(()) “ADAKAH DALIL YANG SHOHIH TENTANG PERAYAAN ISRO’ MI’ROJ ?”

Masjid Al-wustha, disinilah aku sering menghabiskan waktusenjaku ...

Tanya : “Mohon dijelaskan, adakah dalil-dalil yang shohih tentang Perayaan Isro’ dan Mi’roj Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam ? Bolehkah kita merayakannya ? Atas penjelasannya, kami sampaikan jazakumulloh khoiro.” 

Jawab :

Tidak bisa kita pungkiri, bahwa malam terjadinya Isro’ dan Mi’roj Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam, adalah termasuk diantara tanda-tanda kekuasaan Alloh Ta’ala Yang Maha Agung, yang juga menunjukkan Maha Tingginya Alloh Subhanahu wa Ta’ala di atas seluruh makhluk-Nya, dan juga menunjukkan agungnya kedudukan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam di sisi Alloh Subhanahu wa Ta’ala.

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman : 

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ (١)

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (yakni Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam) pada suatu malam, dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Isro’ : 1)

As-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdillah bin Baaz rohimahulloh berkata : “Diriwayatkan secara mutawatir dari Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau di-mi’roj-kan ke langit, lalu dibukakan pintu-pintu langit tersebut untuk beliau, hingga beliau melewati langit yang ke-tujuh. Lalu Alloh berbicara kepada beliau sebagaimana yang Alloh kehendaki, dan mewajibkan sholat lima waktu kepada beliau, yang mana sebelumnya Alloh mewajibkan kepada beliau lima puluh sholat.

Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam terus menerus bolak-balik menuju Robb-nya untuk meminta keringanan, sehingga Alloh merubahnya menjadi lima waktu yang wajib, tetapi pahalanya lima puluh, karena satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya. Segala puji dan syukur bagi Alloh, atas segala kenikmatan yang tidak terhitung lagi tidak terkira.” (At-Tahdzir Minal Bida’, hal. 16)

Meskipun demikian agungnya malam terjadinya Isro’ Mi’roj tersebut, namun bukan berarti hal tersebut boleh kita jadikan sebagai perayaan yang diagungkan, dan bukan pula untuk dikhususkan mengamalkan ibadah-ibadah tertentu yang tidak disyari’atkan dalam agama kita ini. Hal ini karena beberapa alasan sebagai berikut :

Pertama : Tidak ada satu pun kabar yang shohih dari hadits-hadits Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam tentang ketentuan atau waktu yang pasti kapan terjadinya malam Isro’ dan Mi’roj tersebut, apakah di bulan Rojab ataukah di bulan-bulan yang lainnya.

Ada yang berpendapat, peristiwa itu terjadi lima belas bulan setelah beliau diangkat sebagai Nabi dan Rosul Alloh. Ada juga yang berpendapat, terjadi pada malam ke-27 dari bulan Robi’ul Akhir, setahun sebelum Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam berhijrah ke Madinah. Ada juga yang berpendapat, terjadi lima tahun setelah beliau diangkat sebagai Rosul (lihat : Syarh Shohih Muslim (2/267-268) karya Al-Imam An-Nawawi rohimahulloh). Ada pula yang berpendapat, hal itu terjadi pada malam ke-27 dari Bulan Robi’ul Awwal (lihat : Hawadits wal Bida’ (hal. 232) karya Al-Imam Abu Syamah rohimahulloh) Read the full post »

(()) “ADAKAH DALIL TENTANG KEUTAMAAN BULAN ROJAB ?”

 

Rasulullah SAW adalah orang yang paling bagus dalam melakukan muamalah ...

Berikut ini adalah risalah seputar bulan Rojab, yang pernah kami tampilkan di situs kita ini pada dua tahun yang lalu. Mengingat pentingnya hal ini untuk diketahui umumnya kaum muslimin, khususnya bagi yang belum sampai pengetahuan ini pada mereka, maka kami tampilkan lagi kali ini, agar manfaatnya lebih meluas. Barokallohu fiikum.

Tanya : “Adakah dalil-dalil khusus yang menjelaskan keutamaan bulan rojab ? Adakah amalan khusus yang dianjurkan untuk dilakukan di bulan ini ? Jazakumulloh khoiro atas penjelasannya.”

Jawab :

Kalau kita memperhatikan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, memang benar disebutkan keutamaan bulan Rojab ini, yakni sebagai salah satu bulan dari bulan-bulan harom (yang disucikan/dimuliakan) dalam Islam. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ (٣٦)

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Alloh ada dua belas bulan dalam  ketetapan Alloh di waktu Dia menciptakan langit dan bumi. Diantaranya ada empat bulan harom (mulia).Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan-bulan yang empat itu.” (QS At-Taubah : 36)

Imam Al-Bukhori rohimahulloh dalam shohihnya meriwayatkan hadits dari Abu Bakroh rodhiyallohu ‘anhu, bahwa Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :“Sesungguhnya jaman itu berputar sebagaimana keadaannya tatkala Alloh menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan, diantaranya terdapat empat bulan harom (suci/mulia). Tiga bulan berurutan yaitu : Dzulqo’dzah, Dzulhijjah, Muharrom, dan Rojab Mudhor, yang terletak diantara Jumada (yakni Jumadil Akhir) dan Sya’ban.” (HR Imam Al-Bukhori no. 4662)

Al-Imam Ath-Thobari rohimahulloh berkata : “Bulan itu ada dua belas, empat diantaranya merupakan bulan harom, dimana orang-orang jahiliyyah dahulu mengagungkan dan memuliakannya. Mereka mengharamkan peperangan pada bulan tersebut, hingga seandainya ada seseorang bertemu dengan pembunuh bapaknya, dia tidak akan menyerangnya. Keempat bulan itu adalah : Rojab Mudhor, dan tiga bulan yang berurutan, yaitu : Dzulqo’dzah, Dzulhijjah dan Muharrom. Demikianlah sebagaimana dinyatakan dalam hadits-hadits Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam.” (Jami’ul Bayan, 10/124-125)

Demikian itulah dalil-dalil yang menjelaskan keutamaan bulan Rojab disamping bulan-bulan harom yang lainnya. Adapun keutamaan amalan-amalan tertentu yang dilakukan di bulan ini, seperti puasa sunnah atau sholat lail pada hari-hari tertentu di bulan ini, banyak riwayat-riwayat yang menjelaskannya, tetapi tidak ada satu pun yang shohih dari Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, semuanya dho’if (lemah) atau dho’if jiddan (sangat lemah) bahkan ada yang maudhu’ (palsu). Read the full post »

HUKUM RINGKAS SEPUTAR SHOLAT KUSUF (GERHANA)

Gerhana Bulan Total, Kamis 16 Juni 2011.

1. Tentang Hukumnya : 

Pendapat yang rojih dalam masalah ini adalah hukumnya wajib, karena adanya perintah Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam masalah ini.

