kami sampaikan di hadapan kaum muslimin semuanya, rekaman dari beberapa nasehat yang disampaikan oleh para asatidz tersebut. Diantaranya sebagai berikut :

Pertama : Taushiyyah dan Pelajaran dari Al-Ustadz Harits Jabali, dengan judul : “PENJELASAN DAN FAEDAH HADITS TENTANG NIAT.”

Kedua : Taushiyyah dan Pelajaran dari Al-Ustadz Abu Amr Bilal, dengan judul : “PENJELASAN DAN FAEDAH DARI SURAT AN-NISA’ AYAT 59.”

Ketiga : Taushiyyah dari Al-Ustadz Muhammad Kediri, dengan judul : “JANGAN BERPALING DARI MENUNTUT ILMU AGAMA, JANGAN SILAU DENGAN ILMU-ILMU DUNIA.”

Bagi anda yang ingin mendengarkan rekaman tersebut, atau ingin mendownloadnya, silahkan saja klik masing-masing judul taushiyyah tersebut. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on الثلاثاء 28 شوال 1437 in Aqidah, Manhaj, Muhadhoroh

 

Rekaman Khutbah Jum’at : “BERBUAT IHSAN-LAH, ALLOH TIDAK AKAN MENYIA-NYIAKANNYA.”

Hasil gambar untuk berbuat baik kepada orang lain

 

Kaum Muslimin rohimakumulloh …….

Berikut ini adalah rekaman khutbah jum’at pekan lalu di Masjid Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya, yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Abdirrohman Yoyok WN hafidzhohulloh, dengan tema khutbah seperti yang disebutkan pada judul tersebut di atas.

Dalam khutbah ini, Ustadz Yoyok menyampaikan, bahwa dalam banyak ayat-ayat Al-Qur’an, Alloh Ta’ala menyuruh kita untuk selalu berbuat IHSAN (berbuat baik), dan Alloh juga mengabarkan bahwa Dia pun mencintai hamba-hamab-Nya yang berbuat Ihsan tersebut, dan juga tidak akan menyia-nyiakan orang-orang yang berbuat ihsan.

Dan Ihsan itu bentuknya bermacam, baik itu berbentuk ihsan dalam beribadah kepada Alloh, juga Ihsan kepada sesama manusia, juga ihsan kepada binatang-binatang, atau kepada seluruh makhluk Alloh Ta’ala. Bahkan termasuk ihsan juga adalah ihsan terhadap diri sendiri.

Maka berbuat ihsanlah, niscaya Alloh Ta’ala akan membalas amal kita tersebut, dan Alloh pasti tidak akan menyia-nyiakannya.

Untuk mengetahui selengkapnya uraian khutbah yang ringkas tetapi sangat padat ini, maka silahkan anda mendengartkannya sendiri isi atau rekaman khutbah jum’at ini, atau dengan mendownloadnya, dengan klik : ( DI SINI ) Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on الأحد 27 شوال 1437 in Al Ustadz Abu Abdirrahman Yoyok, Khutbah

 

Rekaman Khutbah Jum’at : “YANG SEPANTASNYA DILAKUKAN SETELAH ROMADHON.”

Islamic Walpapers Gosha E Naat

 

Ikhwani fillah rohimakumulloh ……

Berikut ini adalah rekaman Khutbah Jum’at pekan lalu yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Abdirrohman Yoyok WN hafidzhohulloh, di Masjid Al-Hidayah Pertamina Surabaya, di Depo LPG Tanjung Perak, Jln Nilam Tanjung Perak Surabaya, dengan tema sebagaimana disebutkan pada judul di atas.

Dalam kesempatan khutbah ini, beliau mengingatkan kepada kita tentang apa yang sepantasnya tetap kita lakukan setelah bulan Romadhon berlalu.

Beliau mengingatkan, bahwa dengan berakhirnya bulan Romadhon, bukan berarti kita selesai dari ibadah kepada Alloh, atau selesai dari melakukan amal-amal ketaatan, lalu kembali mengumbar hawa nafsu dan syahwat kita. Tidak demikian ! Mengapa ? Ya, karena yang namanya ibadah kepada Alloh itu sifatnya adalah “berkesinambungan/berkelanjutan”, terus menerus berlangsung, tidak ada habisnya. Sampai kapan ? Ya, sampai kematian datang menjemput kita.

Prestasi ibadah yang telah kita raih sepanjang bulan Romadhon yang lalu itu, tidak sepantasnya untuk kita tinggalkan begitu saja, tetapi hendaknya justru kita pertahankan.

Beliau menyebutkan dalil-dalil tentang pentingnya istiqomah dan “istimror” (terus menerus/kontinyu) dalam melakukan amal-amal sholih dan ketaatan, baik di bulan Romadhon ataupun di luar bulan Romadhon.

Untuk mengetahui selengkapnya, silahkan mendengarkannya sendiri rekaman khutbah jum’at ini hingga tuntas, atau bila ingin mendownloadnya, silahkan klik : ( DI SINI ) Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on السبت 12 شوال 1437 in Al Ustadz Abu Abdirrahman Yoyok, Khutbah