Sebagaimana dalam hadits Al-Mughiroh bin Syu’bah rodhiyallohu ‘anhu, yang menceritakan : “Telah terjadi gerhana matahari di jaman Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, pada hari meninggalnya Ibrohim – putra Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam -, (orang-orang pun mengatakan : “Gerhana matahari ini terjadi karena meninggalnya Ibrohim”), maka Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إن الشمس والقمر آيتان من آيات الله, لا ينكسفان لموت أحد ولا لحياته, فإذا رأيتموهما فادعوا الله وصلوا حتى تنكشف

“Sesungguhnya matahari dan bulan keduanya adalah tanda dari tanda-tanda kekuasaan Alloh. Tidaklah terjadi gerhana matahari dan bulan itu karena kematian atau karena hidupnya seseorang.Apabila kamu melihat keduanya (yakni gerhana matahari dan bulan), maka berdoalah kamu kepada Alloh dan sholatlah kamu sampai hilangnya (gerhana itu).” (HR. Imam Al-Bukhori no. 1043 dan Imam Muslim no. 915)

Dalam hadits Abu Bakroh rodhiyallohu ‘anhu dengan lafadz :

فصلوا وادعوا حتى يكشف ما بكم 

“…..maka sholatlah dan berdoalah kamu sampai hilangnya apa yang kalian alami tersebut (yakni gerhana).” (HR Imam Al-Bukhori no. 1040)

Ini adalah pendapat yang dirojihkan oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin rohimahulloh. Tetapi beliau mengatakan : “Hukumnya Fardhu Kifayah/Wajib Kifayah” (yakni suatu kewajiban, yang apabila telah ditegakkan/dilakukan oleh sebagian kaum muslimin, maka gugurlah kewajiban tersebut bagi kaum muslimin yang lainnya, edt.) (As-Syarhul Mumti’, 5/237) Demikian pula oleh guru kami, Syaikh Muhamman bin Ali bin Hizam hafidzohulloh, dalam Fathul ‘Allam (2/219-220)

2. Tentang Waktu Pelaksanaannya : 

Waktu pelaksanaan sholat kusuf tersebut adalah dimulai sejak terjadinya gerhana. Dan berakhir waktunya adalah dengan hilangnya gerhana tersebut dan munculnya kembali matahari atau bulan. Sebagaimana dijelaskan pada hadits Al-Mughiroh bin Syu’bah dan hadits Abu Bakroh rodhiyallohu ‘anhuma yang telah disebutkan di atas, wallohu a’lam (lihat Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab (5/54) karya Imam An-Nawawi dan Al-Mughni (3/330) karya Ibnu Qudamah rohimahulloh)

3. Tentang Seruan/Panggilan Untuk Sholat Kusuf/Khusuf : 

Adapun tentang panggilan atau seruan atau pemberitahuan yang menandai dilaksanakannya sholat gerhana, adalah dengan diserukannya ucapan : “Ashsholaatu Jaami’ah”, bukan dengan seruan adzan atau iqomah. Hal ini berdasarkan hadits Abdulloh bin ‘Amru bin Al-‘Ash rodhiyallohu ‘anhuma, beliau berkata :

لما كسفت الشمس على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم نودي أن الصلاة جامعة 

“Ketika terjadi gerhana matahari di jaman Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, diserukan (dengan) “Assholaatu Jaami’ah”…..” (HR Imam Al-Bukhori no. 1045 dan Imam Muslim no. 910) Demikian pula dalam hadits ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha (HR Imam Al-Bukhori no. 1066 dan Imam Muslim no. 901) 

Al-Imam Ibnu Qudamah rohimahulloh berkata : “Disunnahkan untuk diserukan “Assholaatu Jaami’ah” untuk sholat gerhana, dikarenakan riwayat dari Abdulloh bin ‘Amr…….(lalu beliau menyebutkan hadits di atas). Tidak disunnahkan adzan dan iqomah untuk sholat gerhana tersebut, karena Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam sholat gerhana tanpa adzan dan tanpa iqomah, dan juga karena hal ini bukanlah termasuk sholat lima waktu, sehingga keadaannya menyerupai seluruh sholat sunnah.” (Al-Mughni (3/322) dan Al-Majmu’, 5/44)

4. Tentang Sifat atau Tata Cara Sholat Kusuf/Khusuf :

Adapun tentang sifat sholat kusuf tersebut, berdasarkan dalil-dalil yang ada, adalah sebagai berikut :

  • Sholat Kusuf (gerhana) dilaksanakan dengan berjama’ah di masjid, berdasarkan fi’il (perbuatan) Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau. (HR Imam Al-Bukhori 1046 dan Imam Muslim no. 901 dari ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha dll)
  • Jumlah roka’atnya adalah 2 roka’at, tetapi pada setiap roka’at dilakukan 2 kali ruku’ dan 2 kali sujud. Sehingga dalam 2 roka’at tersebut semuanya terdapat 4 ruku’ dan 4 sujud, juga terdapat 4 kali membaca Al-Fatihah dan 4 kali membaca surat/ayat-ayat yang panjang.
  • Gambarannya, pada roka’at pertama melakukan Takbirotul Ihrom, terus membaca Surat Al-Fatihah dan Surat yang sangat panjang dengan dibaca jahr (keras/nyaring), setelah itu takbir untuk ruku’ dengan ruku’ yang panjang/lama, lalu I’tidal sambil mengucapkan “sami’allohu liman hamidah…dst”, kemudian membaca Al-Fatihah lagi dan surat/ayat yang panjang lagi tetapi lebih ringan daripada bacaan sebelumnya, kemudian ruku’, I’tidal lalu sujud 2 kali seperti biasanya, semuanya itu dilakukan dengan panjang/lama. Maka dengan ini telah sempurna satu roka’at. Setelah itu berdiri menuju roka’at berikutnya, dengan melakukan seperti yang dilakukan pada roka’at yang pertama, kemudian tasyahhud dan salam. (HR Imam Al-Bukhori 1052 dan dan Imam Muslim no. 907 dari hadits Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhuma, juga hadits ‘Aisyah ( HR Imam Al-Bukhori no. 1065 dan Imam Muslim no. 901)
  • Setelah sholat selesai, dilaksanakan khutbah atau ceramah (yakni dengan satu kali khutbah, bukan dua kali sebagaimana anggapan sebagian ulama). (lihat rujukan di atas). Wallohu a’lamu bis showab.

Read the full post »

TAKUT TERHADAP PERBUATAN SYIRIK (MENYEKUTUKAN ALLOH DALAM BERIBADAH)

kamis malam ditemani cahaya dari sebuah lilin kecil yang menyala malam ...

Saudaraku kaum muslimin, pada pembahasan yang lalu, kita telah mengetahui tentang keutamaan Tauhid, diantaranya adalah akan mendapatkan rasa aman di akhirat nanti dari adzab di neraka, dan mendapatkan hidayah (petunjuk untuk mengikuti al-haq) di dunia ini.

Pada pelajaran kita kali ini, akan kita bahas tentang pentingnya bagi kita semua untuk “takut” dari perbuatan syirik (menyekutukan Alloh Ta’ala dalam beribadah), yang ini merupakan lawan utama dari Tauhid (mengesakan Alloh Ta’ala dalam beribadah).

Mengapa kita harus takut dari perbuatan syirik ? Untuk mengetahui jawabannya, marilah kita perhatikan dalil-dalil yang dijelaskan oleh Alloh Ta’ala dalam Al-Qur’an, atau dijelaskan oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam hadits-hadits beliau yang shohih.

Diantaranya adalah firman Alloh Ta’ala berikut ini :

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا (٤٨)

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS An-Nisa’ : 48 dan 116)

Makna per kata :

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ = “Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik”, yakni Dia tidak akan memaafkan seorang hamba yang menjumpai Alloh (di akhirat nanti) dalam keadaan dia menyembah/beribadah kepada yang selain-Nya. (Tafsir Ibnu Katsir (1/699), Al-Mulakhosh fii Syarh Kitab At-Tauhid hal. 39)

Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin rohimahulloh menjelaskan : “Syirik itu (yakni dosa karena melakukan syirik itu, edt.) tidak akan diampuni oleh Alloh Ta’ala selama-lamanya, karena hal itu merupakan kejahahatan terhadap hak Alloh Ta’ala secara khusus, yaitu Tauhid……” (Al-Qoulul Mufid ‘alaa Kitab At-Tauhid, hal. 75)

وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ = “dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu”, yakni Dia mengampuni semua dosa yang selain syirik itu.

لِمَنْ يَشَاءُ = “bagi siapa yang dikehendaki-Nya”, yakni bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya untuk mendapatkan maghfiroh (ampunan-Nya) dari kalangan hamba-hamba-Nya, sesuai dengan karunia-Nya dan hikmah-Nya.

وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا = “Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”, yakni kejahatan yang paling besar atau kedholiman yang paling besar.

Sebagaimana disebutkan dalam firman Alloh Ta’ala :

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (١٣)

“Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu adalah benar-benar kedholiman yang sangat besar.” (QS Luqman : 13)

Juga sebagaimana dalam hadits Ibnu Mas’ud rodhiyallohu ‘anhu, dia berkata : “Aku bertanya : “Wahai Rosululloh, dosa apakah yang paling besar itu ?” Beliau menjawab : “Kamu menjadikan untuk Alloh sekutu (yakni tandingan bagi Alloh dalam beribadah, edt.), sedangkan Alloh Ta’ala yang telah menciptakanmu.” (HR Imam Al-Bukhori no. 4761 dan Imam Muslim no. 86)

(lihat : Tafsir Ibnu Katsir, 1/703)

Makna Ayat secara Mujmal (Global) :

As-Syaikh Dr. Sholih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan hafidzhohulloh berkata : “Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah mengabarkan dengan berita yang pasti, bahwa Dia tidak akan mengampuni seorang hamba, yang dia menemui-Nya (yakni meninggal dunia) dalam keadaan berbuat syirik (yakni sampai mati dalam keadaan dia belum pernah bertobat dari perbuatan syirik yang pernah dilakukannya, edt.). Hal ini (juga) sebagai peringatan buat kita agar waspada/berhati-hati dari kesyirikan. Alloh Ta’ala juga mengabarkan, bahwa Dia akan mengampuni dosa apa saja yang selain syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Hal itu sebagai karunia dan kebaikan-Nya (untuk hamba-hamba-Nya), agar kita tidak berputus asa dari rahmat-Nya.” (Al-Mulakhosh fii Syarh Kitab At-Tauhid, hal. 39)

As-Syaikh Al-‘Allamah Abdurrohman bin Hasan bin Muhammad bin Abdil Wahhab rohimahulloh berkata : “Berdasarkan ayat ini jelaslah bahwa syirik itu adalah dosa yang paling besar. Karena sesungguhnya Alloh Ta’ala tidak mengampuni (perbuatan syirik tersebut) bagi orang yang tidak bertobat darinya (yakni yang sampai mati dia belum pernah bertobat dari perbuatan syrik yang pernah dilakukannya, edt.). Adapun dosa yang selain syirik itu, maka dia berada dibawah kehendak Alloh Ta’ala. Jika Dia menghendaki, Dia akan mengampuni orang yang menjumpainya (yakni mati) dengan membawa dosa syirik tersebut. Tetapi jika Dia menghendaki (untuk menyiksa pelaku syirik tersebut), maka Dia pun akan menyiksanya.

Dalil tersebut hendaknya juga menjadikan bagi seorang hamba untuk merasa takut dari perbutan syirik tersebut, yang mana seperti inilah keadaan (orang yang melakukan kesyirikan) di sisi Alloh Ta’ala. Karena sesungguhnya syirik itu adalah kejelekan yang paling jelek, kedholiman yang paling dholim, dan mengurangi/meremehkan/menyepelekan Robbul ‘Alamin, dan memalingkan hak-Nya kepada sesuatu yang selain-Nya, dan berpaling kepada yang selain-Nya tersebut.

Sebagaimana dalam firman Alloh Ta’ala :

ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ (١)

“Namun kemudian orang-orang yang kafir itu mempersekutukan (sesuatu) dengan Robb mereka.” (QS Al-An’am : 1)

Hal itu karena dia (orang-orang yang menyekutukan Alloh itu) adalah perusak tujuan penciptaan dan perintah, dan menafikannya dari segala sisi. Yang demikian itu adalah puncak pengingkaran terhadap Robbul ‘Alamin, menyombongkan diri dalam mentaati-Nya dan tunduk kepada-Nya, serta (sombong) dalam mentaati perintah-perintah-Nya. Yang mana, alam ini tidaklah bisa menjadi baik kecuali dengan hal itu (yakni Tauhid). Kapan saja alam ini kosong darinya, maka akan rusaklah alam ini, dan akan terjadi kiamat.

Sebagaimana dalam sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam :

لا تقوم الساعة حتى لايقال فى الأرض : الله الله

“Tidak akan terjadi kiamat itu, sampai tidak lagi dikatakan di bumi ini : Alloh…Alloh.” (HR Imam Muslim no. 148, dari hadits Anas rodhiyallohu ‘anhu)

(lihat : Fathul Majid li Syarh Kitab At-Tauhid (hal. 128), dengan tahqiq dari Guru kami, Syaikh Muhammad bin Ali bin Hizam hafidzohulloh) Read the full post »

Rekaman Taushiyyah : “MERAIH KEBERKAHAN HIDUP DENGAN MENUNTUT ILMU SYAR’I”

Al-Quran Yang Menghidupkan

Saudaraku kaum muslimin rohimaniyalloh wa iyyakum ajma’in,

Beberapa waktu lalu, Al-Ustadz Abu Abdirrohman Yoyok WN melakukan ziaroh (kujungan) ke Pondok Pesantren Al-Furqon Beran, Ngawi (yang diasuh oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Fuad Hasan hafidzhohulloh), dan Pondok Pesantren Ittiba’us Sunnah Plaosan Magetan (yang diasuh oleh Al-Ustadz Abu Hazim dan Ustadz Abu Arqom hafidzhohumalloh). Dalam kesempatan kujungan tersebut, beliau diminta untuk menyampaikan taushiyyah (nasehat-nasehat dan pesan-pesan yang bermanfaat) bagi segenap santri dan kaum muslimin lainnya di sekitar pondok.

Dan berikut ini kami sampaikan rekaman taushiyyah tersebut, agar manfaatnya bisa diambil secara lebih luas oleh kaum muslimin dimana pun mereka berada.

1. Taushiyyah di Pondok Pesantren Al-Furqon, Beran, Ngawi, dengan tema : “MERAIH KEBERKAHAN HIDUP DENGAN MENUNTUT ILMU SYAR’I.”

2. Taushiyyah di Pondok Pesantren Ittiba’us Sunnah Dsn Sampung Ds. Plaosan Magetan, dengan tema : “MERAIH KEBERKAHAN HIDUP DENGAN NIKMAT AL-QUR’AN”

Dipersilahkan bagi segenap kaum muslimin untuk mendownload atau mendengarkannya sendiri dengan seksama hingga akhir, semoga memberikan manfaat yang banyak bagi yang menyampaikan maupun bagi kita semua. Read the full post »

Rekaman Khutbah Jum’at : “TANTANGAN (UJIAN) DALAM BERIBADAH KEPADA ALLOH”.

perahu-22.jpg

Kaum Muslimin rohimaniyalloh wa iyyakum….

Berikut ini adalah rekaman Khutbah Jum’at pekan lalu di Masjid Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya, yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah hafidzhohulloh, dengan tema : TANTANGAN (UJIAN) DALAM BERIBADAH KEPADA ALLOH”.

Dalam khutbah ini, beliau menyampaikan firman Alloh Ta’ala :

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ (١٧٢)

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”. (QS Al-A’rof : 172)

Dalil ini menunjukkan hujjah Alloh pada kita semua, bahwa Alloh telah mengambil perjanjian dari kita semua, untuk beribadah kepada Alloh dan mengesakan-Nya, agar di hari kiamat nanti kita tidak lalai terhadap perkara ini.

Alloh ta’ala juga berfirman :

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ (٣٠)

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu (yakni di atas Islam dan Tauhid), tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS Ar-Ruum : 30)

Ayat tersebut menunjukkan, setiap manusia yang terlahir di dunia ini, mereka lahir di atas fitrah yang lurus, yaitu beragama tauhid (mengesakan Alloh Ta’ala dalam beribadah. Hal ini sebagaimana yang juga disabdakan Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam :

“Setiap bayi yang dilahirkan, mereka itu dilahirkan dalam keadaan fitrahnya (yakni beragama Islam dan bertauhid). Tetapi kedua orang tuanyalah yang kemudian menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani atau Majusi.”

Oleh karena itu sepantasnya bagi setiap kita memperhatikan untuk apa dia dilahirkan di dunia ini. Alloh Ta’ala menciptakan kita, tentu untuk tujuan yang haq, bukan untuk tujuan yang bathil atau yang sia-sia. Ya, hikmah dan tujuan penciptaan kita ini adalah agar kita beribadah kepada-Nya, sebagaimana dalam firman-Nya :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ (٥٦)

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah (mengabdi) kepada-Ku.” (QS Adz-Dzariyat : 56)

Alloh Ta’ala juga berfirman :

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا (٣٦)

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.” (QS An-Nisa’ : 36)

Demikianlah, ayat-ayat tersebut menunjukkan, bahwa Alloh ciptakan kita untuk tujuan ibadah kepada-Nya. Akan tetapi untuk bisa melaksanakan ibadah tersebut, ternyata banyak ujian dan tantangannya. Baik itu berupa kebaikan, ataupun keburukan. Perkara yang disukai, atau perkara yang dibenci. Lalu bagaimana cara kita menghadapi ujian tersebut, agar kita bisa tetap menjalankan tugas dan tujuan kita untuk selalu beribadah kepada Alloh Ta’ala di dunia ini ? Read the full post »

PENYIMPANGAN AQIDAH & CARA PENANGGULANGANNYA

From →

بسم الله الرحمن الرحيم 

Saudaraku kaum muslimin rohimakumulloh, pada pembahasan yang lalu telah kita ketahui bersama tentang pentingnya aqidah yang benar.

Ya, aqidah yang benar pada diri seseorang itu akan menjadi motivator utama untuk melakukan amal-amal yang bermanfaat, sehingga hidupnya akan berbahagia di dunia maupun di akhirat nanti. Sedangkan aqidah yang tidak benar (bathil), akan menyebabkan mereka binasa. Mengapa ?

Hal itu karena apabila seseorang mempunyai aqidah yang tidak benar, dia akan terus menerus berada dalam keraguan dan kesesatan, menghalanginya dari mempunyai pandangan hidup yang benar, jauhnya dari petunjuk, akibatnya dia akan menuruti setiap keinginan nafsunya, hingga akhirnya kehidupannya tak ubahnya seperti hewan.

Ya, biarpun orang seperti itu bergelimang dengan berbagai kekayaan dan materi yang melimpah, kemajuan tekhnologi yang tak diragukan, tetapi aqidah mereka rusak, maka banyaknya materi dan sarana yang mereka miliki itu justru akan merusak dan menghancurkan diri mereka sendiri, sebagaimana hal itu banyak kita saksikan pada orang-orang yang berada di negara-negara kafir.

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَلَقَدْ آتَيْنَا دَاوُدَ مِنَّا فَضْلا يَا جِبَالُ أَوِّبِي مَعَهُ وَالطَّيْرَ وَأَلَنَّا لَهُ الْحَدِيدَ (١٠)أَنِ اعْمَلْ سَابِغَاتٍ وَقَدِّرْ فِي السَّرْدِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ (١١)

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud karunia dari Kami. (Kami berfirman): “Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud”. Dan Kami telah melunakkan besi untuknya, (yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah amalan yang saleh. Sesungguhnya Aku melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS Saba’ : 10-11)

Di dalam ayat yang mulia ini, Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan karunia dan kenikmatan yang banyak kepada Nabiyulloh Daud ‘alaihis salam. Tetapi Alloh Ta’ala pun juga memerintahkan Nabi Daud ‘alaihis salam untuk terus berbuat amal sholih.

Hal ini menunjukkan, banyaknya materi (kekuatan harta benda) tidak bisa dipisahkan dari kekuatan aqidah (iman yang benar). Sebab, bila aqidah kita menyimpang dan rusak, maka kekuatan materi yang kita miliki akan berubah menjadi penghancur dan perusak diri kita sendiri. Nas’alulloha salamah wal ‘afiyah (kita memohon keselamatan dan kesejahteraan kepada Alloh Ta’ala) Read the full post »

Rekaman Khutbah Jum’at : “NASEHAT BAGI ORANG-ORANG YANG LALAI (GHOFLAH)”

matahari+tenggelam+di+pantai+indah+karimunjawa.jpg

Saudaraku kaum muslimin rohimaniyallohu wa iyyakum ajma’in,

Berikut ini adalah rekaman khutbah jum’at dua pekan lalu di Masjid Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya, yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Abdirrohman Yoyok WN, dengan tema : “NASEHAT BAGI ORANG YANG LALAI (GHOFLAH)”.

Dalam kesempatan khutbah ini, Ustadz Yoyok memberikan nasehat kepada kita semua tentang penyakit GHOFLAH (kelalaian), yang banyak menghinggapi manusia sekarang ini. Dan penyakit ini mempunyai gejala-gejala atau tanda-tanda. Diantara tanda-tanda penyakit ini adalah sebagai berikut :

  • Kemalasan dalam beribadah
  • Asyik untuk terus menerus terlena dalam dosa-dosa dan kemaksiatan sepanjang waktunya
  • Hati yang keras dan kaku, hingga tidak bisa menerima nasehat dan pelajaran.
  • Lebih mementingkan waktunya untuk kehidupan dunia melulu, dan melalaikan dari mementingkan kehidupan akhiratnya, akibatnya hati seperti ini jauh dari petunjuk Alloh Ta’ala, dan lain-lainnya.

Bila tanda-tanda seperti di atas ada pada diri kita, berarti penyakit ghoflah itu telah bersarang pada diri kita. Maka segera mungkin kita berbenah, dengan kembali kepada Alloh dan bertobat kepada-Nya, dengan kita terus meningkatkan ibadah dan mendekatkan diri kita kepada Alloh dengan berbagai amal ketaatan.

Lalu bagaimana solusi untuk mengatasi dan menyembuhkan penyakit ini ?

Yang paling utama, hendaknya kita memahami pentingnya waktu dan umur yang Alloh Ta’ala sediakan untuk kita. Alloh ciptakan waktu dan kesempatan hidup untuk kita, adalah sebagai suatu kenikmatan yang besar. Sebagaimana dalam firman-Nya :

وَالْعَصْرِ (١)إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (٢)إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (٣)

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS Al-Ashr : 1-3) Dan masih banyak ayat-ayat lain yang menunjukkan hal itu.

Dalil-dalil tersebut menunjukkan, adanya hari-hari, siang dan malamnya, adalah waktu dan kesempatan yang Alloh sediakan untuk kita, agar kita isi dengan ibadah dan ketaatan, sesuai dengan tujuan utama kita hidup di dunia ini. Jangan diisi dengan dosa-dosa dan maksiat, yang itu semua akan menjadi kerugian bagi kita sendiri. Akan tetapi kebanyakan manusia, justru mengisi dan menghabiskan waktunya untuk perkara yang sia-sia dan tidak ada gunanya. Read the full post »

Rekaman Khutbah Jum’at : “JANGAN MENYIA-NYIAKAN PERINTAH ALLOH & JANGAN MELANGGAR APA YANG DILARANGNYA”

6140103559_2d971e1801_z.jpg

Saudaraku kaum muslimin hafidzhokumulloh….,

Berikut ini adalah rekaman khutbah jum’at pekan lalu yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Abdirrohman Yoyok WN hafidzhohulloh di Masjid Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya, dengan tema “JANGAN MENYIA-NYIAKAN PERINTAH ALLOH & JANGAN MELANGGAR APA YANG DILARANGNYA”.

Tema khutbah tersebut, diambil dari sebuah hadits shohih dari Abu Tsa’labah Al-Khusyaniy Jurtsum bin Nasyir rodhiyallohu ‘anhu, dari Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda : “Sesungguhnya Alloh Ta’ala telah memfardhukan beberapa kewajiban, maka janganlah kalian menyia-nyiakannya. Dan telah memberikan beberapa batasan (hukum-hukum), maka janganlah kalian melanggarnya. Dan telah mengharamkan beberapa perkara, maka janganlah kalian melakukannya. Dan juga telah mendiamkan beberapa perkara sebagai rohmat bagi kalian bukan karena lupa, maka janganlah kalian membahasnya.” (HR Thobrony dan yang lainnya dengan sanad-sanad yang hasan) 

Hadits yang mulia tersebut di atas menunjukkan : Terhadap perkara yang telah diwajibkan oleh Alloh kepada kita sekalian, maka janganlah kita menyia-nyiakannya, tetapi hendaknya kita menjaganya, dengan melaksanakannya semampu kita. Alloh juga telah menentukan pada kita beberapa batasan (hukum-hukum) agama ini, maka janganlah kita bermudah-mudah dalam melanggarnya. Alloh Ta’ala telah mengingatkan hal itu pula dalam banyak firman-Nya. Dan masih banyak faedah lainnya yang bisa diambil dari hadits Rosululloh yang mulia tersebut di atas.

Itulah beberapa cuplikan isi khutbah yang disampaikan oleh Ustadz Yoyok hafidzhohulloh. Untuk mengetahui selengkapnya, silahkan mendownload atau mendengarkannya : DI SINI Read the full post »

“MERAIH RIDHO ALLOH TA’ALA, DENGAN MENSYUKURI SEMUA NIKMAT-NYA”

 matahari-terbit
Saudaraku kaum muslimin hafidzhokumulloh,

Beberapa waktu yang lalu, telah berziaroh (berkunjung) ke Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya salah satu saudara kami yang mulia, Al-Ustadz Abu Sukainah Imam Hanafi hafidzhohulloh. Di sela-sela kunjungan tersebut, kami meminta beliau untuk menyampaikan beberapa taushiyyah (nasehat) untuk segenap santri dan kaum muslimin yang lainnya, setelah Sholat Dhuhur sampai selesai.

Dan berikut ini kami sampaikan rekaman taushiyyah beliau tersebut, agar manfaatnya bisa dirasakan lebih luas untuk segenap kaum muslimin di manapun mereka berada.

Pada kesempatan pemberian taushiyyah ini, Ustadz Imam mengingatkan kita semua tentang beberapa nikmat yang Alloh telah berikan lepada kita sebagai suatu karunia yang sangat besar, yang wajib atas kita semua untuk selalu mensyukurinya.

Diantara nikmat-nikmat yang paling besar, yaitu nikmat Iman, Islam dan diturunkannya untuk kita Al-Kitab dan As-Sunnah. Yakni, nikmat dijadikan-Nya kita semua sebagai seorang muslim dan bisa istiqomah di atas Al-Kitab dan As-Sunnah. Mensyukuri nikmat tersebut, adalah dengan kita selalu berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, dengan cara mempelajarinya, menghapalnya dan tunduk serta patuh kepadanya, dan sebagainya.

Alloh Ta’ala berfirman :

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (١٠٣)

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai. Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS Ali Imron : 103)

Nikmat lainnya, adalah diutusnya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam untuk kita segenap kaum muslimin. Sebagaimana dalam firman Alloh Ta’ala :

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ (١٦٤)

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah, dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS Ali Imron : 164)

Maka merupakan rahmat Alloh dan nikmat yang besar dari-Nya dengan diutusnya beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam. Bentuk rasa syukur kita atas nikmat ini adalah dengan kita tunduk dan patuh kepada beliau, dan meneladani beliau dalam semua perkara. Sebagaimana hal itu juga dijelaskan dalam dalil-dalil lainnya.

Termasuk dari nikmat besar yang Alloh karuniakan pada kita, adalah nikmat tholabul ilmi (menuntut ilmu syar’i). Yakni diberikan-Nya pada kita taufiq untuk bersemangat dalam mencari ilmu syar’I, lebih-lebih di jaman yang penuh fitnah ini. Banyak fadhilah (keutamaan) yang dijelaskan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang orang-orang yang menuntut ilmu syar’i. Read the full post »

Kajian Kitab Al-Adzkar : “BERDZIKIR BA’DA SHOLAT FARDHU & KEUTAMAANNYA”

... DISYARI'ATKAN DALAM MENGHITUNG DZIKIR ADALAH DENGAN JARI-JEMARI TANGAN

Ikhwani fillah rohimaniyallohu wa iyyakum ajma’in,

Berikut ini adalah rekaman kajian rutin Kitab Al-Adzkar karya Al-Imam An- Nawawy rohimahulloh dalam dars ‘am (pelajaran umum) ba’da sholat maghrib di Masjid Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya setiap hari Senin, yang disampaikan oleh Al-Ustad Abu Abdirrohman Yoyok WN hafidzhohulloh beberapa pekan yang lalu.

Materi pembahasan adalah tentang Dzikir Ba’da Sholat Fardhu dan Keutamaannya. Pelajaran ini disampaikan dalam beberapa pertemuan, dengan rincian sebagai berikut :

Dzikir Ba’da Sholat (1) :

Berisi tentang : (a) Hukum berdzikir setelah sholat, (b) Fadhilah (keutamaan) berdzikir setelah sholat, (c) Bolehkah men-jahr-kan/mengeraskan bacaan dzikir setelah sholat ? (d) Penjelasan tentang syubuhat seputar mengeraskan dzikir setelah sholat, dan lain-lain.

Bisa anda dengar : DI SINI

Dzikir Ba’da Sholat (2) :

Berisi tentang : (a) Beberapa lafadz dzikir setelah sholat, (b) bagaimana bacaan istighfar dalam dzikir setelah sholat ? Bolehkah memberikan tambahan dzikir dalam istighfar dengan sesuatu bacaan yang bagus maknanya ?

Bisa anda dengar : DI SINI Read the full post »

Rekaman Khutbah Jum’at : “PEMBUKA PINTU KEBAIKAN & KEBURUKAN”

 

MATAHARI TERBIT DARI BARAT DIBENARKAN ILMUWAN FISIKA & DIA PUN ...

Ikhwani fillah rohimaniyallohu wa iyyaakum…,

Berikut ini adalah rekaman khutbah jum’at pekan lalu, yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah hafidzhohulloh di Masjid Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya, dengan tema : “PEMBUKA PINTU KEBAIKAN & KEBURUKAN”.

Hadits Sahl bin Sa’ad As-Saidi dan Anas bin malik, Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya diantara manusia itu ada orang-orang yang menjadi pembuka pintu kebaikan, dan penutup pintu kejelekan. Dan diantara manusia juga ada orang-orang yang menjadi pintu pembuka kejelekan dan penutup pintu kebaikan. Maka bergembiralah dan kemuliaan bagi siapa saja yang Alloh jadikan pintu-pintu kebaikan itu melalui kedua tangannya, dan sungguh celaka orang yang Alloh jadikan pintu-pintu kejelekan itu melalui kedua tangannya.”

Hadits yang mulia tersebut di atas menunjukkan, bahwa ternyata diantara manusia itu, ada yang Alloh Ta’ala jadikan sebagai pembuka pintu kebaikan atau keburukan. Tentunya, hal itu sesuai dengan kadar pemahaman seseorang terhadap agamanya. Karena tidaklah seseorang itu mengetahui apa itu kebaikan dan kejelekan, kecuali dengan Tafaqquh fid Diin (menuntut/mempelajari ilmu agama). Sebagaimana sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam : “Barangsiapa dikehendaki Alloh Ta’ala kebaikan, maka Alloh akan jadikan dia faqih (paham) dalam urusan agamanya.”

Dan ternyata, diantara manusia mayoritasnya tidak mengetahui dengan baik, apa kebaikan dan keburukan itu. Betapa banyaknya manusia menginginkan kebaikan dalam ibadahnya dan lain-lainnya, tetapi tidak mengetahui jalan-jalan yang mesti ditempuhnya, sehingga terjatuh pada banyak penyimpangan, apakah itu berupa perkara bid’ah, kesyirikan, kemaksiatan dan sebagainya. Read the full post »

PENTINGNYA MEMPELAJARI AQIDAH YANG BENAR

 Tragedi Sampan Karam Di Lambung Ombak

Saudaraku kaum muslimin, berikut ini adalah pembahasan materi aqidah Islam secara sederhana yang dikemas dalam bentuk tanya jawab, agar lebih mudah untuk dipahami, khususnya oleh kebanyakan kaum muslimin yang baru semangat untuk mempelajari dasar-dasar pengetahuan tentang aqidah Islam yang benar. Insya Alloh pembahasan materi aqidah ini, akan kita bahas secara berkala dan berkesinambungan. Semoga Alloh Ta’ala senantiasa memudahkannya.

1. Tanya : “Apa yang dimaksud dengan aqidah itu ?”

Jawab :

Secara bahasa, aqidah diambil dari kata “aqd”, yang artinya ikatan. Sehingga kalau dikatakan : “Saya beri’tiqod begini”, maka maksudnya saya mengikatkan hati saya terhadap sesuatu tersebut. Jadi, aqidah itu adalah sesuatu yang berkaitan dengan keyakinan di hati seseorang. Dan aqidah itu termasuk amalan hati, yang berupa keyakinan dan pembenaran hati terhadap sesuatu. 

Adapun aqidah dalam pengertian menurut syari’at, adalah keimanan terhadap pokok-pokok keyakinan agama Islam ini, yang berupa Rukun-Rukun Islam yang enam perkara itu. (lihat : Aqidatut Tauhid (hal. 8), karya Syaikh Sholih Al-Fauzan hafidzhohulloh)

2. Tanya : “Apa yang dimaksud dengan aqidah yang benar itu ?”

Jawab :

Aqidah yang benar itu adalah aqidah yang berisi ajakan/dakwah agar beribadah itu hanyalah kepada Alloh Ta’ala saja, dan memurnikan semua ibadah hanyalah untuk Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Aqidah yang benar adalah juga aqidah yang murni dan bersih dari segala kotorannya, yaitu kesyirikan dan kekufuran. Aqidah seperti inilah inti dari dakwahnya seluruh Nabi dan Rosul (utusan) Alloh.

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلالَةُ فَسِيرُوا فِي الأرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ (٣٦)

Dan sungguh Kami telah mengutus pada tiap-tiap umat itu seorang Rosul (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut. Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS An-Nahl : 36) 

Alloh Ta’ala juga berfirman :

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدُونِ (٢٥)

“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku“. (QS Al-Anbiya’ : 25) Read the full post »

Risalah Aqidah : “KEUTAMAAN TAUHID”

Jakarta - IMN) Pantai Lasiana mulai dibuka untuk umum sekitar tahun ...

Saudaraku kaum Muslimin rohimaniyallohu wa iyyaakum, kita semua tentu telah mengetahui, bahwa Alloh Ta’ala menciptakan kita hidup di dunia ini adalah untuk beribadah dan mentauhidkan-Nya (mengesakan-Nya dalam beribadah tersebut), dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.

Sebagaimana hal itu ditegaskan oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ (٥٦)

“Dan Aku (Alloh) tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS Adz-Dzariyat : 56)

Setelah kita mengetahui hal itu, berikut ini akan kita kaji dan kita pelajari secara ringkas dan sederhana, apa keutamaan ber-tauhid itu. Untuk mengetahuinya, tentunya kita harus memperhatikan dalil-dalil dari Al-Qur’an maupun Sunnah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam tentang hal tersebut.

Diantara dalil yang menunjukkan keutamaan Tauhid, adalah sebagaimana dalam firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala :

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الأمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ (٨٢)

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kedholiman (yakni syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan, dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS Al-An’am : 82)

Makna per kata :

الَّذِينَ آمَنُوا                    = orang-orang yang beriman, (yakni) orang-orang yang membenarkan dengan hati mereka, yang mengucapkan/mengikrarkan dengan lisan mereka, dan yang beramal dengan anggota tubuh mereka. Dan pokok dari itu semua adalah masalah Tauhid (mengesakan Alloh Ta’ala dalam beribadah kepada-Nya).

َلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُم        = tidak mencampuradukkan iman/tauhid mereka

بِظُلْمٍ                           = dengan kedholiman, maksudnya adalah dengan kesyirikan. Dholim yang dimaksud disini adalah lawan dari keimanan/tauhid, yaitu syirik. Oleh karena itu, ketika turun ayat ini, maka sebagian sahabat merasa berat karenanya. Mereka berkata : “Siapakah diantara kita yang tidak pernah berbuat dholim pada diri sendiri ?” Maka Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda (untuk menjelaskan makna yang benar tentang pengertian dholim yang dimaksud dari ayat tersebut, edt.) : “Perkara ini tidaklah sebagaimana yang kalian sangka. Sesungguhnya hanyalah yang dimaksud dengannya (yakni makna dholim tersebut) adalah syirik. Tidakkah kalian pernah mendengar perkataan seorang laki-laki yang sholih (yakni Luqman, ketika dia berkata pada putranya,edt.) :

يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (١٣)

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah (berbuat syirik). Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedholiman yang besar”. (QS Luqman : 13) (HR Imam Al-Bukhori (3/484), dari Ibnu Mas’ud rodhiyallohu ‘anhu) Read the full post »

Rekaman Khutbah Jum’at : ‘KEUTAMAAN DAKWAH ILALLOH”

 

Pictures of Masjid Nabawi (Exterior) (Post 2)

Ikhwani fillah rohimaniyallohu wa iyyaakum….,

Berikut ini adalah rekaman Khutbah Jum’at pekan lalu di Masjid Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya, dengan tema : “KEUTAMAAN DAKWAH ILALLOH”, yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Abdirrohman Yoyok WN hafidzhohulloh.

Dalam khutbah ini, beliau menyampaikan, bahwa dakwah ilalloh (menyeru/mengajak umat manusia ke jalan Alloh) adalah tugas yang paling mulia dan misi yang paling terhormat. Karena itulah, Alloh Ta’ala menjadikan orang-orang yang mengemban misi ini adalah orang-orang pilihan, khususnya dari kalangan para Nabi dan Rosul yang mulia. Selanjutnya beliau membawakan beberapa dalil tentang hal ini.

Dengan tugas dan misi dakwah yang mulia itulah, para Nabi dan Rosul berjihad, capek dan lelah, dan terus menerus mengisi seluruh waktu dan hidupnya. Karena itu pula, Alloh Ta’ala memuliakan dan meninggikan derajat mereka, bahkan ucapan para da’i ilalloh adalah sebaik-baik perkataan bila dibandingkan dengan orang yang selain mereka.

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam juga banyak menjelaskan dalam hadits-hadits beliau tentang keutamaan orang yang berdakwah di jalan Alloh. Selanjutnya, disamping Ustadz Yoyok menyebutkan beberapa dalil tentang fadhilah berdakwah ilalloh, beliau juga menjelaskan beberapa cara dan tempat-tempat dimana kita bisa berdakwah sesuai kemampuan kita. Karena dakwah itu tidak hanya di mimbar jum’at atau di majelis-majelis ta’lim saja, tetapi bisa dimana saja dan kapan saja, sesuai keadaan orang yang kita dakwahi, dan juga tempat di mana kita berdakwah.

Untuk mengetahui penjelasan selengkapnya, dan agar banyak faedah yang kita dapatkan, silahkan anda mendownloadnya atau mendengarkannya sendiri rekaman khutbah jum’at ini : DI SINI Read the full post »

SHOLAT BERJAMA’AH DAN HUKUM-HUKUM YANG TERKAIT DENGANNYA (Bagian ke-3)

ia boleh menjadi rumah kepada 100000 orang lakaran keseluruhan projek

Masalah : “Bolehkah melaksanakan sholat jama’ah kedua dan seterusnya (yakni beberapa kali sholat jama’ah) dalam satu masjid yang telah dilaksanakan sholat berjama’ah di dalamnya ?

Dalam masalah ini, ada dua pendapat para ulama yang masyhur, diantaranya adalah sebagai berikut :

Pertama : Berpendapat makruh-nya (dibencinya) hal tersebut. Ini adalah pendapat sekelompok ulama, diantaranya : Salim, Abu Qilabah, Sa’id bin Al-Musayyab, Al-Hasan al-Bashri, An-Nakho’i, Ad-Dhohak, Al-Qosim, Az-Zuhri, Al-Laits, Al-‘Auza’i, Ats-Tsauri, Abu Hanifah, Malik, Ibnul Mubarok, Asy-Syafi’i dan yang lainnya.

Dalil tentang hal ini, atsar dari Ibnu Mas’ud rodhiyallohu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Abdurrozzaq dalam Al-Mushonnaf (2/409) : 

أنه جاء إلى مسجد فوجدهم قد صلوا, فرحع إلى منزله فصلى باللأسواد وعلقمة في بيته

“Bahwa Ibnu Mas’ud rodhiyallohu ‘anhu datang ke suatu masjid, dan dia mendapati bahwa mereka telah melaksanakan sholat berjama’ah di dalamnya, maka dia kembali pulang ke rumahnya, kemudian dia sholat bersama Al-Aswad dan Alqomah di rumahnya.”

Atsar ini datang dari jalan Hammad bin Abi Sulaiman, dari Ibrohim, dan riwayat darinya ada kelemahan, sebagaimana disebutkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam At-Tahdzib, wallohu a’lam.

Dalil kedua, atsar dari Al-Hasan Al-Bashri rohimahulloh sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (2/323), bahwa Al-Hasan Al-Bashri rohimahulloh berkata : 

كان أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم إذا دخلوا المسجد و قد صلي فيه, صلوا فرادى

“Dahulu para shahabat Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam, apabila mereka masuk masjid dan telah dilaksanakan sholat di dalamnya, maka mereka sholat sendiri-sendiri.”

Atsar ini, dalam sanadnya ada Abu Hilal Muhammad bin Salim Ar-Rosibi, dia telah tercampur/berubah hapalannya (mukhtalifun fiihi), dan yang rojih dia itu rowi yang dho’if. 

Dalil lainnya, hadits Abu Bakroh rodhiyallohu ‘anhu, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam At-Thobroni dalam Al-Ausath (no. 4598) : 

أن النبي صلى الله عليه وسلم أقبل من النواحي المدينة يريد الصلاة, فوجد الناس قد صلوا, فمال إلى منزله, فجمع أهله فصلى بهم

“Bahwa Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam menuju ke arah Madinah (sepulang dari safar, edt.) beliau hendak melaksanakan sholat, tetapi beliau mendapati mereka (para shahabat) telah melaksanakan sholat, maka beliau pun berpaling menuju rumahnya, lalu mengumpulkan anggota keluarganya dan sholat bersama mereka.”

Hadits ini dho’if, di dalam sanadnya ada Mu’awiyyah bin Yahya Al-Athrobilisi Ad-Dimasyqi, dia ini bagus haditsnya tetapi banyak meriwayatkan hadits-hadits Mungkar, dan hadits ini termasuk salah satu darinya, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Al-Kamil dan Al-Mizan. Read the full post »

Nasehat Yang Berkesan : “MERAIH KETENANGAN & KETENTRAMAN JIWA DGN DZIKRULLOH, DIANTARANYA MELALUI MAJELIS ILMU”

salah satu pantai yang populer terdapat di kab garut adalah pantai ...

Ikhwani fillah rohimaniyallohu wa iyyakum….

Berikut ini kami sampaikan di hadapan antum semua, sebuah rekaman nasehat yang bermanfaat, dari Al-Ustadz Abul Husain Muhammad Nurkholis hafidzhohulloh (dari Purbalingga Jawa Tengah), saat beliau berkunjung di Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya beberapa waktu yang lalu, dengan tema : “MERAIH KETENANGAN & KETENTRAMAN JIWA DENGAN DZIKRULLOH, DIANTARANYA MELALUI MAJELIS ILMU”.

Dalam kesempatan kunjungan ini, beliau bersama rombongan sebanyak 6 orang, diantaranya turut pula dalam rombongan ini Al-Ustadz Abdul Quddus hafidzhohulloh (dari Brebes Jawa Tengah). Meskipun berkunjung di Surabaya dalam waktu yang singkat, namun kedua ustadz tersebut di atas berkenan menyampaikan nasehat dan taushiyyah yang banyak manfaatnya, khususnya untuk para santri dan pengurus pondok, juga untuk masyarakat di sekitar pondok yang turut hadir mengikutinya.

Berikut ini adalah rekamannya :

1. MERAIH KETENANGAN & KETENTRAMAN JIWA DENGAN DZIKRULLOH, DIANTARANYA MELALUI MAJELIS ILMU ( Al-Ustadz Abul Husain, Purbalingga) Read the full post »

Rekaman Khutbah Jum’at : “PENTINGNYA AQIDAH YANG SHOHIH, AMAL YANG SHOLIH & AKHLAK YANG MULIA”

Pelangi di tepi pantai

Ikhwani fillah rohimakumulloh,

Berikut ini adalah rekaman khutbah jum’at pekan lalu, yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah hafidzhohulloh di Masjid Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya, dengan tema : “PENTINGNYA AQIDAH YANG SHOHIH, AMAL YANG SHOLIH & AKHLAK YANG MULIA.”

Al-Ustadz Abu Ubaidah hafidzhohulloh menjelaskan, bahwa setiap muslim itu, dituntut untuk membangun agamanya di atas tiga perkara pokok, yaitu : di atas aqidah yang benar, dan membuktikannya dengan amal-amal sholih, serta menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia. Tiga perkara inilah yang menjadi pokok ajaran Islam.

Setelah itu beliau menjelaskan dalil-dalil perkara tersebut dan uraian penjelasannya secara ringkas, namun sangat banyak faedah dan manfaat yang bisa kita dapatkan darinya.

Untuk mendengarkan selengkapnya, dan mendownload rekaman khutbah ini, bisa anda dapatkan : DISINI Read the full post »

Sebuah Nasehat Untuk Para Penuntut Ilmu : “TAHAPAN-TAHAPAN DALAM MENUNTUT ILMU”

... iman kepada kitab-kitab allah dan macam-macamnya kitab allah swt

Saudaraku Fillah….

Berikut ini kami sampaikan di hadapan Anda sekalian, sebuah Rekaman Kajian yang banyak memberikan faedah ilmiah. Yakni sebuah nasehat untuk segenap para penuntut ilmu agama yang mulia ini, yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Hazim Muhsin bin Muhammad Bashori hafidzhohulloh, dengan tema : “TAHAPAN-TAHAPAN DALAM MENUNTUT ILMU AGAMA.”

Kajian ini disampaikan oleh beliau ketika beliau bersama rombongan yang lainnya singgah di Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya beberapa waktu lalu, sebelum beliau dan rombongan bertolak ke Pulau Sumatra untuk serangkaian dakwah yang akan beliau lakukan di beberapa tempat di Pondok Pesantren para ikhwah Ahlus Sunnah Salafiyyun yang berada di kepulauan Sumatra.

Disamping Al-Ustadz Abu Hazim, dalam kesempatan kunjugan di Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya ini pula, Al-Ustadz Abu Arqom dan juga Al-Ustadz Abu Arbah Nafilurrohman juga berkesempatan menyampaikan beberapa nasehat yang juga tak kalah banyak faedahnya untuk kita.

Berikut ini rekaman beberapa nasehat tersebut di atas beserta tema yang beliau sampaikan :

1. TAHAPAN-TAHAPAN DALAM MENUNTUT ILMU AGAMA (Al-Ustadz Abu Hazim hafidzhohulloh)

2. BAHAYA JIDAL/BERDEBAT DALAM AGAMA (Al-Ustadz Nafilurrohman hafidzhohulloh), dilanjutkan dengan BAHAYA BERPALING DARI AGAMA INI (Al-Ustadz Abu Arqom hafidzhohulloh) Read the full post »

Rekaman Khutbah Jum’at : “BALASAN ITU AKAN DIBERIKAN SESUAI DENGAN JENIS AMALANNYA & NIATNYA”

 Masjid al Aqsa

Saudaraku kaum Muslimin,

Berikut ini adalah rekaman Khutbah Jum’at pekan lalu di Masjid Pondok Pesantren Darul Ilmi Surabaya, dengan tema : “BALASAN ITU AKAN DIBERIKAN SESUAI DENGAN JENIS AMALANNYA & NIATNYA”, yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah hafidzhohulloh Ta’ala.

Sungguh, sangat bagus kandungan khutbah yang beliau sampaikan. Anda yang menginginkan untuk mendownload dan mendengarkannya, bisa Anda dapatkan : DI SINI

Kemudian kami sertakan juga rekaman Khutbah lainnya, yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Abdirrohman Yoyok WN pekan lalu di Masjid Darul Ilmi dan juga masjid lainnya, dengan tema sebagai berikut :

1. BAGAIMANA MENCINTAI ROSULULLOH SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WA SALLAM & FADHILAHNYA. (Ust. Yoyok, di Masjid Darul Ilmi Surabaya)

2. TIDAKLAH DATANG SUATU TAHUN YANG BARU, KECUALI TAHUN YANG BARU ITU LEBIH JELEK DARIPADA TAHUN-TAHUN YANG SEBELUMNYA (Ust. Yoyok, di Masjid Baiturrohman Manukan Tandes Surabaya) Read the full post »